Bab 5 Berharap Bisa Kembali

1138 Words
Bel pintu berbunyi, Sesilia yang tengah sibuk menyiapkan makan siang, langsung mendongak. Dengan kening berkerut, ia melangkah ragu mendekati pintu. 'Perasaan aku gak pesen apa-apa, kenapa kurirnya datang lagi?' Ia mengira orang yang datang adalah kurir yang sama yang telah mengantarkan barang keperluan dapur yang dipesannya lewat online. Ia membuka pintu sedikit untuk mengintip, tetapi pintunya langsung didorong dengan kuat dari luar. Sesilia kaget dan menjerit ketakutan. "Aakh, kamu siapa?!" "Ini aku, David." Sontak Sesilia mengangkat wajah, menatap pria di depannya. Ia mematung tak percaya dengan pengelihatannya. "Kak ... David?" Pria itu segera menyerbu memeluknya dengan erat. "Maafkan aku, Sayang. Aku gak tahu kalau kamu dijebak. Aku bener-bener bodoh." Sesilia masih tertegun, berdiri mematung tak tahu harus berbuat apa. Lama David memeluknya. Pria itu tak dapat menahan rasa haru dan rasa bersalah juga menyesal telah memutuskan hubungan mereka. Pelukannya pun di lepas, ia meraih bahu Sesilia lalu menatapnya dalam-dalam. "Sil, kamu cerai aja dari Azka, ya. Kita kembali seperti dulu." Mendengar ucapan David, Sesilia langsung mendorongnya menjauh. "Tahu dari mana aku di sini?" David menarik napas berat, ia sudah berjanji tidak akan membocorkan kalau Ivanlah yang memberikan alamatnya, setelah dia memaksa manager Sesilia itu. "Itu gak penting, Sil. Yang penting sekarang, kita balikan lagi, ya." "Maaf, Kak. Aku gak bisa. Aku udah janji sama Kak Azka untuk saling membuka hati, kami akan belajar saling mencintai. Lagian baru kemarin kami menikah, gak mungkin langsung bercerai, kami baik-baik aja, gak ada masalah, gak ada alasan bagiku untuk meminta cerai." David geram, tak terima dengan alasan Sesilia. "Sesilia, Azka itu jahat. Aku yakin dia yang merencanakan semua ini. Dia sengaja mau merebut kamu dari aku." Sesilia mengerutkan kening, tak mengerti omongannya. "Maksud Kak David, apa? Ngapain juga Kak Azka merebut aku? Kami gak saling kenal, atau Kak David udah kenal Kak Azka, terus apa alasannya, kenapa harus merebut aku?" David terdiam, dia tak mampu berkata-kata karena tak mungkin menjelaskan alasannya, apa jadinya jika Sesilia tahu dia merebut kekasih Azka dahulu, tentu akan menjadi masalah juga bagi dirinya. Sebab itu, ia yakin pelaku sebenarnya adalah Azka, dan semakin yakin setelah ia mengunjungi tersangka di kantor polisi, David tak menemukan jawaban, pria itu sepertinya sengaja bungkam. "Sil, dengar. Aku memang gak begitu kenal dengan dia, tapi dia sendiri ngaku kan, kalau dia itu penggemar kamu, dan aku yakin dia melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan kamu. Dia itu anak konglomerat, dia bisa melakukan apa aja demi kepentingannya." David berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menjatuhkan Azka. Sesilia menggeleng pelan, karena dia sangat tahu bagaimana pertemuan mereka, baginya itu bukan hal yang disengaja. "Kak, maafin aku ya, aku gak bisa percaya omongan Kak David. Aku percaya Kak Azka orang yang baik, dia sangat mengerti aku. Kalau aja bukan dia, entah bagaimana nasibku sekarang." Matanya mulai berkaca-kaca, ingatan bagaimana dirinya dicampakkan tanpa diberi kesempatan membela diri, membuatnya kembali trenyuh. Pria itu meraih tangan isteri Azka itu. "Sesilia, aku mohon dengarkan aku, kamu cerai aja, ayo kita menikah lagi." Sesilia melepas lengan David. Air matanya sudah meleleh di pipinya. "Maaf kak, aku gak bisa. Antara kita udah gak ada hubungan lagi. Bagiku, semenjak Kak David memutuskan pertunangan, kesempatan untuk kita baikan lagi udah terputus." David tidak terima, berusaha meraih tangan Sesilia dan ingin memeluknya. Namun, wanita itu terus berusaha menolak. "Kak, istighfar, aku udah bersuami. Jangan sentuh aku!" "Sesilia, aku cinta sama kamu, aku selalu sayang kamu, yang kemarin itu aku hanya terlalu kesal dan cemburu. Aku mohon, ceraikan Azka, kita menikah, ya." "Maaf, Kak. Aku gak bisa." "Lepasin isteriku!" bentakan keras dari arah pintu mengejutkan mereka. Azka ternyata sudah datang, dengan gerak cepat menarik lengan David dan langsung meninju wajahnya. Sesilia menjerit tertahan, menutup wajahnya karena ketakutan. David terhuyung, Azka kembali menangkap tangannya dan sekali lagi melayangkan tinju ke wajahnya. David terhuyung lagi, tetapi buru-buru bangkit dan langsung membalas Azka tak kalah kerasnya. Sesilia semakin menjerit histeris. Saat David hendak menyerang lagi, Sesilia berdiri pasang badan menghalanginya. David tertegun tak percaya dengan pengelihatannya. "Sesilia?!" "Cukup, Kak. Dia suamiku, sampai kapan pun aku percaya padanya, jadi tolong pergi dari sini. Jangan pernah menemuiku lagi, aku bukan milikmu lagi!" jerit Sesilia di antara sela isak tangisnya. Azka yang terhuyung, langsung menoleh mendengar kata-kata isterinya. Dia tersenyum, mendekat dan langsung memeluk istrinya dari belakang. "Makasih, Sayang. Kamu udah membela dan memilihku. I love you." Pernyataan cinta Azka itu membuat David semakin sakit dan kecewa. "Sesilia, aku udah ngasih tahu kebenarannya, kalau kamu gak percaya padaku terserah, tapi ... kalau nanti kamu tahu, kuharap kamu gak menyesal." Dengan perasaan sedih, pria tangguh itu berbalik meninggalkan rumah keluarga baru tersebut. Sesilia hanya bisa terdiam mendengar ucapan David. Azka pun membalik tubuh isterinya dengan perlahan lalu tersenyum simpul menatapnya. "Sayang, aku lapar. Makan siangnya udah siap belum?" Sesilia mengangguk, berusaha tersenyum ramah. "Ya udah, ayo, Sayang!" Azka menggandeng tangan isterinya, tetapi wanita itu bergeming. Azka segera menoleh menatapnya dengan heran. "Wajahmu gak pa-pa? Apa ini sakit?" Sesilia mencoba meraba pipi Azka yang sempat kena bogem David tadi. Pria itu menggeleng, dia tersenyum lembut, melepas tangan Sesilia dari pipinya. "Aku gak pa-pa, aku cuma kelaparan, bisa makan sekarang?" Azka memasang wajah manja. "Baiklah, ayo." Meski Sesilia tersenyum padanya, tetapi Azka merasa senyum itu belum begitu tulus. Dan lagi-lagi ia harus menarik napas pasrah menerimanya. Saat makan, Azka menatap Sesilia agak dalam, sampai wanita itu melihatnya, Azka langsung tersenyum. "Kamu baik-baik aja, kan?" Sesilia mengangguk pelan, senyumnya masih tetap sama, hambar. "Gak ada yang mau kamu tanyakan ke aku, gitu?" Sesilia menggeleng, lalu tersenyum hambar lagi. "Aku percaya, Kak Azka gak seperti yang dikatakan David." Azka tersenyum, mengangguk puas, lalu menyantap makanannya dengan lahap. "Ternyata kamu pinter masak ya, ini rasanya enak banget loh." Azka seolah berusaha membuka percakapan agar isterinya sedikit lebih luwes dan santai bersamanya. Sesilia menatapnya sejenak. "Makasih, Kak. Biasalah orang kampung, pasti bisa masak." Senyumnya sumbang, sambil terus menyuap makanan, tanpa mau tahu ekspresi suaminya di seberang meja. Lelaki itu mengangkat alis tinggi-tinggi, menarik napas sangat panjang sampai dadanya membusung, lalu perlahan menghembuskannya, seolah ia tengah memendam rasa kecewa. "Makasih ya, Sayang. Makan siangnya enak banget." ucap Azka setelah selesai makan. Lagi-lagi Sesilia hanya mengangguk dan tersenyum hambar. Azka mengangguk-angguk, menatap sembarangan, menarik napas lagi, entah canggung atau kecewa, tetapi ekspresinya terlihat kurang puas. "Baiklah, aku mau kembali ke kantor, kamu gak pa-pa sendirian di rumah? Atau kamu mau jalan-jalan?" Sesilia menggeleng lagi. "Gak, Kak. Aku di rumah aja. Aku takut nanti malah ketemu sama orang yang kenal aku, atau wartawan. Hah, lebih aman di rumah aja." "Okey, aku ... aku pergi ya." Sesilia mengangguk pasti, mengantar kepergian suaminya. Sesampai di pintu, Azka mendekat, berniat mencium kening isterinya, tetapi Sesilia refleks menjauhkan kepala. Azka terlihat kecele. "Ah, maaf, aku ... aku pergi dulu." Sesilia merasa bersalah, tetapi entah kenapa hatinya masih ragu. Dia pun melambai mengantar kepergian sang suami. "Maafin aku, Kak. Aku belum terbiasa." gumamnya lalu menutup pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD