2. BADAI DATANG, TAKDIR BERTAUT

2378 Words
Di rumah sakit, Gabriel yang baru sadar justru merasa sangat tidak betah. Berbaring diam di ranjang perawatan bagaikan siksaan tersendiri baginya. "Alex...!! ALEX!! KAU DI MANA?!" teriaknya kesal. "Iya Tuan, saya di sini. Ada apa?" sahut Alex cepat sambil masuk ke dalam kamar. "Tidakkah kau lihat? Ini sangat membosankan! Aku ingin pulang!" "Bersabarlah Tuan. Dokter bilang kondisi Tuan masih lemah, belum boleh pulang," jawab Alex tenang. "AHHH SHITTT!!! Ini tubuhku, Alex! Aku yang tahu batasku! AKU INGIN PULANG!!" bentak Gabriel, emosinya meledak melihat asistennya begitu keras kepala. "Maaf Tuan, demi kesehatan Tuan sendiri..." "KAU SELALU MENYEBALKAN SEKALI, ALEX!!" "Baiklah, terserah Tuan saja..." gumam Alex pasrah. Siapa sangka, di balik sosok dingin dan galak itu, Gabriel sebenarnya adalah pria yang baik dan punya hati lembut. Alex tahu itu. Sebagai asisten sekaligus sahabat terbaik, ia paham bahwa sikap kejam dan tegas Gabriel hanyalah topeng agar ia disegani dan ditakuti banyak orang. Banyak yang mengira Gabriel adalah mafia kejam yang bergerak di dunia gelap, tapi kenyataannya berbeda. Seluruh aset dan bisnisnya legal dan tercatat di mata hukum. Gabriel justru berada di garis depan bekerja sama dengan organisasi besar seperti Direzione Investigativa Antimafia (DIA) dari Italia untuk memberantas mafia-mafia liar yang meresahkan masyarakat. Tut... Tut... Tut... Ponsel berdering. Nama Daniel tertera di layar. Gabriel segera mengangkatnya. "Halo... Ada apa?" "Gabriel, kau tahu nggak? Marius berhasil kabur dari penjara! Sepertinya ada mata-mata yang membantu dia menggali terowongan buat lolos," lapor Daniel dengan nada serius. "AHHH SIALAN!!! Jangan-jangan kecelakaanku ini juga ulah si kampret gila itu?!" umpat Gabriel kesal. "Hah? Kenapa denganmu, El?" tanya Daniel bingung. "Aku kecelakaan. Aku hampir mati kalau nggak ada seseorang yang menolongku," jawab Gabriel, dan seketika wajah cantik Helena terbayang di benaknya. "HAHAHA! Serius? Gabriel De Luca hampir mati? Wah, kemampuanmu menurun nih kayaknya," ejek Daniel dengan nada mengejek. "Ah diamlah mulutmu! Kau telepon cuma buat ledek aku?" "Enggak dong. Ini berita penting. Polisi lagi buru Tirtan, tapi yang paling bahaya sekarang Marius yang udah bebas. Dia bahaya buat banyak orang," jelas Daniel. "Oke, aku akan kirim orang-orangku buat bantu kamu. Tiga hari lagi, aku akan turun tangan sendiri," tegas Gabriel. "Oke, gue percaya sama lo. Semoga lo bisa bantu tim ini nangkep mereka," ucap Daniel sebelum sambungan terputus. Setelah menutup telepon, Gabriel kembali memanggil asistennya. "Lex..." "Iya Tuan?" "Cari wanita itu..." "Wanita siapa, Tuan?" "Helena Octavia. Gadis yang menolongku. Bukankah dia yang menelponmu tadi? Aku kasih nomormu kan?" "Oh iya benar Tuan. Baiklah, saya akan cari dan bawa dia ke sini segera." "Ya, bawalah kesini. Katakan aku ingin berterima kasih dan bicara penting dengannya." ----- Suasana di luar rumah semakin mencekam. Tembakan terdengar tak henti-henti, dan beberapa di antaranya bahkan mengenai kaca rumah Helena hingga pecah berkeping-keping. Di dalam kegelapan dan ketakutan itu, Helena hanya bisa menangis tersedu sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak berani mengeluarkan suara sedikitpun, takut jika ada yang mendengarnya. "AAAAAAHHHH!!! BURRRRAAAAAN!!! TOLONGGGGG!!!!" "DURRAAAA!!! DURRAAAA!!!" "KEMANA KAU LARI?! KAU TIDAK AKAN BISA LARI DARI SAYA!!" Teriakan-teriakan itu terus bergema, menusuk telinga dan membuat jantung Helena seakan mau copot. Ia semakin menggigil, memeluk lututnya erat-erat, berharap semua ini segera berakhir. ---- Alex sibuk menatap layar laptopnya, melacak keberadaan terakhir Helena. Tak butuh waktu lama, kurang dari dua jam, ia berhasil menemukan titik lokasinya. Namun, saat sampai di sana, Alex terbelalak kaget. Jalanan dipenuhi tentara dan polisi yang berjaga ketat. Ambulans lalu lalang dengan sirine meraung-raung, menandakan situasi sedang sangat berbahaya. Alex segera turun dan menunjukkan kartu identitas khususnya kepada petugas di garis pengepungan. "Kami sedang memburu seorang teroris yang menanam bom di wilayah ini, Pak. Ini semua ulah Marius untuk mengelabui pasukan keamanan," jelas petugas tersebut. "Sialan... orang itu sudah benar-benar gila," umpat Alex dalam hati. "Izinkan saya masuk, Pak. Saya harus menjemput seseorang yang terjebak di dalam sana," pinta Alex. "Silakan Tuan Alex. Perlu kami kirim pasukan untuk membantu?" "Tidak perlu, terima kasih. Saya bisa mengatasinya," jawab Alex singkat lalu berlari menuju rumah kecil yang terlihat sudah berantakan itu. Pintu depan tertutup rapat dan terlihat rusak. Alex berteriak memanggil nama gadis itu, namun tak ada jawaban. Di dalam rumah, Helena mendengar teriakan itu. Ia ingin menjawab, tapi mulutnya terkunci rapat. Trauma yang menghantamnya membuat ia lumpuh seketika, tak mampu mengeluarkan suara apa pun. Alex mencoba mendobrak pintu dan berhasil masuk. Ia melihat sebuah meja berat menahan pintu dari dalam. Pasti dia yang menaruh ini agar penjahat tidak mudah masuk, batin Alex. Matanya lalu tertuju pada satu pintu kamar yang tertutup. Tok... Tok... "Nona Helena! Apakah Anda di dalam?!" teriak Alex. Tak ada jawaban. Tanpa pikir panjang, Alex menendang pintu itu hingga terbuka lebar. Ruangan tampak kosong, namun tiba-tiba... Hikkss... Hikkss... Suara isak tangis tertahan terdengar samar dari bawah ranjang. Alex segera berjongkok dan melihat sosok kecil yang menggigil ketakutan di sana. "Nona Helena, kemari... Jangan takut. Saya datang untuk menolong Anda," ucap Alex lembut sambil merentangkan tangan. Melihat Helena hanya diam terpaku dengan mata kosong, Alex sadar gadis ini sedang mengalami shock berat. "Nona, saya Alex... Asisten Tuan Gabriel, pria yang Anda tolong kemarin. Ayo kita keluar dari sini, tempat ini tidak aman. Ada bahaya, kita harus pergi sekarang!" Usaha Alex akhirnya membuahkan hasil. Perlahan, tangan mungil itu terulur. Alex segera menariknya keluar dengan hati-hati. Sebelum pergi, ia tak lupa mengambil tas, laptop, dan HP Helena—barang-barang yang pasti sangat berharga bagi gadis itu. Sepanjang perjalanan menuju mobil, Helena hanya diam. Tatapannya kosong, tak bersemangat sama sekali. Alex mempercepat laju mobilnya, ia tahu gadis ini butuh pertolongan segera, bukan hanya fisik tapi juga mental. Di Ruang Psikologi Alex segera mendaftarkan nama Helena Octavia. Sementara menunggu dokter menangani Helena, Alex langsung berlari menemui Bosnya. "Tuan! Tuan!!" "Ada apa Alex?! Kau sudah menemukannya?!" tanya Gabriel antusias. "Sudah Tuan... Saya sudah bawa Nona Helena ke sini. Tapi... kondisinya tidak baik. Saya bawa dia ke ruang Psikologi sekarang, sepertinya dia mengalami guncangan jiwa yang parah," lapor Alex. "APPAAAAAAA...?!" teriak Gabriel kaget. Wajahnya langsung berubah pucat lalu memerah menahan emosi. "BAWA AKU KE SANA SEKARANG, ALEX!!" "Tapi Tuan, kondisi Tuan juga masih..." "TAPI-TAPI BUNTU MU!! ATAU KAU INGIN KU TEMBAK SEKARANG?!" bentak Gabriel garang. "Iya-iya Tuan!" Alex buru-buru mendorong kursi roda membawa Bosnya menuju ruangan tempat Helena dirawat. Cekleekkk!!! Pintu dibuka dengan kasar hingga membuat dokter yang sedang memeriksa terlonjak kaget. "Apa-apaan ini?!" seru dokter itu. "Maaf Dokter... ini Tuan saya. Dia... sangat khawatir sekali dengan Nona ini," bisik Alex menjelaskan. Dokter itu hanya mengangguk paham. Siapa yang tidak kenal Gabriel De Luca? Di luar sana pria ini dikenal sebagai sosok dingin, kejam, dan ditakuti. Dokter pun memilih untuk tidak membesar-besarkan masalah pintu yang didobrak tadi. "Dia kenapa?!" tanya Gabriel dengan suara baritonnya yang berat dan mengintimidasi. "Pasien mengalami trauma yang sangat hebat, Tuan. Itulah sebabnya dia menjadi diam dan tatapannya kosong seperti orang kehilangan semangat hidup," jelas dokter. "Terus apa yang harus dilakukan?!" "Saran saya, Tuan harus selalu menjaganya. Jangan tinggalkan dia sendirian setidaknya untuk beberapa hari ke depan sampai kondisinya membaik dan shock-nya berkurang..." "Hemm... oke, mengerti," jawab Gabriel singkat. "Alex, urus semuanya!" perintahnya tegas. Hanya Alex yang paham betul, di balik kata-kata singkat itu, tersimpan rasa khawatir dan kasih sayang yang besar dari Bosnya yang berkepribadian ganda itu. Buntut dari baku tembak antara pasukan keamanan dan buronan itu sangat dahsyat. Wilayah tempat tinggal Helena hancur lebur, rata dengan tanah. Termasuk rumah kecil peninggalan orang tuanya. Jika saja Alex sedikit saja terlambat menemukannya saat itu, mungkin kini Helena sudah tidak ada di dunia ini, atau setidaknya tidak akan pernah bertemu dengan Gabriel. Seminggu kemudian... Di ruang perawatan khusus, gadis kecil itu akhirnya perlahan membuka matanya. Trauma yang sempat menguncup perlahan mulai mencair. "Hoooooaaaaammm... Aku di mana ini? Perutku lapar sekali..." ucap Helena seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, baru saja sadar dari shock berat yang dialaminya selama seminggu penuh. Ceklekk... Pintu terbuka. Sontak mata Helena terbelalak. Di depannya berdiri seorang pria tinggi besar, kulit putih bersih, tubuh tegap, dengan bibir tipis merona merah bak pangeran turun dari kayangan. "Ya Tuhan... tampannya bukan main!" gumam Helena dalam hati, terpana. "Hei! Kau siapa? Dan ini aku di mana?!" teriaknya saat sadar dari lamunan. "Sudah bangun?" Suara berat dan dingin Gabriel menyapa, membuat Helena instingnya langsung bilang 'hati-hati bicara'. "Iya... tapi ini maaf Tuan, aku kenapa bisa ada di sini? Tiba-tiba bangun di kamar aneh, terus apa yang sebenarnya terjadi? Aku bingung sekali..." Celotehan Helena yang tak henti-henti membuat Gabriel harus memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. "Hemmm... cerewet sekali dia. Bagaimana mau jawab kalau dia ngomong sendiri tanpa rem," umpat Gabriel dalam hati. "Kau di rumah sakit!" jawabnya singkat. "Hah? Rumah sakit? Aku kenapa?? Bisa nggak sih 'Pak Tua' bicara jelas?! Jangan bikin saya pusing, kepala ini lagi sakit tahu!" Sontak Gabriel kaget setengah mati. Wanita ini... tidak takut padanya?! "APA ITU? PAK TUA? SHITTT!!" "Umurku cuma 28 tahun! Masih muda dan ganteng, incaran banyak wanita! Eh dia malah bilang pak tua?! Andai dia nggak pernah nyelamatin aku, udah ku kirim dia ke Antartika jadi makanan beruang kutub!" gerutu Gabriel di dalam hati. "HAAAAH??? PAK TUA?? SIAPA YANG KAUPANGGIL PAK TUA?!" bentak Gabriel. "Ya lah, siapa lagi kalau bukan kamu? Di ruangan ini kan cuma ada aku dan kamu, 'Pak Tua'..." jawab Helena polos tanpa sadar kalau lawan bicaranya sudah mulai mendidih. "HELENA OCTAVIAAAAAAA!!!!" Teriam Gabriel begitu keras hingga Helena kaget dan langsung menutup kedua telinganya. "Ih, jangan teriak-teriak dong! Kupingku sakit loh, 'Pak Tua'..." "ALEX!!! KEMARI SINI!!! HADAPI WANITA MENYEBALKAN INI!!" teriak Gabriel memanggil asistennya. Ia memilih diam dan membiarkan Alex yang menangani makhluk cerewet ini yang sudah merusak mood-nya pagi ini. Alex pun masuk dan menjelaskan semua kronologi kejadian dengan sabar. Akhirnya Helena paham. Oh, jadi pria galak ini adalah orang yang dia tolong, dan sekarang Gabriel lah yang menolongnya. "Oooooohhh gituuu... Makasih ya Kak Alex dan 'Pak Tua' udah nolongin aku," ucapnya tanpa dosa. "FUCK... Apa matanya salah lihat? Dia panggil Alex 'Kakak', tapi aku 'Pak Tua'?! Wanita ini apa otaknya ketinggalan pas dichek tadi? Kesadarannya setengah-setengah apa gimana?!" monolog Gabriel kesal. Alex di situ hanya bisa menahan tawa melihat interaksi itu. Ia paham betul Bos-nya sedang menahan amarah yang bercampur rasa gemas. "Kak Alex, emang 'Pak Tua' itu emang bawelnya dikit banget ya? Wajahnya datar terus, dingin pula. Tiap aku tanya jawabnya cuma 2 sampai 6 kata doang," bisik Helena pada Alex. "Hahaha, bukan Pak Tua dong Non. Tuan Gabriel masih muda banget, umurnya 28 tahun. Memang dia orangnya pelit bicara, tapi sebenarnya dia baik kok," jelas Alex lembut. Di matanya, gadis inilah yang berhasil merebut hati Bos-nya yang beku itu. "Tapi lihat tuh dari tadi cuma diem aja..." "Biasa Non, emang gitu kalau sama orang baru. Nanti kalau udah deket, Non bakal lihat sisi lembutnya kok." Gabriel yang sudah muak mendengar mereka berbisik-bisik akhirnya angkat bicara. Suara baritonnya terdengar tegas. "Dengar kau Nona Helena Octavia, ini pertama kalinya aku bicara panjang lebar. PERTAMA: Aku BUKAN Pak Tua! KEDUA: Bisa nggak sih kau bicara pelan sedikit? Jangan kayak p****t ayam yang nggak pernah diam!" Helena langsung mangap dan mengangguk patuh. "Alex, aku lapar. Waktunya..." Belum selesai Gabriel bicara, Alex sudah paham maksudnya. "Siap Tuan! Ayooo Nona Helena, kita sarapan dulu. Nona pakai kursi roda ini ya, kita ke kantin." "Hah? Ke luar boleh ya?" "Boleh dong Non. Tuan Gabriel sudah izin sama dokter. Lagipula Nona nggak bosan apa diam di kamar terus?" "Iya bener juga Kak! Aku bosan banget, pengen cepet pulang aja deh," rengek Helena manja. "Aaaahhh gadis kecil ini... bener-bener kayak bunglon, mood-nya bisa berubah-ubah secepat kilat,"* gumam Gabriel memperhatikan. "Ya sudah ayo makan dulu. Tuan Gabriel juga sudah lapar. Ayo Non duduk sini, saya dorong." "Enggak usah Kak Alex, aku bisa jalan kok!" tolak Helena lalu menoleh ke arah pria di sebelahnya. "Oh iya... 'Pak Tua', apa aku boleh pulang sih? Rasanya bantuan kamu udah terlalu besar. Lihat aku dirawat di sini pasti biayanya mahal banget. Aku nggak mau merepotkan kamu terus-terusan," ucapnya tulus. "KAU...!!" Gabriel mendengus kesal, matanya melotot tajam mendengar sapaan 'Pak Tua' itu lagi. Melihat wajah Gabriel yang mengerikan, Helena langsung ketakutan dan menunduk dalam. "M-maafkan aku..." isaknya pelan. Melihat gadis itu gemetar ketakutan, amarah Gabriel perlahan mereda. "Hemm... Kau boleh pulang... saat kondisimu benar-benar pulih." ----- Di tempat lain, Julia gelisah tak karuan. Sejak melihat berita tentang pengeboman dan baku tembak dahsyat di wilayah tempat tinggal Helena, ia tak bisa tenang sedetik pun. "Astagaaa... di mana gadis kecil itu?? Apa dia selamat... atau...?? Ahhh tidak mungkin! Helena itu gadis pintar, dia nggak mungkin sampai terjebak kan?!" Julia mondar-mandir di ruang tamunya, jari-jarinya gemetar saat terus-menerus menelpon nomor sahabatnya, namun tak pernah tersambung. Kabar keberadaan Helena sama sekali tak ada. "Sudah seminggu... kau membuatku ketakutan setengah mati, Helen!!" isaknya. "Sialan kau... kau membuatku menangis setiap hari hanya karena memikirkanmu. Aku nggak bisa diam saja di sini! Aku harus pergi ke sana! Awas saja kalau kau pergi ninggalin aku sendiri... nggak akan aku maafkan kau, Helen!!" Suaranya melengking penuh emosi, namun air mata terus mengalir membasahi pipinya. Kekhawatiran itu menghancurkan hatinya perlahan. Keesokan Harinya... Julia segera meluncur ke lokasi kejadian. Pemandangan yang ia saksikan membuat lututnya lemas. Garis polisi membentang luas, puing-puing bangunan berserakan, pecahan kaca dan beton berserakan di mana-mana. Suasana begitu suram dan menyedihkan. Beberapa wartawan dan petugas masih sibuk melakukan penyelidikan. "Permisi Nona, Anda tidak boleh masuk. Area ini masih dalam penyelidikan," tegur seorang petugas polisi saat melihat Julia berusaha menerobos masuk. "Maaf Tuan... tapi saya mencari sahabat saya! Tolong izinkan saya masuk sebentar saja!" pinta Julia memohon. "Tidak bisa Nona, daerah ini masih berbahaya. Kami khawatir masih ada sisa bahan peledak yang tersembunyi," jawab petugas tegas namun tetap sopan. "TIDAK! TOLONG IZINKAN SAYA! DIA BUTUH SAYA! TOLONG TUANNN!!" Julia berusaha memaksa masuk, ia tak peduli bahaya atau tidak. Ia hanya ingin tahu kondisi sahabatnya, bagaimanapun keadaannya. "Hikkss... Hikkss... Tuan... apa semua orang di sini selamat? Tolong katakan padaku... saya sangat butuh tahu," ucapnya terbata-bata, suaranya parau karena tangis yang tak henti-henti. Petugas itu tampak iba. "Beberapa dari mereka ada yang tidak selamat Nona, karena terjebak di dalam reruntuhan. Jika Nona ingin mengecek nama-nama korban atau yang selamat, silakan Nona pergi ke Rumah Sakit Ospedale San Raffaele di pusat kota. Di sana ada daftarnya." Mendengar itu, mata Julia langsung berbinar sedikit. "Baiklah Tuan... terima kasih banyak!" Tanpa membuang waktu, Julia langsung berlari menuju mobilnya. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan kota menuju Ospedale San Raffaele, berharap di sana ia bisa menemukan sosok yang ia cari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD