bc

The Devil's Soft Heart

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
age gap
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
campus
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Bab 01 – Takdir yang Bertemu

Helena Octavia, gadis yatim piatu yang hidup mandiri, terus berjuang menjalani hidup meski penuh kesulitan. Di tengah kerasnya dunia, ia tetap mempertahankan kebaikan hatinya—hingga sebuah kejadian mengubah segalanya. Saat pulang kerja, ia nekat menolong seorang pria yang sekarat akibat kecelakaan, bahkan rela mengorbankan seluruh tabungan dan darahnya demi menyelamatkannya.

Pria itu adalah Gabriel De Luca—sosok misterius yang dingin dan berbahaya. Pertemuan singkat mereka ternyata bukan kebetulan, melainkan awal dari takdir yang akan menyeret Helena ke dalam dunia gelap yang tak pernah ia bayangkan.

#TakdirYangBertemu #TheDevilsSoftHeart #PerjuanganHidup #DarkRomance #MafiaStory #CintaBerbahaya 🖤🔥

chap-preview
Free preview
01. TAKDIR YANG BERTEMU
Helena Octavia harus berjuang keras memutar roda kehidupannya sendiri sejak usia delapan belas tahun. Dunianya runtuh saat kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tuanya. Setelah kepergian mereka, tak ada satu pun kerabat yang bersedia membuka pintu untuknya. Dengan tabungan sisa peninggalan orang tua dan sebuah rumah kecil yang menjadi satu-satunya tempat berteduh, Helen tahu ia tidak bisa berdiam diri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia harus segera mencari pekerjaan. "Heellennn...!!" Teriakan keras terdengar dari kejauhan saat Helen baru saja melangkah memasuki gerbang kampus. "Juuuull...!!" balas Helen seraya berlari kecil menghampiri sahabatnya, Julia, yang sudah menunggu sejak tadi. "Helen, kenapa lama banget sih? Gue udah kelaperan nih," keluh Julia dengan wajah cemberut. "Eh, maaf ya Jul. Tadi di rumah sibuk beres-beres dulu. Lu tahu kan, kalau hujan rumah gue pasti bocor di mana-mana, jadi harus ditangani dulu," jawab Helen dengan wajah lesu. "Hahaha, ya sudah sudah. Ayo ke kantin, gue yakin lo juga belum sarapan kan?" ajak Julia. "Hehehe, ayo...!!" balas Helen sambil merangkul lengan sahabatnya itu. Sepanjang jalan menuju kantin, mereka tertawa dan bercengkrama. Helen dan Julia sudah bersahabat sejak SMA. Perbedaan tinggi badan mereka membuat mereka terlihat seperti kakak dan adik, namun keduanya sama-sama memiliki kecantikan yang alami. Namun, suasana ceria itu perlahan berubah saat Julia membuka suara. "Helen... kayaknya gue bakal cuti kuliah satu semester ini deh." Helen langsung menghentikan langkahnya, wajahnya terlihat kaget. "Apaan sih Jul, lo nggak bercanda kan? Kenapa tiba-tiba? Jangan bilang lo mau ninggalin gue sendirian di sini?" ucap Helen dengan nada sedih. "Gue serius Len... Minggu ini gue harus urus semuanya. Ibu gue harus segera dioperasi, dan gue harus kerja keras buat ngumpulin biayanya," jelas Julia pelan, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Helen terdiam. Ia paham betul situasi sahabatnya. Kehidupan mereka memang sama-sama sulit, tapi setidaknya Julia masih memiliki orang tua untuk dijadikan tempat pulang dan berkeluh kesah. Berbeda dengan dirinya yang kini hidup sebatang kara. Tanpa ragu, Helen kembali memeluk Julia erat, memberikan kekuatan. "Jul, gue ngerti banget. Ini keputusan yang paling tepat kok. Mendingan lo urus nyokap daripada mikirin ego sendiri buat kuliah. Gue dukung penuh keputusan lo." Helen melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Julia dengan tegas. "Dan inget... lo nggak sendirian. Gue bakal bantu lo sebisa mungkin. Lo masih punya gue, Jul." * * * * Akhirnya, Helena dan Julia harus berpisah jalan. Mereka sama-sama harus berjuang keras demi kehidupan masing-masing. Setelah kuliah usai, Helena harus segera bergegas ke tempat kerjanya sebagai karyawan paruh waktu di sebuah restoran. Jarak dari kampus ke sana terbilang jauh, sekitar empat kilometer. Namun, Helena memilih berjalan kaki. Baginya, naik kendaraan umum hanya akan membuang uang, dan jalan kaki bisa dijadikan sarana olahraga sekaligus menghemat biaya demi impiannya memiliki sepeda motor sendiri. "Hufftt... lelah memang, tapi tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku harus menabung agar nanti tidak perlu jalan kaki terus," gumamnya dalam hati, menyemangati diri sendiri. Sepanjang jalan, wajah ramah Helena selalu disambut senyum oleh warga sekitar dan para pengemudi taksi yang biasa mangkal. Ia sudah dianggap seperti pelanggan tetap yang akrab. Sesampainya di restoran, Helena bekerja dengan sungguh-sungguh. Mulai dari membersihkan meja, mencuci piring, hingga mengantar pesanan, semuanya dikerjakan dengan senyum. Kecantikwan dan keramahannya membuat ia disukai banyak pelanggan. "Helena, kemari sebentar," panggil Ibu Manager. "Iya, Bu. Ada apa?" tanya Helena sopan. "Kamu bekerja sangat baik dan sering dapat pujian. Ini, sedikit bonus untukmu sebagai penghargaan," ujar Ibu Manager sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat. Wajah Helena langsung berseri. "Terima kasih banyak, Bu! Saya janji akan bekerja lebih keras lagi." Namun, di sudut lain, Ratna—rekannya sesama karyawan—menatapnya dengan tatapan iri dan tidak suka. "Hhh, uang hasil cari muka sih. Sok manis segala," sindir Ratna pelan. Helena hanya menghela napas dan memilih mengabaikannya. Ia tahu, sindiran itu hanya lah bentuk kecemburuan belaka. Malam semakin larut. Pukul 21.00, restoran mulai tutup dan seluruh karyawan sibuk membersihkan area. Pukul 22.00, akhirnya Helena bisa pulang. Ia berjalan mencari taksi langganannya, Pak Marco, yang biasa mengantarnya pulang. "Aduh, Pak Marco kok lama sih... badan rasanya sudah mau lemas semua. Pengen cepat-cepat tidur," keluhnya pelan. Tak lama kemudian, taksi itu datang. "Maaf ya Nona Helen, tadi macet parah di depan. Ada kecelakaan, tapi anehnya tidak ada yang berani mendekat atau menolong." "Oh tidak apa-apa, Pak. Ayo kita pulang saja, saya sudah mengantuk," jawab Helena lemas. Namun, saat melewati lokasi kecelakaan, mata Helena tertuju pada sesosok tubuh yang tergeletak tak berdaya di aspal. Hatinya terenyuh. Melihat orang-orang hanya berkerumun tapi tak ada yang bertindak karena takut dijadikan saksi atau terlibat masalah, membuat emosi Helena tersulut. "STOP, PAK! STOPPP!!" teriak Helena panik. Pak Marco mengerem mendadak. "Ada apa, Nona?" "Saya mau menolong dia, Pak! Lihat dia sudah tidak berdaya. Kenapa orang-orang di sini seolah tidak punya hati?" ucap Helena dengan suara bergetar, mencoba menyadarkan orang-orang di sekitar. "Tolong bantu saya bawa dia, Pak!" pinta Helena. "Eh, maaf Nona, saya takut..." Pak Marco tampak ragu. "Ya sudah tidak apa-apa. Tolong carikan kendaraan lain yang mau bantu antar ke rumah sakit!" pinta Helena lagi. Akhirnya, dengan bantuan orang lain yang dipanggil Pak Marco, korban itu berhasil diangkat. Pak Marco sendiri memilih tidak ikut sampai RS karena takut berurusan dengan polisi. Helena hanya bisa menggelengkan kepala melihat kurangnya empati di sekelilingnya. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Helena terus menekan luka di kepala korban menggunakan kain untuk menghentikan pendarahan. "Tahan ya... sebentar lagi kita sampai. Bertahanlah," bisiknya lembut. Sesampainya di UGD, Helena langsung berteriak memanggil bantuan. "Suster! Dokter! Tolong!!" Tim medis segera membawa korban masuk ke ruang perawatan intensif (ICU). Namun sebelum ditangani, seorang suster meminta Helena mengisi formulir dan membayar biaya administrasi. "Maaf Nona, tolong isi data dulu dan bayar administrasi agar pasien bisa segera ditangani." "Ya ampun... bagaimana ini? Saya tidak kenal dia, saya hanya orang baik yang mau menolong!" keluh Helena bingung. "Tapi prosedurnya begitu, Nona." Helena menatap korban itu. Ingatan tentang kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya kembali muncul. Trauma itu membuatnya tak tega membiarkan orang lain mengalami nasib sama tanpa pertolongan. "Kasihan keluarganya... mereka pasti sangat sedih jika kehilangan dia," batinnya. Dengan berat hati namun tegas, Helena mengeluarkan uangnya. "Ya sudah, saya yang bayar. Untung tadi baru dapat bonus dan gajian. Semoga cukup," gumamnya, rela mengeluarkan hasil jerih payahnya demi menyelamatkan nyawa orang asing itu. ----- Di rumah sakit, Helena mengurus segalanya dengan penuh ketulusan. Ia rela mengeluarkan seluruh tabungannya demi menolong pria asing ini. Trauma masa lalu yang pernah merenggut orang-orang tersayang membuatnya tak tega melihat orang lain mengalami nasib serupa, apalagi hanya karena masalah biaya administrasi. Cekleek... Pintu ruang ICU terbuka. Seorang suster keluar dan menghampiri Helena. "Nona, pasien membutuhkan transfusi darah segera. Lukanya di kepala cukup parah dan banyak kehilangan darah. Kami butuh golongan darah A, tapi sayang stok di bank darah rumah sakit sedang kosong," jelas suster itu. Mendengar itu, Helena langsung mengangkat tangan. "Oh darah A ya, Sus? Darah saya golongan A! Mungkin bisa cocok untuk dia," ucapnya sigap. "Oh, bagus sekali kalau begitu. Silakan Nona ikut saya, kita akan cek kecocokan dulu," ajak suster tersebut. Helena mengikuti langkah suster itu, meski di dalam hatinya rasa takut mulai merayap. Ia sangat phobia dengan jarum suntik. Di ruang pengambilan darah, melihat jarum yang cukup besar dan kantong darah yang kosong membuat pikirannya langsung berantakan. "Ya ampun, jarumnya segede itu! Nanti kalau nyantol gimana? Aduh, darahku habis nggak ya dibagi kayak gini?" batinnya panik. "Tapi... Tuhan, aku ikhlas. Kalau ini caranya menolong dia, aku siap. Asal dia selamat, aku rela ditusuk jarum sekalipun," lanjutnya berdoa, mencoba menenangkan diri setelah berdebat panjang dengan ketakutannya sendiri. "Nona, silakan berbaring di sini. Kita akan cek kesehatan dan golongan darah Nona," ucap suster lembut. "Sus... ini nggak sakit banget kan? Helena nggak bakal mati kan kalau disuntik?" tanya Helena polos dengan wajah memelas, membuat suster itu langsung paham kalau gadis ini takut jarum. "Hahaha, enggak kok Nona. Sedikit perih doang. Nanti setelah darah diambil, Nona tetap hidup kok, tenang aja," jawab suster itu sambil tertawa kecil menanggapi tingkah lucu Helena. "Oke deh... tapi pelan-pelan ya Sus," pasrah Helena. "Siap... Satu... dua... tigaaa!" Slepp! Jarum tertusuk, dan darah merah segar mulai mengalir masuk ke dalam kantong plastik. Rasa perih dan nyut-nyutan membuat mata Helena langsung berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan, bukan karena marah, tapi karena rasa takut yang luar biasa. Namun ia bertahan. Baginya, menolong harus sampai tuntas, apalagi pria ini tak diketahui siapa keluarganya. Proses pun selesai. Helena masih mengucek matanya yang basah karena tak berani menatap jarum dan darahnya sendiri. "Selesai Nona. Darah Nona cocok! Sekarang akan segera kami bawa ke ruang operasi," ucap suster itu. "Baik Sus, tolong lakukan yang terbaik ya," jawab Helena lemas. Beberapa jam kemudian, dokter dan tim medis keluar dari ruang ICU. "Nona, tadi pasien sempat mengalami masa kritis, tapi alhamdulillah sekarang kondisinya sudah membaik. Kemungkinan besar besok pagi dia akan sadar," lapor Dokter. Helena menghela napas panjang, rasa lega menyelimuti hatinya. "Alhamdulillah... terima kasih banyak, Dok." Helena pun masuk ke dalam ruangan dan berdiri di samping tempat tidur pria itu. "Hei... selamat ya. Kamu selamat. Aku izin tidur di sini sebentar ya, soalnya aku capek banget... plus darahku juga habis sebagian buat kamu," gumamnya pelan sambil mengusap pelan lengan pria itu. "Ayo bangun besok, soalnya uangku sudah menipis buat bayar biaya rumah sakit nih." Saat menatap wajah pria itu lebih dekat, Helena terpaku. "Wah... tampan sekali," batinnya terkagum-kagum. Wajahnya yang tegas, hidung mancung, serta postur tubuh yang tinggi dan atletis membuatnya terlihat sangat sempurna. Helena benar-benar terkesima melihat ciptaan Tuhan yang begitu rupawan. * * Pagi Hari di Rumah Sakit "Aduh... kepalaku sakit sekali," keluh Gabriel pelan. Ya, dia adalah Gabriel De Luca. Seorang mafia besar yang terkenal dengan sikapnya yang dingin, kejam, dan tak tersentuh. "Aku ada di mana ini?" Perlahan matanya menyesuaikan cahaya ruangan. Pandangannya berkeliling, hingga terpaku pada sosok wanita yang tertidur pulas sambil memegang tangannya. Dengan gerakan lambat, Gabriel menggeser helai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Cantik. Sangat cantik dan damai saat tertidur. "Ehh... kau sudah bangun?" Helena terbangun kaget, suaranya masih berat khas orang baru bangun tidur. "Maaf ya, aku kelelahan sampai nggak sadar kalau kau sudah sadar," ucapnya sambil mengucek mata. "Hemm, tidak apa-apa," jawab Gabriel singkat dan datar. "Kepalanya masih sakit?" tanya Helena penuh perhatian. "Sedikit," balasnya lagi-lagi dengan kata yang minim. Helena sedikit mendengus kesal dalam hati. Pria ini memang dingin sekali, jawabannya sepotong-sepotong. Tapi ia mencoba bersabar. "Syukurlah kalau sudah sadar. Oh iya, namamu siapa? Dan di mana keluargamu? Biar aku hubungi supaya mereka yang urus kamu di sini," tanya Helena ramah. "Aku Gabriel De Luca. Panggil saja Gabriel. Aku tidak punya keluarga. Tapi kau bisa menghubungi orangku," ucap Gabriel tanpa ekspresi. "Oh... baiklah Gabriel. Boleh minta nomor yang bisa dihubungi?" Gabriel pun menyebutkan deretan angka, dan Helena segera menelpon serta menjelaskan situasinya kepada orang di seberang sana. "Sudah, katanya mereka akan segera datang. Kalau begitu aku pamit pergi dulu ya, soalnya aku ada urusan dan harus kerja lagi nanti siang," kata Helena seraya beranjak bangun. "Tunggu..." panggil Gabriel menghentikan langkahnya. "Kenapa?" "Siapa namamu? Dan... aku akan mengganti semua biaya ini," ucap Gabriel tegas. "Aku Helena Octavia, panggil saja Helena. Dan untuk biaya... nggak usah diganti kok. Aku ikhlas menolongmu," jawabnya tulus. Tanpa menunggu balasan, Helena pun berlalu meninggalkan pria itu sendirian. Begitu pintu tertutup, senyum tipis terbit di bibir Gabriel. "Cantik, baik, dan tulus... Dia pantas menjadi Nyonya De Luca. Aku harus memilikinya, bagaimanapun caranya," gumamnya penuh tekad. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan masuklah Alex, asisten pribadi setianya. "Tuan! Anda tidak apa-apa? Saya cari ke mana-mana!" ucap Alex panik. "Aku baik-baik saja, Alex. Kau memang selalu berlebihan," sahut Gabriel santai. "Baiklah Tuan, sekarang istirahatlah. Saya akan pindahkan Anda ke ruangan yang lebih besar dan nyaman," kata Alex. "Bagus. Aku sudah bosan di kamar sempit ini," timpal Gabriel dengan nada dinginnya yang khas. Akhirnya Alex mengurus segalanya, mulai dari administrasi hingga memindahkan bosnya ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih mewah dan privat. Di Rumah Helena Sesampainya di rumah, Helena langsung merebahkan tubuhnya yang lemas. Ia teringat tabungannya yang kini tinggal sedikit karena habis dipakai untuk biaya rumah sakit. "Yasudahlah... namanya juga menolong. Aku percaya Tuhan pasti akan ganti dengan yang jauh lebih banyak nanti," bisiknya mencoba berpikir positif. Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. DOR! DOR! DOR! Suara tembakan memekakkan telinga terdengar di luar rumah! Helena terlonjak kaget. Ia segera mengintip dari celah jendela dan melihat kericuhan besar. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengunci semua pintu dan mendorong meja berat untuk menahan pintu depan agar tidak bisa didobrak. Rumahnya kecil, hanya rumah petak sederhana, sehingga suara teriakan, sirine polisi, dan letusan senjata api terdengar sangat jelas dan menakutkan. "TUHANNN... TOLONGGG AKU! TAKUT... AKU TAKUT BANGET!" jeritnya di dalam hati sambil menangis tersedu-sedu. Ingatan buruk 6 tahun lalu kembali menyerang. Suara dentuman keras, kepanikan, dan rasa kehilangan yang mendalam saat orang tuanya tiada... semuanya terulang kembali. Helena gemetar hebat. Ia terus berdoa, memohon keselamatan. Suara kaca pecah dan pintu yang dihajar terdengar makin dekat. DUBBRAKKKK!!!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
707.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
947.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
340.2K
bc

Not just, the Beta

read
338.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook