Awal dari Mimpi Buruk

780 Words
     Aku segera menjauh berusaha menahan mual. Marni mengikutiku sambil memegangi perutnya. Rasa asin tiba-tiba kurasakan, pertanda rasa mual sudah menyentuh langit-langit tenggorokan. Sekali lagi, aku memuntahkan isi perutku. Seakan menular, Marni menyusulku layaknya backing vokal. Saat itulah aku mendengar suara samar dari arah semak belukar. “Sapa di sana?!” teriakku. Beberapa saat kemudian, munculah Si Gadis Misterius. “Enggak usah galak gitu, kali!” ucapnya, sambil keluar dari balik semak belukar.      Wajahnya agak bulat dan sedikit tembem. Kulitnya putih, berambut lurus setinggi bahu. Terdapat dua buah gigi runcing di kedua sisi mulutnya. Logat dan aksennya berbicara yang berbeda membuatku yakin, jika dia bukanlah gadis desa.      Pesona cantik tetap terpancar darinya meski mengenakan kacamata minus bulat. Aroma wangi yang sempat tercium hidungku kian tajam menusuk hidung, seiring dia mendekat. Tidak berlebihan rasanya jika aku menyebutnya sengak.      Wangi yang terlalu menusuk tersebut membuatku merasakan mual lagi. ***      Dia terlihat menggendong tas punggung besar berwarna biru. Sepatunya juga terlihat begitu modis hingga Ilham merasa minder. Digerakgerakkan kedua kakinya mencoba menyembunyikan sendal jepit kumuhnya yang berdecit-decit. Eko juga tak kalah teliti, dia menatap ke arahnya hingga beberapa lama. Para gadis yang geram dengan tingkah kampungan kami, memasang wajah layaknya psikopat. Aku yang sadar segera mengalihkan pandangan. “Lihatnya jangan gitu, Mat!” protes Jumi. “Siapa yang lihatin?!” sanggahku. “Ilermu itu, lho!” tunjuknya. “Sampai muncrat!” lanjutnya makin ketus.      Debat tak berbobot itu segera terhenti begitu gadis tersebut berjalan mendekat. Kacamata membingkai rapi kedua bola matanya yang begitu nanar. Dia seperti hilang fokus, kala melihat kantong semar yang tergeletak tadi. “Ya, kalian malah melihatnya,” gumamnya, sambil mendekati kantong semar tersebut, “apa kalian udah lihat semuanya?” Gadis tersebut melempar tanya, sambil menatap kami bergantian. “Apanya?” tanyaku balik. “Kalau belum sih, mending enggak usah,” hiraunya, “nyari kantong semar, kan?” imbuhnya. “Ee ....” Aku tak berani melanjutkan ucapan, melihat dua pasang mata menatapku amat geram. Gadis itu tersenyum. Dia kemudian menunjuk ke arah bawah, di mana tempat itu adalah jurang. “Mending ngambil yang di bawah aja, tuh! Jalannya agak susah, tali di pinggiran banyak! Kalau yang di sini tuh, punya mereka,” jelasnya. “Mereka?” tanyaku. “Eh, enggak, enggak! Cuman ngomong sendiri,” elakku. “Apa mau gue antar?” tawarnya. “Boleh, boleh!” serentak Eko dan Ilham mengangguk, tetapi Marni dan Jumi memelototi mereka, hingga mereka berpura-pura bodoh.      Mata mereka seolah menyala-nyala, menatap ketiga pria bodoh ini bergantian. Kami saling tatap sebelum serentak mengubah pandangan secara berpencar-pencar. “Enggak usah! Kami juga mau balik,” tolakku.      Tiba-tiba, Eko dan Ilham menarik lengan bajuku. Mereka tampak tak terima, tetapi dari tadi yang cerocos hanya aku. Itu membuatku memasang wajah datar. “A, ah! Cowok itu memang hidung belang semua, ya!” Marni menggumam keras-keras, dengan penekanan kata yang membuat suasana terasa mencekam. “Benar! Dasar b***t!” Jumi menumpukinya tak kalah pedas. “Bukan begitu, Mar!” Ilham berusaha membujuk saudarinya. “Enggak usah deket-deket! Nanti nular gobloknya!” usir Marni. “Kalau bener nular sih, udah enggak naik kelas ratusan kali kamu, Mar,” kelakarku. “Ndak se-g****k itu juga, kali!” protes Ilham.      Aku hanya tertawa kecil ketika guyonan yang kulempar tadi hanya menjadi kacang garing. Hingga tiba-tiba, gadis tadi berjalan lebih dekat tanpa ragu. Dia kemudian mengambil kantong semar yang tergeletak tadi, tanpa menunjukkan rasa jijik sedikit pun. Cairan pekat di dalamnya bahkan mengalir jelas di tangan mulusnya. Itu membuat kami bergidik dan berusaha memperingatkannya. “Di dalamnya ada ....” “Enggak apa-apa!” acuhnya. Dia kemudian menggali lagi bekas cabutan Marni kian dalam. “Bisa gawat kalau mereka sampai tau!” gumamnya sembari menanam kembali kantong semar tadi dengan hati-hati.      Wajahnya tampak murung ketika menatap kantong semar yang baru dia tanam. Dia kemudian berbalik, usai menanam kantong semar tersebut. “Gimana, jadi gue anter, enggak?” tawarnya.      Eko dan Ilham sontak mengangguk. Sambutan pelototan garang dari mereka berdua, kembali membuat Eko dan Ilham berpura-pura bodoh. Mereka bahkan bersenandung kecil sembari menatap ke arah langit dan menunjuk-nunjuk hal gaib. Aku hanya bisa tersenyum kecut saat Marni dan Jumi ikut memelototiku. Mereka kemudian menarik paksa baju kami, semakin kesal. “Katanya mau kantong semar?” seloroh Eko. “Diam!” bentak mereka berdua, kompak. Eko hanya tertunduk lesu tak lagi mampu melempar kata balasan. “Lagian, siapa juga yang masih mau setelah melihat begituan?” sambung Marni. “Enggak jadi, ya? Sayang …,” gumam gadis tersebut. “Kalau begitu sampai jumpa!” lanjutnya sambil melambaikan tangan. Dia kemudian berjalan menembus semak belukar dan perlahan lenyap dari pandangan. Sampai jumpa? Pikirku merasa janggal. “Ayo, Mat!” teriak Eko yang entah sejak kapan memimpin rombongan. “Bentar!” teriakku sambil mengikuti mereka.      Daun bambu kering perlahan berkurang, jurang sebelumnya juga tak terlihat. Malahan, kami seperti berjalan menyusuri ladang. Lubanglubang aneh yang berjejer tak beraturan sepanjang jalan semakin membuatku heran. Hingga akhirnya, kami tak pernah menemukan jalan kembali menuju tenda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD