Dugaanku semakin mengerucut menuju kenyataan. Perlahan tapi pasti, jalanan berubah. Yang tadinya terjal, licin, dan jauh dari kata mulus, sekarang terasa lebih halus. Yang lain tak terlalu signifikan, tetapi tetap saja tidak relevan untuk dikesampingkan.
Daun bambu kering di atas jalan misalnya. Daun-daun tersebut harusnya berserakan sepanjang jalan. Namun, tidak kali ini. Memang, rumput-rumput subur masih menumpuk di kedua sisi jalan. Hanya saja, tanah gundul di tengahnya memberi kesan jika jalan tersebut memang jalur yang rutin dilalui. Ladang-ladang di sisi kiri kanan kami juga semakin meluas. Kutegaskan sekali lagi. Sebelumnya, hanya ada jurang sepanjang mata memandang.
Yang semakin mengundang tanya, lubang-lubang aneh dengan jarak dan posisi konstan apa itu? Meski tidak sejajar dengan sempurna, lubang aneh itu selalu memenuhi jalan. Kepalaku terus berusaha mencerna, keadaan yang kuanggap aneh itu, sementara kami berjalan.
“Apa benar lewat sini?” tanyaku.
“Memangnya kenapa?!” jawab Eko, lesu.
“A, ah, aku jadi pengin kantong semar!” sahut Ilham.
Sangat kelihatan jika mereka sengaja memberi isyarat. Jumi dan Marni mendelik. Itu membuat keduanya kembali berpura-pura bodoh. Hari itu, mereka berempat terbelah menjadi dua pihak berlawanan.
“Coba deh, kowe lihat sekeliling!” suruhku.
“Biasa saja!” kata Eko, tanpa mengecek terlebih dahulu.
“Apa tadi ada ladang jagung? Singkong? Kubis?” tanyaku bertubi-tubi.
“Hah?!” Eko terperanjat, dan segera meneliti sekeliling. “Benar juga, ini gara-gara aku terlalu fokus memikirkan gadis itu,” gumamnya.
“Apa?!” bentakku.
“Eng … enggak. Enggak apa-apa!” kelitnya.
Seketika itu, Marni dan Jumi spontan memasang tampang bak kesetanan. Kami berhenti sejenak di tengah jalan. Eko segera berlari menaiki tebing. Dia tengah memastikan arah sementara sisanya mulai berdebat.
“Ini semua enggak bakal kejadian kalau kalian enggak kegenitan!” omel Marni kepada Ilham.
“Lho, salahku di mana?” sangkalnya.
“Kamu ndak sadar letak kesalahanmu? Kamu itu napas aja udah salah!” seloroh Marni.
“Maksudmu?” Ilham tampak terpancing.
“Udah-udah!” leraiku.
Aku mendesah, dan menggeleng. Mereka masih saja otot-ototan . Untungnya, beberapa saat kemudian Eko berjalan mendekat. Kulihat sendalnya sampai terlihat amat kotor. Lekaslekas dia melapor, “Seharusnya benar! Ndak ada belokan juga di sana.”
“Belokan? Kalau kuingat, perasaan tadi kita sempat belok, deh,” gumamku.
“Itu mustahil! Satu satunya persimpangan itu dekat kemah kita. Dan kalau pun, belok aku pasti sudah sadar,” sanggahnya.
“Aku juga tadi merasa belok,” sahut Jumi.
“Jangan bercanda kamu!” omel Eko.
“Beneran, Ko! Jumi ndak bohong!” kekehnya. Marni dan Ilham sejenak berpikir. Eko sendiri mulai meragukan pendapatnya pribadi.
Daripada kita berdebat di sini, lebih baik kita kembali saja dan memastikannya sendiri!” usulku.
Mereka langsung sibuk berpikir sendiri, dengan seriusnya.
“Tidak ada jalan lain,” tukas Eko, mengedikkan bahu.
Wajah kecewa segera bermunculan, terutama Ilham. Harus berbalik di tengah lelah, dan penat seperti tak dapat dia terima. Namun Marni mengacuhkannya. Jumi juga menyusulnya tak kalah congkak. Juluran lidahnya kala berlalu terlihat begitu sengak. Setelah saling tatap, aku dan Eko bergegas mengikuti mereka, sementara Ilham masih mematung.
“Cepet, Ham!” seruku. Walau wegah-wegahan, Ilham terpaksa mengikuti kamu berbalik arah.
Kami terus berjalan tanpa kenal lelah. Sayangnya, masih hanya ladang sepanjang mata memandang. Sudah tak terhitung lagi berapa kali kami memastikan posisi. Parahnya, mentari perlahan semakin jauh meninggalkan ufuk timur. Cahaya oranye keemasan mulai terpancar. Pelan tapi pasti semakin gelap, dan semakin gelap lagi. Sampai akhirnya kami tersudut di sebuah titik di mana sekeliling benar-benar gelap. Lokasi kami sendiri pun, kami tak tahu.
"Ini aneh,” gumamku.
“Apanya?” sahut Eko.
Kami semua akhirnya berhenti, dan berdiskusi sekali lagi.
“Bagaimana bisa, kita tak menemukan rumah? Padahal kita berada di sebuah ladang?”
“Kok, aneh? Yang namanya ladang, ya, pasti jauh dari rumah warga, dong?” sanggah Marni. “Jika ada ladang itu pasti ada ....” “Belalang!” potong Jumi.
“Mbokmu kui walang sangit! ” seloroh Ilham. Jumi tampak tersinggung sementara mereka tertawa.
“Enggak salah juga sih, tapi yang kumaksud itu orang,” jelasku, “dan kalau ada orang, berarti pasti ada ….”
“Uang!” Jumi kembali menyerobot.
“Matamu kui koyo duwit benggol atusan! ” ledek Eko tak kalah cepat. “Kamu mendingan diem!” lanjutnya makin kesal.
Aku tertawa geli membayangkan uang logam tebal bergambar gunungan wayang itu berada di mata Jumi.
“Aku, kan, cuman nebak. Ndak usah dimarahi gitu, toh!” keluh Jumi.
Lagian bukan kuis panili 100 kok, main jawab aja kowe!”
“Sudah, sudah!” leraiku, tak berhenti tertawa. “Yang kumaksud itu rumah. Kalau ada orang, harusnya ada rumah, Taslim sejak tadi siang. Kita bahkan belum ketemu satu orang pun, toh?” lanjutku.
Mereka segera berhenti tertawa, kemudian ikut berpikir.
“Alas seberan juga jauh dari desa kita?!” sanggah Eko.
“Tapi tetap saja desa kita kelihatan dari atas sana,” aku menyanggah balik, “lagi pula, kemarin juga desa di bawah kelihatan jelas dari tenda kita,” imbuhku.
“Terus bagaimana?!” panik Jumi.
“Kemungkinannya ada dua, entah kita berada di sebuah tempat yang terlalu jauh, atau ….” “Atau apa?” sahut Eko.
“Apa aku harus menjawabnya?” tanyaku balik. “Sekarang lebih baik kita istirahat. Tuh, di sana ada gubuk!” alihku, sambil menunjuk sebuah gubuk bambu sederhana, di ujung ladang.
“Justru kita harus cepat kembali sebelum hari makin gelap,” sanggah Eko.
“Jangan egois, Ko! Di sini ada dua gadis. Ini juga sudah terlalu gelap. Bukannya cepat sampai, kita malah bisa semakin tersesat, atau bahkan celaka,” protesku.
Eko menggeleng. Dia memang tak menyanggah balik. Namun perkataannya terdengar kasar. “Terserah kowe, lah!” ucapnya, sambil menggeleng.
Kami merangkak ke dalam gubuk. Tempat itu benar-benar menyedihkan. Hanya beberapa sisi yang dipagari. Sisanya terbuka lebar hingga udara dingin bisa masuk dengan leluasa. Meskipun demikian, alas jerami di dalam gubuk setidaknya membuat udara malam tak terlalu menusuk, walaupun tercium bau tak sedap dari sisa kompos yang terkumpul di sudut gubuk.
“Serius kita bakal bermalam di sini?” Sekali lagi Marni memastikan, dan meneliti sekeliling.
“Apa ada tempat lain?” tanya Ilham, sambil merebahkan diri.
“Ini terlalu sempit untuk kita berlima!” keluh Marni.
“Kita bergantian berjaga, sementara sisanya beristirahat,” kataku.
“Amat benar! Daripada kita nanti tersesat!” timpal Eko. Nada kesal dari caranya berbicara masih terdengar jelas.
Jumi kemudian mengikutinya masuk. Aku dan Marni berjaga di luar sementara mereka bertiga beristirahat di dalam gubuk. Malam semakin gelap, benda sekeliling pun, semakin sulit dikenali.
Marni terus menguap. Itu menandakan batasannya sudah dekat. Melihat kondisinya, aku segera masuk ke dalam gubuk dan bermaksud membangunkan Eko. Aku bermaksud memintanya gantian jaga dengan Marni, tetapi yang terbangun malah Jumi.
“Amat?” tanyanya.
“Ngebangunin, ya? Maaf!” ucapku seraya berjalan lebih jauh.
“Ada apa?” tanyanya.
“Bangunin Eko, buat gantian,” jawabku.
“Biar aku saja, Mat! Tanggung sudah bangun!” sahutnya.
“Kalau masih ngantuk, lanjutin aja dulu!” “Ndak apa-apa, ini sudah seger,” eyel Jumi.
Dia segera bangun sambil merentangkan kedua tangan. Aku pun mengurungkan niatku membangunkan Eko. Kuajak Marni yang sudah mengkhawatirkan ke dalam gubuk.
Di sana, Marni tak langsung merebah. Dia meneliti sekeliling terlebih dahulu. Sambil memegangi kedua lengannya, dia memposisikan tubuhnya memunggungi Eko. Jelas terlihat sikap enggan dari gesturnya. Apalagi, Eko mengusilinya dengan sengaja memundurkan punggungnya. Seraya menggeleng, aku bergegas keluar, dan Jumi menatapku heran.
Malam semakin larut. Rasa kantuk mulai menjangkitiku, tetapi kupaksakan mataku tetap terjaga. Ngiang-ngiang suara dengung sedikit demi sedikit kudengar makin kencang. Jauh dari timur gubuk. Kepalaku mulai celingukan mencari sumber suara.
Jleb! Jleb! Jleb!
“Suara apa itu, Mat?” tanya Jumi.
“Kamu juga dengar?” Aku balik bertanya. Merasa curiga, aku cepat-cepat membangunkan teman-temanku.
Marni terbangun dengan wajah yang masih mengantuk. Eko menyusulnya beberapa saat kemudian. Aku meminta mereka lekas-lekas beranjak, tetapi Marni hanya mendekus ketakutan. Dia terpaku memandang ke arah belakangku. Ditunjuknya sesuatu di belakang dengan telunjuk gemetaran. Eko yang mengikuti telunjuknya segera terbelalak makin lebar. Tubuhnya terdorong mundur, dan tiba-tiba saja. Pemuda kurus itu berlari melompati pagar. Marni yang panik bergegas menyusulnya. Kegaduhan itu bahkan membuat Ilham yang tertidur pulas ikut terbangun.
Aku begitu heran. Kudengar suara jeritan Jumi dari belakang yang membuatku berbalik. Kutatap tampang panik Jumi yang sedang menunjuk arah kanan. Aku segera membalik badan, memastikan apa yang dia tunjuk. Tanpa sepengetahuanku, Ilham ternyata juga sudah lenyap dari dalam gubuk. Aku jadi semakin yakin untuk menoleh ke kanan.
Di sana, kulihat sosok pria bertubuh kurus tengah mematung, dan menatapku. Dia memanggul cangkul, menggenggam arit, dan kurasakan lagi perasaan determinasi yang familiar itu. Pria kurus itu mendenguskan suara yang mengerikan, hanya dengan bernapas. Dia tak bergerak. Hanya menatapku dengan wajahnya yang buruk rupa. Caping bambu di kepalanya, tali yang terselip di dagunya, mataku yang mulai terbiasa dengan gelap tak salah mengenalinya.
Instingku mengatakan untuk tak menatapnya terlalu lama. Itu membuat kepalaku mengalihkan pandangan. Jumi hanya bisa mematung dengan bibir umat-umit tak mampu berujar. Dia menoleh kepadaku, memasang wajah paling jelas yang dia bisa.
Tanpa pikir panjang, aku berlari, dan kutarik pergelangan tangannya kuat-kuat. Jumi tersentak, dan segera mengikutiku. Kami pun, berlari sejauh mungkin tanpa memastikan arah. Pergi dari makhluk aneh itu adalah sesuatu yang memenuhi kepalaku.
Petani macam apa yang berladang jam segini? Kenapa juga dia mengejar kami? Kuingat-ingat lagi caping itu, arit itu, dan cangkul yang juga ia bawa. Sialnya, kakiku mulai terasa berat. Rasa takut tampaknya menjadi dorongan tenaga bagiku. Buktinya, Jumi yang biasanya laju kesulitan mengikutiku. Ah, kurasa kami sudah aman. Sudah pol jauh kami berlari. Namun ternyata, makhluk itu berada tepat di belakang kami. Bentuknya berlari, ritmenya mengatur napas, sampai caranya mengambil langkah, semuanya terlihat mengerikan, jauh dari lazimnya manusia.
Lututnya yang seakan bakal patah tiap kali mengambil langkah, ia paksa terus melangkah. Tanpa peduli tubuhnya selalu goyah, ia terus mengejar kami. Namun, entah mengapa gerakannya begitu cepat. Gaya aneh dan mengerikan itu seakan membalikkan fakta, bahwa gerakan kamilah yang tidak benar. Sialnya, Jumi tiba-tiba terjatuh dan merengekrengek minta tolong, tepat di tengah puncak kekacauan.
Aku begitu bimbang melihat langkah aneh itu semakin mendekat dengan cepat, tapi wajah Jumi terlalu patut dikasihani. Sambil mengutuk sifat tak tegaanku, aku berbalik. Kuseret Jumi tak perduli betapa kasar perbuatanku. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana kami berdua bisa selamat.
Begitu sadar, makhluk itu sudah berada di belakang kami, seolah sengaja bermain-main.
“Pulanglah! Waktu kalian di ladang sudah habis!” derau makhluk tersebut, dengan frekuensi suara yang menyakiti telinga. Suaranya yang seakan menggema dari dasar neraka menjebol gendang telinga, mengobrak-abrik rumah siput dalam telinga. Kalau saja benar terisi siput, siput-siput itu pastinya sudah berebutan keluar dari dalam telingaku. “Pulang!” semakin ia ngotot, sementara Jumi mulai menangis.
“Kulo namung sek ngarit, Mbah. ” Tiba-tiba terdengar suara lembut itu, dari arah kananku.
Kata dalam bahasa Jawa itu dia ucapkan dengan nada dan aksen yang kaku. Anehnya, mendengar hal tersebut, petani misterius itu segera berlalu.
“Kamu ….”
Gadis itu mendesut, dengan telapak tangan di tengah-tengah bibir.
“Nek wis rampung, ndang balio !” Denging suara itu menggema dari segala penjuru.
Aneh. Benar-benar tak masuk akal. Makhluk itu seperti tak memiliki telapak kaki. Itulah kenapa caranya berlari terlihat mengganggu. Keseimbangan tubuhnya pun, mengkhawatirkan. Namun anehnya, makhluk itu terus berjalan tanpa merasakan rasa sakit. Padahal, ia tak memiliki telapak kaki.
“Kamu juga sadar, kan?” tanya gadis tersebut.
“Apanya?” Aku balik bertanya.
Melihatnya mengangkat kaki kanan dan menyentuh-nyentuh sepatunya membuatku sadar. Bahwa, gadis itu sedang memberiku kode. Aku menghela napas lega. Telingaku kututup rapat memastikannya tidak tuli. Lubang kecil pada genggaman tangan yang kugunakan untuk menutup telinga menimbulkan dengung yang saling bertabrakan, dengan dengung aneh di dalam kepalaku. Setelah petani misterius itu pergi, gadis tersebut kemudian mengajak kami mengikutinya.
Satu hal yang kuyakini, gadis ini pasti mengetahui hal yang tak kami ketahui. “Sampai jumpa,” kata-kata yang dia ucapkan siang tadi kembali terngiang-ngiang di benakku. Dia seolah tahu persis kalau kita akan kembali bertemu. Sambil mengikutinya, praduga-praduga buruk di kepalaku terus saja bermunculan.