Sebuah kata yang bisa membuat Mia terdiam, dan sebuah kata itu pula membuat Leon tak percaya bahwa kata itu terlontar dengan mudahnya, Leon hampir beberapa tahun ini tidak menjalin kedekatan dengan seorang perempuan termasuk sekretaris dulunya pun seorang lelaki karena entah kenapa Leon sangat alergi terhadap wanita bahkan ia pernah di rumorkan sebagai gay oleh sekretarisnya sendiri karena tak pernah atau jarang berinteraksi dengan seorang wanita terkecuali ibunya, Namun kali ini benar benar berbeda.
“Kau sangat tidak sopan mengatakan hal seperti itu kepada bawahan mu, BOS.” Ucap Mia dengan penuh penekanan ketika di kata Bos sambil melirik bos nya itu dengan pandangan seolah olah sedang menyindir
”Aku serius akan melakukannya jika kau masih berisik seperti ini.” Ancam Leon lagi yang malah membuat Mia terkekeh
“Kau bahkan menatap mataku saja tak pernah apalagi menciumku, kau itu lucu sekali bos besar Leon Kenndy!” ucap Mia yang setelah itu tawanya meledak karena tak kuat membayangkan Leon yang notabennya seperti tak pernah mengenal wanita lalu tiba tiba berkata seperti itu, tawa yang terlontar di mulutnya menjadi saksi bahwa Mia sangat terhibur oleh itu
Namun bagi Leon, hal itu justru di anggap sebagai bahan ledekan dan membuatnya sedikit jengkel. “Baik, akan kubuktikan bahwa aku bisa melakukannya.” Leon mulai bangkit dan mulai berjalan ke arah Mia yang sedang tertawa terbahak bahak
“Kau ingin aku melakukannya?” tanya Leon sekali lagi yang membuat Mia tertawa semakin keras. “Kau tidak bisa melakukannya!” tantang Mia yang semakin membuat Leon merasa tertantang
“Kau itu payah! Menaikan gajiku saja tidak bisa apalagi mencium gadis sepertiku!” ucapnya lagi yang membuat Leon semakin geram akan ucapan yang di lontarkan oleh mulut sialan ini
“Apa kau ingin aku melanggar peraturan di sini yang sudah di buat oleh ayahku?!” tanya Leon dan mulai menghampiri Mia dan mengunci tubuh Mia dengan Leon yang berdiri di hadapannya
Tatapan mereka bertemu, Mia menatap manik mata Leon sekilas sebelum akhirnya ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Aku yakin kau sudah menandatangi kontrak kerja disni dan membaca jangka waktu jika kau ingin kenaikan gaji dengan beberapa syarat.” Ucap Leon sarkastik dan mulai memajukan kepalanya ke arah Mia yang sedang terdiam di bawah kurungannya
“Tapi kau kan bos di sini.” Jawab Mia dan mendongkak ke arah Leon yang berada di atasnya, Lengan Leon yang satu di meja dan satu lagi di kursi Mia guna menahan tubuhnya
“Kau bisa melakukan apapun kan? Demi diriku, aku mohon.” Pinta Mia yang tak akan pernah menggoyahkan hati Leon yang terlalu dingin
“Sekali peraturan tetap peraturan!” ucap Leon dan mulai mengangkat tubuhnya namun dengan cepat Mia menarik dasi milik Leon sehingga Leon menghadap ke arah Mia dengan cepat
“Jangan salahkan aku jika kinerjaku buruk.” Ketus Mia dan melepaskan genggaman dasi di tangannya dengan cepat, Leon menarik tubuhnya dan mulai membenarkan dasi miliknya
“Kau barusan menggodaku?” tanya Leon yang membuat Mia menggeleng cepat. “Itu bukan menggoda, itu ancaman.” Jawab Mia yang membuat Leon sedikit terkekeh
“Lagi pula siapa kau di dalam hidupku?”
Jleb !
ketus Leon yang berhasil membuat Mia sedikit terenyuh akan perkataan Leon yang cukup membuat hatinya tercubit sedikit rasa sakit dan membuat Mia sadar akan status dirinya, status yang tak akan ia bisa ubah, status yang sudah di takdirkan oleh semesta.
•••
Mia telah pulang dari jam kantornya dan langsung pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan sang nenek, setelah ucapan yang di lontarkan oleh Leon kepada Mia membuat Mia tak berani untuk melakukan tindakan yang selama ini lakukan kepadanya bahkan sedari tadi juga Mia tetap diam meski Leon melontarkan sebuah pertanyaan, Mia tak menjawabnya kecuali hal itu di anggap sangat penting bagi Mia
Kalimat yang sungguh mengandung arti yang sangat bermakna bagi Mia, meski Leon sangat mudah mengucapkannya namun kalimat itu sangat bermakna bagi Mia seolah olah itu adalah pertanda keras bahwa Leon meminta Mia untuk tidak melebihi batasnya sebagai orang asing yang notabennya sebagai b***k bagi kontrak bodohnya itu.
Handphone Mia bergetar ketika dirinya tengah melamun memikirkan apa yang baru saja Leon katakan kepadanya ‘lagipula siapa kau di dalam hidupku?’ kalimat itu terus berulang di pikiran Mia dan membuatnya sadar diri akan perbedaan kasta antara dirinya dan Leon jika Leon kasta bangsawan maka Mia adalah kasta b***k
Handphone itu terus bergetar membuat lamunan Mia terburai, dengan cepat Mia memencet tombol hinjau yang seolah olah bergerak dan panggilan pun terhubung, suara wanita di seberang sana menyambut telinga Mia terlebih dahulu
“Apa kau sibuk?” tanya suara wanita tersebut membuat Mia menjawab pelan. “Tidak.” Jawabnya pelan
“Hey, ada apa denganmu?” tanya suara itu mulai khawatir yang tak lain adalah Ziafli
“Aku hanya sedikit emosional akibat menstruasi, tenang saja tidak ada apa apa kok.” Jawab Mia berbohong dan Ziafli dengan polosnya percaya begitu saja
“Jika kau tidak sibuk, bagaimana kalau kita menonton film bioskop? Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama.” Keluh Ziafli yang membuat Mia terkekeh membenarkan
“Benar juga, mungkin sebulan ini kita hanya sibuk dengan karir masing masing.” Jawab Mia
“Tapi aku khawatir jika nanti aku pergi bersamamu, neneku siuman dan tidak ada seorang pun di sana.” Tolak Mia halus yang membuat Ziafli menghembuskan nafas pasrah
“Yasudah, jika kau tidak sibuk telfon saja aku, lagi pula akan ada suatu hal yang ingin aku katakan kepadamu tapi jika kau sibuk tak apa.” Ucap Zialfi sedikit kecewa tapi karena itu pun demi kebaikan sahabatnya jadi Ziafli hanya bisa memaklumi
“Bye, Mia! I Love u so much Friend!” ucap Ziafli di akhiri dengan kecupannya yang terhalang oleh sebuah handphone dan membuat Mia membalasnya, meskipun menggelikan tapi rasanya seolah olah hubungan yang sudah hampir renggang ini kembali merekat
Pip!
Sambungan telefon terputus, Mia kembali menaruh ponselnya dan kembali menggenggam lengan sang nenek, ketika lengan halus yang tengah mengusap telapak tangan yang sudah keriput itu tiba tiba jari tengah Claire bergerak membuat Mia menarik senyum yang amat bahagia, perlahan jari jari itu mulai bergerak satu demi satu dan sampai akhirnya mata yang sudah hampir seminggu itu tertutup kini bisa kembali terbuka dengan sempurna
“Mia?” tanya Claire ketika pandangannya menangkap sosok cucunya yang sangat ia sayangi itu dan berusaha untuk mendudukan dirinya dengan cepat Mia membantu agar sang nenek bisa bersandar di punggung ranjang
“Pelan Pelan nek.” Ucap Mia perhatian dan membenarkan posisi bantal menjadi tegak berdiri sehingga punggung sang nenek bisa bersandar dengan empuk
“Kau tidak bekerja?” tanya Claire yang membuat Mia terkekeh. “Aku sudah pulang nek.” Jawab Mia
“Apakah ada yang ingin nenek butuhkan?” tanya Mia menawarkan namun Claire menggeleng dengan cepat dan lengannya mulai terangkat untuk mengelus rambut hitam cucunya ini
“Nenek hanya ingin pulang dan tinggal kembali bersamamu.” Jawab Claire yang membuat Mia tersenyum
“Nenek harus terus di rawat disini, karena jika kita pulang aku khawatir jantung nenek akan terkena komplikasi lagi.” Ucap Mia yang membuat Claire terdiam
“Tapi darimana uang yang akan kau dapatkan? Biaya rumah sakit di sini sangat mahal, nenek tidak mau disini, aku ingin pulang saja.” Ucap Claire dan dengan cepat Mia menahan dan mecegatnya
“Aku bekerja di kafe milik Ziafli untuk menambah nambah biaya tenang saja nek, nenek tidak perlu khawatir.” Ucap Mia dan membuat Claire terdiam, dia sungguh tidak enak terhadap cucunya ini, ia selalu kerja siang malam hanya untuk mencari uang demi mengobatinya bahkan jika ada suatu hal yang Mia inginkan ia lebih mengurungkan niatnya
Mia kembali terdiam, kalimat itu kembali terngiang dan membuatnya kembali melamun ditambah juga rasa bersalahnya terhadap Reynold dan Reynold yang slow respon membuatnya semakin tertekan
Melihat tekanan batin yang dialami oleh Mia membuat Claire mengelus pipi Mia lembut. “Ada apa? Kau tidak ingin cerita dengan nenek?’ tanya Claire lembut dan membuat Mia tersenyum paksa walau air mata sudah menggenang di pelupuk matanya
“Jika seorang lelaki mulai mengabaikan pacarnya apakah itu artinya dia sudah tidak mencintai kita lagi? Atau apakah dia sudah bosan?” Tanya Mia dan menatap manik mata Claire dalam dalam
“Mungkin dia sibuk, karena dia mengabaikanmu bukan berarti dia sudah tidak mencintaimu lagi.” Ucap Claire memberi pepatah yang membuat hati Mia sedikit tenang dan lega
“Lalu jika aku berbohong kepada Reynold dan mengatakan sebenarnya kepada Reynold dia akan marah?” tanya Mia yang membuat Claire terdiam sesaat, dia sedang memikirkan bagaimana saran dan solusi yang bisa ia berikan kepada cucu kesayangannya ini
“Jika berbohong membuat hubunganmu lebih baik, maka tak apa jika kau mengatakannya lain waktu.” Ucap Claire yang membuat hati Mia merasa lega sekaligus tenang karena beban yang selama ini ia selalu pikirkan sekarang sudah mulai menemukan jalan terang
“Memangnya apa yang kau sembunyikan dari pacarmu itu? Siapa namanya nenek lupa lagi.” Ketus Claire yang membuat Mia sedikit terkekeh akan tingkah neneknya ini yang sudah benar benar pelupa
“Reynold.” Jawab Mia. “Nah itu, kau punya masalah apa dengannya?” tanya Claire yang membuat Mia menggeleng spontan
Claire mengusap air mata Mia dengan pelan. “Tidak aku tidak mempunyai masalah hanya saja tadi Ziafli bertanya seperti itu kepadaku jadi aku bertanya kepada nenek mengenai solusinya.” Jawab Mia dan menggenggam lengan Caire yang tengah mengusapnya pelan
“Sudahlah, nenek tak perlu memikirkan hal itu, nenek baru saja siuman tapi aku malah menangisi hal yang tidak berguna, maafkan aku nek.” Pinta Mia merasa tak enak, Claire malah tersenyum sambil mengelus rambut hitam cucunya
“Aku tidak membutuhkan apapun, aku hanya memerlukanmu di sampingku dan itu cukup bagiku.” Ucap Claire dan membuat Mia menangis untuk kedua kalinya.