Mia perlahan mendekati Leon dan mengerutkan keningnya ketika melihat rambut Leon yang sedikit basah dan meneteskan air di ujung rambutnya sedikit demi sedikit
“Kau pergi ke sini hujan hujanan?” tanya Mia, Leon terdiam sebentar sebelum akhirnya ia mengangguk
“Tidak adil kan jika kau sendiri yang mengalami basah kuyup?” ucap Leon, Mia sontak berjinjit untuk meraih rambut Leon dan mengusap rambutnya yang basah serta hodie nya yang bagian atasnya sudah basah, ia baru ngeh akan hal ini karena Mia kira motif basah yang ada di hodie Leon itu hanya desain bajunya karena baju Leon terkenal mahal jadi Mia pikir itu desain dari sananya padahal tidak
“Bajumu basah, pulanglah aku tak mau menanggung pekerjaanmu yang banyak itu jika kau sakit.” Ketus Mia
“Aku akan membuka hodienya saja, aku memakai dalaman kaus dna untungnya bagian dalamnya tidak basah jadi aku akan membukanya sekarang.” Ucap Leon yang membuat Mia membulatkan bola mata
“Hey, tidak sopan jika disini, apa kau akan membuka bajumu di hadapanku?” tanya Mia, Leon hanya melirik Mia acuh
Dan ketika Leon tengah membuka hodie miliknya, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Ziafli yang sedang membuka pintu sambil memasuki ruangan Mia dengan menjinjing satu kresek putih besar dan payung yang meneteskan air hujan
“Mia? Kau akan melakukan apa?” tanya Ziafli terkejut ketika Mia yang tengah memperhatikan seorang pria membuka baju miliknya dan sontak membuat Mia menghampiri Ziafli cepat
Dan dalam waktu beberapa detik, Leon telah membuka hodienya, rambutnya terlihat berantakan dan acak acakan
“Tuan Leon, senang anda berada di sini.” Ucap Ziafli dan tersenyum ramah sementara itu Mia yang sedang kebingungan di samping Ziafli
“Apa maksudmu senang berada di sini?” bisik Mia tak tahu kepada Ziafli
“Kita bertemu di jalan, dan dia bertanya dimana ruanganmu di rawat dan aku memberitahukannya, aku kira dia tidak akan datang tapi ternyata.” Jawab Ziafli jujur
“Duduklah tuan, kami akan tetap berdiri seperti ini.” Jawab Ziafli karena kursi di ruangan Mia hanya terdapat satu jadi dua di antara mereka harus berdiri
“Kenapa kau memanggilnya tuan? Panggil saja Leon orang tua kalian saling bekerja samakan?” bisik Mia untuk entah yang kesekian kalinya
“Karena tidak ada orang yang berani memanggil namanya kecuali kau.” Jawab Ziafli dengan nada seolah olah Ziafli sedang mengejek Mia
“Tak usah, aku sebentar lagi akan segera pamit.” Jawab Leon dan mulai bangkit lalu melampirkan hodie di atas bahunya dan mulai berjalan menuju pintu keluar
“Jika kau ingin pulang, gunakanlah payung itu! Aku tidak mau melihatmu sakit dan aku harus mengurus semua pekerjaanmu yang bahkan aku tidak mengetahui apa itu.” Teriak Mia ketika Leon sudah berada di ambang pintu
Leon hanya acuh dan terus berjalan tanpa mendengarkan sampai akhirnya, lengan kirinya mengambil payung yang Ziafli sodorkan lalu setelah itu menutup pintu.
•••
Mia masih tetap menemani neneknya walaupun neneknya tak kunjung bangun karena sudah menjalankan operasi namun Mia tetap setia terduduk di samping neneknya dengan lengannya yang sibuk mengusap lengan neneknya yang sudah keripu itu
Ziafli pamit kepada Mia sekitar 3 jam yang lalu dengan alasan bahwa ia harus pulang ke rumahnya karena mamanya sudah merindukannya jadi ia pamit kepada Mia dan tiba tiba handphone Mia mengeluarkan suara deringan notifikasi yang membuat Mia meraih handphone nya yang terletak di atas nakas tepat di sampingnya
Dan senyum di wajahnya mengembang ketika mengatahui nama yang ia tunggu tunggu setiap hari tertera di layar handphone muncul yaitu Reynold, sang kekasih yang sudah kurang lebih 3 hari tidak memberi kabar apapun kepada Mia dan hari ini betapa senangnya Mia ketika melihat nama Reynold tertera di notifikasi bar miliknya
“Aku sangat senang sekali ya tuhan!” Mia berjingkrak senang dan beberapa kali memeluk handphone miliknya yang kecil itu
Namun rasa bahagia yang terukir di wajahnya seketika hilang dan memudar ketika ia mengingat akan kontrak yang ia setujui dengan Leon walau sepenuhnya Mia tidak setuju dan itu membuat pikirannya kembali memutar otak , beritahukan atau tidak? Selalu itu saja yang Mia pikirkan ketika mendengar nama Reynold atau memikirkan nama Reynold, karena hingga saat ini Mia tak kunjung memberi tahu Reynold dan sudah meminta Ziafli untuk merahasiakan ini untuk sementara hingga Mia mengatakan yang sebenarnya.
Akhinya Mia menaruh kembali handphonenya itu tanpa membalas pesan Reynold dan kembali menggenggam lengan neneknya dengan mata yang mulai berkaca kaca, ia tidak tahu harus berbuat apa ia merasa tidak berguna saat ini, pacarnya mulai acuh dan tak peduli terhadapnya, neneknya hingga sekarang belum kunjung membuka mata pasca operasi ia sungguh sangat khawatir jika nantinya mata sayu keriput itu tak kunjung membuka selamanya dan karenanya Mia mulai menangis perlahan.
•••
Mia mencium kening neneknya halus lalu mengusap lengannya pelan sebelum meninggalkannya untuk pergi bekerja, hari ini Mia berniat akan protes kepada Leon untuk kenaikan gaji karena meski notabennya Mia sebagai seorang sekretaris namun gaji yang seharusnya seperti sekretaris, Mia malah mendapat gaji lebih kecil dari sekretaris sementara pekerjaannya sangat melelahkan namun gajinya tak seimbang dengan kerjanya yang sangat melelahkan, apalagi ia harus membayar tagihan rumah sakit dua kali lebih besar karena neneknya yang di rawat di rumah sakit.
Hari ini Mia hanya menggunakan celana jeans dan hodie seperti ia tidak berniat bekerja, dengan rambut yang di kuncir kuda Mia melenggang memasuki ruang kerja Leon dan menaruh tas miliknya di atas meja yang tertera nick name ‘sekretaris’ di sana, Mia melirik meja Leon dan meja itu tampak kosong mungkin Leon bangun terlambat sehingga ia belum datang dan menduduki singgasananya.
Ia mengeluarkan bekal makan siangnya, yang seharusnya bekal itu di makan untuk siang nanti tapi Mia memakannya pagi ini karena jika tidak ia khawatir sakit maag yang ia derita kambuh kembali.
Sembari memakan sandwich ia juga tak lupa untuk bekerja, mengatur jadwal Leon hari ini dan memeriksa dokumen satu per satu sebelum ia berikan kepada Leon dan memisahkan dokumen jika isinya merugikan perusahaan, Mia memijat kepalanya pelan ketika merasa pusing karena hampir 1 jam matanya terus menerus menatap layar laptop dan kertas kertas dengan tulisannya yang kecil namun tiba tiba seseorang menyodorkan minuman berwarna cokelat dengan asap yang masih menguap dari dalam minuman berwarna cokelat kental tersebut .
Mia mendongkak dan di sanalah tatapan mereka bertemu, Leon yang tersenyum dengan dimple di kedua pipinya sambil menyodorkan satu cup minuman cokelat dan rambut yang di sisir rapi membuat Mia sempat terpesona sebelum akhirnya ia menyadari bahwa orang yang di hadapannya itu adalah bos nya yang menyebalkan
“Apa ini?” tanya Mia tangannya masih sibuk memijat pelipisnya yang bedenyut
“Cokelat panas.” Jawab Leon dan masih tetap menyodorkan
“Ini terlalu pagi untuk meminum cokelat panas.” Tolak Mia halus namun, Leon malah menaruhnya di samping Mia
“Kenapa kau terlambat? Tidak biasanya.” Ketus Mia, Leon melenggang pergi menuju meja kerjanya dengan satu tangannya yang memegang satu cup cofee miliknya
“Aku pergi membeli cofee dulu sebelum ke sini dan ternyata di sana sangat buruk sekali.” Jawab Leon dan mulai duduk di atas singgasananya
“Apa maksudmu dengan kata ‘buruk’?” tanya Mia
“Di sana orang harus mengantri dan aku tidak bisa menyogok pelayan yang membuat cofee tersebut jadi aku harus mengantri 1 jam lamanya karena aku yang paling terakhir.” Jawab Leon jujur yang membuat Mia terkekeh
“Lalu kenapa kau membelikanku cokelat panas?” tanya Mia
“Sangat malu jika mengantri 1 jam lamanya hanya untuk sebuah Americano.” Ucap Leon. “Dan oh iya, ketika aku mengantri beberapa orang sering kali memotong antreanku dengan asal mengantri di depanku dan itu menjadikanku sebagai orang yang paling terakhir dan aku sangat kesal! Lihat saja nanti! Aku akan menutup cafe tersebut!” Tambahnya sembari menyeruput cofee miliknya
“Seharusnya kau belajar dariku! Mungkin jika aku menjadi seperti dirimu aku akan selesai dalam 15 menit.” Ucap Mia yang membuat Leon tersedak
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Leon sangat terkejut mendengar hal seperti itu
“Itu rahasia.” Jawab Mia yang membuat Leon menatap Mia sambil memanyunkan bibirnya, entah kenapa hari ini Leon merasa sangat bebas dan merasa beban semua yang ada di pikirannya menghilang apalagi ketika menatap Mia yang hanya memakai baju seadanya tidak seperti karyawan lainnya yang selalu memakai baju glamour agar mendapat perhatian dari dirinya tapi Mia berbanding sebaliknya
“Ada apa denganmu hari ini?” tanya Mia kepada Leon yang sedang menangkup wajahnya sendiri menggunakan lengannya
“Kau terlihat cantik.” Gumam Leon yang masih bisa terdengar oleh Mia karena suasana ruangan yang sepi
“Hah apa kau bilang?” tanya Mia seolah olah tak mendengar. “Hah? Emangnya aku bilang apa?” tanya Leon balik yang membuat Mia menatap Leon aneh
“Lupakanlah.” Ketus Mia dan mulai menyeruput cokelat panas miliknya, meski ini masih pagi tapi tak enak jika menolak pemberian seseorang apalagi ini pemberian bos nya yang sudah rela mengantri selama 1 jam.
“Terima kasih cokelat panasnya, bos.” Ucap Mia sambil menyodorkan cup yang berisi minuman cokelat tersebut ke arah Leon, Leon hanya tersenyum sebagai balasan
Dan kemudian 2 orang itu mulai larut dalam dunianya masing masing sebelum akhirnya Mia mengingat satu hal yang akan ia lakukan yaitu mengajukan protes demi kenaikan gajinya.
“Leon..” Mia memanggil Leon sambil memperhatikan Leon yang tangannya sibuk menari di atas keyboard laptop miliknya
Merasa terpanggil, Leon menatap Mia dan mengangkat alisnya. “Kau masih lupa bahwa aku ini bosmu?” tanya Leon lagi yang membuat Mia cengir pepsodent
“Aku ingin kenaikan gaji!” ucap Mia to the point yang membuat Leon berdehem dan kembali menatap layar laptop miliknya
“Leo-maksudku bos ayolah aku ini sekretarismu, kerjaku bahkan 2x lipat lebih cape di banding sebelumnya tapi gajiku tetap sama.” Protes Mia yang membuat Leon melirik Mia sesaat
“Kau itu harus melewati masa training 1 tahun untuk mendapatkan gaji standart karyawan di sini dan karena kau bahkan belum 1 tahun magang di sini jadi bersabarlah.” Jawab Leon
“Tapi bos.”
“Diam atau kucium kau.” Ketus Leon yang spontan membuat Mia terdiam.