10

1664 Words
Terlihat seorang pria yang tengah membuka pintu apartement miliknya menggunakan sidik jari miliknya selang beberapa detik terdengar bunyi ‘bip’ dan pintu pun terbuka, pria itu otomatis langsung masuk ke dalam lalu melemparkan mantel miliknya dan kunci mobilnya ke atas sofa  Pria itu membuka hodie miliknya dan kini di tubuhnya tersisa kaus putih polos dan kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih guna untuk menyegarkan pikirannya yang selama ini selalu di bebankan oleh urusan pekerjaan  “Ahh..” Pria itu menaruh gelas bening di atas meja makan yang terbuat dari batu marmer yang di pahat sedemikian menjadi sangat mengkilap dan terlihat mewah  Pria itu menyisir rambut hiamnya menggunakan tangannya lalu mengecek handphone miliknya, dan perlahan rambut hitam mengkilap itu kembali ke bentuk semula, otot otot tangan yang menonjol membuat pria ini semakin terlihat sexy dan tampan apalagi d**a bidangnya yang tercetak jelas di balik kaus putih polos membuat siapa yang melihatnya akan terpana sesaaat Pria itu mulai melangkahkan kakinya dan menjatuhkan dirinya di atas sofa yang empuk sembari melihat langit langit atap dengan satu tangannya yang menjadi tumpuan kepalanya, nampaknya pria itu kini sedang memikirkan sesuatu  “Kenapa hal itu membuatku resah?” gumam pria  “Dia baru beberapa minggu menjadi sekretarismu dan kenapa aku menjadi resah dan khawatir saat memikirkannya?” tanya nya lagi masih sama kepada plafon yang sama “Apakah karena dia adalah orang yang berani menentangku? Atau apakah karena aku sudah mulai terbiasa dengannya yang jelas jelas aku hanya memanfaatkannya? Ahh.... kenapa aku sangat bodoh dalam hal ini!” pria itu yang tak lain adalah Leon mengacak rambutnya kasar dan mengubah posisi tidurnya menjadi terduduk terdiam sesaat sebelum akhirnya ia menyeret hodie miliknya dan membawa kunci mobil miliknya kemudian pergi keluar dari apartement nya. ••• “Kau berbohong kepadaku!” ucap Ziafli tak terima yang membuat Mia melotot tajam  “Hey, kau pikir nama itu hanya ada satu di dunia?” tanya Mia dengan nada tinggi namun tangannya masih mengibas ibaskan rambutnya yang masih sedikit basah  “Rose, bukannya nama itu di Amerika ini hanya ada Rose Kennedy?” tanya Ziafli dengan nada nyolot yang membuat Mia tak habis pikir akan kepintaran Ziafli yang terus menyudutkannya Ziafli sering berbohong oleh karena itu ia tak mudah percaya kepada orang termasuk Mia yang notabennya adalah sahabatnya  “Ada Rose Fritzh, Rose Ymir, Rose Rosean sudahlah lupakan lagi pula tidak merugikanmu jika aku pergi kemanapun.” Ucap Mia yang berusaha untuk mengalah karena berdebat dengan Ziafli yang terlalu kepo akan dirinya pasti akan terus memborbardir dengan seribu pertanyaan yang sudah siap di otaknya “Oh aku lapar.” Mia memegang perutnya yang terus berbunyi meminta makanan berkarbohidrat  “Apa kau belum makan?” tanya Ziafli Mia mengangguk spontan. “Cuman tadi siang, dan sore ini aku belum makan, Ziafli traktir aku makan.” Pinta Mia yang membuat Ziafli menjitak kepala sahabatnya itu dan Mia mengaduh  “Apa kau ingin makan di kafe dekat rumah sakit sana?” ajak Ziafli, Mia dengan cepat mengangguk. “Tapi aku tidak bisa meninggalkan nenek, aku khawatir jika dia bangun dan dia membutuhkan sesuatu.” Ucap Mia yang membuat Ziafli menarik nafas panjang  “Kau juga tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti ini.” Tambah Ziafli dan mulai meraih dompet miliknya lalu bersiapp untuk meninggalan ruangan itu  “Di luar hujan, apa kau membawa payung?” tanya Mia khawatir “Aku menyimpannya di pojok dekat pintu, tenang saja.” Jawab Ziafli dan menunjuk sebuah payung yang tersimpan di tempat payung yang berbentuk silinder  “Kau mau makan apa? Ayahku baru saja mentransfer uang kepadaku jadi aku akan mentraktirmu makan.” Ucap Ziafli dan mulai mengambil payung dari tabung bebentuk silinder tersebut “Apa saja yang penting mengenyangkan.” Jawab Mia yang membuat Ziafli mendelik ke arah Mia dan Mia tertawa melihat wajah Ziafli yang sangat memeable baginya  “Aku pergi dulu.” Pamit Ziafli yang kemudian menutup pintu. Mia kemudian terduduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang neneknya, mengusap lengan keriput itu lalu mengusapkannya ke pipi lembut Mia dan tangisan air mata Mia mengucur begitu saja ketika membayangkan bagaimana satu satunya sosok yang ia sayangi ini meninggalkannya seorang diri melihat bagaiama selang infus yang berbelit di sana sini dengan selang oksigen yang menutupi hidungnya  “Nek, kumohon bangunlah.” Ucap Mia di sela isakannya. ••• Handphone Mia tiba tiba bergetar ketika ia tengah mengusap halus rambut neneknya yang sudah putih itu, sontak Mia mengambilnya dan mengangkat panggilan yang tertera di layar kecil handphonenya  “Ya, hallo?” ucap Mia dan mulai melangkah menjauhi ranjang neneknya “Buka pintu, aku sudah ada di depan.” Ucap seseorang di sana dengan suara berat khasnya “Pintu ma-" Pip ! telepon di matikan terlebih dahulu sebelum Mia menyelesaikan pertanyaannya dan membuatnya menggeram kesal walaupun ia bingung namun langkahnya tetap berjalan menuju pintu yang berada di depannya, dan ketika pintu itu terbuka terlihatlah sosok tinggi dengan aroma yang sangat familiar bagi Mia dengan membawa satu kresek besar berwarna putih dan rambut yang sedikit basah tengah menatap Mia dingin dengan wajah datarnya  “Kenapa tahu ruangan ini?” tanya Mia, namun sang lawan bicara bukannya menjawab malah nyelonong masuk begitu saja ke dalam dan membuat Mia sontak mendorong d**a bidang itu  “Mau apa kau hah?!” tanya Mia dan menahan agar tidak masuk ke dalam ruangan di mana neneknya yang sedang di rawat itu  “Biarkan aku masuk, maka kau menyelamatkan nyawaku.” Ucap pria itu datar dan tetap mendorong masuk ke dalam dan Mia pun hanya menyerah Mia masih menatap sosok tinggi yang sedang membuka hodie itu dengan sebal dan hendak menutup pintu namun sesosok perempuan menghampiri Mia dan bertanya kepadanya tentang seorang pria yang menggunakan hodie dengan membawa satu kresek berwarna putih besar yang tadi lewat ke arahnya “Memangnya ada apa dengan pria itu?” tanya Mia dan melirik sosok pria itu yang tengah bersembunyi di belakangnya sambil menggelengkan kepala  “Dia adalah tuan muda kami, tuan besar menyuruhnya pergi bersamanya untuk mengunjungi rumah temannya namun tuan muda menolak dan pergi begitu saja jadi aku mengejarnya karena tuan besar bilang ini adalah hal yang sangat penting.” Jawab Wanita yang nampaknya lebih tua dari Mia itu dengan sopan dan hormat  Leon menarik baju Mia dan melotot tajam ke arahnya pertanda itu adalah kode untuk dirinya agar tidak memberitahu posisi ia saat ini  “Tapi tuan muda yang kau maksud adalah? Mungkin aku bisa membantumu menemukannya jika aku tahu namanya.” Ucap Mia yang membuat wanita di depannya tersenyum  “Leon, Leon Kennedy.” Jawabnya yang membuat Mia sedikit terkejut tapi di tutupinya dengan topeng ekspresi yang seolah olah tidak tahu  “Entahlah aku tidak tahu.” Jawab Mia yang membuat Leon menarik nafas lega “Oh baiklah terima kasih.” Pamit wanita itu sopan dan meninggalkan Mia yang masih ternganga tak mengerti akan situasi ini  Mia menutup pintu dan membalik tubuhnya, dan dalam sekejap Leon mengunci tubuh Mia sehingga mereka saling bertatapan dalam jarak yang dekat sangat sangat dekat  “Kau tidak pandai berbohong!” ucap Leon tepat di depan wajah Mia yang membuat wajah Mia memerah kemudian Mia mendorong d**a Leon dan menjauhinya dengan cepat dan gesit berusaha membuat benteng pertahanan  “Kenapa kau seperti itu?” tanya Leon ketika melihat gerakan Mia yang tengah perlahan menjauhinya  “Tenang saja, kau bukan tipeku mana mungkin aku menciumu seperti itu, lagi pula status derajat kita berbeda, kau bawahan dan aku atasan.” Ucap Leon dan mulai menghampiri kantung kresek yang ia tadi taruh di sebuah kursi yang berada tepat di samping neneknya “Aku bawakan makanan untukmu dan ini ada sedikit hadiah untuk nenekmu, anggap saja ini sebagai apresiasi untukmu karena kau telah berakting sangat bagus di hadapan mama.” Ucap Leon dan menyodorkan kantung kresek putih yang tadi ia pegang  “Terima kasih.” Jawab Mia dan menerimanya tanpa pikir panjang  Leon mengambil kursi dan duduk sambil memperhatikan Mia yang masih memeluk makanan pemberian Leon yang terbalut kantung kresek  “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Mia heran dan mengibaskan tangannya kepada Leon “Ternyata kau itu pendek.” Ketus Leon yang membuat Mia mengangguk setuju Dan sontak hal itu mengundang tawa Leon karena pikirnya Mia akan marah atau ngomel kepada Leon atas penghinaannya itu tetapi malah sebaliknya dan mengangguk setuju yang membuat tawa Leon keluar dengan mudahnya padahal akhir akhir tak ada suatu hal apapun yang bisa membuat tawa Leon kembali dan kali ini adalah kali pertama Leon tertawa lepas dan tersenyum tulus untuk beberapa tahun ini dan memperlihatkan lesung pipit yang terdapat di kedua pipi Leon membuat pria itu tampan sekaligus manis  Ya Lord, jika saja menciptakan semua makhluk di bumi seperti Leon mungkin semua kaum hawa akan bahagia, sosok yang melebihi kata sempurna ini sungguh sangat sangat rupawan, tubuh tinggi berotot, kulit putih seputih s**u, rambut hitam mengilap dengan poni yang menghalangi jidatnya, suara bass yang sempurna, dan tentunya wajah tampan dengan lesung pipit di kedua pipinya membuat Mia terpana sesaat akan kerupawanan putra sulung dari keluarga Kennedy ini “Kau jangan keras keras, nenek sedang tertidur.” Bisik Mia memperingati yang membuat tawa Leon berhenti dan menutup mulutnya rapat rapat  Kemudian Mia menaruh makanan yang di berikan Leon ke atas nakas yang terletak di samping ranjang neneknya, Leon bangkit dari duduknya dan menghampiri Mia  “Kau merawat nenekmu di ruangan sempit ini?” tanya Leon, Mia hanya mengangguk sebagai jawaban  “Aku akan memindahkan nenekmu ke ruangan VIP yang luas.” Ketus Leon yang membuat Mia sontak melirik ke arah Leon dan menggeleng  “Jangan, aku tidak sanggup membayarnya, di ruangan seperti ini saja aku sudah tidak sanggup membayarnya apalagi VIP yang diperuntukan khusus untuk orang orang seperti dirimu.” Jawab Mia yang membuat Leon ikut tersentuh  “Tak apa, aku akan memindahkannya dan kau tak perlu membayarnya, kau membayarnya hanya cukup bekerja dan temani aku saja dengan begitu kita impas.” Ucap Leon, Mia membenarkan posisinya dan tersenyum ceria mendengar kabar membahagiakan dan baginya syarat yang di berikan oleh Leon cukup mudah di lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD