Mia dan Leon memasuki rumah yang mewah dan besar itu, dengan sekantung kresek yang di jinjing oleh Mia, Mia memasuki rumah tersebut dengan santainya bersama Leon di sampingnya meski mereka sempat berdebat perihal masalah oleh oleh tersebut dan ujung ujungnya wanita selalu menang dalam hal berdebat dan Leon hanya bisa mengalah dan menuruti kemauan Mia
“Kau yakin ini rumahmu?” tanya Mia yang membuat Leon mengangguk pelan
“Ini sangat luar biasa! Pertama kalinya aku melihat rumah seindah ini!” oceh Mia yang terus saja memuji rumah kediaman keluarganya yang membuat Leon mengerutkan keningnya ketika suatu ingatan terlintas di pikirannya ketika Mia melenggang pergi bersama anak dari pengusaha minyak yang dulu pernah bekerja sama dengan keluarganya ketika di acara di mana Mia dan Leon pertemu bertama kali dalam jarak yang sangat dekat
“Tunggu dulu, apa temanmu belum pernah membawamu ke rumahnya?” tanya Leon dan mulai menggengam lengan Mia ketika mendengar suara hentakan kaki yang menuruni tangga
“Apa ini?” tanya Mia heran dengan sikap Leon yang tiba tiba
“Ibuku akan datang sebentar lagi jadi, kita harus bersikap romantis.” Bisik Leon yang membuat Mia mengangguk paham, lalu sejoli tersebut mulai memasuki ruang tamu dengan Leon yang beberapa kali memanggil mamanya tak lupa nama ayahnya terselip di panggilan Leon
“Ma, Pa!” teriak Leon lagi membuat seorang wanita parubaya menghampiri mereka diikuti dengan seorang pria parubaya yang ikut menyusul
Wanita itu langsung memeluk tubuh kekar Leon spontan. “Ah, mama sangat merindukamnu.” Ucapnya dan langsung melepaskan pelukannya lalu tatapannya beralih kepada Mia yang tengah tersenyum ke arah mereka
“Apa kau pacarnya Leon?” tanya Rose dan mulai menghampiri Mia, sementara itu Eren pun ikut ikutan memeluk tubuh Leon dan Leon menolak spontan membuat Eren melayangkan pukulannya ke arah perut Leon
Mia mengangguk. “Kemarilah sayang.” Ucap Rose dan melebarkan kedua tangannya pertanda bahwa itu untuk sebuah pelukan, Mia sedikit merunduk dan memeluk tubuh parubaya yang seperti neneknya namun dalam usia yang lebih muda
Rose melepaskan dekapannya. “Siapa namamu?” tanya Rose membuat Mia tersenyum. “Mia, Mia Livail.” Jawab Mia cepat dan membuat Rose tersenyum lalu mempersilahkan Eren, suaminya untuk ikut berkenalan dengan Mia
Eren menghampiri Mia dan memeluknya sekejap sebelum akhirnya mengajak Mia untuk pergi ke meja makan bersama sama
“Ehm, Mrs. Kennedy aku bawakan ini sebagai oleh oleh untukmu.” Ketus Mia yang membuat Leon menatap tajam Mia
Karena ketika di mobil Leon sempat melarang Mia untuk memberikan itu kepada ibunya dengan alasan jika Mia memberikan itu kepada ibunya jika suatu saat nanti ibunya menginginkan hal yang sama seperti yang Mia kasih maka, Leon harus menacari persis
Rose nampak tertegun sebelum akhirnya ia menghampiri Mia dan mengambil kantug kresek berwarna putih tersebut. “Oh terima kasih banyak nak.” Ucap Rose yang kemudian mempersilahkan Mia untuk duduk di samping Leon setelah itu memanggil para koki untuk menghidangkan masakan untuk di makan oleh mereka, sebuah hidangan makanan yang sangat mewah dan banyak, Mia pertama kali melihat hidangan masakan yang sebanyak ini namun bagi Leon hal ini sudah menjadi hal biasa dan tak aneh di lakukan semenjak ia masih kecil makan dengan menu se royal ini.
Kemudian setelah itu acara makan siang yang diiringi canda gurau serta perkenalan Mia yang di akhiri dengan Eren yang tiba tiba pergi karena ada suatu hal mendadak membuat mereka mengakhirinya juga
Begitulah Mia menghabiskan waktu di rumah Leon hampir seharian penuh dengan bersanda gurau, menamani Rose memasak ataupun hal hal yang membuat Rose semakin mengenal Mia dan akting antara Leon dan Mia sungguhlah sangat luar biasa mereka berakting seolah olah mereka sudah saling kenal dan mengerti satu sama apalagi sikap Mia yang friednly membuatnya mudah dekat dan akrab bersama Rose dan diakhiri dengan pamitnya Mia karena harus mengurus neneknya yang sakit.
•••
Kini, Mia dan Leon tengah di dalam mobil, Leon mengantar Mia untuk pergi ke rumah sakit karena Mia mengkhawatirkan jika neneknya bangun dan tak mendapatkan Mia di sana, akhirnya semua akting dan drama yang harus terus berpura pura tidak perlu lagi di jalankan karena hanya ada mereka
“Apa kau pernah berpacaran sebelumnya?” tanya Mia kepada Leon yang tengah mengemudi berusaha membuka pembicaraan, karena sedari tadi hampir 15 menit mereka terus terdiam di temani oleh keheningan
“Entahlah.” Jawab Leon acuh dan membuat Mia mengangguk paham
“Kau tahu? Ini adalah kali pertamanya aku berpacaran dengan seseorang, yaitu Reynold, ketika Reynold mengatakan jika ia jatuh cinta kepadaku ahhh itu rasanya sangat sangat membahagiakan seolah olah seseorang yang kau tunggu tunggu akhirnya kembali berada di sampingmu.” Ucap Mia sedikit mencurahkan hatinya kepada Leon
“Jika kontrak berakhir, anggap saja semua yang kau lakukan bersama diriku tadi adalah sebuah dongeng.” Ketus Leon yang membuat mood Mia merosot drastis
“Baiklah.” Jawab Mia dan memalingkan pandangannya menuju jendela, menatap pemandangan di luar mobil yang kini sedang hujan dengan jendela mobil yang terdapat uap hujan di jendelanya, pria di sampingnya memang benar benar tak mempunyai perasaan ataupun hati setiap perkataan yang keluar dari mulutnya jika bukan ucapan menyebalkan pasti akan ucapan perintah semakin lama Mia semakin ingin mencekik leher Leon jika bukan saja Leon adalah atasannya
Dan selang beberapa menit, mobil mereka berhenti. “Sudah sampai turunlah.” Suruh Leon, Mia hanya menangguk patuh meskipun di luar hujan deras tapi jika Leon menyuruh Mia untuk keluar itu harus di lakukan sesuai dengan pernyataan tertulis di kontrak dimana Mia mau tidak mau harus mematuhinya
“Baiklah, terima kasih atas tumpangannya.” Ucap Mia membuka sabuk pengaman dan hendak membuka pintu namun dengan cepat Leon mencegatnya
“Tunggu dulu.” Ketus Leon yang membuat Mia menatap ke arahnya
Leon melepaskan mantel yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya itu. “Pakailah ini di luar hujan, aku hanya tidak mau orang orang menganggapku jika aku menelantarkan pacarku sendiri.” Ketus Leon dingin dengan muka datarnya sambil menyodorkan mantel berwarna cokelat mocca tersebut yang tadi sempat ia pakai untuk melapisi hodienya
Mia menggerakan tangannya. “Oh tak usah, aku mencuci baju menggunakan tangan, aku khawatir jika mantel milkmu rusak karena aku mencuci menggunakan tangan.” Tolak Mia halus dan mulai membuka pintu mobil dan seketika itu terdengar suara air yang jatuh menghantam ke tanah juga aroma tanah yang basah tercium sangat jelas
“Hey, tak apa, pakailah.” Ucap Leon sedikit tertegun akan perkataan Mia yang baru saja ia katakan
“Tidak usah, lagi pula di sini tidak ada orang yang melihatm jadi reputasimu akan tetap aman.” Jawab Mia dan mulai mengeluarkan kedua kakinya, mengangkat tangannya lalu mengarahkannya untuk menutupi kepalanya dari air hujan
“Terima kasih atas tumpangannya.” Ucap Mia sebelum akhirnya ia menutup pintu mobil dan berlari menuju ke dalam gedung rumah sakit
Baju dan celana jeans yang sudah terlihat kusam itu perlahan basah, rambut yang di kuncir kuda itupun perlahan basah dan meneteskan air dari ujung rambut menuju permukaan bawah sepatu yang ia kenakan pun ikut basah dan kotor karena hujan memang benar benar deras
Akhirnya, Mia sudah sampai di depan gedung rumah sakit dengan keadaan basah kuyup karena Leon memarkirkan mobilnya agak jauh dari halaman gedung utama, Mia mengusap baju dan celananya ia menggigil kedinginan rambutnya hampir basah semua tak terkecuali daerah yang ia halangi menggunakan tangan miliknya
Ia menginggil dan mulai masuk ke dalam gedung rumah sakit, berharap ia bisa meminjam baju pasien sembari menunggu bajunya agak sedikit kering, namun rupanya pihak rumah sakit menola dengan alasan bahwa mereka tak akan memberikan fasilitas secara percuma terhadap seseorang yang miskin seperti Mia dan mau tidak mau Mia harus menunggu bajunya mengering di depan ruangan di mana neneknya sedang di rawat karena jika ia masuk ke dalam ruangan neneknya dengan kondisi seperti ini, neneknya pasti akan khawatir dan membuat kesehatannya terganggu lagi
“Brrr....br...” Mia menggigil sembari menggosokan kedua tangannya dan terduduk di bangku tunggu, jika ia pulang menuju rumahnya ia pasti akan tetap sama yaitu basah kuyup karena ia tidak memiliki payung
Mia melepaskan kuncirannya dan kembali menggosokan kedua telapak tangannya berusaha untuk membuat tubuhnya hangat dan ketika ia tengah sibuk menggosokan tangan tiba tiba seseorang melemparkan sebuah mantel kepada Mia membuat Mia spontan melirik ke arah yang melemparkan mantel miliknya
Dan sosok di samping Mia yang sedang berdiri sambil menatap Mia itu adalah Ziafli,sosok satu satunya teman sekaligus sahabat yang ia punya saat ini
“Gantilah dengan mantel itu tubuhmu sangat basah kuyup.” Ucap Ziafli yang kemudian menyodorkan satu set piyama untuk Mia
Mia mengangkat wajahnya dan sudut di pipinya mengembang sempurna. “Terima kasih!” ucap Mia mulai berdiri dan berdiri meninggalkan Ziafli untuk pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian
Selang beberapa menit, Mia kembali dari kamar mandi dengan pakaian basah yang tersampir di lengan kirinya dan memakai pakaian yang Ziafli berikan tadi dan Ziafli masih menunggu Mia di kursi sambil memainkan handphonenya
“Lama sekali.” Keluh Ziafli dan mulai berdiri
“Kau sudah lihat keadaan nenek?” tanya Mia, karena Mialah yang menyuruh Ziafli untuk pergi ke rumah sakit untuk membawakannya satu set baju piyama yang saat itu Mia sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Leon
Ziafli mengangguk dan menggaet lengan Mia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan neneknya di rawat. “Dia belum siuman, taruh pakaian basahmu di pojok sana aku sudah menyiapkan tempatnya.” Ucap Ziafli dan Mia menurut patuh lalu mengeringkan pakaiannya di atas tempat panjang seperti tempat mengeringkan pakaian
“Habis darimana kau?!” tanya Ziafli ketika Mia mengampiri Ziafli yang tengah berdiri di samping nenek Mia yang tengah tertidur dengan lelap
“Rumah teman.” Jawab Mia dan mulai mengeringkan rambutnya yang sedikit basah dengan mengibas ibaskan rambutnya
“Kau tidak punya teman selain diriku.” Ucap Ziafli yang membuat Mia terdiam
“Teman kerjaku.” Jawab Mia cepat dan kembali mengibas ibaskan rambut hitamnya yang sedikit basah
“Teman kerjamu semua jahat kepadamu.” Elak Ziafli lagi yang bisa membalikan ucapan Mia dengan mudahnya
“Teman kerjaku dari berbeda divisi, tenang saja dia wanita.” Jawab Mia lagi dengan nada yang meyakinkan namun Ziafli tak akan mudak begitu saja
“Siapa namanya?” tanya Ziafli mengintimidasi
“Itu-iitu namanya..”