08

1720 Words
Mia terbangun dari tidurnya ketika ponselnya terus menerus bergetar yang tak lain adalah Leon yang terus menerus menelfon Mia secara 2x berturut turut entah ada apa dengan pria menyebalkan itu di akhir pekan seperti ini  “Ya, ada apa bos?” tanya Mia to the point ketika telfon mereka sudah terhubung  “Ke sini cepat, ada sesuatu yang harus ku omongkan kepadamu.” Jawab Leon dengan suara khasnya yang berat  “Tidak bisa, hari ini aku libur.” Tolak Mia  “Kau berani menolak perintahku?.” Nada suara Leon mulai berubah  “Tidak, tapi maksudku..”  “Tidak ada tapi tapian, cepat kemari!” Jawab Leon kasar dan mematikan telepon sepihak membuat Mia menarik nafas kasar  Dan telpon Mia kembali bergetar, dengan cepat Mia mengecek nama yang tertera di sana dan kontak dengan nama ‘bos menyebalkan’ kembali terpampang jelas di layar handphone Mia, Mia sangat malas sekali menjawab telepon tersebut tapi jika tidak di jawab ia pasti akan terkena masalah Mia menarik nafas kasar. “Ada apa lagi?” tanya Mia pasrah  “Kau tidak perlu ke sini, aku yang akan ke sana.” Jawab Leon  Baru saja Mia akan menjawab Leon sudah kembali bertanya. “Dimana lokasimu saat ini?” tanya Leon cepat  “Di-“ “Rumah sakit, aku tahu itu.” Jawab Leon dan menutup telfonnya sepihak membuat Mia kesal bukan main terhadap bos yang satunya ini, andai saja ketika saat itu ia tak membuat kesalahan mungkin ia akan hidup tenang tanpa Leon di sisinya yang selalu menyebalkan  “Bagaimana dia bisa tahu aku di rumah sakit?” Gumam Mia yang kemudian ia tak menghiraukan itu karena bagaimanapun Leon memang sangat ahli dalam hal memata matai orang. ••• Leon menyuruh nahkoda kapal untuk memutar balik arah haluan yang semula akan mengelilingi pantai Miami, namun hal itu berubah ketika ibunya memaksa Leon untuk mengunjungi rumahnya dengan alasan bahwa ini adalah hari pekan jadi Leon harus mengunjungi rumahnya sendiri karena ibunya sangat merindukannya Dan jika ibunya meminta Leon pulang ke rumah kediaman Kennedy pasti ada motif yang tersembunyi yang di sembunyikan ibunya siapa lagi jika bukan karena ingin bertemu dengan Mia yang notabennya adalah pacarnya  Drrtt...drtt... Handphone Leon bergetar ketika ia sedang berdiri di koridor kapal yang menjorong langsung ke laut, sontak Leon mengambil handphonenya dan mengangkatnya “Ada apa lagi?” tanya Leon mulai kesal, terdengar dari nadanya yang terdengar seperti jengkel terhadap seseorang “Kau benar akan ke sini kan?” tanya suara lembut di seberang telepon sana “Tidak.” Jawab Leon cepat yang membuat suara lembut yang tak lain adalah suara ibunya itu merengek dan membuat Leon sedikit mengangkat sudut bibirnya  “Kau akan menjadi anak durhaka hah?!” tanya ibunya itu yang membuat Leon terkekeh dan menampilkan lesung pipit di kedua pipinya serta senyum yang sangat manis layaknya bayi  “Seharusnya mama tahu sendiri.” Ucap Leon yang membuat ibunya itu meneraki namanya “Baiklah, baiklah aku akan mengunjungi mama dalam beberapa jam lagi.” Ketus Leon yang membuat ibunya itu kembali merengek  “Terlalu lama.” Ucap ibunya itu, Leon menarik nafas kasar. “Baiklah, dalam beberapa menit lagi.” Ucap Leon dan membuat ibunya itu bersorak senang  “Mama tunggu~ mama mencintaimu Leon.” Ucap ibunya itu dan menutup telfon sepihak dan membuat Leon memasukan kembali handphone miliknya ke dalam saku celana miliknya dan masuk ke dalam kapal pesiar untuk mengganti pakaian sambil menunggu kapal miliknya menepi di daratan. ••• Leon mendatangi rumah sakit dengan santai, dengan gaya kasualnya dia mendatangi rumah sakit tubuh tinggi kekar dan aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuatnya jadi pusat perhatian di sana di tambah lagi wajah tampannya membuat para kaum hawa ikut meliriknya Ia menghampiri meja resepsionis dan menanyakan tempat di mana Mia sedang di rawat, namun pihak rumah sakit mengonfirmasi tidak ada pasien bernama Mia yang di rawat di sana membuat Leon merasa kesal dan di khianati oleh temannya itu sebelum akhirnya ia menelfon Mia untuk yang ketiga kalinya  “Dimana kau?” tanya Leon cepat ketika telfon tersebut terhubung  “Aku di-“ “Jika kau di rumah sakit cepat ke meja resepsionis sekarang, aku menunggumu.” Ucap Leon cepat  “Tapi-“  “Jika dalam 5 menit tidak datang, masalah sedang menunggumu di depan mata.” Ancam Leon dan menutup telfonnya sepihak membuat sang lawan bicara mengumpat dan berdecak kesal akan kelakuan Leon yang selalu mengatur sesuka hatinya. ••• Terlihat seorang wanita yang tengah melangkah terburu buru menuju seorang pria yang sedang terduduk di kursi tunggu dengan kaki yang di angkat ke atas dan pandangannya yang sibuk memandang layar handphone miliknya, wanita itu berdehem ketika dia sudah berdiri tepat di hadapan pria itu  Pria itu mengangkat wajahnya dan mengubah posisi duduknya, lalu bangkit dan menyeret wanita tersebut menuju pintu keluar rumah sakit dengan paksa yang membuat wanita itu mau tak mau menuruti kemana pria itu pergi  “Hey, kita akan kemana?” tanya wanita berambut hitam panjang yang di kuncir tersebut berusaha melepaskan cekalan pria itu “Diam dan lihat saja.” Jawab pria itu semakin kuat mencekal lengan gadis itu yang tak lain adalah Mia  “Hey!” Seru Mia dan membuat pria itu semakin kencang menarik lengan Mia sehingga langkah mereka sejajar “Bersifatlah seolah olah kita adalah seorang pasangan kekasih, orang orang memperhatikan kita.” Bisik Leon tepat di telinga Mia lalu menggenggam lengannya dengan lembut sebelum akhirnya berjalan bersama dengan ekpresi yang ‘dipaksakan’ bagahia walau sebenarnya itu sungguh sangat tidak nyaman Namun langkah mereka terhenti ketika seorang wanita memanggil nama Mia dan menghampirinya, Mia berusaha melepaskan genggaman Leon namun dengan cepat Leon menahannya  “Mia!” ulang gadis itu dan berjalan cepat ke arahnya  Mia menyipitkan matanya dan otaknya tengah berputar mencari berkas memori orang yang mirip dengan wanita di hadapannya karena ia sungguh sudah sangat lupa. “Ehm Luna?” ucap Mia ragu yang membuat wanita itu menggeleng  “Ini aku, Sophia.” Jawab wanita yang mengenakan kemeja bermotif kotak kotak tersebut dan membuat senyum Mia mengembang lebar  “Shopia? Oh god! Kemana saja kau?!” ucap Mia dan melepaskan genggaman Leon secara paksa sebelum akhirnya ia memeluk teman sewaktu sekolah menengah atas, satu satunya teman yang Mia punya semasa sekolah menengah atas  “Aku merindukanmu.” Ucap Mia dan semakin memeluk tubuh ramping Sophia karena mereka sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama atau mungkin beberapa tahun  "Kau bekerja di sini?” tanya Mia ketika melihat stetoskop yang menggantung di leher putih Sophia  “Aku baru saja melamar dan aku lupa menyimpan ini.” Jawabnya lembut  “Apakah dia?” tanya Sophia menunjuk ke arah Leon yang tengah sibuk memperhatikan mereka dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celana Jeans miliknya  “Ehm...dia..” jawab Mia ragu dan melirik Leon sekilas  “Leon Kennedy, pacarnya Mia.” Jawab Leon dan menyodorkan lengan ke arah Sophia sambil tersenyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya, ia berusaha seramah mungkin agar image tentang dirinya tak terlalu buruk “Ah..Tuan Kennedy.” Ulang Sophia dan mengangguk paham lalu menyambar lengan besar Leon hanya beberapa detik sebelum Leon menarik lengannya kasar dan memasukannya kembali ke dalam saku celana liknya  Leon menarik lengan Mia dan menggandengnya. “Bisakah kita pergi? Aku dan Mia memiliki beberapa urusan penting.” Ketus Leon yang membuat Mia melotot kepada Leon Sophia tersenyum ramah. “Tentu saja!” jawabnya girang dan mempersilahkan mereka berdua, Mia hanya bisa meminta maaf dan melambaikan tangan kepada Sophia sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil mewah Leon yang terparkir di parkiran rumah sakit. ••• Setala kurang lebih 20 menit mereka di dalam mobil akhirnya mobil Leon mulai memasuki pekarangan rumah yang sangat besar dengan gerbang yang besar dan taman hijau dengan jenis bunga hias dan air mancur yang terpajang di sana membuat Mia takjub bukan main  Selama di dalam mobil juga Mia dan Leon hanya diam diaman karena Mia yang masih merasa kesal akan sikap Leon yang begitu entengnya memisah komunikasi antara dia dan temannya yang sudah lama tak bertemu dan Leon hanya menjawab bahwa itu adalah buang buang waktu dan membuat Mia marah  Dan ketika di tengah perjalanan Leon mengatakan bahwa ia akan mengunjungi ibunya, sontak hal itu membuat Mia panik apalagi pakaian yang di gunakan sudah terlihat kusam dan membuat Mia khawatir dan gelisah namun Leon meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik baik saja dan membuat Mia merasa lebih baik dan ketika di tengah perjalanan juga Mia menyuruh Leon untuk membawakan barang bawaan untuk di bawa ke rumah dan Leon menolak, dengan sifat bawelnya Mia membuat Leon mengalah dan membawakan sekantung makanan yang di jual di pinggir jalan karena Mia mengatakan bahwa makanan itu sangat nikmat. “Apa benar ini rumahmu?” tanya Mia dengan mata yang berbinar  Leon mengangguk pelan. “Ini terlalu besar untuk di bilang rumah!” ucap Mia spontan dan membuat Leon terkekeh akan tingkah Mia yang tak henti hentinya melirik kiri dan kanan  “Wauw! Ada air mancur!” ucap Mia dan mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil  “Ada bunga mawar juga!”  “Apa itu? Patung itu sangat keren!" “Oh god, rumput rumput itu terlihat empuk!” ucap Mia yang membuat Leon menarik kepala Mia dan menaruhnya di pundaknya  “Diam dan jangan melihat lihat lagi kau sangat berisik!” Ketus Leon dan masih menahan Mia di bahunya agar bersandar di sana Mia berusaha melepaskannya namun lagi lagi Leon menekan kepalanya dan membuatnya sulit untuk menghindari Leon, apalagi titik pusat aroma maskulin yang menguar dari tubuh Leon adalah di leher dan wauw itu membuat Mia memejamkan mata berusaha agar tidak berfikir yang aneh aneh dan ketika ia membuka mata d**a bidang Leon yang tertutup balutan sweater mahal membuat Mia semakin tak kuasa melihat bentuk ciptaan tuhan itu  “Leon, Reynold memiliki otot di perutnya apa kau punya?” tanya Mia tiba tiba yang membuat Leon terdiam kemudian mengangguk  “Aku ingin memegangnya!” Ucap Mia girang lalu dengan otomatisnya lengan itu mengelus perut berotot Leon yang membuat Mia terkagum kagum  “Oh my god!” ketus Mia terkagum kagum karena perut Leon jauh lebih berotot di bandingkan Reynold “Kenapa kau memegangnya?! Aku tidak menyuruhmu!” ucap Leon dengan nada yang agak tinggi  “Karena kau adalah bosku jadi aku berani menyentuhnya hihi.” Kekeh Mia dan kepalanya tetap bersandar di bahu Leon karena lengan Leon yang tak kunjung melepasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD