Sebuah Perasaan

1215 Words
Elza membuka matanya dan yang pertama kali dia lihat adalah sosok Alex. Lelaki itu sedang memandangnya dengan serius. "Sudah bangun?" Tanya Alex. Elza diam namun tetap mengangguk. Mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Dan apakah rencananya telah berhasil. "Kalau kamu berfikir kita telah tidur bersama? Kamu salah besar. Aku tidak bisa menyentuhmu. Kecuali kamu telah menjadi milikku. Dan perlu kamu tahu, kamu tidak perlu melakukan itu. Tanpa kamu melakukannya, dari awal aku sudah bertekad untuk mendapatkan kamu. Aku janji kamu akan bebas darinya." Kata Elza. Elza tertegun untuk sesaat. Menatap lelaki itu dengan lekat. Sama sekali tak menyangka kalau dia sudah tahu rencananya. "Maafkan aku." Ucap Elza. Pandangannya tertunduk ke bawah. Dia merasa bersalah. Dia menyesal dan juga malu. Kini dia tahu kalau Alex sungguh mencintainya. "Sudahlah. Jangan pikirkan itu. Bagaimanapun caranya, aku pastikan kamu jatuh cinta padaku. Dan akan menjadi milikku." Kata Alex sambil tersenyum. Ada sebuah perasaan yang menghangat yang kini Elza rasakan dalam hatinya. Perasaan yang tak pernah ia dapatkan dari sosok Guntur. "Aku tunggu di depan. Sarapan sudah siap." Ucap Alex kemudian berlalu keluar. Degup jantung Elza terpacu dengan cepat. Tak tahu apa yang telah terjadi dengan tubuhnya. Getaran itu semakin terasa untuk saat ini. "Maafkan aku." Ucap Elza lirih. Elza kemudian menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian berganti pakaian lalu keluar. Terlihat lelaki itu sedang sibuk menata makanan di atas piring. Elza sama sekali tak menyangka kalau lelaki itu juga bisa memasak. Elza lalu mendekat dan menarik satu kursi lalu duduk. "Aku tidak tahu kalau Villa ini sudah lengkap dengan bahan-bahan dapur di kulkas." Kata Alex. "Aku memang sengaja memilih tempat ini. Disini juga tamu memiliki kebebasan." Kata Elza. "Benarkah? Termasuk kebebasan tidur dengan lawan jenis walau tanpa ikatan pernikahan?" Tanya Alex. Wajah Elza nampak sangat tegang. Wajahnya memerah karena menahan malu. "Aku hanya bercanda. Jangan di pikir seserius itu. Kamu lucu jika seperti itu." Kata Alex. Elza kemudian tersenyum. Lalu mencoba mencicipi tumis kangkung yang Alex masak. "Hemb... Enak. Sama sekali tidak menyangka kalau kamu pandai memasak." Kata Elza. "Tidak begitu. Karena yang aku tahu hanya memasak sayur itu. Dan aku akui, kamu lebih hebat dalam hal itu dari pada aku." Kata Alex. "Aku memang handal dalam memasak." Jawab Elza. "Aku suka dengan kepercayaan diri yang kamu miliki itu." Kata Alex. Kali ini Elza yang tertawa. Suara tawanya terdengar sangat renyah di telinga Alex. "Kapan kali terakhir kamu tertawa seperti ini? Sejak mengikuti mu dua bulan ini aku sama sekali tak pernah melihat kamu tertawa. Bahkan saat di rumah sakit juga kamu hanya tersenyum dan senyum itu palsu." Kata Alex dengan serius. "Hei tuan Alex. Kamu sampai sedetail itu memperhatikan aku?" Tanya Elza. Alex malah mengangguk. Dia memang tak pernah melihat senyum itu. Dan kini dia malah melihat tawanya. "Lihatlah, baru sebentar bersamaku kamu sudah tertawa. Akan aku buktikan kalau kamu akan bahagia bersamaku." Kata Alex. "Apakah aku masih berhak mendapatkan cinta itu? Sedang diriku menjadi milik dia." Kata Elza. Terlihat raut kesedihan di wajahnya. "Beri aku waktu. Kau akan jatuh cinta padaku. Dan kamu juga akan segera bebas." Kata Alex. Tiba-tiba suara dering telepon Alex berbunyi. Tanpa sengaja Elza melihat Wallpaper di ponsel Alex. Dan itu adalah fotonya saat baru saja keluar dari mobil. "Halo?" Ucap Alex. "Loe kemana aja sih? Gue telepon dari semalam tapi gak nyambung juga. Loe ada di hutan mana?" Gerutu Axel di seberang telepon. Alex cukup terkejut saat Axel tahu kalau dia ada di tengah hutan. "Kok loe tahu?" Tanya Alex. "Jadi beneran? Jangan bilang sama dia." Kata Axel dan lagi-lagi tebakannya benar. "Iya benar." Jawab Alex dengan jujur. " Gila ya, Loe. Ya udah, gue gak mau ganggu. Lain kali kabari." Ucap Axel lalu dengan tiba-tiba mematikan telepon. Kebiasaan baginya hanya untuk mengetahui keberadaan Alex. "Ayo, makanlah." Ucap Alex. Keduanya kemudian sarapan bersama. Dan juga menghabiskan waktu seharian bersama. Itu saja sudah cukup membuat Alex bahagia. Dan yang paling baik adalah, setiap kali bersama Alex, Elza merasakan sebuah kehangatan. Kini waktunya bagi keduanya untuk pulang. Namun sehari ini sangat bermakna bagi Elza. Sepanjang perjalanan, Elza terus menatap Alex. Dalam hati Elza bertanya-tanya bagaimana lelaki sesempurna dia bisa jatuh cinta padanya. Padahal dia bisa saja mendapat wanita yang lebih cantik dan lebih baik darinya. "Kita berpisah disini. Mobilmu sudah siap." Ucap Alex. Entah kenapa rasanya Elza tak ingin berpisah. Dia masih ingin lebih lama lagi bersamanya. Elza kemudian mengecup bibir Alex dengan singkat. Namun berhasil membuat lelaki itu terdiam. "Terima kasih untuk satu hari bersamaku." Kata Elza. Alex mengangguk. Menggenggam dengan erat tangan wanita itu. "Kamu harus kuat. Karena kebebasan telah menunggumu." Kata Alex. Elza lalu keluar dari mobil Alex dan menuju mobilnya. Namun Elza tahu lelaki itu tetap saja memastikan dia sampai dengan selamat. Terbukti saat dia terus mengikuti mobilnya. Semenjak kejadian itu, dalam pikiran Elza hanyalah Alex seorang. Bahkan disela-sela waktu luangnya saat di rumah sakit, yang terbayang di wajah Elza adalah sosok Alex. Bagaimana cara dia memperlakukannya dengan baik. Elza merasa di hargai sebagai seorang wanita. Bahkan semua itu tak pernah Elza dapatkan dari Guntur. "Sayang...!!" Suara seseorang membuyarkan lamunannya. "Kamu sudah pulang?" Tanya Elza. Guntur lalu memeluk Elza dengan erat. Melepaskan kerinduannya padanya. "Ini untukmu." Kata Guntur. Guntur membawakan Elza oleh-oleh dari liburannya. Padahal sebenarnya Elza tak pernah menginginkan semua itu. Elza membuka paperbag di tangannya. Dan melihat sebuah gaun tidur yang sangat cantik. Namun tetap saja hatinya tidak suka. Elza berpura-pura tersenyum. "Kamu suka?" Tanya Guntur. Elza mengangguk. "Pakailah. Malam ini aku akan menghabiskan waktu bersamamu." Kata Guntur seakan-akan dia tak pernah berbuat salah dan sangat mencintai Elza. Nyatanya Guntur seakan-akan memiliki kepribadian ganda. Bisa kasar dan juga bisa lembut. Terkadang memanjakan Elza dan terkadang juga suka menyiksanya. Elza memakai gaun tidur yang diberikan Guntur. Sementara lelaki itu menunggunya di atas ranjang. Elza sebenarnya enggan, namun jika dia menolak, Guntur pasti akan memukulnya. Elza mendekat ke arah Guntur. Lelaki itu terus saja memandangnya dengan senyuman. Guntur kemudian hendak mencium Elza sampai suara ponselnya berbunyi. "Ada apa Vira? Kamu kan sudah tahu kalau aku di rumah Elza?" Tanya Guntur. "Mas, perutku terasa kram. Aku butuh kamu." Kata Vira. "Baiklah, aku kesana." Kata Guntur. Elza tersenyum dalam hati. Dia tidak jadi melayani pria itu. "Aku tidak jadi menginap disini. Maafkan aku. Pakai baju ini lain kali." Kata Guntur sambil mengecup kening Elza lalu pergi. Setelah kepergian Guntur, Elza lalu merebahkan dirinya di ranjang. Bernafas dengan lega karena Guntur tidak jadi menginap dirumahnya. "Tidak buruk. Tapi aku tidak suka warnanya. Pilihan suamimu bisa di bilang lumayan." Kata Alex. "Ka-kamu?" Tanya Elza terbata. Cukup terkejut saat melihat Alex berada di kamarnya. "Jangan takut dan khawatir. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Soalnya aku tidak melihatmu dua hari ini. Dan ternyata kamu baik-baik saja." Kata Alex. Elza menatap Alex dengan seksama. Lelaki itu sungguh sangat berani. "Baiklah, karena aku sudah melihatmu. Aku pulang dulu." Kata Alex. "Tunggu. Jangan pergi dulu." Kata Elza menghentikan kepergian Alex. Elza mendekat dan memberikan ciuman di bibir Alex. Kali ini cukup lama bahkan sampai membuat suhu di tubuh Alex meningkat. "Belum waktunya. Aku tidak bisa melakukan ini." Kata Alex. Elza tersenyum padanya. Walau tahu perbuatannya salah. Bahkan bisa dikatakan kalau Elza sudah berselingkuh. "Baik. Pergilah tuan Alex." Kata Elza. "Panggil Alex saja." Ucap Alex. "Baiklah, Alex." Ucap Elza dan itu mampu membuat hati Alex bahagia. Lelaki itu keluar dari rumah Elza dengan hati uang berbunga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD