Berubah

1785 Words
Semenjak ucapan Elza di rumah sakit, Alex hanya mampu terdiam. Ucapan wanita itu mampu mengusik pikirannya. Lamunan Alex buyar saat menerima pesan masuk dari Axel. Alex melihat ponselnya, membuka foto yang dikirimkan Axel kepadanya. Ternyata Axel berfoto dengan Jasmine. Dan yang perlu diketahui, foto itu di ambil setelah percintaan keduanya. Axel memotret Jasmine yang tengah tertidur lelap disampingnya. 'Kau kalah dariku.' Pesan dari Axel membuat Alex menggelengkan kepala. Alex kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah Axel. Sesampainya di sana, Alex melihat Axel yang sedang berbaring di atas kasur di samping kolam renangnya. Alex lalu menaruh kunci mobilnya di meja dekat kolam. "What wrong's with you bro?" Tanya Axel. Melihat itu Axel bangun dan menatap lekat ke arah sahabatnya. "Axel, gue ngaku kalah." Ucap Alex. "Kamu yakin? Ini baru permulaan lho?" Tanya Axel. "Gue yakin. Loe tahu Elza yang semalam kan?" Tanya Alex. "Jangan bilang loe nyerah gara-gara gak bisa dapatin dia." Kata Axel. "Bukan. Wanita itu udah nyadarin gue." Jawab Alex. "Maksud loe gimana?" Tanya Axel. "Loe ingat gak waktu pertama kali kita kenal? Karena nama kita mirip. Alex dan Axel. Waktu SMA semuanya bilang kita ini mirip dan loe tahu sendiri betapa populernya kita waktu itu. Kita mulai dekat bahkan sampai saat ini loe jadi sahabat terbaik gue. Tapi ada satu hal yang belum bisa gue kasih tahu sama loe. Alasan yang bikin gue jadi kayak gini." Kata Alex sendu. "Apa itu?" Tanya Axel. "Mama gue ninggalin gue dan pergi sama pria lain. Sejak saat itu gue kurang kasih sayang. Papa nikah lagi dan dia gak pernah peduli sama gue lagi. Saat itu gue kacau, dan cuma loe yang ada buat gue." Kata Alex. Axel terkejut mendengar penuturan Alex, sahabatnya. Yang Axel ketahui tentangnya dia adalah anak broken home saja. Penyebabnya Axel tidak pernah tahu. "Alex, gue juga punya rahasia. Sebenarnya gue juga kayak gini karena gue mergokin papa gue selingkuh. Saat gue mau cerita ke mama gue, sialnya gue juga mergokin dia selingkuh. Loe tahu se-hancur apa hidup gue saat itu. Dan cuma loe yang ada buat gue. Mereka pura-pura saling mencintai di depan gue, tapi dibelakang gue mereka berkhianat." Kata Axel. Kali in giliran Alex yang tertegun. Yang dia tahu Axel seperti ini karena orang tuanya sibuk bekerja dan tak memiliki waktu untuknya. "Axel, gue mau berubah. Gue mau buang barang haram itu. Gue mau rehabilitasi." Kata Alex. Mendengar itu Axel memeluk sahabatnya. Axel membuka tasnya dan mengeluarkan segala jenis Narkotika. Kemudian dia membakarnya. "Kita bareng. Kita jalani bersama. Gue juga mau berubah." Kata Axel. Keduanya saling menata untuk sesaat. Kemudian tersenyum bersama. Keduanya berniat ingin menjalani rehabilitasi secara diam-diam dan tertutup tanpa diketahui oleh siapapun. Mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan, tapi keduanya sudah yakin dengan itu. Alex dan Axel senang karena mereka masih tergolong bukan pecandu berat. Jadi mereka hanya perlu berhenti dan sesekali mengecek kesehatan mereka. Setelah hasil tes menunjukkan negatif, mereka akan dinyatakan sembuh. Seorang Elza membawa pengaruh besar bagi kehidupan Alex. Kini Alex menekuni pekerjaannya dan mulai dekat dengan Papa dan juga ibu tirinya. ... Alex kini punya kegiatan rutin. Setelah pulang dari kantor, dia akan membuntuti Elza. Melihat wanita itu dari jauh saja membuat Alex bahagia. Walau Alex tak dapat memilikinya. Elza pergi ke rumah sakit seperti biasanya. Tidak menunjukkan sesuatu yang berbeda. Namun kali ini dia terlihat sering melamun. Di dalam kehidupan mewahnya, dia seperti tawanan seorang Guntur Sadewa. Dia masih dibolehkan bekerja namun setelah itu harus segera pulang. Berpura-pura jika kehidupannya baik-baik saja. Padahal tidak pernah ada cinta darinya untuk Guntur yang kejam. Elza pulang ke rumah seperti biasanya. Elza mendengar suara wanita yang tengah tertawa. Dia yakin kalau kini Guntur tengah kembali membawa wanita ke rumah. Hal yang sudah biasa dia lakukan. Alasannya sepele, dia ingin merasakan sesuatu yang baru yang belum pernah dia rasakan saat bersamanya. Awalnya Elza sakit hati, tapi lama-lama dia terbiasa. Satu lagi, Guntur kerap memukulinya. Namun setelah itu bersikap seolah tidak terjadi apapun dalam hubungan mereka. Elza terus berjalan gontai dan hendak memasuki kamar. Dia mau menghindari kemesraan antara Guntur dan p*****r itu. Tentu saja dia p*****r yang Guntur bawa untuk menyenangkannya. Baru beberapa langkah, suara Guntur mulai terdengar. "Kamu sudah datang?" Tanya Guntur. Elza menatap suaminya. Dan benar saja. Di sofa sana ada seorang wanita yang dandanannya cukup seksi untuk seorang wanita seumuran dia. Elza perkirakan wanita itu lebih muda darinya. "Elza, perkenalkan. Dia Vira, sekretaris di kantorku." Ucap Guntur. Elza memandang Guntur lalu tersenyum. Tak menyangka kalau kali ini dia memperkenalkan wanitanya. "Aku lelah. Aku harus ke kamar." Ucap Elza. "Elza, dengarkan aku. Sebenarnya dia istri keduaku. Kami sudah menikah tadi siang. Papa dan mama memaksaku. Vira hamil dan mama papa mengetahuinya. Karena anak itu darah daging Sadewa, makanya mama dan papa menyuruhku untuk bertanggung jawab. Tapi kamu tenang saja, kamu tetap menjadi istri Syahku. Vira hanya menjadi istri sirri ku saja." Ucapan Guntur membuat Elza tercengang. Dia menikah lagi tanpa sepengetahuan dan juga izin darinya. Terlebih wanita itu tengah mengandung. Dan Elza lebih sakit hati karena itu permintaan Papa dan Mama mertuanya. "Guntur, kamu serius?" Ucap Elza membeku. "Maafkan aku. Tapi aku terpaksa. Dia hamil." Ucap Guntur seakan tak bersalah. Elza menghampiri Guntur dan memandangnya dengan tatapan yang tajam. Elza mendaratkan sebuah tamparan di wajah Guntur. Sebuah tamparan yang sangat keras. "Dasar b******k. Tega sekali kamu sama aku. Selama ini kamu siksa dan perlakukan aku semau mu, tapi kamu balas aku dengan pengkhianatan." Kata Elza. "Elza, tenanglah. Aku minta maaf. Aku berjanji walau punya istri dua, tapi aku akan mengutamakan kamu. Cinta pertamaku tetap kamu." Ucap Guntur. "Persetan dengan itu. Aku tidak peduli. Ceraikan aku." Kata Elza. "Aku tidak bisa." Kata Guntur. Elza menatap ke arah Vira yang sedari tadi hanya tersenyum tanpa kata. Elza menghampiri wanita itu dan segera menamparnya kemudian menjambak rambutnya. Melihat itu, Guntur menjadi kesal dan malah menampar Elza. "Jangan sakiti dia. Dia sedang hamil anakku. Salahkan dirimu yang tidak bisa mengandung padahal kita sudah menikah selama dua tahun." Kata Guntur. "Apa kamu bilang? Aku mandul hanya gara-gara belum hamil selama dua tahun bersamamu?" Ucap Elza. "Iya, benar. Kamu mandul. Buktinya bersama Vira aku akan segera punya anak." Kata Guntur menjawab. Elza meludahi wajah Guntur. Jika selama ini dia diam, tapi kali ini suaminya sungguh keterlaluan. "Berani ya, kamu sekarang." Kata Guntur. Guntur kemudian menyeret Elza ke atas. Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan terhadap Elza. Namun terdengar suara jeritan Elza dari dalam kamar. Elza menangis setelah apa yang dilakukan Guntur terhadapnya. Elza segera menuju kamar mandi dan menyiram tubuhnya dibawah shower. Seluruh tubuhnya terasa pedih atas apa yang Guntur lakukan terhadapnya. Setelah itu, Elza segera memakai pakaian panjang. Dia tak mau luka di tubuhnya terlihat. Elza meninggalkan sebuah pesan untuk Guntur kemudian pergi. Elza tadi mendengar suara mobil yang pergi. Dia pikir mungkin Guntur telah membawa madunya pergi. Dan ternyata benar. Elza tahu kalau malam ini Guntur tidak akan menginap di rumah ini. Elza terus berlari dan menjauh dari rumah itu. Dia tak tahu kemana langkah kaki membawanya pergi. Kini Elza berdiri di sebuah jembatan. Tangisnya makin menjadi saat tahu kalau Guntur mengkhianatinya. Dia tahu kalau Guntur suka bermain wanita, tapi tidak tahu kalau dia akan menikahinya dan menjadikannya sebagai istri kedua. Rasanya Elza ingin sekali melompat dan bunuh diri. Tetapi, dia tak bisa melakukan itu karena dia masih punya orang tua yang harus dia lindungi. Tanpa Elza ketahui, ada seseorang dalam mobil yang terus menatapnya. Takut jika Elza akan berbuat yang lebih jauh dari itu. Alex segera turun dan mencegah Elza. Alex langsung menarik Elza dan menahan tubuhnya agar menjauh dari jembatan. "Kamu gila ya? Seberat apa masalah kamu sampai kamu memutuskan untuk bunuh diri?" Tanya Alex. Elza menatap lelaki yang entah dari mana datangnya, dengan tiba-tiba menyimpulkan kalau dia ingin bunuh diri. "Ka-kamu. Kenapa kamu ada disini?" Tanya Elza saat melihat wajah Alex. "Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu ada disini? Tengah malam dan kamu menangis. Aku tahu kalau kamu pasti ingin bunuh diri, kan?" Tanya Alex. "Kata siapa? Aku gak sebodoh kamu. Aku masih punya harapan. Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya mencari ketenangan." Jawab Elza. Elza menghapus air matanya. "Jadi kamu gak ada niat bunuh diri?" Tanya Alex. Elza mengangguk. Lalu berlalu pergi begitu saja. "Ayo aku antar kamu pulang." Kata Alex. "Gak perlu." Jawab Elza. "Ini sudah jam satu malam. Jalanan sepi." Kata Alex. "Aku gak mau pulang ke rumah." Kata Elza. "Aku antar kamu kemanapun yang kamu inginkan." Kata Alex. Melalui perdebatan itu akhirnya Elza berakhir didalam mobil Alex. "Kita kemana?" Tanya Alex. "Kemana saja. Bawa aku menjauh dari tempat ini." Kata Elza. Tatapan mata Elza kosong. Dia ingin melupakannya untuk malam ini. Masalah ini terlalu berat untuknya. Alex tidak tahu harus membawa Elza kemana. Dia terpaksa menurunkan Elza di sebuah tepi pantai yang sangat sepi. "Turun. Aku tahu kamu pasti sedih dan masalahmu cukup berat." Ucap Alex. Elza turun dan melangkah ke tepi pantai. Tak ada seorangpun di sana kecuali dia dan Alex. "Ambil ini." Ucap Alex sambil memberikan sebuah batu. "Untuk apa?" Tanya Elza kebingungan. "Lempar sejauh mungkin. Dan anggap jika itu adalah masalahmu. Maka aku pastikan beban di hati kamu akan sedikit hilang." Kata Alex. Alex mengambil satu lagi batu yang ada di hadapannya. Melempar ke tengah deburan ombak di pantai dengan sejauh mungkin. Melihat itu Elza segera melempar batu itu mengikuti gerakan Alex. Dan hasilnya, dia lebih lega sekarang. Setelah melihat pantai sedikit lama, Alex mengajaknya pulang. "Ayo pulang." Kata Alex. Elza sudah terlanjur mengirim pesan pada Guntur bahwa dia akan menginap di rumah orang tuanya. Tidak mungkin jika Elza kembali ke sana. "Aku tidak ingin pulang." Kata Elza. "Ikutlah bersamaku." Kata Alex. Elza tersenyum. Mengingat jika lelaki itu pernah mencoba menggodanya. "Aku bukan w**************n. Aku bersuami." Kata Elza. "Aku tahu itu. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin membantumu." Kata Alex. Dengan modal percaya pada Alex, Elza lantas mengikutinya. Alex memberhentikan mobilnya di sebuah rumah yang tak jauh dari pantai. "Tidurlah disini untuk sementara. Biarkan hatimu tenang." Kata Alex sambil mengantar Elza ke kamarnya. Elza tersenyum. Mencoba menyandarkan tubuhnya di atas ranjang. "Awww." Elza memekik kesakitan. "Ah, kenapa?" Tanya Alex. Saat itu juga tangis Elza pecah. Dia mulai merasakan sakit yang luar biasa. Elza kemudian membuka jaket tebal yang dia pakai. Sehingga Alex dapat melihat luka di sekujur tubuhnya. Bekas luka cambuk yang Alex tahu sangat menyakitkan. "Hidupku tidak sebahagia yang kamu kira. Jika kamu pikir kamu bisa menggodaku, kamu salah besar. Aku terlalu banyak mengalami rasa sakit. Dan aku tidak mau kamu datang dan menambah rasa sakit itu." Kata Elza. "Diam lah. Kamu terlalu banyak bicara." Ucap Alex. Dia kemudian mengambil salep luka di laci dan mulai mengobati luka di tubuh Elza. Alex terus mengobati luka Elza tanpa berkata sepatah katapun. Setelah itu dia memberi Elza obat anti nyeri agar wanita itu dapat tertidur lelap malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD