Salah Duga

1106 Words
Axel sampai frustasi saat mencari keberadaan Alex. Lelaki itu menghilang semalaman. Axel mencari di rumah namun juga tidak menemukan. Mencari ke apartemen juga tidak ada. Bahkan Axel sampai mencari ke seluruh Club malam yang ada di kota namun tak juga terlihat sosok Alex. Satu-satunya tempat yang tersisa hanya satu. Vila dekat pantai. Alex jarang pergi ke sana. Tempat itu hanya akan dia datangi saat dia sedang ingin menenangkan diri saja. Axel mengendarai Lambhorgini terbarunya menuju Vila. Secercah cahaya membuat Axel tersenyum. Ada mobil Alex terparkir di depan Vila. Axel tak pernah salah menebak. Axel segera masuk ke dalam karena pintu tidak terkunci. Namun alangkah terkejutnya Axel saat melihat ada sepatu wanita berada di depan pintu masuk. Axel masuk kedalam dan ingin melihat wanita mana yang bisa membuat Alex membawanya ke Vila favoritnya. Axel menatap Alex yang tengah duduk di sofa seorang diri. Alex memberikan isyarat agar Axel tidak menimbulkan kegaduhan. Alex mengajak Axel bicara di luar. "Siapa dia?" Tanya Axel setibanya di luar. "Loe tahu dia. Dia Elza Sadewa." Kata Alex. Mendengar itu Axel terkejut bukan main. Dia tak menyangka bahwa sampai sekarang Alex masih mengejar wanita itu. Alex juga tidak akan menganggap serius taruhan waktu itu. Tapi kini Axel tahu lelaki itu serius. "Axel, gue butuh bantuan Loe." Kata Alex "Apa?" Tanya Axel. Walau sebenarnya tidak suka dengan Alex yang menyukai Elza, Axel tetap akan mendukung keputusan sahabatnya itu. "Tolong bantu gue buat cari tahu segalanya tentang Elza dan Guntur, suaminya." Kata Alex meminta. Axel mengangguk dan segera memerintahkan seseorang untuk mencari tahu segalanya. "Gue gak tahu tujuan Loe apa. Tapi gue bakalan selalu dukung Loe, Lex." Kata Axel. Keduanya berbincang sampai pagi tiba. Dan mereka tertidur di sofa. Elza bangun karena rasa sakit di punggungnya. Walau merasa lebih baik, Elza tetap merasakan sakit. Elza keluar kamar dan melihat dua lelaki yang tengah tertidur di sofa. Elza tersenyum. Dia merasa beruntung bisa singgah di rumah ini walau hanya semalam. Elza kemudian menuju dapur. Melihat sesuatu yang bisa dia masak. Elza melihat lemari es yang ternyata penuh dengan beberapa makanan. Dan semuanya makanan instan. Elza kemudian mulai menggoreng sosis, telur dan juga daging ayam. Memasak makanan yang paling dia bisa. Aroma masakan Elza membuat Alex terbangun. Melihat Elza yang tengah sibuk berkutat di dapur. Tak lupa Elza mengikat rambutnya. Dan itu membuat Alex bisa leluasa melihat leher jenjangnya. "Kamu sudah bangun?" Ucap Elza sambil menata beberapa makanan. Alex hanya mengangguk. Kemudian duduk di meja makan. Masih sibuk menatap Elza yang bahkan terlihat cantik walau baru bangun tidur. Alex merasa Guntur sangat beruntung memiliki sosok istri yang cerdas dan juga cantik. "Maaf, lancang. Aku lapar jadi aku memasak apa yang ada dalam lemari es. Gak nyangka juga peralatan masak kamu lengkap." Ucap Elza. "Itu mama tiri aku yang isi. Dia bilang aku sering ke Vila ini. Jadi dia gak mau aku sampai kelaparan. Jadi dia selalu penuhin kulkas aku." Kata Alex. "Mau sarapan bersama?" Tanya Elza. Alex tersenyum lalu mengangguk. "Bangunin juga teman kamu itu." Kata Elza. Alex hendak bangkit untuk memanggil Axel. Namun Elza menyelanya sebentar. "Aku senang kamu mau berubah. Kamu terlihat lebih segar setelah berhenti dari semua itu." Kata Elza. Alex terkejut karena Elza tahu kalau dia sudah berhenti dengan barang-barang terlarang itu. "Jangan tanya kenapa aku tahu. Aku seorang dokter. Pasienku rata-rata pemakai." Ucap Elza. Alex semakin kagum dengan ucapan Elza. Sosok wanita yang tahu segala hal. "Aku bangunkan Axel dulu." Ucap Alex. Kini ketiganya sedang duduk di meja makan. Awalnya hanya kecanggungan yang terjadi antara mereka bertiga. Tapi karena lezatnya masakan Elza, membuat Axel membuka suara. "Lumayan. Kamu boleh juga dalam memasak." Kata Axel memuji. "Tentu saja. Bahkan suamiku sering memuji masakan ku." Kata Elza. Alex dan Axel tak mengerti apa yang terjadi pada Elza. Yang mereka tahu, Elza sedang berpura-pura baik-baik saja. "Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Alex. "Bisa antarkan aku ke rumah orang tuaku?" Tanya Elza. Alex mengangguk. Dia tahu kalau saat ini Elza sedang mengalami masalah. .... Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Setiap hari pekerjaan Alex hanyalah mengawasi Elza saat waktu luang. Menanyakan dalam hatinya apakah wanita itu baik-baik saja. Elza terlihat baik-baik saja. Bahkan sesekali Alex melihat Elza keluar dan terlihat mesra dengan suaminya. Dan saat itu juga Alex menganggap bahwa masalah wanita itu telah usai. Alex tak ingin mengganggu Elza lagi. Dia berharap setelah ini Elza akan bahagia selalu. Alex duduk di kursi kamarnya sambil menatap pemandangan lalu lintas malam dari kaca jendela. Andai saja dia di pertemukan dengan Elza lebih awal. Mungkin dia bisa memiliki Elza. "Gue pikir Loe kemana. Tumben di apartemen." Kata Axel. "Gue lagi pengen disini aja." Kata Alex menjawab. Axel tahu kalau selama seminggu ini Alex selalu saja membuntuti Elza. Mulai dari wanita itu berangkat kerja dan juga pulang kerja sampai memastikannya pulang ke rumahnya. "Gue udah dapat informasi yang Loe minta." Ucap Axel. Alex merasa informasi itu sudah sia-sia. Dia salah menduga kalau dia bisa mengambil Elza. Tapi nyatanya Elza sangat mencintai Suaminya. "Gak perlu." Jawab Alex. Axel menatap sahabatnya yang seperti hilang harapan itu. "Beneran Loe gak mau tahu?" Tanya Axel. "Enggak." Jawab Alex singkat. "Padahal gue pikir informasi ini penting buat Loe." Kata Axel. Axel melangkah dan hendak pergi. Namun rasa penasaran Alex menyeruak keluar. "Jelaskan. Apa informasinya." Kata Alex. Axel tersenyum. Dia tahu kalau Alex tak mungkin diam saja. Dia pasti penasaran terhadap semua informasi yang dia bawa. "Elza dan Guntur menikah sudah dua tahun. Guntur bertemu Elza di universitas kedokteran. Dia melihat Elza yang cantik dan juga lebih pintar dari yang lain. Dia mulai mendekati Elza dan mulai mengutarakan perasaannya. Dia juga yang mendukung karir Elza sebagai dokter. Mereka menikah dan semua baik-baik saja." Kata Axel. Alex berdecak kesal. Kalau hanya tentang itu, untuk Apa Axel capek-capek utuk memberi tahunya. "Hanya itu. Baiklah." Ucap Alex frustasi. "Gue belum selesai." Kata Axel. Mendengar itu Alex terdiam. Menunggu kelanjutan kejelasan dari Axel. "Setelah menikah, Guntur menunjukkan sosok aslinya. Dia suka selingkuh. Suka menyiksa Elza. Elza masih bisa bertahan selama ini. Namun seminggu yang lalu, Guntur menikah lagi dengan sekretarisnya. Orang tuanya tahu Guntur menghamili sekretarisnya. Mau tak mau Guntur harus menikahinya." Ucap Axel. Alex tertegun saat mendengar penjelasan Axel. Dia tak menyangka dibalik diamnya Elza dia menyimpan sejuta Luka di hatinya. Alex beranjak dan membuka penutup dari lukisan yang dia beli dari Elza. Alex seharusnya tahu kalau ternyata lukisan yang Elza gambar itu mengisyaratkan dirinya sendiri. Seorang putri yang terbelenggu dalam sangkar emas. Walau hidup dalam kemewahan, Putri itu tidak pernah bahagia. Dia tidak merasa bebas. "Aku berjanji. Akan membuatmu bahagia, Elza. Aku akan mengambil dan merebutmu dari lelaki b******k itu." Gumam Alex. Kini dia bertekad untuk merebut Elza dari Guntur. Dia tak bisa lagi melihat Elza menderita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD