Axel sama sekali tak menyangka jika kini Alex memiliki pekerjaan tambahan. Yaitu membuntuti sosok Elza. Sepulangnya dari kantor, Alex akan pergi ke rumah sakit. Melihat sosok Elza bahkan sampai wanita itu pulang.
"Lex, gue baru tahu kalau loe beneran serius sama dia." Ucap Axel.
Alex tersenyum lalu meminum tehnya. Baginya, melihat Elza saja bisa membuatnya bahagia.
"Terserahlah. Emang gitu kayaknya kalau lagi jatuh cinta." Ucap Axel.
"Gue harap loe bakalan jatuh cinta juga. Biar loe ngerti gimana rasanya jadi gila." Kata Alex.
Alex tiba-tiba menatap jam di tangannya lalu berdiri sambil meraih kunci mobil.
"Mulai lagi." Ejek Axel.
Saat ini adalah waktunya Elza pulang. Axel akan segera menuju rumah sakit dan mengawasinya.
Namun kini berbeda. Wanita itu belum pulang dan justru berkutat di ruang operasi. Setelag operasi selesai dan berhasil, Elza bernafas lega. Dia lalu menuju ruangannya dan segera mengganti pakaian miliknya.
Saat hendak pulang, tanpa sengaja dia melihat sosok Alex yang diam-diam mengawasinya. Alex segera bersembunyi agar Elza tidak melihatnya.
"Hampir saja." Gumam Alex.
"Hampir apa?" Sosok Elza sendiri sudah ada di hadapannya.
Kini Alex tertangkap basah mengikuti wanita itu.
"Apa kau tidak lelah setiap hari mengawasi dan membuntuti aku?" Ucap Elza.
"Jadi, kau tahu itu?" Tanya Alex.
"Mari kita bicara di tempat lain." Ajak Elza.
Wanita itu kemudian mengajak Alex berbicara di Cafe terdekat.
"Tuan Alex. Jauhi aku. Sudah aku bilang kalau aku bersuami. Aku tidak akan pernah masuk ke kamarmu dan dengan mudahnya tidur denganmu. Kau tahu itu." Ucap Elza.
"Tapi aku tahu, kau tidak bahagia." Kata Alex.
"Kata siapa aku tidak bahagia? Aku seorang dokter dan suamiku lelaki kaya." Kata Elza.
"Lukisan yang kau buat mengatakan segalanya." Kata Alex.
Elza terdiam mendengar semua itu. Sama sekali tak menyangka kalau Alex mengerti arti lukisan itu.
"Kau tidak bahagia dengannya, kan?" Tanya Alex.
"Tidak. Aku bahagia. Itu hanya lukisan dan tak berarti apapun." Kata Elza.
"Suamimu sering menyiksamu. Dan dia berselingkuh. Bahkan dia menghamilinya. Dia menikahi wanita itu. Dia mengkhianatimu." Kata Alex.
Plaaakk....
"Atas hak apa kau mencari tahu semuanya? Kau tidak punya hak untuk mencampuri urusanku." Elza marah dan pergi setelah menampar Alex.
Elza menangis sambil menyetir mobilnya. Apa yang dikatakan Alex memanglah benar. Elza mencoba mencintai Guntur selama dua tahun ini, namun sikap lelaki itu justru membuatnya muak.
Berawal dari saat Elza kuliah. Hidupnya sangat pas-pasan saat itu. Dia hanya mengandalkan beasiswa untuk saat itu dengan kepintarannya. Pertemuannya dengan Guntur menjadi malapetaka pertama baginya.
"Elza, tolong temani tamu kita. Dialah anak donatur tetap di kampus ini. Sekaligus orang yang memberimu beasiswa." Ucap Dekan.
"Baik, pak." Ucap Elza.
Elza mengantar Guntur yang baru saja pulang dari luar negeri. Mengantar lelaki itu berkeliling kampusnya. Entah kenapa dari sekian banyak mahasiswa, dia yang di suruh untuk menemani lelaki itu.
Guntur langsung jatuh hati pada Elza. Kecantikan dan kepintaran Elza membuat Guntur jatuh hati padanya.
"Ini kunjungan pertamaku. Namun aku sangat senang karena kamu yang menemaniku." Ucap Guntur.
"Terima kasih, pak." Ucap Elza.
Guntur setiap harinya mencoba mendekati Elza. Tanpa rasa curiga, Elza juga mulai suka padanya. Guntur juga mulai mendekati keluarga Elza. Membuat semua berfikir kalau lelaki itu benar-benar mencintai Elza.
Hingga saat semester terakhir, Guntur melamar Elza. Tentu saja Elza yang bel siap tidak mau. Dan Guntur memberinya pilihan untuk bertunangan saja. Keluarga Elza juga menyetujui itu.
Akhirnya, mereka bertunangan dalam waktu yang cukup lama karena Elza kembali mengejar gelar sebagai dokter bedah. Dan Guntur masih belum menunjukkan suatu keanehan. Bahkan lelaki itu mendukung karir Elza.
Hingga suatu hari, Elza berbicara dengan teman lelakinya, dan saat Guntur tahu itu, dia menghajar lelaki tersebut. Bahkan dia menampar Elza. Mulai saat itu Elza sedikit takut dengan Guntur.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain." Kata Guntur.
Guntur kembali menjadi lembut dan sangat baik pada Elza. Hingga saat itu telah tiba. Elza mulai merasa hidupnya di kekang oleh Guntur. Dia bahkan berniat membatalkan pertunangannya.
"Kita sudahi saja pertunangan kita. Aku tidak bisa menikah denganmu. Kamu selalu mengekang ku." Ucap Elza.
"Baiklah. Kita sudahi semuanya. Walau aku tahu aku masih mencintaimu. Dan aku harap kamu bahagia." Ucap Guntur sambil memeluk Elza dengan erat.
Elza heran karena lelaki itu bisa menerima semuanya dengan mudah. Elza pikir dia telah bebas. Namun Guntur menjebaknya. Membuat keluarga Elza di ambang kehancuran. Rumahnya disita dan Ayahnya terancam di penjara.
"Kenapa bisa begini, yah?" Tanya Elza.
"Ayah menggadaikan rumah ini untuk biaya kamu kuliah." Ucap Ayahnya.
Elza terkejut saat mendengarnya. Sama sekali tak menyangka kalau Ayahnya berkorban banyak untuknya.
Dan saat itulah Guntur datang bagaikan pahlawan. Membayar semua hutang keluarga Elza. Bahkan membayar semua biaya terakhir Elza kuliah.
"Menikahlah denganku. Aku berjanji akan mencintai kamu selamanya." Ucap Guntur.
Elza merasa lelaki itu tulus dan dia menerima lelaki itu kembali. Akhirnya mereka menikah dan di adakan sebuah pesta yang sangat mewah. Semua tamu datang dan memberikan selamat.
Namun malam pertama untuk Elza bukan menjadi malam yang berarti. Guntur justru mengungkap segalanya. Mengungkapkan kalau dialah yang menghancurkan keluarga Elza dan dia pula yang datang sebagai penyelamat. Malam pertama yang seharusnya menjadi malam yang indah berakhir dengan di siksanya Elza.
"Kamu pikir kamu siapa? Beraninya menolak ku. Kamu harus tahu, aku Guntur Sadewa. Sangat benci dengan penolakan. Yang menjadi milikku akan selamanya jadi milikku. Termasuk kamu." Ucap Guntur.
Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Elza setelah menyalurkan hasratnya. Sementara Elza menangis kesakitan.
Setelah hari itu Guntur menunjukkan sifat aslinya. Mabuk dan bermain dengan wanita. Bahkan sering membawa wanita lain ke rumahnya. Elza awalnya sakit hati. Namun setelah lama kelamaan, dia mulai terbiasa dan kebal. Bahkan setelah melakukan kesalahan sekecil apapun. Guntur akan menyiksanya.
Ingatan itu membuat d**a Elza terasa sesak. Kesalahannya adalah terlahir miskin. Dia berjuang menjadi dokter hanya untuk keluarganya. Bahkan Elza tak pernah menyentuh uang yang Guntur berikan.
Elza memasuki rumahnya dan membenarkan make-up yang dia pakai.
"Kemana saja kamu? Kenapa baru pulang?" Tanya Guntur.
Rupanya dia bersama dengan Vira. Wanita itu menatap jijik ke arah Elza.
"Ada operasi mendadak. Aku harus menyelamatkan pasienku." Jawab Elza.
"Baiklah, tolong buatkan kami berdua jus jeruk." Ucap Guntur.
Elza mengangguk dan tersenyum. Dia muak, tapi dia tetap harus melakukannya.
Elza menaruh dua gelas jus di meja ruang tamu. Namun tak terlihat sosok Guntur. Dia mengerti jika mungkin Guntur sedang ke toilet.
"Heh, kamu. Ingat ya? Sekarang aku ini juga istrinya mas Guntur. Jadi kamu harus tahu. Jangan ngelunjak.". Kata Vira.
"Apa kamu tidak malu berbicara seperti itu? Kamu hanya istri sirri-nya. Akulah istri syah-nya. Aku yang berhak atas dia." Ucap Elza.
"Kamu berani sama aku? Aku yang harus di utamakan. Aku sedang hamil." Kata Vira.
"Aku tahu. Kamu selingkuh dengan suamiku dan hamil dengannya. Jika tidak hamil, dia tidak akan menikahi kamu." Ucap Elza.
Vira muak dan hendak menampar Elza. Namun dengan gesit, wanita itu menangkisnya. Justru Elza yang kini menampar Vira.
"Aw... Sakit." Ucap Vira.
Dia tahu kalau Guntur telah datang.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Guntur marah pada Elza.
"Dia tadi juga dorong aku, mas. Dia juga nampar aku. Kamu tahu sendiri kan? Untung anak kita gak kenapa-kenapa." Kata Vira.
Plaakk....
Lagi-lagi Guntur menampar Elza. Lelaki itu mengambil segelas jus dan menyiramkannya pada Elza.
"Jangan ulangi lagi. Vira sedang hamil anakku. Dan itu sesuatu yang tak bisa kamu berikan. Ingat, kamu hanya wanita miskin yang menjadi kaya karena aku." Ucapan Guntur membuat Elza merasa sakit hati.
"Mas, belikan aku rumah saja. Udah aku bilang, kita gak akan bisa tinggal serumah." Kata Vira merengek.
"Baiklah. Besok kita beli. Malam ini kita menginap di hotel saja."
Keduanya lalu pergi meninggalkan Elza yang menangis sendirian. Selain di tampar, dia juga di hina. Beberapa kali meminta bercerai, namun Guntur mengancamnya dengan berkata akan membuat hancur kedua orang tuanya.
Elza menuju kamarnya. Membuka semua pakaiannya dan langsung membersihkan dirinya dari sisa-sisa jus yang Guntur siramkan padanya.
Setelah itu Elza keluar dan mengingat pantai yang tempo hari dia datangi. Di sana dia merasa sangat tenang.
Elza mengambil batu besar dan melemparnya sejauh mungkin. Wanita itu tersenyum karena merasa sedikit lega.
Tiba-tiba ada seseorang juga yang melempar batu dan mengikuti gerakannya.
"Kamu." Ucap Elza setengah kaget saat melihat Alex sudah berada di sampingnya.
"Mau batu lagi?" Ucap Alex sambil memberikan satu batu.
Elza mengambilnya dan langsung melemparnya.
Dia merasa mendapat karma. Dia tadi menampar Alex dan baru saja dia di tampar oleh Guntur.
"Maafkan aku. Mengenai tamparan tadi." Ucap Elza.
"Tidak masalah. Aku jadi tahu bagaimana rasanya di tampar wanita." Ucap Alex kemudian tersenyum.
Elza tertawa kecil saat mendengarnya. Jujur saja Alex orang yang menarik bagi Elza. Hanya saja dia tetap tak mau menjalin hubungan dengannya.
"Aku juga minta maaf. Aku terlalu ingin tahu tentang kamu." Ucap Alex.
"Jangan bahas itu lagi. Aku disini untuk menenangkan pikiranku." Ucap Elza.
Keduanya lalu berbicara panjang lebar. Elza terkejut saat tahu kalau Alex sempat kuliah jurusan kedokteran. Namun berhenti dan justru mengelola perusahaan Ayahnya. Pantas saja waktu itu stok obat Alex di villanya sangat lengkap.
Hal itu pula yang membuat Alex jatuh hati pada Elza. Dia kagum pada Elza yang menjadi seorang dokter. Itu sama dengan Cita-cita Alex. Namun impian itu kandas karena saat itu Papanya terkena serangan jantung dan Alex harus meneruskan perusahaan papanya.
"Kamu keren." Ucap Elza.
"Maksudnya?" Tanya Alex.
"Kamu menyerah dengan impianmu demi orang tuamu. Mungkin jika saat itu aku menyerah dengan impianku, hidupku takkan seperti ini." Kata Elza sedih.
Andai saja saat itu Elza tak bertekad menjadi seorang dokter, mungkin saja dia takkan seperti ini. Hidup dalam belenggu seorang Guntur yang kejam.
Namun Elza pasrah. Dia tahu ini bukan kesalahan siapapun. Ini salah takdir yang membuatnya menikah dengan Guntur.