Keduanya terus berada di pinggir pantai sampai tengah malam. Elza sengaja tidak pulang ke rumahnya. Dia tahu kalau malam ini Guntur tidak akan pulang. Bahkan terakhir kali dia menyentuhnya sejak dua bulan yang lalu. Guntur sibuk bermain dengan madunya.
"Sudah waktunya aku pulang." Kata Elza.
Alex mengangguk. Walau sebenarnya dia masih ingin bersama wanita itu. Dia tahu kalau Elza baru saja sakit hati. Alex tahu semuanya saat melihat bekas merah di pipinya.
Tanpa sadar Alex menyentuh pipi Elza dengan lembut.
"Pasti sangat sakit." Ucap Alex.
Ada sebuah perasaan yang menghangat dalam hati Elza. Dia merasa nyaman saat berada di dekat Alex. Namun Elza tidak mau terperangkap dalam hubungan gelap.
"Aku harus pergi." Ucap Elza.
Wanita itu kemudian beranjak pergi dan menaiki mobilnya. Sementara Alex juga mengikutinya dari belakang. Lelaki itu ingin memastikan jika Elza akan baik-baik saja.
Elza memasuki pelataran rumahnya. Sementara Alex mastikan wanita itu masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Elza tahu kalau Alex mengikutinya. Bahkan dia membiarkannya mengikutinya selama sebulan ini.
"Aku disini terjebak. Dan akan selamanya begitu." Gumam Elza.
Elza kemudian tidur dan terlelap dalam mimpinya.
Keesokan paginya, Elza bangun agak siang karena hari ini dia libur. Alangkah terkejutnya Elza saat melihat di sampingnya ada Guntur yang sedang memandanginya.
"Sudah bangun?" Ucap Guntur bertanya.
Namun semua itu justru membuat Elza memundurkan tubuhnya. Dia sedikit merasa ketakutan karena hal semalam.
"Maafkan aku tentang masalah kemarin malam. Kamu tetaplah cinta pertamaku. Vira akan aku ceraikan setelah anak itu lahir." Ucap Guntur.
Begitulah dia. Lelaki kejam itu akan berubah menjadi lembut. Bahkan Elza tak dapat menerka sifatnya.
Guntur memberikan sebuah kotak yang berisi gelang yang tentunya sangat mahal.
"Ini untukmu, Sayang." Ucap Guntur.
Lelaki itu kemudian memeluk Elza dan memberikan sebuah kecupan di bibirnya. Elza hanya menampilkan sebuah senyum yang terpaksa.
"Baiklah. Aku akan pergi dulu. Aku sudah ada janji untuk membeli rumah untuk Vira." Ucap Guntur.
Lagi-lagi Elza merasa kecewa. Ingin sekali menjerit dan memaki Guntur. Namun dia tahu jika hal itu hanya akan membuatnya disiksa.
Elza hanya bisa menatap kepergian Guntur dan menyaksikan punggung lelaki itu menghilang secara perlahan dari pandangannya.
Setelah mendengar suara mobil berbunyi, Elza yakin jika Guntur telah pergi.
"Aaaaaaa........!!" Elza berteriak lalu menangis.
Dia pikir Elza bodoh. Elza hanya di belikan gelang. Sedangkan Vira di belikan sebuah rumah. Elza merasa sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini. Semakin hari Guntur di kuasai oleh Vira. Sedangkan Elza hanya bisa merasa kesepian. Yang dia dapatkan hanyalah penyiksaan dari Guntur saja.
Elza menangis sejadi-jandinya. Meratapi kemalangan nasibnya. Rasanya ingin pergi jauh dan terlepas dari belenggu Guntur.
.....
Axel terus saja menatap Alex yang sedari tadi melamun dan tidak konsentrasi saat meeting berlangsung. Tatapan mata Alex kosong. Dan bisa Axel tebak kalau yang sedang Alex Lamunkan adalah Elza.
Alex berpikir dengan sangat keras. Bagaimana bisa Elza tetap bertahan dengan Guntur yang sangat kejam itu. Padahal yang Alex lihat, tidak ada cinta di mata Elza untuk Guntur. Alex tahu kalau wanita itu hidup dalam keterpaksaan.
"Aku tahu, kamu tersiksa. Kamu sakit hati. Beri alu waktu, dan sebentar lagi aku akan mengambil kamu darinya." Kata Alex dalam hati.
"Bagaimana tuan Alex? Apa anda setuju dengan pendapat saya?"
Ucapan Nella membuyarkan lamunan Alex. Sedari tadi dia tak menyimak apa yang Nella terangkan.
"Jika teman saya, Axel setuju. Maka saya juga akan setuju. Jadi, minta pendapat dia saja." Ucap Alex.
'Sial'
Axel tahu kalau Alex melemparkannya padanya. Karena Axel tahu jika sedikit saja Alex tak tahu apa yang sedang di bahas.
"Bagaimana tuan Axel?" Tanya Nella.
"Saya setuju saja. Menurut saya ide anda sangat bagus. Segala pembangunan yang di lakukan memang harus menuruti minat pasar. Dan yang seperti anda katakan, pembangunan Penthouse termewah ini akan meledak." Kata Axel.
Alex menghela nafasnya. Dia bahkan tak bisa berfokus pada meeting siang ini. Yang dia pikirkan hanyalah Elza saja.
Setelah meeting selesai, Alex segera beranjak dengan cepat. Ingin sekali mencari tahu bagaimana kabar Elza.
"Lex, loe mau kemana?" Tanya Axel.
"Seperti biasa." Jawab Alex.
Tanpa basa-basi, Axel kemudian masuk ke dalam mobil Alex.
"Loe mau ngapain?" Tanya Alex.
"Pengen tahu aja, apa kerjaan loe itu." Kata Axel.
Alex hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Axel.
Sudah bisa Axel duga jika tujuan Alex adalah rumah Elza. Lelaki itu berdiam di depan rumah Elza. Tak selang berapa lama, Alex menatap kemunculan Elza. Bisa di pastikan wanita itu pergi ke rumah sakit dadakan. Elza sudah lengkap dengan memakai jas putihnya.
Alex segera kembali menghidupkan mesin mobilnya. Axel hanya tersenyum melihat tingkah Alex yang terlihat seperti orang gila itu. Dia tahu kalau kali ini, Alex akan mengikuti Elza ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Alex melihat Elza yang tengah terburu-buru menangani pasien akibat kecelakaan. Seorang wanita di haruskan operasi karena tertusuk kaca di bagian perutnya.
Elza memakai segala perlengkapannya sebelum masuk ke ruang operasi. Pasien yang di tanganinya mulai kehilangan banyak darah.
Lampu mulai di hidupkan, dan operasi mulai di jalankan setelah sebelumnya di lakukan anastesi. Pasien tersebut wajahnya di tutup dan sebuah selang yang terhubung di mulut wanita itu. Wanita itu masih cantik walau usianya tak lagi muda.
Elza di temani dengan tiga dokter lainnya dan beberapa perawat yang sering menemaninya melakukan operasi. Dan tentu saja sudah berpengalaman.
"Scalpel" Ucap Elza.
Seorang di sampingnya langsung menyerahkannya. Dan yang lain mengatur tekanan darahnya.
"Pinset." Pinta Elza.
Dengan sangat teliti Elza mengangkat serpihan kaca. Sejam berlalu dan operasi baru selesai di lakukan.
"Pasien sudah selamat dan keluar dari masa kritis." Ucap seorang suster.
Elza tersenyum dan bernafas lega. Bagi seorang dokter sepertinya, menyelamatkan orang dengan tangannya adalah sebuah kesenangan. Walau terkadang juga ada kegagalan yang tak bisa dia cegah. Dan rasa kecewa itu akan membuat Elza merasa bersalah.
Elza keluar dari ruang operasi. Tanpa sengaja dia kembali melihat sosok Alex. Dia tak tahu kalau lelaki itu sekali lagi telah mengikutinya.
Elza tak menggubris keberadaan Alex. Dia ingin pulang karena cukup lelah. Pasien yang dia operasi juga sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Saat hendak pulang, lagi-lagi Elza melihat Alex. Namun kali ini dia melihat Alex menatap dari kaca. Entah siapa yang tengah dia perhatikan.
Elza tertarik dengan apa yang Alex lihat. Namun dia heran karena pasien yang baru saja dia operasi yang tengah Alex tatap.
"Kamu sedang apa disini?" Tanya Elza.
"Tidak ada." Jawab Alex.
"Apa kau mau pulang? Kau sudah makan? Ayo makan bersama." Ajak Alex.
Entah kenapa perasaannya mengiyakan ajakan Alex.
"Boleh saja." Ucap Elza.
Alex mengajak Elza ke sebuah restoran yang jauh dari keramaian. Elza terkejut saat pertama kalinya melihat restoran dengan nuansa berbeda. Mereka bisa melihat bintang karena atapnya dari kaca. Mereka juga bisa melihat berbagai macam bunga karena restoran itu sedang di penuhi dengan tanaman bunga yang bermekaran.
"Kamu suka?" Tanya Alex.
Elza tersenyum. Entah kenapa dia merasa bahwa Alex sangat bisa mengerti perasaan dan apa yang dia inginkan. Berbeda dengan Guntur yang bersikap sebaliknya.
Mereka akhirnya memakan menu khas restoran itu. Menu tradisional namun rasanya membuat ketagihan. Bahkan Elza memesan nasi goreng gila malam itu. Dia cukup terkejut karena dia pikir lelaki seperti Alex akan suka menu kebarat-baratan. Nyata ya tidak. Terbukti dengan Alex yang memesan sebuah nasi kuning lengkap dengan ayam bakar dan juga sambal pedasnya.
"Disini tempat makan Favoritku dengan Axel. Jangan kamu pikir aku suka menu makanan kebarat-baratan. Itu tidak akan membuat aku kenyang." Ucap Alex.
Elza tertawa renyah. Sebuah tawa yang pertama kali Alex lihat. Dan dia terpesona karena tawa itu membuat kecantikan Elza menjadi berkali-kali lipat.
Elza juga demikian. Bertahun-tahun hidup bersama Guntur, bukannya kebahagiaan yang dia dapat. Dia justru lebih sering menangis dari pada tertawa. Bahkan Elza lebih suka berada di rumah sakit dari pada di rumahnya dengan Guntur. Elza selalu berusaha menyibukkan dirinya. Karena saat tahu pengkhianatan yang Guntur lakukan, Elza merasa sangat sakit hati.
Elza menatap nanar ke arah Guntur yang tengah asyik mencium seorang wanita. Keduanya tak tahu kalau sebenarnya Elza melihat semuanya. Elza datang ke kantor Guntur dan menyaksikan suaminya sedang b******u dengan wanita lain.
"Mas, apa-apaan ini." Ucap Elza.
Guntur menyudahi kegiatannya dan menyuruh wanita yang bersamanya untuk keluar.
"Tenanglah sayang. Ini hanya main-main saja. Kamu tahu,kan? Aku ini Guntur Sadewa. Semua wanita mencoba menggodaku." Ucap Guntur.
"Lalu kamu juga tergoda? Itu namanya selingkuh, Mas." Kata Elza.
Mendengar itu Guntur bangkit dan marah. Dia menarik dagu Elza dengan kasar. Padahal wanita itu sudah mulai menangis.
"Salahkan dirimu sendiri. Kamu sangat kaku di ranjang. Sedangkan dia bisa memuaskan aku. Dan kesalahanmu hanya satu, kenapa kamu datang kesini? Jika kamu tidak kesini, maka kamu tidak akan sakit hati." Ucap Guntur dengan mudahnya.
Dia sama sekali tidak memikirkan apa yang Elza rasakan. Dan sekarang perasaan Elza hancur berkeping-keping.
Elza menyudahi makannya. Ingatan itu membuat dia tidak berselera makan lagi. Melihat hal itu, Alex juga menyudahi makannya.
"Kenapa?" Tanya Alex.
"Maaf tuan Alex. Tiba-tiba aku tidak berselera makan lagi. Aku ingin pulang." Ucap Elza.
Akhirnya Elza memutuskan untuk pulang saja. Dan lagi-lagi Alex mengikutinya sampai memastikan wanita itu pulang dengan selamat.
Elza memasuki rumahnya. Membersihkan tubuhnya dan hendak tidur. Tiba-tiba seseorang datang yang tak lain adalah Guntur.
"Kamu, Pulang?" Tanya Elza.
Guntur mendekat ke arah Elza dan mulai memeluk tubuhnya dari belakang.
"Maaf, mas. Aku sedang dapat." Ucap Elza seakan mengerti apa yang Guntur inginkan.
'Sialan'
Guntur memaki dalam hatinya. Saat dia ingin bersama Elza, waktunya sangat tidak pas.
"Baiklah. Aku terpaksa pergi ke rumah Vira lagi." Ucap Guntur lalu berlalu pergi.
Elza yang mendengarnya merasa lega. Lebih baik tidak ada Guntur di rumah itu. Semenjak tahu Guntur menikah dengan Vira, Elza merasa jijik terhadapnya.
Baru saja hendak tidur, Elza menerima sebuah pesan dari seseorang. Dia cukup terkejut saat tahu kalau pesan itu dari Alex. Lelaki itu mengirim gambar bunga yang ada di restoran tadi. Entah kenapa saat melihat itu, mampu membuat Elza tersenyum. Elza hanya melihatnya tanpa membalas pesan dari Alex. Elza menyimpan gambar itu dan menghapus pesan dari Alex. Dia bisa dalam bahaya saat Guntur membacanya. Elza kemudian menaruh ponselnya di atas meja yang sangat dekat dengan ranjangnya. Tak lupa dia mematikan lampu dan mulai mencoba untuk tidur.
Namun saat berusaha memejamkan matanya, yang dia lihat hanyalah sosok Alex seorang. Senyum lelaki itu terbayang di pikiran Elza.
"Kenapa denganku? Kenapa hanya dia yang ada di kepalaku?" Gumam Elza.
"Sadarlah Elza. Yang dia inginkan hanyalah tubuhmu. Setelah merasakan itu, dia akan pergi meninggalkanmu. Bahkan dia akan mencampakkan mu begitu saja." Elza kini berbicara sendiri.
Meyakinkan dirinya kalau ternyata Alex tak serius dengannya. Elza pikir Alex hanya menginginkan tubuhnya. Elza merasa kalau Alex hanya penasaran padanya karena Elza sempat menolaknya beberapa kali.
Ponsel Elza kembali berdering. Dia pikir dia mendapat pesan lagi dari Alex. Elza segera membuka pesan itu dengan antusias. Namun sayangnya itu pesan dari Guntur.
'Besok pagi aku datang. Aku rindu masakan mu. Ku harap saat kesana, makanan itu sudah siap.'
Elza tersenyum kecut saat membacanya. Dia merasa gila dengan semuanya. Bisa-bisanya Guntur mengatakan jika dia rindu dengan masakannya. Padahal Elza tahu kalau sebulan ini dia bahkan tidak pernah makan bersama dirinya.
Elza membalas pesan itu dengan singkat dan padat.
'Baiklah. Aku akan masak untukmu.'
Elza terpaksa membalas pesan itu karena dia tak mau Guntur marah lagi dengannya. Dia sudah malas jika harus kembali mendapat siksaan dari lelaki itu.
Guntur kembali membalas pesan dari Elza.
'Bagus. Jika kamu menurut seperti ini. Aku tidak akan pernah menyakitimu.'
'Iya. Aku sudah mengantuk dan mau tidur.'
'Tidurlah. Selamat malam.'
Elza menutup teleponnya dan menarik selimutnya, kemudian kembali mencoba untuk tidur. Namun kembali lagi usahanya gagal. Padahal besok pagi dia harus memasak untuk Guntur.
Elza kemudian membuka laci dan mengambil satu pil untuk tidur. Dosisnya sangat rendah sehingga besok pagi dia akan terbangun seperti biasanya.