Baru Tahu

2036 Words
Pagi harinya Elza menata makanan di atas meja. Bersiap menunggu kedatangan Guntur. Setengah jam menunggu namun lelaki itu tidak kunjung datang. Suara telepon Elza berdering. Wanita itu segera mengangkatnya. "Elza, aku tidak jadi makan di rumahmu. Mama dan Papa memintaku dan Vira untuk makan bersama di rumah mereka. Kau tahu kan kalau mereka suka memaksa." Ucap Guntur lewat telepon. "Tidak masalah. Lain kali kita bisa." Kata Vira. Guntur kemudian menutup teleponnya. Lagi-lagi Elza menangis. Dia tahu kalau Vira tidak akan membiarkan Guntur bersama dengannya walau sesaat saja. Namun Elza juga merasa lega karena saat tak bersama Guntur, dirinya merasa kekangan lelaki itu sedikit melonggar. Elza kemudian membungkus makanan itu lalu membawanya ke rumah sakit. Bisa dia makan saat siang nanti. Atau bisa juga dia berikan pada salah satu kawannya. Elza lalu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Saat berjalan menuju ruangannya, dia kembali melihat Alex sedang menatap pasien kemarin dari balik kaca. Pakaian lelaki itu menunjukkan kalau semalaman dia tidak pulang karena masih memakai pakaian yang sama. "Kamu tidak pulang dari semalam?" Tanya Elza tiba-tiba. Alex menatap Elza sambil tersenyum. Alex tahu kalau Elza memiliki banyak pertanyaan untuknya. Mengapa Alex terus mengawasi wanita yang berada di dalam. "Kenapa kamu tidak menemuinya? Mamamu pasti senang jika dia bertemu denganmu." Kata Elza. Alex tak menyangka jika Elza tahu semuanya. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia Mamaku?" Tanya Alex. "Aku menyadarinya sejak kemarin. Saat selesai mengoperasinya. Kamu terlihat sangat khawatir padanya. Dan tatapan itu adalah tatapan khawatir seorang anak pada Mamanya." Ucap Elza. "Dia orang yang paling aku benci." Kata Alex kemudian pergi. Elza mengikuti kemana Alex pergi. "Apa yang kamu ucapkan sangat bertolak belakang dengan apa yang kamu lakukan." Kata Elza. Elza kemudian menyodorkan sekotak makanan yang tadi dia bawa. "Makanlah. Kamu belum sarapan. Itu makanan buatan ku sendiri dan tentunya sehat." Kata Elza. Dengan senyumnya, Alex menerima makanan itu. Dia ingin sekali jika Elza menjadi miliknya. Wanita itu seakan magnet yang mampu mengetahui segala sesuatu tentangnya. "Terima kasih untuk makanannya. Dan terima kasih karena telah menyelamatkan wanita itu." Kata Alex. Elza tersenyum pada Alex. Membuat perasaan Alex makin tak menentu. "Aku harus bekerja. Aku pergi dulu." Ucap Elza. Alex menatap kepergian wanita itu dengan seksama. "Loe aja yang masuk. Gue disini aja." Kata Axel. Rupanya lelaki itu telah lelah mengikuti Alex. Saat Alex baru saja masuk, dia melihat seorang wanita tengah dalam keadaan kritis. Banyak darah di sekujur tubuhnya. Wanita itu kemudian di masukkan dalam ruang operasi. Saat ada seorang perawat yang membawa wanita itu, Alex mulai bertanya. "Mas, wanita tadi kenapa?" Tanya Alex. "Kecelakaan. Mobilnya tertabrak truk. Dan dia tertusuk pecahan kaca yang tajam. Dia kehilangan banyak darah dan akan segera di lakukan operasi." Jawab si Perawat lalu pergi. Hati Alex bergetar. Walau dia membencinya, namun tetap saja dia tak tega. Bagaimanapun juga dia adalah Mama kandungnya. Walau telah ditinggalkan olehnya bertahun-tahun lalu, kenangan saat bersamanya masih melekat di ingatan Alex. Entah kenapa Alex ingin memastikan bahwa wanita itu harus selamat dan bangun kembali. Sementara Alex tahu kalau suaminya sedang ke luar negeri. ....... Alex membuka makanan yang Elza berikan sesampainya di apartemennya. Kemudian menyantapnya dengan lahap. Alangkah terkejutnya dia saat tahu kalau Elza sangat pandai dalam hal memasak. Bahkan kini masakan wanita itu sudah habis tak tersisa. "Makan apa loe sampai lahap kayak gitu." Ucap Axel yang tiba-tiba saja datang. "Tidak ada. Hanya makanan biasa." Jawab Alex. "Dari dia ya?" Tanya Axel. Kini sahabatnya itu telah ketularan Elza. Buktinya dia tahu tanpa Alex memberi tahu. "Kamu tahu?" Tanya Alex. "Lihat, kotaknya warna pink. Sapu tangannya buat bungkusnya ada tulisan E." Ucap Axel. Alex tersenyum mendengarnya. Rupanya Axel tahu dari semua itu. Padahal Alex saja tidak memperhatikan itu. "Oh iya, suami nyokap loe udah datang. Loe bisa tenang sekarang." Kata Axel. Alex bernafas lega. Jadi dia tak perlu mengkhawatirkan wanita itu lagi. Alex bangkit dan berdiri. "Mau kemana?" Tanya Axel. "Mau mandi. Kenapa? Mau mandi juga?" Tanya Alex. "Ogah, najis." Kata Axel. Axel melihat ponsel Alex di atas meja. Dia kemudian mengambil dan melihatnya. Axel sama sekali tak menyangka kalau kini sahabatnya itu menjadi seorang penguntit. Buktinya semua foto do ponselnya berisi foto Elza saja. Saat baru keluar dari mobil, saat di rumah sakit dan satu lagi, saat berada di pantai. Dan semua foto itu di ambil secara diam-diam. "Alex beneran udah gila sama istri orang lagi." Kata Axel menggumam. Namun semua itu di dengar oleh Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Dari pada loe. Ngejar Nina aja di tolak." Kata Alex. Setahun yang lalu Axel pernah menyukai seorang Gadis sederhana. Dia manis dan pintar. Baru pertama kalinya Axel di tolak dan wanita itu lebih memilih orang lain. Itu merupakan kegagalan terbesar dalam hidup Axel. "Udah, jangan bahas itu." Kata Axel. Axel tak mau kembali mengingat saat-saat memalukan itu. Dia pikir dia bisa mendapatkan semuanya dengan mudah karena dia tampan dan kaya. Ternyata dia salah, masih ada beberapa wanita yang tak melihat itu. "Nina sudah mau menikah." Ungkap Alex masih saja menggoda Axel. "Gue pulang aja deh. Males kalau loe bahas hal itu." Kata Axel. Alex hanya tertawa melihat Axel yang merajuk seperti wanita. Padahal Alex tahu kalau saat itu Axel hanya sekedar menyukai Nina. Namun penolakannya membuat Axel tertampar. Dia merasa kalah saat itu. .... Elza sudah sampai di rumahnya. Namun alangkah kagetnya dia saat melihat ada kedua mertuanya. "Mama, Papa." Kata Elza menyapa. Ternyata Guntur dan Vira juga ada di sana. Dan itu membuat Elza muak. "Kamu sudah tahu semuanya, kan?" Tanya Toni Sadewo. Papa dari Guntur. Elza mengangguk. "Baguslah, setidaknya kamu berguna juga. Aku harap kamu tidak sakit hati dengan semua ini. Kesalahanmu yang tak bisa hamil sampai sekarang." Ucap Melati. Mama mertuanya. Ucapan itu menusuk hati Elza. Apakah salahnya jika dalam dua tahun dia belum hamil? Padahal Mama mertuanya juga wanita, tapi dia sama sekali tak memikirkan perasaannya. "Mama, Papa. Sudahlah. Ayo kita pulang. Yang penting kalian akan segera mendapatkan cucu." Kata Guntur. Ke empatnya lalu keluar dari rumah Elza. Hebat sekali, merek datang hanya untuk memberikan hinaan pada Elza. Sejak awal menikah dengan Guntur, keduanya memang sudah tidak suka pada Elza. Dan itu di karenakan Guntur memilih wanita miskin seperti Elza. Elza merasa kesal dan keluar dari rumah. Dia kembali mengendari mobilnya. Namun kali ini tujuannya ke rumah orang tuanya. Dia ingin menyudahi hubungannya dengan Guntur. Dia ingin bercerai. Dan dia ingin meminta dukungan kedua orang tuanya. Elza memasuki sebuah rumah sederhana. Dimana tempat itu yang dulu membuatnya bahagia. Dan itu sebelum kedatangan Guntur di kehidupannya. "Elza, kamu kesini nak?" Tanya Mamanya. Elza kemudian memeluk kedua orang tuanya. "Ibu, Ayah. Elza ingin bercerai saja." Ucap Elza. Kedua orang tuanya terkejut saat mendengarnya. Namun Elza tidak bercerita kalau ternyata Guntur selingkuh dan mengkhianati Elza. "Elza, jangan ucapkan itu. Kamu tahu, kan? Sebelumnya kamu pernah berniat melakukan itu? Kamu ingat apa yang Guntur telah lakukan." Kata Ibunya mengingatkan. Elza baru saja ditinggalkan setelah Guntur memukulinya, karena Elza meminta cerai. Elza kemudian datang ke rumah orang tuanya. Ibunya cukup terkejut saat melihat luka di tubuh Elza. Dia kemudian menceritakan segalanya. Ibunya menangis dan Ayahnya mendukungnya untuk bercerai. Keesokan harinya Guntur datang untuk menjemput Elza. "Sayang, ayo kita pulang." Ucap Guntur. "Aku tidak mau. Aku ingin bercerai...!!" Teriak Elza. Guntur menatapnya dengan tajam. Sudah dia bilang jika dia tidak suka saat Elza meminta cerai padanya. Guntur kemudian menelepon anak buahnya. Tak lama kemudian beberapa orang datang. Menyeret kedua orang tua Elza dan adik perempuan Elza. Bahkan Guntur mengancam Elza dengan berkata jika adiknya akan menjadi pemuas nafsu anak buahnya itu. Ayahnya di pukuli sampai babak belur dan Ibunya di cambuk dengan cukup keras. "Aku tanyakan sekali lagi, apa kamu masih ingin bercerai dariku?" Tanya Guntur. "Tidak. Aku tidak akan bercerai darimu. Aku akan selalu ada di sampingmu." Ucap Elza. Guntur tersenyum puas saat itu. Dia kemudian menelepon dokter untuk mengobati luka semua keluarga Elza. "Ayo pulang dan ikut denganku sekarang." Kata Guntur. Elza terpaksa kembali ke rumah Guntur dan kembali berpura-pura menjadi istri yang baik. Guntur kemudian mencium tengkuknya dengan nafsu. "Ingat satu hal. Kamu akan selamanya jadi milikku. Dan kamu tidak akan pernah aku biarkan lepas. Jadilah istri yang menurut agar keluargamu selamat." Kata Guntur setengah berbisik padanya. Setelah kejadian itu Elza tak berani lagi meminta cerai dan selalu menjadi istri yang penurut. "Ingat itu, nak. Kami tak masalah jika kami mati. Tapi lihatlah, adikmu Lirna. Dia masih 18 tahun." Ucap Ibunya. Elza kemudian menangis. Dia sempat egois untuk sesaat. Tanpa memikirkan orang tua dan juga adiknya. Elza tahu Guntur pasti akan membunuh keluarganya. "Maafkan aku. Aku janji tidak akan pernah melakukan itu lagi." Kata Elza. Elza kemudian pergi dan menemui sahabatnya. Hanya dia yang menjadi tempat curhatnya selama dua tahun terakhir. "Ra, aku butuh kamu." Ucap Elza. Elza kemudian menuju ke tempat dimana Rara berada. "Za, kamu kenapa? Guntur nyiksa kamu lagi?" Tanya Rara lalu memeluk Elza. "Enggak. Tapi dia sekarang udah punya istri lagi. Walau cuma nikah Sirri. Wanita itu hamil dan Mama sama Papa tahu. Akhirnya meminta Guntur untuk menikahinya." Ucap Elza. Rara sangat kesal saat memdengarnya. Bahkan tangannya sampai menggebrak meja yang ada di depannya. "Kebangetan banget sih, Si Guntur itu. Pengen aku tabok rasanya." Kata Rara . Elza sudah menjadi sahabatnya selama delapan tahun. Wajar saja jika Rara juga bisa merasakan kesedihan yang Elza rasakan. "Kapan kamu bahagia kalau kamu sama Guntur terus?" Ucap Rara. "Iya Ra. Mungkin emang udah nasib aku aja." Kata Elza. Dia terdiam namun Rara tahu apa yang Elza pikirkan. Bukannya Elza pasrah. Dia pernah melapor pada polisi atas apa yang Guntur lakukan. Namun dengan kekuasaannya, dia tetap dapat menarik Elza kembali ke tangannya. Elza juga pernah kabur sejauh mungkin bahkan sampai ke luar kota. Namun tetap saja Guntur bisa menemukannya dan membawanya kembali. Elza bahkan sampai kehabisan cara untuk terbebas dari Guntur. "Sebenarnya ada satu cara biar kamu bisa bebas dari Guntur, Za." Kata Rara. Mustahil. Elza tahu kalau dia tidak akan pernah bisa bebas dari lelaki itu kecuali Guntur sendiri yang membuangnya. Atau lelaki itu mati. "Kamu harus meminta bantuan pada seseorang yang sama dengan Guntur. Kaya dan berkuasa. Semisal keluarga Wijaya, Wiraatmaja ataupun Adijaya." Kata Rara. "Konyol, Ra. Emang semudah itu mereka bakal nolongin aku." Kata Elza. "Siapa tahu kamu bisa deketin anaknya dan minta supaya dia bebasin kamu." Kata Rara. Elza tertawa. Ide sahabatnya itu sangat konyol sekali. Siapa yang akan mau dengan wanita bersuami. Mereka anak-anak orang kaya pasti akan lebih memilih perawan dari pada istri orang. "Kok ketawa?" Ucap Rara. "Lucu aja." Kata Elza. Di sela tawanya, Elza baru ingat kalau nama panjang Alex adalah Alexander Wijaya. Elza kemudian membuka ponselnya dan mencari akun i********: Alex. Dan benar saja, lelaki itu adalah putra sulung Wijaya yang tersohor itu. Elza sungguh baru tahu tentang itu. Karena memang dia yang tak pernah ingin mencari tahu sosok Alex. "Ra. Kamu tahu Alexander Wijaya?" Tanya Elza. "Tentu saja tahu. Tapi dia sedikit misterius. Aku lebih suka sahabatnya, Axel Adijaya. Dia lebih sexy." Ucap Rara tertawa. "Ra, Alex ngedeketin aku beberapa bulan ini." Kata Elza. "Hahaha, becandaan kamu lucu juga." Kata Rara. "Beneran, Ra. Bahkan kami beberapa kali bertemu. Aku pernah sekali menginap di Villanya." Kata Elza. Rara kini terdiam saat mendengar cerita dari Elza. Dan Elza mulai menceritakan semuanya. Awal dia bertemu dengan Alex. Rara semakin yakin kalau Alex suka pada Elza. "Ini kesempatan kamu, Za. Dia satu-satunya harapan kamu. Dia yang bisa lepasin kamu dari belenggu Guntur. Wijaya bahkan lebih unggul dari Sadewa. Mungkin Tuhan nunjukin sama kamu arah jalannya. Jangan kamu sia-siakan kesempatan ini." Kata Rara. Elza berfikir sejenak. Apa yang Rara katakan memang benar. Mungkin saja memang Alex yang Tuhan kirim untuk menyelamatkannya. Mungkin saja lelaki itu yang bisa membawanya keluar dari lubang kegelapan itu. Kini Elza bertekad akan mendekati lelaki itu. Namun dengan caranya sendiri. Dia akan mendekati Alex dan membuat lelaki itu menuruti apa keinginannya. Lalu Elza akan terbebas dari Guntur. "Aku akan mencobanya, Ra. Dan aku butuh bantuan kamu untuk itu. Aku butuh peran kamu untuk memuluskan jalan aku. Dan semoga apa yang kamu bilang beneran. Aku bisa lepas dari lelaki jahat itu. Karena aku sudah muak, Ra. Aku sudah lelah hidup dalam kesengsaraan bersamanya." Kata Elza. Wanita itu meneteskan air mata. Melihat Elza yang meneteskan air matanya, Rara lalu memberikan pelukan terhadapnya. Hanya Rara yang tahu apa yang Elza alami selama dua tahun terakhir ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD