Chapter 4 : Julian

2274 Words
❤❤❤ Angel memencet bel di samping gerbang. Seorang Satpam yang membuka pintu gerbang, melihat Angel dengan tatapan asing. " Mau cari siapa?" tanya Satpam itu terlihat heran melihat kedatangan seorang gadis. Dilihat ia dari ujung kaki sampai kepala. " Permisi pak, apa benar ini ...?"belum sempat Angel melanjutkan, Satpam itu justru mengusirnya. " Kalau mau ngamen jangan disini Neng, di rumah sebelah saja" potong Satpam itu mengira Angel adalah pengamen. " T- tapi saya bukan pengamen Pak, saya mau mencari..." belum sempat Angel melanjutkan kalimatnya, Satpam tersebut justru menutup gerbang depan mengusirnya secara halus. " Tung- tunggu Pak, saya bukan mau pengamen, saya mau bertemu ...?" pintu gerbang itu tertutup rapat ba… [11.28, 2/9/2020] Reina: ❤❤❤ Angel berjalan menuju kamar, langkahnya terhenti sejenak. Menatap bingung pintu kamar yang dirasa sama warna bahkan coraknya. "Tunggu, kamarku di sebelah mana ya?" sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal ia masuk saja salah satu kamar itu. Sesosok laki-laki jangkung berdiri di depan dengan bertelanjang d**a memperlihatkan perut sixpack dan handuk yang melilit menutupi bawahnya, Angel melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bersamaan saat laki-laki itu juga tanpa sadar menoleh ke belakang . "Aaaaaaaaa!!!!" suara teriakan mereka menggema di seluruh ruangan. Angel langsung menutup mata dengan kedua tangannya sementara laki-laki itu dengan gerakan cepat meraih piyama yang tergantung dan langsung memakainya sambil berjalan menghampiri gadis itu. "Siapa lo, dan ngapain lo masuk ke kamar gue?" bentak laki-laki itu marah. Angel ketakutan dan masih menutup kedua matanya dengan gemetar. "Hei, buka mata lo!!" perintahnya. Perlahan Angel membuka matanya, ia sedikit lega ternyata laki-laki itu sudah mengenakan piyama. Huft, Angel menghela napas lega. "ELO!" ucap mereka bersamaan. "Lo ngapain di sini?... jangan-jangan lo cewek m***m yang mau ngintipin gue ya?" tuduhnya.  "Cewek m***m dia bilang? Yang benar saja."gerutu Angel kesal.  "Ehh... Sembarangan kalau bicara, enak aja lo, gue bukan cewek mesum." geram Angel kesal dengan tuduhannya. "Kalau bukan cewek m***m, terus apa? Malam-malam masuk ke kamar orang seenaknya. " "Ehh...gue itu bukan cewek m***m tahu." Angel berdecih kesal. " Kenapa cowok tengil ini ada disini?? Kenapa dia ada di kamar gue??" gerutu Angel kesal. Sejenak ia kembali ingat satu hal.  "Ini kamar lo? " "Iya, ini kamar gue. Kenapa?" Angel masih tak percaya, ia salah kamar, maksudnya bagaimana bisa ia masuk ke kamar orang?. "Gue kira ini kamar gue." kejut Angel tak percaya. "Kamar lo?? Heh! Hal konyol apa, gue bisa ketemu sama lo lagi. " geram laki-laki itu kesal. "Memang gue mau apa ketemu sama lo lagi, apa lagi satu rumah." Gerutu Angel mendengus kesal. "Satu rumah?" teriak laki-laki itu tak percaya. Mereka baru menyadari sesuatu. Angel tak percaya, ia baru saja kecopetan tadi siang, dan laki-laki di depannya juga hampir menabrak saat mengejar pencopet dan sekarang, takdir apa yang membawanya bisa bertemu dengan laki-laki sombong ini lagi, ia butuh jawaban atas semua kekacauan ini. Angel frustasi. "Terus lo ngapain masih disini? CEPAT KELUAR!!" bentak laki-laki itu marah. Angel tersadar dan bergegas keluar dengan terburu-buru, tanpa disadari kaki Angel tersandung karpet dan spontan tangannya menarik piyama laki-laki itu hingga mereka berdua jatuh bersamaan di lantai. 'Cup... Bibir mereka bersentuhan tepat saat laki-laki itu menindihinya , dan tanpa sadar kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Angel. "Aaaaaaaaaaaaaa!!!" teriaknya bersamaan. Sontak keduanya langsung bangkit dan dengan u*****n-u*****n kesal sambil membenahi pakaian masing masing. Bahkan Angel menghapus bekas ciuman itu dengan tangan karena merasa jijik. "Sialan lo, berani beraninya lo nyium gue , aisshhh!!" upat laki-laki itu geram. "Elo yang udah nyium bibir suci gue," upat Angel masih menghapus bekas ciuman mereka. "Awas ya lo!" Dan terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka, Angel mengejar dengan bantal yang diambil asal dengan geramnya melempar bantal itu kearah laki-laki yang dikejar. Prangg... Bantal itu mengenai sebuah benda berbentuk kotak musik yang tergeletak di meja. sontak keduanya berhenti berlari dan melihat apa yang tadi pecah. Kotak musik itu jatuh dan retak di bagian sisi kacanya. Angel terkejut dan merasa bersalah karena ulah yang diperbuat. "Maaf" laki-laki itu menatap nanar kearah kotak musik yang baru saja jatuh. "Maaf! Aku ngg-nggak senga-ja." "KELUAR!" gertaknya dengan emosi. Angel ketakutan. "Aku minta maaf." Sesalnya. "GUE BILANG KELUAR, KELUAR DARI KAMAR GUE SEKARANG JUGA!" teriak laki-laki itu marah. Suara teriakannya bahkan terdengar dari luar. "Ray!" Julian yang baru saja keluar dari kamar dan melihat Angel baru saja keluar dari kamar Ray. "Angel!" Julian menghampir Angel yang tengah berjongkok sambil menangis di luar. "Angel!" lirih Julian. Angel mendongak keatas menoleh dengan mata sembab karna menangis. "Julian!" "Kamu kenapa?" tanya Julian khawatir "T-tadi aku nggak sengaja jatuhin kotak musik laki-laki itu" isaknya dengan tangan gemetar. "Kamu udah ketemu sama Ray?" Tanya Julian. "Ray?" "Iya, kamu baru saja keluar dari kamarnya tadi" jelas Julian. Angel terdiam sejenak. "Jadi laki-laki tadi namanya Ray"batin Angel masih menyesal. "Angel?" panggil Julian membuyarkan lamunannya. "Sudahlah, nggak usah khawatir, Ray memang sikapnya kasar, itu udah biasa kok. " ucapnya sambil mencoba menenangkannya. "Ray itu siapa?" tanya Angel penasaran. "Saudara kembar aku."jawabnya. "Saudara kembar??" Angel mengamati wajahnya Julian yang sangat berbeda dengan laki laki tadi. "Tapi... Wajah kalian beda." Julian terkekeh melihat sikap polos Angel. "Kenapa? Wajah Aku lebih cakep ya?" puji diri sendiri. "Bukannya yang aku tau, saudara kembar itu mirip," ucap Angel polos. Julian hanya tersenyum mengiyakan. "Angel...Angel, kamu tuh polos banget sih, bikin gemes tahu nggak, sekarang aku tanya, apa yang kamu tahu soal saudara kembar?" tanyanya "Wajah mereka mirip. " jawabnya singkat. "Terus?" "Sifat mereka juga, tunggu, apa iya ya?" tanyanya ragu. "Kita kembar nggak identik" jelasnya "Oh iya, aku pernah liat di TV." ucapnya sambil terkekeh geli. Julian hanya tersenyum. "Maafin ya, kelakuannya emang kaya gitu, dia nggak suka ada orang yang nyentuh barangnya, apalagi barang berharga yang hampir kamu jatuhin tadi." Ujar Julian. Angel menghela napas berat. Ia benar benar merasa bersalah pada Ray. "Terus aku harus gimana? Dia pasti nambahin hutangku lagi." gerutu Angel, "Hutang??" Julian terkesiap. "Hutang 10 juta, karena membuatnya kalah dulu. " "10 juta? Kamu hutang 10 juta sama Ray?" kejut Julian tak percaya. Angel hanya mengangguk pasrah, dapat dilihat wajah Julian kini berubah menjadi kesal saat mengetahui Ray memberikan hutang pada gadis ini. "Ray benar-benar". "Kamu nggak usah takut, biar aku yang urus." *** Julian masuk ke kamar Ray. "Ray!" Ray tak mengubris kedatangan Julian, ia masih menatap kotak musik yang baru saja diambil dan menaruhnya di laci untuk disimpan. "Gue mau bicara sama lo" ketus Julian. "Gue lagi nggak mood buat bicara" jawab Ray angkuh, ia masih menyesalkan kotak musik tadi yang terjatuh dan retak. "Tapi harus!" paksa Julian. Dengan malas Ray menoleh kearah Julian, kini keduanya saling berhadapan satu sama lain. "Soal apa?" "Apa benar lo kebut-kebutan di jalan?" tanya Julian dengan raut wajah marah. "Bukan urusan lo!" ketus Ray. "Jawab aja, dan gara gara lo kalah, lo ngasih hutang sama Angel sebagai penyebab kekalahan lo, Ray 10 juta?" geram Julian marah, bagaimana mungkin Ray memberikan hutang sebanyak itu pada gadis seperti Angel. "Dia cerita sama lo, dasar..., memangnya dia siapa? Kenapa dia ada disini?" Ray berbalik menyerang dengan ketus. "Angel akan tinggal disini. " kata Julian. "Tinggal disini?" Ray sontak terkejut tak percaya. "Tunggu, apa dia pacar lo, lo mau nyuruh dia tinggal sama lo? Gitu?" tuduh Ray tak setuju. "Itu suruhan Papa!" "Papa? Cewek gila itu kenal sama Papa??" Ray tak mengerti. "Bukan gitu, tapi juga Mama..." "Mama? Maksud lo mama nyuruh dia tinggal disini, di rumah ini, memangnya rumah ini panti asuhan apa?" gerutu Ray tak setuju. "Gue nggak tahu kenapa Mama ngijinin Angel tinggal di sini, tapi mungkin dia punya alasan tertentu." Julian kembali berpikir positif. "Alasan yang nggak masuk akal, lo lihat, baru aja ketemu dia sudah mecahin kotak musik dari Mika, gimana nantinya kalau dia tinggal disini? Apa seluruh barang di rumah ini bakalan pecah, lo mau tanggung jawab?" bentak Ray marah di depan Julian. "Angel nggak sengaja, udahlah nggak usah dibesar-besarin, dia juga udah nyesel tadi." "Nyesel? lo tahu apa yang dia lakuin di kamar gue, pertama dia masuk tanpa ijin, kedua dia ngacak-ngacak kamar gue, lo lihat semua berantakan, ketiga dia jatuhin benda berharga gue, dan keempat dia udah nyi...!" potong Ray tak meneruskan kalimatnya. Julian menyengitkan dahi bingung. "Dia kenapa?". "Dia bikin gue kesel!! Gue akan bicara sama Papa, biar cewek itu dikeluarin dari rumah ini. " ucapan ray mengakhiri perdebatan panjang mereka. Ray keluar dari kamar dan mendapati Angel masih berdiri tak jauh dari kamarnya, sambil mendengus Ray melengos pergi dengan acuh. "Ray, lo nggak harus semarah itu!" teriak Julian keluar dari dalam kamar. Ray tak peduli, ia benar benar kesal hari ini. Angel merasa bersalah, karena dia kini kedua saudara itu justru berdebat. " Maaf Julian." Julian hanya tersenyum dan memperlihatkan wajah kalau semua akan baik-baik saja. "Jangan khawatir, biar aku yang urus Ray." *** Pagi harinya Angel mulai bersiap-siap berangkat ke sekolah barunya, hari pertama dan ia sedikit canggung. Apalagi sekolah yang akan dimasukinya termasuk dalam jajaran sekolah elit dan cukup terkenal di Jakarta, bernama SMA Galaxy. hufft!! Seragam sekolah telah tergantung rapi di lemari, berwarna biru dengan rok kotak-kotak yang sepadan, tak lupa tas gendong abu-abu ia pakai dan kali ini gaya rambut ia biarkan tergerai dengan pita untuk menutupi poninya. Sederhana namun terlihat manis. Sementara itu, di ruang makan, Julian dan Ray duduk manis di meja masing-masing bersama Papa mereka, Stefanus. Selang beberapa menit, Angel baru saja turun dengan penampilan baru, seragam itu sangat cocok untuknya. Julian tersenyum kearah Angel, berbeda dengan Ray yang menunjukkan wajah tak sukanya. "Pagi Angel!" sapa Stefanus. Dengan langkah sedikit canggung, Angel duduk di salah satu meja yang berhadapan langsung dengan Julian. Hari ini untuk pertama kalinya Angel masuk ke sekolah yang ternyata satu sekolah dengan kedua laki-laki itu. "Angel, saya sudah mengurus surat pendaftaran kamu di sekolah Galaxy, kamu bisa mulai masuk hari ini, kebetulan Julian dan Ray juga sekolah disana. Jadi Om tidak perlu cemas di hari pertama kamu masuk sekolah, dan semoga kamu betah disana." ucap Stefanus melempar senyum kearahnya. Ray terdiam kesal dengan memainkan pisau dan garpu sambil menatap Angel geram. "Dasar sok polos." batin Ray. Angel masih menatap Ray dengan wajah tertunduk, kejadian malam tadi benar-benar membuatnya takut, namun disisi lain saat menatap Julian, ia tersenyum ramah, sangat berbeda dengan Ray. "Makasih om" Stefan tersenyum senang. "Oh ya Angel, kenalin ini anak bungsu Om, namanya Ray!" kata Stefan memperkenalkan Ray di hadapannya, Seringai maut dan tatapan tajam menyelimuti aura Ray yang masih marah pada gadis itu. Angel masih tertunduk takut apalagi untuk menatapnya. "Aku mau bicara sama Papa?" ucap Ray tanpa mengalihkan pandangan kearah Angel. "Soal apa Ray?" "Dia!!" tunjuk Ray tak suka pada Angel. "Kenapa dia harus tinggal disini, memangnya dia siapa? apa orang penting?"geram Ray. "Ray, cukup!" sela Julian menatap Ray geram. "Ray, apa yang salah dengan Angel tinggal bersama kita, Angel anak yang baik dia juga sangat manis, dan ini semata-mata juga keinginan Mama kamu!" bela Stefan meninggi. " T-tapi, kenapa di rumah ini, melihatnya saja membuatku muak." "Ray cukup! Jaga bicara kamu! Angel adalah tamu disini." bentak Stefan pada anaknya. "Tapi Pah, dia baru saja mecahin kotak musik aku" gerutu Ray mengadu. Hal itu justru tak terlalu digubris oleh Stefan. "Itu hanya kotak musik, Ray!" sergah Stefan tak suka dengan sikap anak bungksunya yang terlalu berlebihan, apalagi untuk masalah kecil seperti kotak musik, Ray semarah itu. "Tapi itu sangat berharga buat aku Pah!" kukuh Ray tak mau kalah. Ray terdiam, nafsu makannya hilang seketika sambil menatap Angel dengan kesal. Bisa bisanya gadis ini merebut perhatian orang dirumahnya. "Maaf Om, saya nggak sengaja masuk ke kamar Ray dan mecahin kotak musik milik Ray, " jelas Angel gemetar. "Nggak sengaja, wajah polos lo itu sangat memuakkan tahu nggak, aishhh. " ketus Ray muak. "RAY CUKUP!!" gertak Stefan menghentikan perdebatan saat berada di meja makan. "Papa tidak suka ada keributan saat kita sedang sedang makan, Papa tahu kamu tidak menyukai kehadiran Angel disini, tapi bagaimanapun Angel akan tetap tinggal disini, mengerti!!" tegas Stefan mengakhiri perdebatan di pagi ini. "Angel, hari ini adalah hari pertama kamu sekolah, dan kalian berdua, Papa harap bisa membantu Angel menyesuaikan di sekolah barunya, tugas kalian untuk menjaga Angel" perintah Stefan selanjutnya. "Terutama kamu Ray, jangan membuat keributan di sekolah," . Ray seakan tak peduli dengan ucapan Papanya, sambil berdecak kesal kearah Angel, diambilnya tas di meja dan segera bangkit dari meja makan. "Aku berangkat dulu!" ketus Ray acuh. "Ray !" Seru julian memanggilnya. "Kenapa? Apa gue harus nganter dia, emang gue sopirnya apa? " ketus Ray jelas tak suka. Julian hanya menggelengkan kepala melihat sikap kasar saudaranya yang sangat menyebalkan itu. "Angel jangan diambil hati ya, Ray memang orangnya keras kepala, Julian tolong antar Angel ke sekolah, Papa harus berangkat dulu. " perintah Stefan pada Julian sebagai salah satu anak yang bisa dipercaya untuk menjaga Angel selama di sekolah. "Iya pah. " keduanya bangkit dari meja makan dan mengambil tas masing-masing. "Kamu berangkat sama aku ya?" tawar Julian. "Julian, aku berangkat sendiri aja deh," tolak Angel. "Lho, kenapa? masih mikirin soal tadi, Jangan dimasukin dalam hati. Sikap Ray memang kaya gitu, jadi kamu jangan tersinggung ya?" ujar Julian. "Aku nggak mau membuat masalah lagi di keluarga ini, aku berangkat!!" seru Angel bergegas keluar seraya mengambil tasnya "Angel!!" teriak Julian mengejarnya. *** Mobil sport hitam BMW i8 keluaran terbaru telah berada di depannya dan baru saja dicuci, Ray langsung masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil menuju sekolah. Di tengah perjalanan handphone Ray berdering, seketika ada pesan masuk. From : Brian                                                                                                                                                                        Hai bro...kenapa lo belum datang, anak-anak udah pada nungguin nih? Ray                                                                                                                                                                                              Di jln Message send Brian *** "Angel...Angel...tunggu!" kejarnya menarik tangan Angel sesaat setelah keduanya keluar. "Jangan marah, sikap Ray emang gitu!" Julian mencoba membujuk Angel. "Aku nggak marah kok, aku tahu kesalahan yang aku lakuin kemarin benar-benar kelewatan, aku nggak mau kedatanganku di sini merusak persaudaraan kalian." "Kamu ngomong apaan sih, denger ya, selama ini aku sama Ray udah biasa kali berantem gara-gara masalah sepele." Angel masih tertunduk. "Yaudah deh, aku nggak maksa, tapi apa kamu tahu jalan menuju ke sekolah?" tanya Julian memastikan. Angel lalu mengeluarkan peta dari dalam tasnya. "SMA Galaxy, kearah kanan!!" asalnya. Julian menggelengkan kepala. "Salah Angel, ke kiri, itu artinya kamu belum tahu, jadi mendingan kamu nurut aja, lagipula papa nyuruh aku nemenin kamu, ingat?" "T-tunggu Julian, aku bisa naik bus," cegah Angel. "Sekolah kitakan sejalur, ngapain naik bus, udah, nggak usah takut, kamu aman sama aku." Julian menarik Angel masuk ke mobil sport putih miliknya. Angel terpaksa menurut, mereka masuk ke mobil walau terlihat Angel masih canggung. "Siap?" Angel mengangguk. Keduanya akhirnya berangkat menuju ke sekolah bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD