Chapter 3 : Pertemuan

2443 Words
10 tahun kemudian Kring' ... Seorang gadis mengayuh sepeda memasuki pekarangan rumah dengan membawa pesanan bunga tempatnya bekerja, bernama Angel, ia tumbuh menjadi sosok yang bersemangat dan ceria. Angel bekerja sebagai pengantar bunga disalah satu toko bunga Elene de Florist milik tante Elena, ia dikenal cukup rajin dan sangat bersemangat dalam bekerja walau berstatus sebagai murid sekolah. "Semua sudah beres Tante, Angel pulang dulu ya!" Pamitnya sambil mengambil tas selempang dan keluar dari toko. "Hati-hati kamu, besok jangan lupa antar bunga di Perumahan Dahlia" kata tante Flora mengingatkan sebelum angel keluar dari tokonya."Siap Tante" Matahari sangat terik siang ini, suara tawa menggema di sudut kota saat seorang laki-laki dengan berpakaian badut boneka beruang tengah menghibur anak anak di taman. Badut itu tampak begitu bersemangat sambil menggoda anak-anak untuk membuatnya tertawa. Dari jauh sosok Angel tersenyum simpul lalu melangkah mendekat dengan kostum kelinci membawa kepala boneka di tangan kanannya, ia melambaikan tangan ke arah badut beruang itu dengan senyum yang mengembang. Ia kemudian memakai kepala boneka itu dan mendekati Badut berkostum beruang dan mulai beraksi menghibur orang orang disekitar. Semua penonton sangat terhibur dengan aksi menari mereka yang sangat lucu, sesekali Badut kelinci itu mengoyang-goyangkan pantatnya membuat semua tertawa olehnya. "Terimakasih... terimakasih banyak" ucap Angel sambil menundukan kepalanya mengumpulkan satu demi satu lembaran uang yang diberikan penonton dengan ikhlas. Keduanya tampak puas. "Ayah hebat!" kata Angel. Laki-laki yang mengenakan kostum badut itu adalah Ayahnya, ia bekerja disalah satu Perusahaan Boneka, dan setiap hari sabtu, Angel dan ayahnya melakukan aksi untuk menghibur anak-anak di tempat bermain dan Angel sangat menikmati. Keduanya lalu duduk di salah satu kursi taman dan melepas kepala kostum boneka saking gerahnya. "Kamu lelah, seharusnya kamu pulang saja ke rumah, nggak usah menemui Ayah." Sesekali Angel mengipas wajah dengan tangannya karena panas dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. " Nggak papa Ayah, Angel seneng kok bisa bantuin Ayah, lagipula tadi sangat menarik, Angel suka." senyuman mengembang dari bibirnya. Senyum simpul yang ditunjukkan selalu membuat ayahnya terkekeh. "Angel, Ayah punya kejutan untuk kamu!" Mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya. "Kejutan apa Ayah?" Angel penasaran. "Tadi pagi setelah kamu berangkat sekolah ada surat dari kantor pos datang dan memberikan ini pada Ayah," ujarnya memberikan sepucuk amplop berwarna putih lengkap dengan logo sekolahan. "Tadaa...Selamat Angel, kamu diterima di sekolah Galaxy dengan beasiswa full," tambahnya lagi. Angel hanya melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan Ayahnya sekarang. Diterima di sekolah popular dan mendapat beasiswa siapa yang menolak?. "Beasiswa, Galaxy? Ayah serius, Angel diterima disana??" ia masih tak percaya. "Liat ini ada nama kamu, Angel Alia Ardiandra." "Ayah, Angel nggak mimpikan, i- ini beneran, Angel beneran diterima disana, Angel seneng banget, tapi..." Potong Angel mengantung kalimatnya dan merubah raut wajahnya yang bahagia jadi kesedihan. " Kenapa Angel?" " Itu artinya Angel harus ke Jakarta terus ninggalin Ayah gitu?" ucap Angel menatap nanar Ayahnya yang akan ditinggal nanti. "Angel kalau kamu pergi ke Jakarta, bukan berarti kamu nggak bisa ketemu Ayahkan?" ujar Ayah memberi dukungan. " T- tapi beneran nggak papa, terus Ayah sendirian disini," "Percaya sama Ayah, Ayah bisa jaga diri baik baik, itu mimpi kamu dan kamu harus kejar mimpi itu, untuk ayah dan juga untuk Angel" ucap Ayahnya meyakinkan diikuti anggukan setuju dari Angel. "Angel janji bakal buat Ayah bahagia, untuk Ayah dan Kakak," ucapnya sambil memeluk Ayahnya penuh kasih sayang. Malam harinya di salah satu rumah kecil namun terkesan sangat hangat yang hanya dihuni dua orang yang saat ini tengah makan malam dengan lauk ala kadarnya. "Tapi Ayah, kalau Angel nanti ke Jakarta terus nanti Angel tinggal dimana, kos di Jakarta pasti mahal," keluhnya disela-sela makan malam. "Kalau soal itu, Ayah sudah atur" "Maksud ayah?" tanyanya dengan nada bingung. "Ayah punya kenalan disana, dari keluarga Raveno, cari orang yang bernama Malika, dia akan membantu kamu" jelasnya "Malika??" Siapa Malika ayah?" tanyanya penasaran. "Malika..." ucapnya menggantung. Ia tersenyum seakan menyembunyikan sesuatu. "Dia teman ayah waktu SMA, dia sangat baik, bawa alamat ini dan pergilah, kalau kamu bertemu denganya, bilang sama dia, Ayah baik-baik saja." "Jangan jangan itu mantan pacar Ayah dulu ya?" celotehnya asal. "Angel, Malika itu teman Ayah , nggak lebih" elaknya tersenyum simpul. "Oke , Malika!! tante Malika." Ingatnya. Di sebuah kediaman keluarga Raveno, yang memiliki perusahaan bernama Raveno Corporation Group adalah pemilik saham perusahaan terbesar di Indonesia, keluarga Raveno sangat ketat dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Stefanus Zein Raveno dan Arianda Zeun Raveno adalah 2 anaknya yang sukses dalam menjalankan bisnisnya dan telah memiliki keluarga masing masing. Namun saat ini Arianda berada di luar negeri bersama keluarganya dan menetap disana untuk waktu yang lama dan mendapat kesempatan mengurus salah satu perusahaan Raveno yang ada disana. Stefanus Raveno, anak kedua yang dijodohkan dengan Malika, sekaligus rekan bisnis keluarga mereka dan memiliki anak bernama Julian Jovin Raveno, namun diam-diam Stefanus menjalin hubungan dengan perempuan yang sangat dicintainya bernama Lara dan memiliki anak bernama Ray Javier Raveno, dan sebagai istri kedua dan tidak mendapatkan restu dari nenek sekaligus ibu dari Stefanus yang sangat menentang pernikahan itu. Lara tidak diperbolehkan memasuki rumah utama kediaman keluarga Raveno, dia hanya boleh masuk di rumah kedua keluarga Raveno begitu juga dengan anaknya Ray. Saat ini Lara tinggal jauh dari keluarganya meninggalkan Ray dan juga Stefan dan menetap di Singapura untuk alasan yang tak bisa dijelaskan. Julian dan Ray seperti sepasang anak kembar, mereka suka bermain bersama, Julian menyayangi Ray seperti adiknya sendiri begitupun sebaliknya, namun diam-diam Ray terkadang iri dengan Julian, ia sangat disayangi tidak seperti dirinya. Julian tumbuh bak seorang Pangeran dengan senyuman yang manis mampu memikat siapa saja, ia juga ramah kepada semua orang, entah pelayan, maid, dan pekerja di rumah keluarga Raveno. "Ray lo mau ikut?" ajaknya bersiap-siap keluar dengan penampilan rapi berbalut jas lengkap. Ray tengah duduk di sofa sambil membaca majalah kesukaannya. "Kemana?" Pandangannya masih fokus dengan bacaannya. "Kencan, gue kenalin sama cewek-cewek di sana, lo pasti suka" tawarnya Tapi yang buruk dari Julian, ia seorang playboy dan sering bermain dengan perempuan namun tak pernah serius menjalin satu hubungan, bukan berarti Julian suka menyakit hati perempuan, ia sangat menjunjung tinggi prinsip keluarga Raveno sebagai penerus keluarga besarnya. "Lo pergi sana, gue ada acara sama anak-anak," tolak Ray yang masih fokus dengan bukunya. "Yaudah kalau gitu, salam buat yang lainya, gue pergi dulu." Julian keluar menuju ke mobil sport berwarna putih lalu keluar dari gerbang. Ray yang merasa bosan akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali naik menuju ke kamarnya. Selang beberapa menit kemudian ia turun dengan setelan jaket hitam dengan paduan celana panjang panjang yang sangat modis keluar dari rumah besarnya. "Pak Ari!!" teriaknya menggema dis seluruh penjuru rumah. Seketika sopir pribadi keluarga Raveno langsung datang menghampirinya dengan wajah tertunduk takut. "Iya Tuan?". "Siapin mobil , saya mau keluar!" perintah dengan nada keras. Ia memang terkenal sangat angkuh dan tak segan-segan menghardik ataupun memarahi pelayan yang tidak becus dalam bekerja. "Baik Tuan." Segera pak Ari bergegas keluar menyiapkan mobil yang akan dipakai tuan mudanya. *** Suara rentetan kereta api satu persatu berhenti di stasiun. Sedetik kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan orang-orang yang baru saja turun di tujuannya, dan di sela-sela keramaian itu seorang perempuan turun dengan wajah berseri sambil mengangkut koper besar dan juga gitar kesayangan yang selalu digendong di belakang punggungnya. "Akhirnya sampai juga." senyumannya mengembang disertai perasaan lega, akhirnya sampai di kota tempat yang akan ia tinggali sekarang. Kota besar dengan lalu lintas super padatnya. Angel mendorong kopernya keluar dari stasiun. Tempat yang ia pijak kini berubah jadi keramaian, sesekali Angel melongo menatap hilir mudik arus lalu lintas yang macet dan juga gedung pencakar langit tersebar luas, banyak pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya di perempatan lalu lintas saat lampu merah, ini untuk pertama kalinya Angel menginjakkan kaki di tempat besar dan jauh dari keluarga meninggalkan Ayahnya.. *** 13.00 WIB, Perumahan Cempaka di kawasan Jakarta. Kediaman keluarga William. Seorang kakek berumur 70 tahun duduk di salah satu kursi goyang sambil menyeruput kopi hitamnya sesekali menghembuskan napas pelan menikmati cuaca panas yang membuatnya mendesah pelan sampai seorang laki-laki berjas hitam datang menghampirinya dengan tertunduk menyampaikan informasi penting mengenai Cucunya yang hilang. "Bagaimana perkembangannya?" tanyanya dengan sesekali menyeruput kopi hitam di tangannya. Yudha adalah anak buah yang ditugaskan dalam menyelidiki Cucunya Mika yang diperkirakan selamat 10 tahun yang lalu dari sebuah kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. "Saya sudah mengerahkan seluruh anak buah, bangkai pesawat itu jatuh ke laut, tapi hasil otopsi mengatakan tidak ada sidik jari dari nona Mika, jadi kemungkinan besar nona Mika masih hidup dan selamat dari pesawat tersebut Tuan " jelasnya tanpa ragu. " Mika..." " Yudha, kerahkan semua anak buah kita, cari Mika di manapun dia berada, temukan dia secepatnya," perintah Kakek Willy dengan tegas. "Baik Tuan." *** Peluh keringat membasahi dahinya saat Angel berdiri menunggu bus lewat, sesekali ia mengelap dengan tangan dan mengipas pelan wajahnya yang kini mulai merah dengan keringat. Tanpa ia sadari seorang laki-laki mengamati dari jauh melirik ke arah tas yang dibawanya, dengan gerakan cepat laki-laki itu langsung merampasnya dan lari begitu saja. "COPETT!!" teriaknya yang langsung mengejarnya tanpa aba-aba.. "Berhenti, jangan lari!!" teriakan Angel seraya mengejarnya namun sia sia, Laki laki itu berhasil kabur dengan membawa tasnya. Angel berhenti di tengah jalan sambil mengatur napasnya lelah, kakinya juga sudah tak sanggup lari mengejar pencopet itu lagi. Ia akhirnya pasrah dengan barang-barang yang dibawa tadi, Tanpa disadari sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang menuju kearahnya. Cittt..... Hampir saja mobil itu menabraknya membuat angel terpaku dan juga syok. Mulutnya menganga. Beruntung pemilik mobil itu berhasil mengerem tepat di depannya secara tiba-tiba. Angel selamat, dan beberapa detik kemudian disusul mobil sport lain melewatinya. Yah, ternyata tengah terjadi adu balap mobil diantara kedu mobil tersebut. "Sial" upat Laki-laki itu memukul stir mobil dengan geram. Pintu mobil itu terbuka dengan kasar. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan balutan jaket hitam dan celana jeans panjang menghampiri ke arahnya penuh emosi. " Lo punya mata nggak sih? Kalau jalan tuh liat-liat." murka Laki-laki itu padanya. Angel menggeram kesal karena disalahkan, justru mobil itu hampir menabraknya bukan? Lalu kenapa laki-laki ini marah, harusnya ia yang marah. "Eh sopan dikit dong, gue itu habis kecopetan tahu!" gerutunya kesal. "Peduli amat lo habis kecopetan atau enggak. Ngapain lo berhenti di tengah jalan? Lo mau mati?" hardik laki-laki itu kasar. Angel mendengus kesal, "Eh anak kota, gue tahu lo kaya, tapi apa lo pikir ini jalanan punya nenek moyang lo apa?" Geramnya tak mau kalah. Keduanya tak ada yang mau disalahkan. "Gara-gara lo, gue kalah 10 juta". "APA?". "Lo harus bayar itu." tagihnya tak mempedulika kondisi Angel yang baru kecopetan dan langsung dirih untuk membayar uang 10 juta pada laki-laki yang bahkan tak dikenalnya itu. "What? Lo pikir gue penyebab lo kalah barusan dan harus bayar lo, eh gue habis kecopetan, mana mungkin gue punya uang sebanyak itu," gerutunya kesal. "Terserah lo, tapi gue akan tetap nagih hutang lo , ngerti!" ancamnya sebelum ia melangkah kembali ke mobilnya dan membanting pintu hinga terkatup cukup kasar. "Arggh... tas gue handphone gue, semuanya...argghhhh.". batin Angel bergemurung kesal. Angel frustasi, untung ia masih menyimpan alamat tempat yang dituju di balik saku jaketnya. "Perumahan Cempaka no 54." Angel berjalan dengan terik matahari yang menyengat, lapar dan haus menerjang, dari tadi pagi ia bahkan belum makan, namun tak ada uang satu rupiah pun yang dimilikinya, semua lenyap dirampas pencopet tadi. Ia berhenti di tengah jalan dan mengedarkan pandangan di sekeliling, cukup ramai karena banyak orang berlalu lalang disekitarnya. Dikeluarkannya gitar di punggung tasnya, dan memulai menyanyikan sebuah lagu Flying into the empty room, She opens her eyes, She feels the air suddenly stop rushing, She saw pictures in her head. Of the beam seeping politely through the four windows, To a place where the laughter are as sweet as cherries, And of the singing drizzle, That turns into a shower outside. The little pixie flutters around as she pours her sugary dust, That reflects the moonlight on the faded crimson bed. She hums the song of peace, a song only siren could sing. Her silver wings are made to fly. Just like yours. Opening a jar, she frees the sparkly fireflies inside, Painting the room with butterflies. She brought back the beauty of being happy, Touch your art of life. Like a singing pixie. She flies away through the four window And left the empty jar, On the crimson bed. A reminder of her serene song. The empty room, Went to Neverland, Leaving behind the singing pixie. She sang that peace is in your wings. (Singing Pixie – Sherina) Suaranya yang merdu memikat pejalan kaki yang lewat untuk berhenti untuk sekedar melihatnya bernyanyi, dari anak muda, anak-anak beberapa diantaranya berhenti mengelilinginya. Semua memberi tepuk tangan yang meriah. Angel tersenyum puas, setidaknya ia bisa mendapatkan uang untuk makan hari ini. Sampailah ia memasuki perumahan elit dikawasan Jakarta yang membuatnya takjub dengan rumah-rumah besar menjulang tinggi di depan. Matanya mendongak lalu terperanjak tepat di depan gerbang hitam besar yang dijaga salah satu satpam perumahan itu. " No 54...hmmm" " Maaf pak, tahu alamat ini?" tanyanya memperlihatkan secarik kertas kecil dengan tulisan tinta hitam. "Perumahan Cempaka No 54, itukan rumah milik keluarga Raveno." Jawab satpam itu. Angel menarik napas lega, akhirnya pencariannya tidak sia-sia. Ia berhasil ketempat yang akan ditujunya.. "Iya pak, bapak tahu dimana rumahnya?" Angel kembali bertanya lebih jelas. Sekilas Satpam itu melihat penampilannya dari ujung kepala sampai bawah kakinya. Penampilannya tidak egitu buruk, ia juga tidak terlalu norak walau hanya memakai celana jeans dan kaos putih dengan tatanan rambut ia kuncir ke belakang. "Non mau melamar jadi pembantu disana? tanya Satpam menduga, Angel hanya melongo tak mengerti maksud ucapan Satpam itu. " Huh? Pembantu?" "Yang saya dengar, 20 pembantu dipecat secara tiba-tiba dalam waktu 2 hari" jelas Satpam menatap iba. "T-tapi ? Saya?" "Kamu masuk saja ke komplek depan, terus lurus, kiri jalan ada pagar putih besar bertulis RAVENO di gerbang depannya, disitu rumahnya." jelas satpam itu. "Makasih pak" Angel mengangguk paham seraya pergi menuju tempat yang dimaksud. Satpam itu memandang perempuan itu prihatin sambil berdecak iba. "Ckck, kasian perempuan tadi, nggak sampai 1 minggu, mungkin dikeluarkan dari rumah itu." pikirnya *** Rumor yang dikatakan Satpam tadi memang ada benarnya. Di rumah keluarga Raveno, hampir setiap pagi sekitar 5 sampai 10 pembantu dipecat saat mencoba membangunkan Tuan muda Ray Javier Raveno yang dikenal kasar dan seenaknya saat memecat orang, bahkan kesalahan kecil yang dilakukan pelayan di rumahnya tak tanggung-tanggung ia pecat begitu saja tanpa belas kasihan. Ray paling tidak suka saat tidurnya diganggu. Ia akan melempar teriakan kasar untuk memecat siapapun yang membangunkannya. Tidak heran banyak pembantu yang selalu cemas kalau untuk mengurus Cucu bungsu keluarga Raveno yang terkenal sarkastik itu. "Lo gue pecat, sekarang keluar dari kamar gue cepat!" bentaknya tanpa menoleh kearah orang yang di depan, ia masih berselimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya dengan kondisi telengkup. Mungkin terdengar menyebalkan, Ray memang selalu bersikap sewenang-wenang atas kekuasaan di rumahnya sendiri, bahkan ayahnya yang super sibuk tak pernah sekalipun mempedulikan dan membiarkannya begitu saja. "KALIAN SEMUA GUE PECAT!" teriakan Ray membuat pembantu lain ketakutan untuk kembali masuk ke kamar dan beberapa dari meraka yang dipecat hanya bisa menangis jatuh tersungkur pasrah. Angel terperanjak mematung menatap gerbang tinggi putih di hadapannya. Ia mendongak kagum melihat rumah yang begitu besar dan sangat mewah. Gerbang depannya saja sudah setinggi ini kira-kira 10 meter apalagi dalamnya, pasti lebih dari istana yang ia baca di buku dongeng, pikirnya. "Apa benar ini rumahnya? Besar banget!" takjub Angel sampai membuatnya tak berkedip. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD