Bab6

896 Words
Sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta kini menjadi tempat baru bagi Andreas dan Violet. Bukan rumah dengan lampu gantung kristal dan marmer di setiap sudutnya. Bukan juga rumah dengan penjaga keamanan 24 jam atau taman seluas lapangan tenis. Rumah ini kecil—tapi hangat. Dindingnya bercat krem lembut, dengan teras sederhana yang dihiasi pot-pot tanaman yang violet rawat sendiri. Di sudut halaman, ada bangku kayu tua yang Andreas beli dari pasar loak dan perbaiki bersama Violet, satu dari banyak simbol kecil tentang kehidupan baru yang sedang mereka bangun. Di dalam rumah, suasana sore begitu tenang. Violet duduk bersandar di sofa, membaca buku tentang kehamilan. Perutnya mulai membulat, menandakan waktu yang semakin dekat. Tangan kirinya menggenggam secangkir teh hangat, sementara tangan kanan mengelus perutnya perlahan, merasakan kehidupan yang tumbuh di dalam. Wajahnya tampak damai, meski matanya sedikit sayu karena sering terbangun malam-malam. Andreas muncul dari dapur membawa semangkuk buah potong. Dia duduk di samping Violet, menyodorkan mangkuk itu dengan senyum lebar. “Ini buat kamu,” katanya. Violet menerima dengan senyum kecil. “Kamu makin sering di dapur, ya?” Andreas terkekeh. “Belajar dari YouTube. Demi calon anak kita, aku harus bisa jadi ayah yang bisa masak.” Violet tertawa pelan. Ada kebahagiaan dalam suara itu—tulus dan sederhana. Bukan tawa yang dipaksakan untuk menjaga wibawa di tengah pesta sosialita atau dalam rapat direksi. Tapi tawa yang keluar dari hati, dari rasa aman, dari cinta yang tumbuh tanpa sandiwara. Hubungan mereka bukan tanpa badai. Setelah perceraian Andreas resmi dan namanya muncul di berbagai media, spekulasi dan gosip tak terhindarkan. Nama Violet ikut terseret. Di kantor, bisik-bisik terdengar hampir setiap hari. Dia disebut sebagai perebut suami orang, wanita ambisius, bahkan pelakor dengan wajah manis. Tekanan itu datang dari berbagai arah, dan akhirnya Violet memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia menyerahkan surat pengunduran dirinya tanpa banyak kata, dan meninggalkan gedung yang dulu penuh prestasi dan harapan, tapi kini hanya menyimpan luka. Namun, Andreas berdiri di sisinya. Dia menolak membiarkan Violet menghadapi badai itu sendiri. “Kamu nggak harus sembunyi,” katanya suatu malam sambil memegang tangan Violet di atas meja makan mereka yang kecil. “Aku yang gagal mempertahankan rumah tangga. Aku yang memilih keluar dari itu. Kamu bukan perusak, kamu penyembuhku.” Violet menunduk. Air matanya jatuh perlahan. Rasa bersalah yang dia bawa sejak awal perlahan-lahan luluh di pelukan Andreas. Setiap kali pria itu berbicara dengan bayi di perutnya—dengan suara lembut, penuh harapan—Violet merasa diberi ruang untuk percaya lagi. Bahwa masa lalu tak harus selamanya menodai masa depan. Beberapa minggu kemudian, di akhir pekan yang cerah, Andreas mengajak Violet ke sebuah lahan kosong di pinggiran kota. Tempat itu tak jauh dari rumah mereka sekarang. Pohon-pohon tumbuh liar, dan tanahnya masih dipenuhi rumput liar dan semak kecil. Violet turun dari mobil, menatap sekeliling dengan bingung. “Apa ini?” tanyanya. Andreas menggenggam tangannya. “Aku ingin bangun rumah di sini,” jawabnya pelan. “Bukan rumah besar. Tapi rumah kita. Tempat anak kita tumbuh, tempat kita tua bersama.” Violet menatapnya lama. Ada haru yang membuncah di dadanya. “Kamu yakin?” Andreas menatap mata Violet dalam-dalam. “Yakin. Karena rumah itu bukan tentang dinding tinggi dan perabot mahal. Rumah itu kamu.” Tangis Violet pecah. Dia memeluk Andreas erat. Dalam pelukan itu, dia tahu—semua rasa sakit yang pernah mereka alami bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju sesuatu yang lebih tulus. --- Waktu terus berjalan. Sembilan bulan pun berlalu seperti angin. Di rumah sakit bersalin yang sederhana, tangis bayi laki-laki memenuhi ruangan. Andreas duduk di samping ranjang, memandangi Violet yang terbaring lelah, namun dengan senyum lebar di wajahnya. Perawat meletakkan bayi itu di pelukan Violet. Matanya masih tertutup, kulitnya kemerahan, dan tubuhnya mungil. Violet menangis pelan, bahunya bergetar saat ia memeluk putranya untuk pertama kali. Andreas menatap keduanya—dua cinta dalam hidupnya yang kini nyata, ada di hadapannya, menggenggam masa depan yang perna--dia pikir tak akan bisa dia capai lagi. “Namanya siapa?” tanya Violet, suaranya nyaris berbisik. Andreas mencium keningnya. “Alvaro,” jawabnya. “Artinya pelindung. Karena dia akan kulindungi… seperti aku melindungimu.” Mereka bertiga dalam satu pelukan. Sebuah keluarga kecil yang lahir dari badai, tapi memilih untuk tidak menyerah. Yang memilih membangun ulang rumah dari puing-puing luka, dan mengisinya dengan kejujuran, harapan, dan cinta yang nyata. --- Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi memenuhi rumah mungil mereka. Tapi kini, tangis itu bukan gangguan—melainkan melodi kehidupan. Di ruang tamu, mainan berserakan, dan di dinding terpajang foto-foto mereka bertiga. Di rak buku, berdampingan antara buku bisnis milik Andreas dan buku parenting milik Violet. Sore itu, Andreas duduk di lantai sambil menimang Alvaro yang sedang belajar duduk. Violet duduk di sofa, merekam momen itu dengan kamera ponsel. Mereka tertawa, kadang meneteskan air mata karena begitu banyak yang telah mereka lewati. Tiba-tiba, Alvaro mengeluarkan suara seperti gumaman pertama. “Dengar itu?” tanya Andreas. Violet mengangguk. “Itu... suara rumah.” Bukan lagi bangunan megah atau status sosial. Tapi suara tawa, tangis, canda—itulah rumah mereka kini. Rumah yang dibangun dari cinta, bukan dari kemewahan. Rumah yang dibangun ulang, dari keberanian untuk jujur, dan keinginan untuk tumbuh bersama. Dan mereka tahu, apa pun yang terjadi ke depan, mereka tak akan kembali ke masa lalu. Karena rumah sejati bukanlah tempat. Rumah sejati adalah dua hati yang saling percaya—dan satu anak kecil yang mengajarkan arti cinta dari awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD