Bab7

933 Words
Hari itu, matahari bersinar lembut di atas langit Jakarta yang bersih, seolah turut merayakan babak baru dalam hidup seseorang yang telah lama berjalan dalam bayang-bayang. Di sebuah halaman luas tempat berdirinya bangunan berwarna putih dengan plakat bertuliskan Yayasan Peduli Kasih, para undangan mulai memenuhi kursi yang disusun rapi. Balon warna-warni melayang di udara, dan anak-anak panti terlihat ceria, berlarian di antara meja saji dan tenda dekorasi. Di tengah acara peresmian, berdirilah Andreas Fernandez—mantan CEO yang dulu dikenal dingin dan tertutup, kini tampil hangat dengan senyum tulus di wajahnya. Di sampingnya berdiri Violet, menggendong Alvaro yang tertidur tenang di pelukannya, dengan pipi bulat yang sesekali bergerak karena isapan kecil dari mimpi bayi. Wartawan hadir, seperti biasa. Mikrofon dan kamera diarahkan ke depan podium. Tapi kali ini tak ada suara nyinyir, tak ada sorotan tajam. Mungkin karena waktu telah melunakkan opini publik, atau karena mereka akhirnya melihat Andreas bukan sebagai tokoh publik semata, melainkan seorang manusia—dengan kegagalan, luka, dan keberanian untuk memulai kembali. “Yayasan ini,” ucap Andreas membuka sambutannya, “berangkat dari rasa kehilangan dan keinginan untuk memberi. Kehilangan arah, kehilangan harapan, dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Tapi saya percaya, dari kehilangan, kita bisa belajar menemukan sesuatu yang baru.” Dia berhenti sejenak. Mengarahkan pandangan ke Violet dan Alvaro. Senyumnya muncul—bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar datang dari dalam. “Dulu, saya hidup demi citra. Demi reputasi. Saya takut orang tahu bahwa saya gagal. Bahwa saya tersesat. Tapi hari ini, saya berdiri di sini sebagai pria yang tak lagi bersembunyi. Sebagai ayah. Sebagai seseorang yang belajar bahwa cinta tidak dibentuk dari kepura-puraan, tapi dari keberanian untuk jujur—pada diri sendiri, dan pada orang yang kita cintai.” Tepuk tangan pelan mulai terdengar. Beberapa mata bahkan terlihat berkaca-kaca. “Dan wanita yang berdiri di samping saya ini,” lanjutnya, suaranya lembut tapi penuh keyakinan, “bukan hanya ibu dari anak saya, tapi juga seseorang yang menyelamatkan saya dari kehampaan. Violet... adalah bagian dari perjalanan ini. Bukan bagian yang ingin saya sembunyikan, tapi bagian yang kini ingin saya perkenalkan.” Violet menunduk pelan, malu, namun senyumnya tak bisa disembunyikan. Namanya yang selama ini disebut dengan bisik-bisik, kini terdengar lantang dari podium, di depan kamera dan publik. Bukan sebagai “sekretaris yang menjalin hubungan dengan bosnya”, tapi sebagai partner hidup, ibu dari anak yang mereka cintai bersama. Tepuk tangan kembali menggema, kali ini lebih panjang. Kamera menangkap momen itu, dan untuk pertama kalinya, tidak ada yang mempermasalahkan pelukan lembut yang Andreas berikan pada Violet setelah pidatonya selesai. Tak ada cibiran, hanya penerimaan. Malam harinya, rumah kecil mereka yang kini sedang direnovasi tampak tenang. Di dalam kamar, Alvaro tertidur dengan napas teratur, dikelilingi mainan gantung dan boneka. Violet dan Andreas duduk di beranda, menikmati teh hangat sambil berbagi keheningan. Angin malam menyapu pipi mereka, membawa aroma tanah dan cat baru. Lampu teras menerangi wajah keduanya dengan lembut. “Kamu yakin kamu nggak menyesal?” tanya Violet perlahan, matanya menerawang ke taman kecil di depan rumah. Andreas menatap langit. Bintang-bintang bertaburan, seolah mengaminkan malam yang damai ini. “Aku menyesal pernah hidup dalam kebohongan,” jawabnya jujur. “Tapi aku nggak pernah menyesal mencintaimu." Jawaban itu tidak datang seperti gombalan manis dari film romantis. Tapi hadir seperti batu pondasi yang kuat—sederhana, namun kokoh. Violet menoleh padanya. Di matanya ada sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah merasa tak dianggap, namun akhirnya dipilih sepenuh hati. “Dulu aku sering bertanya-tanya... kalau semuanya terbuka, apakah kamu akan tetap berdiri di sampingku?” “Dan sekarang kamu tahu jawabannya.” Violet mengangguk pelan. “Ya. Sekarang aku tahu.” Mereka saling menggenggam tangan. Bukan genggaman posesif, bukan genggaman dari rasa takut kehilangan. Tapi genggaman dua orang yang tahu bahwa cinta bukan tentang siapa yang sempurna, tapi siapa yang memilih untuk bertahan ketika dunia meragukan mereka. Beberapa hari setelah acara peresmian, media memberitakan pidato Andreas. Judul-judul berita berbunyi netral, bahkan ada yang simpatik. “Andreas Fernandez Resmikan Yayasan Sosial Bersama Pasangan dan Anak”, atau “Transformasi Seorang CEO: Dari Skandal ke Pengabdian”. Tak lagi ada nama-nama disamarkan. Tak lagi ada foto Violet yang disensor atau disalahartikan. Nama Violet akhirnya muncul dalam berita sebagai dirinya sendiri—tanpa label negatif. Hanya sebagai “Violet Pricilia, mitra dan pendiri bersama yayasan.” Nama yang dulu disembunyikan di balik aib dan rahasia, kini berdiri sejajar di samping nama Andreas, bukan di belakangnya. Violet membaca berita itu di pagi hari sambil menyusui Alvaro. Satu tetes air mata jatuh di pipi bayinya—bukan karena sedih, tapi karena lega. Dirinya tidak pernah meminta dunia menyukainya, dia hanya ingin diterima. Dan hari itu, dia merasa... cukup. Beberapa bulan kemudian, renovasi rumah mereka selesai. Tidak besar, tapi nyaman. Di ruang tamu tergantung satu bingkai besar berisi foto mereka bertiga saat peresmian yayasan. Di dinding kamar Alvaro, ada tulisan tangan Andreas yang dibingkai: "Rumah ini pernah dibangun dari mimpi, hancur oleh kesombongan, dan kini berdiri kembali atas nama kejujuran dan cinta." Malam-malam mereka masih penuh dengan tangisan bayi, popok, dan kurang tidur. Tapi mereka tidak pernah bertengkar soal hal-hal kecil. Karena keduanya tahu—bahwa kedamaian bukan soal sunyi, tapi soal siapa yang bersedia tetap tinggal saat semuanya bising. Dan setiap kali Alvaro menangis dari dalam kamar, mereka selalu berdiri bersamaan, saling bertukar pandang, lalu tersenyum dan berjalan bersama. Karena kini, mereka tidak lagi bersembunyi. Tidak dari masa lalu, tidak dari orang-orang. Dan terutama, tidak dari satu sama lain. Karena cinta yang tumbuh dari keberanian tak lagi memerlukan ruang gelap untuk berteduh. Dia hidup di terang—dengan nama yang tak lagi disembunyikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD