Bab8

932 Words
Langit Jakarta bergelayut abu-abu saat Andreas menerima map cokelat dari Andra, penyidik pribadinya. Hujan belum turun, tapi udara terasa berat, seperti menahan sesuatu yang sebentar lagi akan pecah. Map itu ringan secara fisik, namun berat di tangan Andreas—karena di dalamnya mungkin terkandung serpihan kebenaran yang selama ini tertutup kabut masa lalu. “Rekening atas nama V. Pricilia memang terdaftar secara legal,” kata Andra dengan nada hati-hati. “Tapi bukan milik Ibu Violet. Itu bagian dari jaringan identitas palsu. Kami lacak asal-usulnya, dan semuanya bermuara pada satu nama: Guntur Prakoso.” Andreas mendongak cepat. Rahangnya mengeras. “Guntur?” suaranya nyaris seperti desis. Andra mengangguk. “Mantan kepala IT perusahaan Anda. Yang Anda pecat dua tahun lalu karena kebocoran data dan dugaan manipulasi tender.” Andreas membenamkan punggungnya ke kursi. Ingatannya memutar ulang sosok Guntur—ambisius, manipulatif, dan selalu merasa lebih pintar dari yang lain. Ketika dikeluarkan, pria itu tak membuat keributan, tapi Andreas tak pernah lupa tatapan penuh dendam yang dia berikan terakhir kali mereka bertemu. “Sekarang dia kerja di mana?” tanya Andreas. Andra menjawab pelan, “Sebagai konsultan keamanan digital. Klien pribadinya... Nadine Fernandez.” Sore itu, Violet datang menjemput Andreas lebih awal. Wajahnya letih karena begadang semalam, tapi senyumnya tetap lembut, hangat seperti biasanya. Andreas memeluknya erat, lebih lama dari biasanya, seolah ingin memindahkan kekuatan dari tubuhnya ke tubuh wanita yang selama ini diam-diam menjadi pusat dari segalanya. “Aku janji, semua ini akan segera selesai,” bisiknya. Tapi malam itu, saat Violet tengah mengganti popok Alvaro, ponselnya bergetar. Sebuah pesan muncul dari nomor tak dikenal. “Anakmu hasil dari pengkhianatan. Jangan terlalu percaya pada cinta yang dimulai dari dosa.” Andreas mematung. Jemarinya yang menggenggam tisu basah ikut bergetar. Ini bukan kali pertama dia menerima pesan seperti itu—ada satu, dua sebelumnya. Namun kali ini, kalimatnya berbeda. Lebih personal. Lebih menusuk. Violet menatap layar ponsel lama, lalu mematikan notifikasi. Tak ada yang bisa dia lakukan malam itu kecuali menguatkan hati. Dia tak ingin menambah beban Andreas. Suaminya sudah cukup lelah. Namun tanpa sepengetahuannya, di ruangan kerja Andreas, ponsel pria itu juga bergetar hampir bersamaan. “Istri barumu cantik. Tapi tetap saja pelakor.” Andreas mengepalkan ponsel itu hingga buku-bukunya memutih. Tapi dia tak membalas. Dia tahu perang psikologis sedang berlangsung, dan satu kesalahan saja bisa menjatuhkan semua yang telah dia bangun. --- Paginya, kantor mendadak heboh. Sebuah akun anonim di media sosial mengunggah rangkaian foto lama Andreas dan Violet—potret yang diambil diam-diam saat mereka masih berada dalam hubungan profesional. Tapi sudut pengambilan foto, caption yang menyertainya, dan narasi penuh tuduhan, membuat segalanya tampak seolah Violet adalah dalang yang menggoda CEO demi jabatan dan uang. Violet membacanya diam-diam di ruangannya. Ponselnya terus berbunyi—pesan dari teman, mantan rekan, bahkan beberapa wartawan. Wajahnya pucat. Pandangan pegawai lain berubah. Bisik-bisik yang dulu hanya samar, kini terdengar jelas. Dia sempat membuka laci dan mulai memasukkan barang-barangnya. Hatinya nyaris kalah. Namun saat ia membuka pintu untuk keluar, Andreas sudah berdiri di sana. Tatapannya tegas, tak menyisakan ruang untuk ragu. “Berhenti,” katanya singkat. “Kamu nggak akan pergi ke mana-mana.” Violet terdiam. “Aku nggak mau kamu kehilangan reputasimu karena aku.” Andreas mendekat, lalu menggenggam tangan istrinya. “Kita kehilangan reputasi kalau kita lari dari kebenaran. Tapi kalau kita hadapi ini bersama, kita justru sedang membangun sesuatu yang lebih besar—integritas.” Andreas memanggil rapat mendadak seluruh tim. Ruang pertemuan dipenuhi wajah-wajah yang penasaran, tegang, dan beberapa tak bisa menyembunyikan rasa malu. “Pagi ini saya ingin bicara sebagai CEO… dan sebagai suami,” katanya membuka. Semua mata tertuju padanya. “Violet bukan hanya mantan staf saya. Dia adalah istri saya. Ibu dari anak saya. Hubungan kami dimulai saat kami berdua sudah tidak berada dalam struktur yang sama. Tidak ada manipulasi. Tidak ada permainan kekuasaan. Kalau ada yang menyebarkan informasi palsu untuk menjatuhkan keluarga saya, saya pastikan mereka akan berurusan langsung dengan hukum.” Andreas berhenti sejenak, lalu menyapu ruangan dengan tatapan tajam. “Jika ada di antara Anda yang lebih percaya gosip daripada kerja keras, pintu keluar ada di belakang. Tapi kalau Anda masih percaya pada kejujuran dan hasil, tetaplah di sini. Kita akan terus bekerja dengan kepala tegak.” Hening. Lalu, perlahan, seorang karyawan mengangguk. Diikuti yang lain. Beberapa mulai menepuk tangan. Dukungan mulai muncul, membentuk tameng baru bagi Violet. Ponsel Andreas berdering, Andra menghubungi Andreas. “Kami sudah temukan alamat kantor tempat Guntur biasa beroperasi. Kalau Anda ingin menemui langsung—sekarang waktu yang tepat.” Andreas menatap map cokelat yang belum sepenuhnya ia buka. Wajahnya dingin. Dalam benaknya, satu nama menggema terus-menerus yaitu Nadine. “Saya nggak akan ke sana,” katanya pelan. “Dia yang akan datang pada saya.” Andra diam, menunggu penjelasan. “Dia butuh panggung. Dan saya akan menyiapkan panggung itu. Tapi kali ini, semua mata akan melihat siapa sebenarnya dalang di balik tirai ini.” Andreas tahu permainan belum berakhir. Bahkan mungkin baru saja dimulai. Tapi dia juga tahu, kini dia tidak sendirian. Dia punya Violet, Alvaro, dan keyakinan bahwa kebenaran—meski tertunda—selalu menemukan jalannya. Di sebuah layar komputer di ruangan lain, akun anonim itu masih aktif. Dan di balik akun itu, seseorang tersenyum sinis sambil membaca komentar-komentar pedas yang mulai memenuhi unggahan. Tapi dia tidak tahu, perang yang dia mulai dengan cara licik, akan berakhir dengan cara yang paling tak dia duga yaitu dengan kebenaran yang ditunjukkan terang-terangan, dan cinta yang tak bisa digoyahkan oleh fitnah. Langit Jakarta masih mendung. Tapi Andreas tahu, hujan tak selamanya berarti petaka. Kadang, dia justru datang untuk membersihkan jalan menuju fajar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD