Bab9

1403 Words
Sudah sepekan berlalu sejak foto-foto itu mencuat ke publik dan mengguncang fondasi hidup Violet dan Andreas. Meski Andreas telah bicara di depan publik, membela dengan tegas dan penuh cinta, luka yang ditinggalkan fitnah itu tak sembuh begitu saja. Dunia mungkin perlahan melupakan, tapi hati Violet menyimpan retakan yang tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata manis atau pelukan hangat semata. Setiap pagi, Violet menatap wajahnya di cermin. Dia hampir tak mengenali dirinya sendiri. Tulang pipinya lebih menonjol, kulit di bawah matanya tampak gelap dan lelah. Bukan semata karena bangun malam mengurus Alvaro—tapi karena pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat. Semua bisik-bisik yang dia dengar di kantor, lirikan penuh curiga dari para tetangga, bahkan pesan dari nomor-nomor asing yang terus menyudutkannya, semuanya melekat seperti noda yang sulit dihapus. Andreas melakukan segalanya untuk membuat keadaan lebih baik. Dia mengurangi lembur, pulang lebih cepat, bahkan mulai memasak bersama Violet di dapur untuk mengalihkan pikiran. Tapi Violet bisa merasakan: ada sesuatu yang disembunyikan. Sorot mata Andreas saat menerima telepon tertentu, atau saat menutup laptop terburu-buru ketika ia masuk ruangan—semuanya memberi sinyal yang tak bisa ia abaikan. Ini tentang Nadine. Tentang masa lalu yang belum benar-benar pergi. Malam itu, rumah sudah sunyi. Alvaro tertidur dengan damai di ranjang kecilnya, napasnya tenang. Andreas berjalan perlahan ke ruang kerja, tempat Adrian duduk di depan laptop dengan ekspresi serius. “Mas,” panggilnya pelan. Andreas menoleh. “Iya?” Violet mendekat, lalu duduk di sampingnya. “Aku mau nanya satu hal. Kamu masih percaya sama aku?” Andreas tampak terkejut, lalu buru-buru mematikan layar laptopnya. Dia menatap Violet penuh perhatian. “Tentu saja aku percaya. Kenapa kamu tanya begitu?” Violet menunduk. Suaranya nyaris seperti bisikan. “Karena akhir-akhir ini… kamu kelihatan bingung. Bukan karena aku. Tapi seolah kamu sendiri nggak yakin semua ini bisa selesai dengan baik.” Andreas menarik napas panjang. Dia menutup laptopnya sepenuhnya, lalu berpindah duduk di dekat Dinda. Tangannya meraih tangan istrinya, menggenggam erat. “Bukan kamu yang aku ragukan, Sayang. Bukan. Aku takut… dunia di luar sana nggak akan berhenti menyakiti kamu. Aku takut mereka akan terus menyeret kamu ke dalam dosa yang bahkan bukan kamu yang mulai.” Violet mengangguk pelan. Air matanya mulai berkaca-kaca. “Aku juga takut, Mas. Kadang aku mikir… apa mungkin semua ini memang salah. Mungkin aku memang salah karena mencintai kamu, di saat kamu belum sepenuhnya bebas.” Andreas memeluknya, erat. “Kalau memang itu salah, biar aku yang tanggung semua dosanya. Tapi satu hal yang nggak akan pernah salah—aku mencintaimu. Karena kamu melihat aku bukan sebagai CEO, bukan sebagai suami sempurna, tapi sebagai Andreas. Lelaki biasa yang bisa gagal, bisa jatuh, dan kamu masih tetap mau berdiri di sampingku.” Violet menyandarkan kepalanya di d**a Andreas. Air matanya jatuh satu per satu. Tapi kali ini, bukan karena takut. Melainkan karena lega—akhirnya semua beban yang dia tahan sendiri, dia bagi bersama orang yang dia cintai. Namun Violet tahu, kelegaan ini belum berarti akhir. Masih ada luka yang belum sembuh. Dan luka itu hanya akan menjadi borok jika mereka terus melangkah dengan menyembunyikan bagian dari kebenaran. --- Pagi harinya, ketika Adrian bersiap ke kantor, Dinda muncul dari kamar sambil membawa cangkir kopi. “Mas,” ucapnya lirih. Andreas menoleh. “Kalau kamu mau ketemu Guntur atau Nadine… aku ikut.” Andreas tampak terkejut. “Sayang… kamu yakin?” Violet mengangguk mantap. “Selama ini aku diam karena aku pikir ini cuma urusanmu. Tapi sekarang aku sadar… ini tentang kita. Kalau mereka mau menyerang, maka mereka harus lihat kita berdiri bersama, bukan terpisah.” Andreas menatap Violet lama, seolah mencari keraguan di matanya. Tapi tak dia temukan apa-apa selain keteguhan. Ketika akhirnya dia mengangguk, senyum kecil muncul di wajahnya—senyum yang tak muncul selama hampir seminggu terakhir. “Baik. Kita akan hadapi ini bersama.” Hari itu langit Jakarta lebih cerah dari biasanya. Tapi hati mereka tetap waspada. Karena badai sejati bukan datang dari langit—melainkan dari niat jahat manusia yang tak tahu kapan harus berhenti. Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Kuningan, Nadine duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Dia membaca ulang berita terbaru tentang klarifikasi Andreas dan Violet, lalu membuka pesan dari Guntur. > “Mereka mulai bergerak. Tapi tenang, saya punya kartu terakhir.” Nadine membalas dengan satu kalimat pendek: “Aku ingin dia kehilangan segalanya.” Tatapannya dingin. Ini bukan lagi soal cinta yang patah. Ini tentang ego. Tentang rasa tak rela melihat lelaki yang dulu dia anggap miliknya kini hidup bahagia bersama wanita lain. Tapi Nadine tidak tahu—rencana yang dia susun perlahan mulai bocor. Jejak digital yang ditinggalkan Guntur terlacak. Dan lebih dari itu, kekuatan yang selama ini dia anggap rapuh justru mulai menguat. Cinta yang diserang dari segala sisi, tapi tetap berdiri. Violet dan Andreas akan segera menghadapi sumber dari semua luka ini. Bukan untuk membalas, tapi untuk menutup bab masa lalu yang terlalu lama menghantui. Mereka tahu, mungkin luka ini tak akan pernah benar-benar hilang. Tapi mereka juga tahu, setiap luka yang dihadapi bersama, tak lagi menakutkan seperti saat dihadapi sendirian. Dan bagi Violet, ini bukan lagi soal membuktikan siapa yang benar atau salah. Tapi tentang membuktikan bahwa cinta mereka—meski dimulai dari tempat yang salah di mata orang lain—telah tumbuh menjadi kekuatan yang mampu bertahan dari badai paling kejam sekalipun. Kopi di cangkir kecil itu sudah lama kehilangan hangatnya, tapi Violet masih menggenggamnya erat. Jemarinya gemetar ringan, meski wajahnya tampak tenang. Hari itu, langit Jakarta mendung, seolah mengerti bahwa ada badai lain yang akan terjadi—bukan di langit, melainkan di meja pertemuan yang mereka pilih dengan hati-hati. Restoran hotel itu tidak asing bagi Violet dan Andreas. Terlalu banyak cerita yang bergulir di sana—baik yang terang-terangan, maupun yang disembunyikan di balik pintu tertutup. Andreas duduk di sebelahnya. Jas hitamnya rapi, dasi berwarna gelap serasi dengan suasana hatinya. Di wajahnya, tak tampak gentar. Tapi di balik tatapan dingin itu, Violet tahuyaitu suaminya sedang menahan banyak hal. Dia melihat ke arah Violet beberapa kali, memastikan istrinya baik-baik saja. Violet menggenggam tangan Andreas di bawah meja—tidak untuk menenangkan, tapi untuk memberi kekuatan. Lalu pintu restoran terbuka. Nadine melangkah masuk, anggun seperti biasa. Gaun putih bersihnya kontras dengan wajah yang penuh perhitungan. Wajah yang dulu selalu berhasil menarik perhatian siapa pun, kini justru memicu getir di d**a Andreas. Tidak ada lagi cinta di sana. Hanya kenangan, dan luka. “Terima kasih sudah datang,” ucap Andreas dingin. Nadine duduk tanpa menunggu dipersilakan. Gerakannya penuh percaya diri, seolah dia yang mengatur jalannya pertemuan. “Aku penasaran,” katanya, bibir melengkung kecil. “Apa yang ingin kalian bicarakan? Cinta kalian? Atau… kesalahan kalian?” Violet menatapnya dengan mata lurus, tenang. “Kami ingin bicara tentang kebenaran. Tentang rekening palsu atas nama saya. Tentang foto-foto yang disebar. Tentang Guntur.” Nadine tertawa kecil, datar. “Kau pikir kau cukup penting untuk semua itu, Violet? Aku tidak menyebarkan kebohongan. Aku hanya membiarkan orang melihat apa yang sebenarnya terjadi, yaitu perselingkuhan yang kau bungkus dengan kisah cinta.” “Kau salah,” Andreas menyela, suaranya keras. “Kau yang lebih dulu mengkhianati pernikahan ini. Kau yang menjauh. Kau yang membiarkan bisnisku hancur karena ulahmu dengan partnerku sendiri.” Untuk sesaat, Nadine tak menjawab. Tapi lalu dia menatap Andreas tajam. “Dan kau… membalasnya dengan tidur bersama sekretarismu.” Keheningan menyeruak. Di sela dentingan sendok dan gelas dari meja lain, kalimat Nadine menggantung seperti asap yang tak segera hilang. “Aku bukan pembalas,” kata Andreas pelan. “Aku hanya jatuh cinta. Dan cinta itu menyelamatkanku, di saat kau membiarkanku tenggelam dalam kehancuran.” Violet menatap ke bawah, napasnya dalam. Dia tahu, ini bukan hanya tentang dirinya atau Nadine. Ini tentang dua orang yang saling menyakiti terlalu lama, dan kini mencoba bertahan di tengah reruntuhan yang mereka buat sendiri. “Aku bisa mengerti kalau kau masih menyimpan luka, Nadine,” kata Violet. “Tapi membawa anak kami ke dalam kebencianmu… itu terlalu jauh.” Nadine menatap Violet. Kali ini, tatapannya berbeda. Bukan penuh amarah, tapi seperti seseorang yang kehilangan arah. Dia memalingkan wajah, dan untuk pertama kalinya sejak tiba, dia terlihat… lelah. “Violet…” ucapnya pelan. “Kau tahu bagaimana rasanya hidup sebagai istri sempurna di mata dunia, tapi setiap hari merasa hampa? Aku tidak pernah benar-benar ingin menikah. Tidak ingin jadi ibu. Tapi aku takut kehilangan statusku. Jadi aku bertahan. Saat Andreas mulai bahagia tanpaku, aku merasa semua pengorbananku sia-sia.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD