Violet tak langsung menjawab. Dia membiarkan kata-kata Nadine mengendap. Lalu dengan suara tenang, dia berkata, “Setiap orang pernah patah. Tapi kita selalu punya pilihan. Menyembuhkan diri… atau menyakiti orang lain. Dan kau memilih yang kedua.”
Wajah Nadine berubah. Sorot matanya melembut, lalu mengendur. Dia menatap Violet, bukan lagi sebagai musuh, tapi sebagai sesama wanita yang sama-sama pernah terluka.
“Aku tidak tahu siapa diriku lagi,” bisiknya. “Mungkin aku hanya butuh merasa kalah… agar aku bisa berhenti.”
Tak ada balasan. Tak perlu. Karena dalam keheningan itu, ketiganya tahu—perang sudah selesai. Bukan karena ada yang menang atau kalah, tapi karena semua sudah terlalu lelah untuk terus bertarung.
Pertemuan itu berakhir tanpa perdebatan. Tak ada sumpah serapah, tak ada air mata berlebihan. Hanya keheningan aneh yang menggantung, seperti pertunjukan lama yang akhirnya tutup tirai.
Dalam perjalanan pulang, mobil melaju perlahan di bawah langit sore Jakarta yang mulai temaram. Violet bersandar di pundak Adrian. Napasnya panjang, lega.
“Menurutmu… dia benar-benar menyerah?” tanyanya.
Andreas tidak langsung menjawab. Dia menatap jalanan, memikirkan Nadine, memikirkan dirinya sendiri, dan semua yang telah mereka lewati.
“Entahlah. Tapi dia lelah,” akhirnya dia berkata. “Dan kadang, itu cukup. Untuk pertama kalinya, kita menang bukan karena melawan… tapi karena kita tetap bertahan.”
Violet mengangguk. Kata-kata itu menenangkan. Selama ini, mereka terlalu sibuk menangkis serangan, lupa bahwa kekuatan terbesar bukan berada di tangan yang melawan, tapi hati yang memilih untuk tetap bertahan, meski terluka.
Di kursi belakang, Alvaro terlelap, tangannya menggenggam boneka kecil yang sudah mulai pudar warnanya. Violet menatap anak itu lama—bayangan masa depan yang mereka perjuangkan. Luka masa lalu mungkin tak pernah sepenuhnya hilang, tapi di dalam mobil yang melaju perlahan itu, dia tahu kalau mereka sudah memilih jalan yang tepat.
Karena dalam hidup, kadang kita tak butuh kemenangan besar. Kita hanya butuh satu kesempatan terakhir untuk menutup luka, dan memulai ulang.
Dan hari itu, mereka telah mengambil kesempatan itu—bersama.
***
Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui tirai rumah baru mereka. Suara burung terdengar samar dari luar, dan aroma roti panggang menguar dari dapur. Violet berdiri di depan kompor, memasak sarapan sambil sesekali menatap ke arah ruang tengah, tempat Alvaro tertidur di dalam boks kecilnya. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk menggambarkan ketenangan yang perlahan mulai kembali hadir dalam hidup mereka.
Namun, di balik senyum itu, Andreas tahu. Badai belum benar-benar berlalu.
Andreas menyesap kopi dalam diam, pikirannya sudah mengembara jauh. Ada satu pintu terakhir yang belum dia buka. Satu sosok yang masih menyimpan potongan kebenaran yang selama ini membelenggu mereka: Guntur Prakoso.
---
Andreas tiba di sebuah gedung tua di bilangan Cikini. Di lantai dua, terpampang plakat kecil bertuliskan “Guntur Prakoso – Konsultan Strategi & Legal.” Nama itu sempat menggema di banyak ruangan rapat bertahun-tahun lalu, sebelum terhapus oleh keputusan Andreas sendiri.
Pintu terbuka sebelum dia sempat mengetuk dua kali. Dan di sana, berdiri pria itu—rambut sedikit memutih, wajah tenang, dan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Andreas meremang.
“Kita akhirnya bertemu lagi,” ucap Guntur seolah menyambut kawan lama.
“Saya tak akan lama,” kata Andreas, datar. “Kau tahu kenapa aku ke sini?”
Guntur memberi isyarat untuk masuk, tapi Andreas tetap berdiri. Guntur mengangkat alis, lalu menyandarkan tubuh di kusen pintu.
“Kau ingin aku mengaku? Bahwa aku yang menyebar foto-foto itu? Bahwa aku yang rekayasa rekening atas nama Violet? Bahwa aku diam saja saat Nadine menyeret namamu ke dalam lumpur?”
Andreas hanya menatapnya. Diamnya menjadi jawaban.
Guntur tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan di sana. “Ya, Andreas. Aku melakukannya. Tapi bukan karena Nadine. Dia hanya alat. Alat sempurna, karena dia punya luka. Dan luka itu kubakar agar membantuku menjatuhkanmu.”
“Kenapa?” tanya Andreas akhirnya.
Guntur mendekat sedikit. Tatapannya berubah tajam. “Karena kau menghancurkan hidupku, Andreas. Kau memecatku tanpa peringatan. Kau bilang aku menjual data proyek ke kompetitor—padahal itu kesalahan anak buahmu. Tapi karena citramu terlalu mahal untuk rusak, kau lempar aku ke luar. Tanpa penjelasan. Tanpa kesempatan.”
Andreas mengepalkan tangan, tapi tetap tenang. “Saya punya bukti. Kau bersalah, Guntur. Dan kau tahu itu.”
“Bukti bisa dibuat. Tapi reputasi? Sekali rusak, sulit kembali. Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang setelah itu?”
“Jadi kau rusak hidup Violet sebagai balas dendam pada saya?”
Guntur mengangkat bahu. “Dia collateral damage. Sayangnya, dia terlalu kuat. Tidak seperti istrimu yang dulu.”
Andreas maju selangkah, suaranya dingin. “Dengar baik-baik. Ini terakhir kalinya kau ganggu keluarga saya. Saya tak akan kirim pengacara. Tak akan kirim polisi. Saya sendiri yang akan menghancurkanmu kalau kau sentuh Violet lagi.”
Guntur menatapnya lama, lalu tersenyum miring. “Kau berubah. Dulu, kau bersembunyi di balik kebijakan perusahaan. Sekarang kau datang langsung, seperti… suami sejati.”
“Bukan berubah,” jawab Andreaas. “Saya hanya belajar siapa yang pantas diperjuangkan.”
Tanpa kata lagi, Andreas berbalik dan pergi. Kali ini, tanpa ragu. Tanpa takut. Langkahnya mantap, meninggalkan Guntur berdiri sendiri dengan bayangan dendam yang tak lagi berguna.
Sore hari, langit mulai memerah saat Andreas tiba di rumah. Di balkon, Violet duduk memandangi langit—tenang, tapi sorot matanya menyimpan pertanyaan.
“Guntur mengaku?” tanyanya tanpa menoleh.
Andreas menarik kursi dan duduk di sampingnya. “Ya. Dia akui semuanya. Dia pakai Nadine sebagai pion. Tapi yang dia incar dari awal… aku.”
Violet menunduk. “Kupikir begitu.”
“Dia tidak akan kembali. Aku pastikan itu.”
Mereka terdiam, membiarkan angin sore membawa sisa-sisa ketegangan. Lalu Andreas bertanya, lirih, “Setelah semua ini… apa kamu masih yakin denganku?”
Violet menoleh. Tatapannya lembut, tapi penuh ketegasan. “Aku tidak pernah yakin karena kamu sempurna, Mas. Tapi karena kamu tidak pernah lari dari luka. Dan karena kamu tidak pernah membuatku merasa sendiri.”
Andreas menggenggam tangannya. “Aku pernah kehilangan arah. Tapi kamu… kamu rumah yang tak pernah kutahu aku butuhkan.”
Violet tersenyum. Senyum yang lahir bukan dari bahagia sesaat, tapi dari luka yang perlahan sembuh. Dari perjuangan yang akhirnya membawa hasil.
Malam itu, setelah Alvaro tertidur, Violet dan Andreas duduk di ruang tengah, memandangi album foto kecil berisi kenangan mereka sejak awal bertemu. Dari foto kantor yang dulu penuh rumor, hingga foto-foto kecil Alvaro yang baru belajar merangkak.
“Kita sudah melewati banyak hal,” bisik Violet.
Andreas mengangguk. “Dan kita masih akan menghadapi lebih banyak lagi. Tapi sekarang, kita tahu caranya yaitu bersama.”
Telepon genggam Violet bergetar. Satu pesan masuk—dari nomor tak dikenal. Dia membukanya, ragu. Hanya satu kalimat di sana: “Maaf. Aku sudah terlalu jauh.”
Dinda menunjukkan pada Andreas. Mereka saling bertatapan, lalu membiarkan pesan itu mengendap dalam diam. Mereka tahu itu dari Nadine. Mungkin bukan permintaan maaf yang sempurna, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa masa lalu juga ingin disudahi.
Violet mematikan ponselnya, lalu bersandar di bahu Andreas. Detak jam berdetak pelan di dinding. Tak ada drama. Tak ada ledakan emosi. Hanya keheningan yang perlahan berubah jadi damai.
Kebenaran mungkin telah dibungkam terlalu lama. Tapi akhirnya, dia keluar. Tidak dengan teriakan atau pembalasan, melainkan dengan keberanian untuk memilih pulih, bukan menyakiti. Untuk memilih mencintai, bukan membenci.
Dan itulah akhir dari luka-luka lama—bukan saat musuh kalah, tapi saat kita berhenti menjadikannya bagian dari hidup kita.
Di rumah kecil yang tenang itu, Violet dan Andreas akhirnya tahu. CInta yang bertahan bukan yang bebas dari cobaan, tapi yang tetap bertahan saat kebenaran menyakitkan akhirnya terungkap.