Sore itu menjadi pengingat. Ketika mobil mereka melaju melewati jalan pantai yang mulai remang oleh cahaya senja, aroma air laut dan suara ombak yang jauh membawa kepulangan ke dalam dirinya — bukan cuma pulang ke rumah, tapi pulang ke perasaan yang lebih dalam. Untuk Violet, untuk Nadine, dan untuk Alvaro. Kembali di rumah, mereka bertiga duduk di ruang tamu—lampu-lampu kecil sudah dinyalakan, jendela terbuka sedikit, suara hujan malam mengguyur atap. Alvaro duduk di antara mereka, dengan mainan kecil di tangannya, tapi matanya berkaca-kaca menatap keduanya. “Aku senang,” hampir berbisik ia. “Susah waktu tadi di pantai waktu kita mau pulang. Aku takut nanti kita nggak bisa ke sini lagi.” Violet menarik napas lembut, lalu mengusap rambut Alvaro. “Kita bisa, Nak. Kita akan selalu bisa.”

