Beberapa minggu kemudian, Violet merasa tubuhnya lemas dan mudah lelah. Setelah beberapa hari menunda, dia akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Kabar yang dia terima membuatnya terdiam lama di ruang tunggu. Dia hamil lagi. Dalam perjalanan pulang, pikirannya penuh. Antara bahagia dan cemas. Apakah ini waktu yang tepat? Apakah ini akan memperumit keadaan? Di rumah, Andreas menyambutnya di depan pintu. Violet memeluknya tanpa kata. Saat akhirnya dia menyampaikan kabar itu, Andreas sempat terdiam beberapa detik. Lalu dia tersenyum, memeluknya erat. “Ini anugerah, Sayang. Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan bahwa kita masih diberi harapan. Kita akan jaga anak ini seperti kita menjaga Alvaro.” Violet meneteskan air mata, kali ini bukan karena cemas, tapi karena bahagia. Di tengah kelelahan

