Pagi itu datang dengan cara yang berbeda: bukan karena cahaya, tapi karena suara — bunyi lembut daun bambu yang bergesekan di halaman belakang, dibawa angin awal musim panas. Udara masih menyimpan sisa kesejukan malam, dan di antara hembusannya, aroma tanah yang basah menenangkan seperti pelukan lama. Violet terbangun lebih dulu kali ini. Di sampingnya, Nadine masih tertidur dengan posisi meringkuk, sebagian wajahnya tertutup selimut. Ada keindahan yang tak pernah habis dilihat Violet di sana — cara alis Nadine sedikit berkerut, napasnya teratur, dan bagaimana ujung bibirnya membentuk garis yang tenang, seperti seseorang yang sedang bermimpi tentang sesuatu yang sederhana. Ia diam beberapa detik sebelum perlahan bangun dari ranjang. Langkahnya pelan, agar tidak membangunkan Nadine. Di d

