bc

Senapan Peluru Cinta

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
time-travel
kickass heroine
drama
mystery
ancient
like
intro-logo
Blurb

Kang Veyron adalah seorang prajurit TNI yang hidupnya hanya mengenal disiplin, tugas, dan tanggung jawab. Ia tidak pernah percaya bahwa cinta bisa mengubah seseorang.

Sampai sebuah tugas membawanya ke sebuah desa kecil.

Di sana, Veyron bertemu Yura Belline, gadis sederhana yang setiap hari berjualan makanan di pinggir jalan untuk membantu keluarganya.

Pertemuan pertama mereka hanya berlangsung singkat. Namun entah mengapa, Veyron terus kembali ke warung kecil itu.

Bukan karena makanan Yura.

Melainkan karena gadis itu perlahan berhasil membuat hati dinginnya berdebar.

Bagi Yura, Veyron adalah pria dari dunia yang berbeda. Seorang prajurit yang hidupnya penuh aturan dan kemungkinan harus pergi kapan saja. Sementara Yura hanya memiliki warung kecil dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Ketika cinta mulai tumbuh, sebuah tugas memaksa Veyron pergi.

Jarak, keluarga, masa lalu, dan rahasia yang selama ini tersembunyi akan menguji hubungan mereka.

Jika seorang prajurit harus memilih antara tugas dan perempuan yang dicintainya, siapa yang akan ia pilih?

Karena terkadang, peluru paling berbahaya bukanlah yang keluar dari senapan...

melainkan peluru cinta yang berhasil menembus hati.

chap-preview
Free preview
Bab 1 — Pertemuan di Pinggir Jalan
Pagi itu, sebuah desa kecil bernama Arunika mulai dipenuhi aktivitas. Suara ayam berkokok terdengar bersahutan dari balik rumah-rumah sederhana. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara sinar matahari perlahan menyentuh jalan desa yang belum terlalu ramai. Di salah satu sudut jalan, sebuah warung kecil sudah berdiri sejak matahari belum sepenuhnya muncul. Warung itu tidak besar. Hanya berupa bangunan sederhana dengan atap seng, beberapa meja kayu, bangku panjang, serta papan kecil bertuliskan: NASI HANGAT — GORENGAN — TEH & KOPI Di balik meja, seorang gadis sedang sibuk menata makanan. Namanya Yura Belline. Usianya masih muda, tetapi kehidupan telah mengajarinya banyak hal. Sejak ayahnya tidak lagi mampu bekerja seperti dulu, Yura membantu ibunya menjalankan warung kecil mereka. Tangannya bergerak cepat memasukkan nasi ke dalam beberapa bungkus kertas. “Lima bungkus untuk Pak Darman... tiga bungkus untuk tukang kebun...” Yura menghitung pesanan sambil sesekali melihat jam. “Ya ampun, hampir terlambat.” Ia segera memasukkan beberapa gorengan ke dalam wadah. Seorang ibu paruh baya keluar dari bagian belakang warung. “Yura, jangan terburu-buru. Nanti malah jatuh.” “Iya, Bu. Tapi kalau pesanan Pak Darman terlambat, beliau pasti mengomel.” Ibunya tersenyum. “Sejak kapan kamu takut sama Pak Darman?” “Bukan takut. Saya cuma malas mendengar ceramahnya pagi-pagi.” Keduanya tertawa kecil. Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa. Sampai sebuah kendaraan militer melintas di jalan desa. Yura tidak terlalu memperhatikannya. Namun beberapa meter dari warung, kendaraan tersebut berhenti. Beberapa prajurit turun. Mereka datang untuk menjalankan tugas di wilayah desa tersebut. Di antara mereka ada seorang pria yang membuat suasana seolah berubah. Tinggi, tegap, dan mengenakan seragam dengan rapi. Namanya Kang Veyron. Wajahnya terlihat tenang dan serius. Tatapannya tajam, tetapi tidak banyak bicara. “Komandan, titik pemeriksaan pertama sudah siap,” ujar salah satu prajurit. Veyron mengangguk. “Pastikan semua anggota mengikuti prosedur. Kita berada di wilayah warga. Jangan mengganggu aktivitas masyarakat.” “Siap.” Veyron kemudian berjalan bersama beberapa anggota lainnya. Tidak ada yang menarik perhatiannya. Sampai aroma makanan dari warung kecil di pinggir jalan terbawa angin. Salah satu prajurit di belakangnya tiba-tiba berkata, “Komandan, sarapan dulu?” Veyron melirik jam tangannya. “Kita masih punya waktu.” “Warung itu kelihatannya ramai.” Veyron hanya mengangguk kecil. Mereka akhirnya berhenti di depan warung Yura. Saat itulah untuk pertama kalinya Veyron dan Yura bertemu. Yura yang sedang membawa nampan hampir saja menabrak seseorang. “Ah!” Nampan di tangannya sedikit miring. Sebuah tangan dengan cepat menahan bagian ujung nampan tersebut. Yura terdiam. Ia mendongak. Seorang pria berseragam berdiri tepat di hadapannya. Veyron. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. “Kalau terburu-buru, lihat jalan.” Suara Veyron terdengar datar. Yura langsung menarik kembali nampannya. “Iya. Maaf.” Ia kemudian melihat pakaian pria itu. “Bapak tentara?” Veyron mengangkat alis. “TNI.” “Oh...” Yura mengangguk cepat. “Maaf, Pak TNI.” Beberapa prajurit yang mendengar ucapan itu langsung menahan tawa. Veyron menoleh kepada mereka. Mereka langsung pura-pura melihat ke arah lain. Yura justru kebingungan. “Ada yang salah?” “Tidak.” “Kalau begitu mau pesan apa?” Veyron memandang daftar makanan yang tertempel di dinding. “Nasi dan teh.” Yura mengambil kertas pesanan. “Pedas?” “Sedang.” “Minumnya?” “Teh hangat.” Yura menulis pesanannya. “Baik. Tunggu sebentar.” Veyron duduk di salah satu bangku. Ia tidak tahu mengapa matanya beberapa kali tertuju kepada gadis yang sedang sibuk melayani pelanggan. Yura berbeda dari orang-orang yang biasa ia temui. Tidak ada rasa takut berlebihan ketika berbicara dengannya. Tidak ada sikap dibuat-buat. Gadis itu bahkan sempat memarahinya karena duduk terlalu dekat dengan meja makanan. “Pak TNI.” Veyron menoleh. “Ya?” “Geser sedikit, dong.” “Kenapa?” “Itu tempat saya menaruh piring.” Veyron melihat meja di depannya. Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia bergeser. “Terima kasih.” Sederhana. Namun entah kenapa, Veyron merasa aneh. Sudah lama tidak ada seseorang yang berbicara kepadanya sesantai itu. Tak lama kemudian, makanan pesanannya datang. Yura meletakkan sepiring nasi di hadapannya. “Nasi hangat. Jangan lupa sambalnya.” Veyron melihat sambal di sisi piring. “Kamu yang masak?” “Iya.” “Enak?” Yura tersenyum percaya diri. “Kalau tidak enak, uangnya kembali.” Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Veyron sedikit terangkat. Hanya sebentar. Tetapi Yura melihatnya. Ia sampai terdiam. “Bapak bisa senyum juga?” Seketika wajah Veyron kembali datar. “Saya memang tidak pernah bilang tidak bisa.” Yura menahan tawa. “Kirain wajahnya memang begitu terus.” Prajurit yang duduk di samping Veyron langsung menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyumnya. Veyron menatap Yura beberapa detik. “Kamu selalu bicara seperti itu kepada pelanggan?” “Tidak.” “Lalu?” “Cuma kepada pelanggan yang wajahnya terlalu serius.” Veyron tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya dalam waktu lama, sarapan sederhana terasa berbeda. Setelah selesai makan, Veyron berdiri. “Berapa?” Yura menyebutkan harganya. Veyron menyerahkan uang. Yura memberikan kembalian. “Terima kasih sudah makan di sini.” Veyron mengangguk. “Besok buka?” Yura terkejut. “Kenapa?” “Saya mungkin kembali.” Yura tersenyum. “Warung ini buka setiap hari.” Veyron berbalik dan berjalan menuju kendaraan. Yura memperhatikannya dari balik meja. “Prajurit aneh.” Ibunya yang sedang membersihkan meja tersenyum. “Kenapa?” “Tidak kenapa-kenapa.” “Kelihatannya dia tertarik dengan masakanmu.” Yura langsung menggeleng. “Belum tentu.” Namun tanpa sadar, matanya kembali mencari sosok Veyron. Kendaraan itu perlahan menjauh dari warung. Yura tidak tahu bahwa pertemuan singkat tersebut akan mengubah kehidupannya. Dan Veyron juga tidak tahu bahwa gadis sederhana di pinggir jalan itu kelak akan menjadi seseorang yang paling sulit ia tinggalkan. --- Siang harinya, Veyron kembali menjalankan tugas. Namun pikirannya sesekali melayang kepada warung kecil tadi pagi. “Komandan.” Suara seorang anggota membuatnya tersadar. “Ya?” “Besok kita masih melakukan pemeriksaan di wilayah yang sama.” Veyron mengangguk. “Baik.” Anggota itu tersenyum tipis. “Berarti besok bisa sarapan lagi di warung tadi.” Veyron menatapnya. “Kamu yang mau sarapan.” “Bukan cuma saya, Komandan.” Veyron diam. “Kenapa?” “Tidak apa-apa.” Veyron kembali melihat ke depan. Namun di dalam hati, ia tahu satu hal. Besok pagi, ia memang akan kembali ke warung itu. Bukan karena lapar. Setidaknya, itulah yang ingin ia yakini. Sementara di tempat lain, Yura sedang menutup warung untuk sementara. Ia menemukan sesuatu di bawah meja. Sebuah kartu identitas milik seseorang. Yura membaliknya. Matanya membaca nama yang tertera di sana. KANG VEYRON. Yura tersenyum kecil. “Jadi namanya Veyron...” Ia memasukkan kartu itu ke dalam laci. “Besok aku kembalikan.” Tanpa mereka sadari, sebuah pertemuan sederhana telah menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar. Dan takdir baru saja menarik pelatuk pertamanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
17.5K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.3K
bc

Orang Ketiga

read
36.8K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.3K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook