Pita: Sebuah Brosur Lebih dari sepuluh menit gue diam dan duduk di sofa sembari mendengarkan cerita laki-laki di depan—yang mengaku-aku sebagai Ayah kandung gue. Setelah laki-laki itu mengatakan bahwa gue adalah anak kandung yang dia cari selama ini, gue diajak pergi ke rumahnya. Jujur aja, gue sama sekali nggak punya perasaan takut saat diajaknya pergi. Dalam hati, gue cuma butuh bukti—kalau laki-laki itu emang Ayah kandung gue. Sejak lahir, yang gue tahu, gue cuma punya satu Papa dan dia adalah orang tua laki-laki satu-satunya yang gue punya. Nggak peduli walaupun sekarang Papa berbalik membenci gue, bahkan berniat membunuh gue suatu hari pun karena dianggap sebagai wujud rasa sakit dan pengkhianatan, selamanya Papa tetap orang tua gue. Orang yang merawat dan membesarkan gue. Oran

