"Aku mau pulang."
Imam baru masuk kamar menoleh pada Salsa. Digenggaman tangan lelaki itu terdapat handuk, dia baru habis mandi sepulang dari bengkel.
"Kenapa?" Perlahan di dekatinya istrinya. Salsa memeluk lutut di kasur.
Gadis itu tak berkata apapun. Hanya mendesah dengan raut tak nyaman. Kemudian menunduk menatap jari-jari ditautkan di lutut.
"Baru sehari, Sa. Masa sudah mau pulang?" Imam menemani duduk. Handuk di gosokkan di kepalanya yang basah.
"Aa bilang terpenting aku mau ke sini."
Gerakkan di rambut itu dihentikan oleh Imam. Menurunkan handuk kembali ke bawah. "Iya, tapi jangan sehari."
"Memangnya harus berapa hari?"
"Tunggu seminggu, ya."
"Lama."
"Empat hari aja, baru pulang."
"Engga."
Giliran Imam mendesah, negosiasinya tidak diterima. "Apa ada perbuatan Ibu yang gak kamu sukai?"
"Engga ...."
"Lalu apa? Di sini rumahmu juga, Sa."
Sulit dijelaskan. Salsa menyadari dirinya masih kekanak-kanakan. Dia yang biasa dimanja, di sini terpaksa menjalani peran Ibu rumah tangga. Masalahnya dia belum menghendaki, selalu itu yang menjadi pembelaan di hatinya. Gadis itu pun jadi terus merasa keberatan. Tidak bisa sesuka hati seperti di rumah orang tuanya.
"Aku mau cepet-cepet daftar kuliah. Mau balik ke rumah Ibu." Hal itulah yang paling menggebu dalam dirinya. Dia menikah karena ingin bisa kuliah. Fokusnya hanya di titik itu.
"Kalau kamu berhasil meraih gelar sarjana. Apa kamu bakal menganggap rendah Aa, yang cuma tamatan SMK?" Ada resah dalam lubuk hati Imam. Sekarang pun kehadirannya kurang diperhatikan, bagaimana kalau gadis itu nanti berhasil meraih impiannya? Selain terjadi kesenjangan pendidikkan, dia khawatir semakin tidak diinginkan.
"Aku cuma mau kuliah kayak orang-orang. Kenapa Aa mikirnya ke situ? Pula, A juga bisa kuliah kalau mau. Ngambil diploma yang bisa setahun dua tahun."
Imam tersenyum kecil sedikit merunduk. Dulu dia tidak tertarik masuk universitas. Memilih bekerja sesuai jurusan yang dia ambil semasa sekolah. Pernah tinggal di asrama ketika SMP. Beranjak naik kelas dua SMK di sana, Imam ke luar pondok pesantren mengulang sekolah di SMK umum. Bolak-balik pulang ke rumah.
"Aku boleh pulang kan?" Salsa menagih lagi ijin suaminya.
"Tunggu tiga hari. Jangan pulang dulu."
Wajah Salsa masam. Meski begitu masih terlihat menarik di mata Imam. Apalagi jika dia dengan senyuman. Putri bungsu Haji Ma'ruf itu dikaruniai paras lebih menawan, berbeda dengan kakak-kakaknya. Sayangnya sifatnya childish dan keras kepala.
"Memangnya gak kepengen lagi jalan-jalan sama Aa, kayak semalam? Banyak tempat seperti itu, dari sini tidak jauh."
Salsa meliriknya. Dia menyukai tempat-tempat yang kemarin malam dikunjungi. Bisa bebas jajan, menikmati pemandangan malam dan udara segar, menyenangkan.
"Entar ketemu lagi sama cewek itu."
Celetukannya membuyarkan senyuman imam. Lelaki itu berniat menggoda, malah terperangkap sendiri. Perlahan berpaling.
"Udah kayak liat apaa gitu mau buru-buru pergi udahnya. Kenapa, siapa emang sebenernya?" Rupanya Salsa tidak melupakan begitu saja.
Imam enggan menjawab. Perempuan tidak akan puas begitu saja. Akan ada pertanyaan-pertanyaan lain untuk menuntaskan rasa penasaran mereka. Imam malas membahasnya terlalu banyak. Belum lagi jika Salsa tidak berkenan setelah mengetahuinya. Ujung-ujungnya dia akan semakin masam.
"Kan sudah dibilang temen." Iman beranjak menunda handuk di gantungan belakang pintu. Salahnya sudah bertingkah berlebihan setelah bertemu Anita.
"Gak percaya."
"Yaudah." Lelaki itu membuka lemari mencari baju ganti. Di belakangnya Salsa malah jadi kesal.
"Aa!"
"Apa, Sayang?"
"Ish."
Masih menghadap lemari Imampun jadi terkekeh kecil. Diambilnya satu baju. Senang menggoda Salsa dengan panggilan seperti itu, suasana tidak enak akan tergantikan oleh reaksi gadis itu yang tersipu.
"Udah makan belum?"
"Belum."
Imam berbalik, membuka kaos mengganti dengan yang bersih. Salsa berpaling malu melihat tubuhnya.
"Makan, yuk. A laper nih." Lelaki itu duduk didekatnya kembali.
Salsa juga lapar, dia pun mengangguk. Sengaja menunggu Imam karena tidak berani makan sendiri.
"Ayo." Imam hendak pergi tapi menoleh lagi pada istrinya yang masih diam. "Mau kugendong?"
"Aku bisa sendiri." Salsa menepis tangannya yang hendak menyentuh dan beranjak duluan ke luar kamar. Imam tersenyum melihatnya seraya berdiri.
***
Menunggu tiga hari terasa lama bagi Salsa. Gadis itu menjalani apa yang dia kurang suka. Pagi-pagi mengepel karena malu jika diam saja. Tetap membantu memasak meski belum menguasai. Ibu mertuanya jadi tak segan meminta tolong seperti mengangkat jemuran. Dia tidak tahu isi hati gadis itu sebenarnya.
Sementara, Imam menyadari Salsa melakukan semua itu karena terpaksa. Di rumahnya sendiri dia tidak serajin itu.
"Kalau capek, istirahat. Biarkan saja."
"Masa cucian piring numpuk dibiarkan sih? Sementara ada aku di rumah."
"Biarin. Nanti Ibu yang ngerjain." Salsa tidak menimpali lagi. Tetap melanjutkan cuci piring. "Sini aku bantu."
Gadis itu lalu menyingkir setelah membersihkan tangan dari busa. Membiarkan Imam mengambil alih pekerjaannya. Salsa melihat sekitar tidak ada siapapun selain mereka berdua. Dia pun memilih duduk, memperhatikan suaminya sambil makan kue kering dalam toples. Gadis itu tidak leluasa makan camilan saat
ada orang lain, apalagi saat semua keluarga Imam kumpul.
"Lagi apa, Mam? Ya ampun, biarin Ibu yang ngerjain nanti."
Salsa lekas bangun melihat Rasidah datang langsung menghampiri Imam. Mencegahnya melakukan itu.
"Kamu istirahat sana. Sudah makan?"
"Belum. Sedikit lagi selesai ini."
Rasidah menghela napas melihat putranya kukuh mau menyelesaikan, padahal dia baru pulang bekerja. Diliriknya Salsa yang mematung. Di tangan gadis itu ada kue rengginang. Salsa cepat menaruhnya di meja. Tiba-tiba dia merasa buruk di mata Ibu mertua. Tertangkap basah sedang santai menikmati camilan sementara suami mengerjakan pekerjaan rumah.
"Sa, kamu temani Imam makan, ya. Kamu juga belum makan kan?"
Gadis itu menggeleng. Dia makan camilan juga karena lapar.
"Kalian makan dulu."
Imam selesai membilas barang kotor di westafel. Melewati Rasidah menghampiri Salsa. "Makan, yuk."
"Iya." Salsa gesit membuka tudung saji dan menyiapkan piring.
"Makan, Bu." Imam mengajak Ibunya untuk makan bersama.
"Nanti, Ibu belum lapar." Rasidah pergi lagi dari hadapan mereka.
Pandangan Salsa mengekorinya yang menjauh. Sedikit terperanjat Imam mengambil alih piring dalam genggamannya.
"Biar Aa ambil sendiri." Imam menyendok nasi dan mengambil lauk pauknya sendiri. "Mau Aa ambilkan juga punya kamu?"
"Gak usah. Aku bisa ambil sendiri."
***
Salsa menelepon Ibunya diam-diam di kamar. Menumpahkan rindu dan sedikit berkeluh kesah.
"Pengen ke Ibu."
"Tunggu tiga hari kata Imam. Itu sebentar menurut Ibu."
"Tapi, rasanya lama. Salsa kurang nyaman di sini."
"Itu karena belum terbiasa. Nanti juga engga."
"Tetep Salsa mau pulang."
Masitah menghela napas di tempatnya. Diliriknya Ma'ruf yang duduk di samping sedang menghisap rokok.
"Gak betah dia, Bu?" Masitah hanya mengangguk samar. "Sudah kuduga. Ibu berlebihan sudah memanjakannya."
"Sst, diem ah, Pak. Salsa emang belum dewasa sesuai umurnya. Bapak sendiri yang kukuh mau nikahin."
Ma'ruf tidak bicara lagi. Dihembuskannya asap rokok, mengenai istrinya yang langsung menghindar setelah mengibas-ngibas tangan.
"Buang itu rokoknya. Inget kata dokter, harusnya Bapak berenti total." Kemudian pergi dengan sedikit jengkel.
"Sabar dulu, ya, Sa ...." Kembali Masitah berbicara dengan Salsa menghiburnya sambil berlalu.