Lolos!

1529 Words
Tiga hari sudah berlalu. Salsa bersemangat mengemasi barang-barangnya dari lemari ke dalam tas. Menutup ketika selesai dan menjinjing. Diliriknya Imam yang mematung tidak jauh. "Sudah, Sa?" tanya lelaki itu menatapnya datar. "Sudah, ayo, pulang." Salsa melewati suaminya begitu saja ke luar kamar. Imam sedikit menghela napas. Bagi Salsa itu disebut pulang tapi dia tidak merasa begitu, karna di sinilah kediamannya selama ini. "Aa gak bawa baju?" tanya Salsa saat suaminya menyusul keluar tidak membawa apa-apa selain yang dipakai. "Gampang. Tinggal ambil setelah pulang dari bengkel. Dari sini kan gak jauh." Istrinya manggut-manggut. "Mau pulang sekarang?" Rasidah menghampiri keduanya. "Iya, Bu." Salsa yang menjawab. "Baru beberapa hari. Nanti saja pulangnya." "Nanti Salsa ke sini lagi kok." Imam tau itu hanya basa-basi saja. Aslinya entah kapan Salsa mau lagi ke sini. Gadis itu tidak akan secepatnya kemari. "Sampein salam Salsa ke Bapak, ya, Bu." Salsa memeluk Ibu mertua. "I-iya, Sa." Mau tak mau Rasidah membalas. Mengelus punggungnya sekilas sebelum mereka terlepas. "Yah ... Ibu sepi deh gak ada kamu, Sa. Padahal baru merasakan rumah Ibu rame." "Ada anak-anak Ibu yang lain. Ada Rani yang bisa menemani Ibu." Salsa menjelma sedikit dewasa dan luwes. Wajah cerianya terpancar. Terus tersenyum. Itu terjadi lantaran dia akan kembali ke rumah asal. Percaya diri dan semangatnya meningkat. Diusap-usapnya lembut punggung tangan Rasidah sebagai bujuk yang terakhir. Lalu cium tangan. "Yasudah, hati-hati, ya, kalian." "Ya, Bu." Salsa duluan ke luar rumah. "Imam pergi dulu, Bu." Imam salim pada Ibunya. "Nanti ajak Salsa kemari lagi, Mam." Rasidah sebetulnya keberatan akan kepergian mereka. Terlalu cepat baginya. "Iya." Imam sedikit merasa tak enak mau meninggalkan Ibunya. Dia juga tidak tau pasti kapan bisa mengajak Salsa menginap lagi. Rasidah dipeluknya sekilas. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam ...." Rasidah melihat kepergian mereka dari depan pintu. Terus menatap motor yang ditumpangi semakin jauh hingga tak terlihat. Perempuan paruh baya itu menghela napas sebelum kembali ke dalam. *** "Loh, kok, udah pulang?" Bukannya menjawab salam Salsa dan Imam yang datang Ma'ruf melempar tanya. "Iya, Paak." Putrinya cium tangan padanya, menantunya juga. "Ibu!" Gadis itu berseru saat melihat Masitah muncul dari dapur. Dia memeluknya sekilas. "Kangen Ibu, deh." "Ibu juga." Masitah tersenyum melihat putrinya bersamanya lagi. Dia melirik Imam. "Mam." Menantunya menyalaminya. "Salsa mau naro tas." Gadis itu pergi memasuki kamarnya. "Bentar amat menginapnya, Mam." Ma'ruf duduk di sofa. "Iya, Pak." "Duduk sini." Imam menurut duduk di dekat Bapak mertua. "Anak itu bukannya diambilin air minum buat suami malah pergi. Ambilkan, Bu." "Gapapa kok, Pa. Imam gak haus." "Sebentar." Masitah pergi mengambilkan air minum. Tidak dipedulikan raut tak enak menantunya. "Masa habis perjalanan gak haus sih, Mam. Bapak juga kalo habis pulang dari toko suka pengen minum. Haus dan lapar." "Tapi, tadi bukan perjalanan jauh. Bukan juga habis ihtiar seperti Bapak." "Sama saja, Mam." Masitah datang dengan segelas air diletakkan di hadapan Imam. "Salsa gak betah, ya?" Imam hanya tersenyum kecil seraya menunduk ditanya Bapak mertua. "Nanti bisa ke sana lagi kok." Masitah menimpali ucapan suaminya, menantunya itu mengangguk kecil. Padahal mereka bertiga sama-sama tau. Jika pun gadis itu mau, tidak dalam waktu dekat. "Aduuuh, kok bisa sih!" Terdengar suara Salsa lantang. Imam lekas berdiri, pergi menghampiri sang istri di kamar. Ma'ruf dan Masitah saling pandang heran. "Anak itu, dasar. Membuat kaget saja. Paling ada barangnya yang ketinggalan," ujar Ma'ruf. Masitah mendesah kecil menatap gelas yang belum disentuh Imam. Lelaki itu lebih merespon teriakan istrinya. "Kenapa, Sa?" Imam mendekati Salsa yang sedang membongkar isi tas. "Pencuci muka aku ketinggalan." Benarlah yang dikatakan Bapaknya. Ada barangnya yang tidak terbawa. Gadis itu merengut. "Oh. Bisa beli lagi. Yang ketinggalan biarin buat di sana." "Itu masih baru loh, sayang banget. Aku kan jarang ke sananya, entah kapan." "Yasudah, nanti Aa ambilin kalau pulang dari bengkel." Imam menatap barang-barang yang tergeletak. Hanbody lotion, bedak padat, pelembab wajah, celak mata, lipgloss, dan parfum. Dia juga melihat baju-baju Salsa yang belum diberesi di sprai. Terpaku pada dalamannya yang serba pink. Salsa menyadari langsung menyembunyikan ke belakang punggungnya. Ditatapnya Imam yang tidak bisa menahan senyum. "Kenapa senyum-senyum? Baru liat, iya?" Lelaki itu menggeleng dan berpaling. Menatap lurus tembok bercat putih di hadapannya. Dia teringat saat di kediaman orang tuanya. Pernah melihat dan memegang celana dalam Salsa di lemari saat gadis itu ke kamar mandi. Dia menjembrengkan kain berbentuk segi tiga di tangan. Perasaannya campur aduk saat mengamati. Di lemari husus pakaian miliknya jadi ada pakaian dan dalaman perempuan. "Jangan mikir aneh-aneh deh!" Salsa menonjok pelan lengan Imam. Dia sedikit terperanjat dan tidak melamun lagi. Kemudian tersenyum kembali menatapnya. Salsa sedikit ngeri karenanya. "Suami berpikiran aneh-aneh sama istri sendiri gapapa dong." Imam terus tersenyum semakin menggodanya. "Paan, sih." Salsa mendorong membuat Imam beranjak dari tempat tidur. "Keluar dulu sana." "Gak, ah, mau di sini aja. Nanti Aa bantu beresin yang warna pink." "Aa ih!" Salsa terus mendorong-dorongnya hingga ke pintu. Imam terkekeh pelan. Pintu ditutup kencang saat dia berhasil dikeluarkan. Hal itu mengagetkan Ma'ruf dan Masitah yang baru beranjak dari sofa hendak pergi. "Kenapa, Mam?" "Gapapa kok, Pak," jawab Imam masih tersenyum. Tidak ada tanda kemarahan sedikit pun. Dia meraih gelas tadi meminumnya. *** Di kediaman orang tuanya Salsa menikmati waktu dengan bebas tanpa terbebani apa-apa. Mau banyak diam pun tidak perlu sungkan. Gadis itu tengah duduk di ruang tamu menghadap laptopnya saat Ma'ruf menghampiri. Menyadari Bapaknya bergabung duduk di hadapannya, Salsa melihatnya sekilas. "Kamu sudah daftar kuliah, Sa?" "Sudah." "Di universitas?" "Iya." "Sebaiknya kamu kuliah di STAI saja, Sa." "Memangnya kenapa? Sama-sama tempat menimba ilmu kok." Salsa masih fokus pada laptopnya. Entah dia sedang browsing apa. "Maksud Bapak, di STAI itu kan lingkungannya lebih islami. Mahasiswinya semua pake hijab. Lebih cocok buat kamu menurut Bapak." "Di universitas juga banyak yang berhijab kok, Pak. Sama aja. Temen Salsa ada di sana." "Temen kamu ada di STAI juga kan?" "Adaa. Tapi, Salsa gak akrab sama mereka. Deketnya sama temen yang di universitas." "Sudahlah, Pak. Biarin aja Salsa mau kuliah di kampus mana juga." Masitah datang membawa secangkir kopi. Diletakkan di meja. "Nah, betul kata Ibu." Salsa mengacungkan jari telunjuk. Tertuju lagi pada laptop sejenak sebelum ditutup. Gadis itu bergegas bangun. "Pokoknya Salsa mau kuliah di universitas." Lalu pergi dalam kamar membawa benda kesayangannya itu. "Diminum, Pak. Kopinya." "Iya." Ma'ruf meniup-niup pelan cairan hitam pekat dalam cangkir lalu menyesapnya sedikit. "Maksud Bapak, kuliah di STAI itu biar pergaulan Salsa lebih terjaga, Bu." Cangkir diletakkan kembali di meja. "Lingkungan di universitas lebih bebas. Salsa bukan gadis lajang lagi, sudah ada suami. Bapak hawatir sama pemuda-pemuda di sana." "Terus ada yang godain Salsa, begitu?" Masitah menebak keresahan suaminya. Ma'ruf mengangguk. Masitah tersenyum lantas menggelengkan kepala. "Salsa bisa jaga diri, Pak." "Menurut Bapak tidak begitu, Bu." Masitah mengeryitkan dahi dan mengibaskan tangan. "Jangan su'uzon sama anak sendiri, ah." "Bukan maksud Bapak su'uzon. Begini lho, Bu ... selama ini Salsa banyak diam di asrama. Dia itu gadis yang belum tau apa-apa. Bapak takutnya setelah dia tau dunia luar, sedikit silau dengan hal-hal baru dijumpainya." "Kita doakan saja. Salsa kan niat cari ilmu di sana bukan lain-lain. Udah, Bapak gak usah hawatir." Masitah pergi lagi meninggalkan suaminya yang termenung. *** Salsa baru ke luar dari kamar mandi saat terdengar notif pesan di ponselnya. Gadis itu buru-buru melihat. Ponsel diletakkan lagi di kasur setelah membaca, cepat menuju meja belajar. Membuka laptop di sana menghidupkan. Wajahnya tampak serius seraya menekan mouse. Memperhatikan barisan nama-nama. Dia tidak menyadari kedatangan Imam. Laki-laki itu tertegun saat memasuki kamar di dapatinya Salsa hanya mengenakan handuk saja. Rambut panjangnya dicepol. Leher, punggung atas dan kakinya terekspose. Betapa mulusnya kulit putih milik istrinya itu. Mata Salsa berbinar dan tersenyum lebar saat melihat namanya ada di daftar calon mahasiswa yang lolos SBMPTN. Setelah mengikuti serangkaian tes dan melengkapi persyaratan, dia diterima di universitas pilihannya. "Iyes, iyes, iyes." Gadis itu terlonjak-lonjak kecil girang. "Aku lolos! Bisa masuk kuliaah." "Alhamdulillah ...." Terhenti mendengar ada yang menyahut dan berbalik. "Diterima, Sa?" Salsa mengangguk kaku di antara rona wajahnya yang memerah. "Selamat, ya, kamu bisa masuk kampus." Senyum yang lenyap terbit lagi dari bibir gadis itu. "Iya, Aa, aku bisa kuliaah." Euforia senangnya masih mendominasi. Mengabaikan rasa terkejutnya atas kehadiran Imam. Juga tidak terlalu mempersoalkan penampilan. "Syukurlah." Mengabaikan Imam Salsa berbalik kembali menghadap laptopnya. Seakan tidak puas memperhatikan namanya di sana. "Iyes, iyes, iyes! Bisa kuliaaah." Gadis itu terlonjak-lonjak lagi dengan tangan mengepal gemas. Kali ini memutar. "Bisa kuliaaah." Tubuh Imam seperti lemas. Rasanya dia tidak kuat melihat keindahan di depan mata yang terus dipertontonkan. Bukan hanya pada leher dan paha, tapi tertuju juga pada dadanya yang naik turun akibat lompatan kecil itu. Senyum di bibirnya melihat tingkah konyol Salsa pudar menjadi terlena. Merasakan bagian bawahnya menjadi sesak. Salsa sudah menggodanya meski tidak sengaja. Dia mungkin berpikir mereka sepupuan yang tidak perlu memiliki rasa ketertarikan. Imam berpandangan lain. "Bisa kuliah ... bisa kuliah ... asiik." Salsa masih berdendang ria sambil menatap laptopnya. Memperhatikan nama-nama lain. Posisinya yang membungkuk membuat Imam lebih leluasa menatap pada bawah. Kepalanya sampai miring. Jakun laki-laki itu naik turun Salsa tidak bisa diam. Dia tau Salsa tidak berniat merayu. Tapi, di matanya tampak begitu. "Ridadari ridadaamm ... ridadari ridadaam." "Sa ...." Gadis itu berdiri tegak. Menegang merasakan kulit bahunya disentuh. Perlahan berbalik. Imam sudah berada di hadapannya. Tatapan laki-laki itu mengarah pada bibir, turun ke dadanya, tertuju lagi pada mata menatap lekat-lekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD