Bab 7: Cahaya dari Utara

551 Words
Hari itu, langit Istana Musim Semi diselimuti mendung tipis — langit abu-abu seperti selimut yang menenangkan, menampik terik tapi juga menyimpan ketegangan yang tak terlihat. Alerina duduk di bawah pohon camellia, buku catatan di pangkuannya, pena bergerak perlahan sambil sesekali berhenti di udara. Di sekelilingnya, taman dipenuhi suara anak-anak yang sibuk dengan eksperimen ringan — menyaring air, menyusun sistem pipa kecil dari bambu dan kaca, atau mencatat perbandingan suhu dalam wadah berbeda. Tapi pikiran Alerina tidak sepenuhnya di sana. Ia menunggu seseorang. Bukan karena penasaran, tapi karena kehati-hatian. Orang yang datang ini bukan anak bangsawan sembarangan — Thalien Vireldan, putra ketiga dari keluarga akademik kuno yang terkenal dengan penemuan sihir-terapan. Mereka bukan bangsawan politik, tapi nama mereka lebih disegani di ruang-ruang penelitian daripada di balai perjamuan. Langkah kaki berhenti di batas taman. Alerina mendongak. Seorang anak laki-laki berdiri di sana, mengenakan jubah kelabu dengan lambang tiga lingkaran saling bertaut di d**a — simbol Akademi Vireldan. Rambutnya hitam pekat, kulitnya pucat seperti bulan musim dingin, dan matanya… biru kehijauan, tenang seperti danau beku. “Lady Alerina?” tanyanya, suaranya lembut tapi tak ragu. “Aku Thalien. Aku diminta bergabung dalam proyekmu.” Alerina bangkit dan mengangguk sopan. “Selamat datang, Thalien. Kami sedang mengembangkan sistem penjernihan air dan pembagian energi sihir statis. Kau akan kutugaskan di bagian reaktor konduksi. Aku dengar kau pernah membuat prototipe di utara?” Thalien mengangguk singkat, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kristal biru kecil berbentuk heksagonal. “Ini Saphire Core. Biasanya digunakan untuk pencahayaan, tapi aku menyematkan pola sihir untuk menyerap panas berlebih dan menyalurkannya dalam bentuk arus balik.” Alerina menerima kristal itu dengan hati-hati, matanya bersinar kecil. “Kalau kita gabungkan ini dengan saluran kapiler bambu dan sumbu penyeimbang… kita bisa membuat lampu yang tak perlu sihir aktif,” gumamnya. Cael, yang baru saja bergabung dari sisi lapangan, melirik ke arah kristal dengan penuh perhatian. “Bisa digunakan di rumah-rumah desa,” katanya pelan. “Cahaya stabil tanpa harus membayar juru sihir.” Thalien hanya mengangguk. Pendiam, tapi tidak sombong. Hari-hari berikutnya dipenuhi kerja diam-diam di paviliun kecil tempat Alerina dan timnya berkumpul. Thalien tidak banyak bicara, tapi setiap kali bicara, ia menawarkan solusi — bukan hanya teori, tapi juga praktik. Tangannya terampil, pikirannya terstruktur, dan entah bagaimana, kehadirannya menyeimbangkan semangat Alerina dan ketenangan Cael. Namun di sela-sela eksperimen dan diskusi teknis, Alerina mulai menyadari sesuatu yang aneh: setiap kali Thalien mencatat sesuatu, ia menuliskan dua salinan. Satu untuk dirinya, satu untuk seseorang yang tidak pernah ia sebutkan. Suatu malam, saat semua telah tidur dan paviliun kosong, Alerina menyelinap dan membuka salah satu buku catatan Thalien yang tertinggal di meja. Di bagian belakang, tertulis dalam sandi kuno: > "Pengamatan hari ketiga. Subjek A-3 menunjukkan potensi interferensi sihir tinggi tanpa konsumsi mana. Riset harus dilanjutkan tanpa membangkitkan kecurigaan. Laporan akan dikirim saat bulan purnama berikutnya." Alerina menutup buku itu perlahan, jantungnya berdegup. Diawasi. Bukan hanya oleh bangsawan seperti Lady Seraphina, tapi oleh kalangan akademik — mereka yang ingin memahami, membongkar, mungkin… mengendalikan. Namun ketika pagi datang, ia tetap menyambut Thalien seperti biasa. Tersenyum. Membagi catatan. Memberikan proyek. Karena Alerina tahu: untuk memahami lawan, kadang kau harus membiarkannya merasa dekat. Dan di dunia yang mulai tertarik pada kekuatannya, ia tak boleh hanya menjadi seorang ilmuwan. Ia harus mulai belajar menjadi pemain dalam permainan yang lebih besar. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD