Bab 8: Suara Tanpa Wajah

540 Words
Di balik jendela tinggi Paviliun Timur, hujan turun pelan — tidak deras, tapi cukup untuk membuat taman tampak seperti lukisan yang luntur. Bias cahaya pagi berpendar lembut di lantai batu, memantulkan warna biru kelabu yang menenangkan… atau seharusnya menenangkan. Namun pagi itu, Alerina merasa seolah hujan sedang menatapnya balik. Ia duduk di meja kerjanya, di depan tumpukan surat dan laporan proyek. Tapi pandangannya kosong. Di tangan kirinya, secarik kertas kecil, tak lebih besar dari telapak tangan. Surat tak bernama. Tak bersegel. Tak bertinta kerajaan. Isinya hanya satu kalimat: > "Beberapa pengetahuan tidak dimaksudkan untuk dibagikan oleh anak kecil, Lady Alerina." Tangannya mengeras saat membaca ulang kata-kata itu. Setiap huruf ditulis dengan tenang, nyaris anggun, tapi berisi ancaman yang terasa dingin seperti ujung pisau di punggung. Cael berdiri di ambang pintu. Matanya menelusuri wajah Alerina, lalu berpindah ke kertas di tangannya. Ia tak bertanya, hanya melangkah masuk dan duduk di sisi meja, mengambil surat itu dengan pelan. Membacanya. Diam. Lalu mengembalikannya tanpa kata. “Mereka mulai memperingatkanku,” ujar Alerina akhirnya. Suaranya pelan. “Karena aku tidak lagi diam.” Cael mengangguk pelan. “Dan karena kau benar.” Suasana di paviliun hari-hari belakangan memang berubah. Anak-anak mulai lebih sering berbisik daripada tertawa. Thalien menjadi semakin pendiam, bahkan untuk ukuran dirinya. Edric tak lagi rutin datang, katanya keluarganya mendapat ‘peringatan’ dari Dewan Pakaian Mulia — alasan yang terlalu formal untuk seorang anak berumur sembilan tahun. Dan Alerina tahu, itu bukan satu-satunya. Lady Seraphina — putri tertua dari Keluarga Marquess Aerden — baru-baru ini menunjukkan ketertarikan yang terlalu besar pada proyek Alerina. Perempuan itu selalu hadir dalam pertemuan publik, menonton dengan senyum tenang dan tatapan menilai. Kadang ia mengajukan pertanyaan, bukan untuk memahami… tapi untuk menguji. “Apakah ini aman, Lady Alerina? Apakah layak diajarkan pada anak-anak?” Atau, “Bukankah ini mendahului kurikulum kerajaan?” Alerina menjawab dengan tenang, tapi pertanyaan itu menggerogoti keyakinan murid-muridnya. Ia bisa melihatnya dalam cara mereka mulai mempertanyakan diri sendiri. “Jika mereka mulai menekan kita dari dalam,” ujar Alerina lirih, “kita harus bersiap dari luar.” Cael menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, senyumnya muncul — kecil, tapi tajam. “Kau ingin membuka saluran dengan desa-desa?” Alerina mengangguk. “Dan dengan pengrajin. Petani. Penyuling angin dari Pegunungan Vareth. Mereka yang tak terikat protokol istana. Aku butuh jalur distribusi alternatif. Dan suara yang tak bisa dibungkam oleh meja makan para bangsawan.” Diam sejenak. Lalu Cael berdiri. “Aku akan bicara dengan orangku.” Alerina menatapnya, alis sedikit terangkat. “Orangmu?” Putra Mahkota itu hanya tersenyum samar, lalu berjalan pergi. Dan sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alerina menerima kunjungan dari seseorang yang tidak terdaftar dalam sistem istana. Seorang perempuan tua berkerudung abu-abu, dengan tatapan mata setajam besi dan gerakan seperti air. Ia memperkenalkan diri sebagai “Bu Mora”. “Aku dengar kau ingin menghubungkan ilmu dan ladang,” katanya sambil menyesap teh. “Dan aku… menyukai anak-anak yang tidak tahu batas mereka.” Alerina menatap tamunya dengan penuh kehati-hatian, tapi juga rasa hormat. Karena ia tahu — hari ini bukan hanya awal dari jaringan baru. Tapi awal dari perlawanan. Dan langkah pertama melawan suara-suara tanpa wajah adalah dengan menciptakan suara yang tak bisa dibungkam. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD