Langit pagi di atas Istana Musim Semi tidak seperti langit di tempat lain. Udara di sini wangi oleh bunga magnolia yang mekar sepanjang tahun, dan setiap sudut istana seperti dilukis tangan arsitek yang terlalu jatuh cinta pada simetri. Namun bagi Alerina, keindahan itu terasa seperti kulit luar dari sesuatu yang lebih dalam — dan lebih berbahaya.
Ia datang bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai “rekan belajar” Putra Mahkota. Sebuah status yang menggantung — tidak cukup tinggi untuk dianggap penting, tapi cukup mencolok untuk diamati dari segala arah.
Langkah pertamanya di aula utama istana menggema.
Dari jendela kaca patri memancar cahaya lembut, menyinari lantai marmer yang memantulkan bayangan gadis kecil berambut gelap dengan mata terlalu tenang untuk usianya. Di sampingnya, Cael berjalan dengan santai, tangan di balik punggung, seolah tak menyadari bisikan para bangsawan muda dan tatapan guru-guru tua yang menyelidik.
“Dia anak perempuan. Dan bukan penyihir.”
“Bagaimana mungkin seorang ilmuwan kecil menggantikan peran tutor?”
“Putra Mahkota… mulai menunjukkan keanehan.”
Semua komentar itu hanya menyentuh permukaan. Tapi Alerina tahu: di balik setiap senyum manis istana, tersembunyi kalkulasi.
Hari-hari berikutnya penuh ujian — secara harfiah dan tidak. Ia diminta menjelaskan teori sihir-elemen, meski ia tak bisa membaca mantra seperti anak-anak keturunan magus. Ia ditantang memahami struktur politik Evandria, meski tak satu pun guru menyadari bahwa ia diam-diam mencatat pola kekuasaan bangsawan tinggi dan menyimpulkannya sendiri seperti mengurai formula.
Namun ia tidak sendirian.
Cael selalu duduk di dekatnya — tidak membantu secara langsung, tapi menjadi tembok yang membungkam sebagian kritik. Anak laki-laki itu, meskipun usianya sebaya, membawa aura otoritas yang membuat para bangsawan berhenti bicara saat ia menatap mereka.
“Jangan pedulikan mereka,” ucap Cael suatu hari saat mereka duduk di taman dalam istana. “Mereka mengamati karena takut.”
Alerina menoleh. “Takut pada apa?”
“Pada sesuatu yang tidak mereka pahami.”
Di bawah cahaya senja, wajah Cael terlihat hampir rapuh. Tapi sorot matanya… tetap emas yang dingin.
Alerina mulai menyukai taman itu. Di antara mawar biru dan bunga angin, ia menemukan ruang untuk bernapas. Ia mengumpulkan kelopak bunga jatuh, biji tanaman langka, bahkan sarang lebah kosong yang dijatuhkan angin. Dalam diam, ia menyulap paviliun kecil menjadi laboratorium keduanya — tentu saja, dengan bantuan Leon yang berhasil ia bawa sebagai pelayan pribadi.
Leon masih memanggilnya “Putri”, tapi ia mulai belajar mencatat, menyaring cairan, bahkan menggambar diagram. Bersama mereka, Alerina membuat sesuatu yang belum pernah ada: botol berisi cairan yang dapat menghangatkan tangan di musim dingin — tanpa sihir.
Benda itu menjadi bahan bisik-bisik baru di kalangan murid istana. Seorang guru bahkan membawanya ke pertemuan istana kecil. Tak lama, Alerina diminta mempresentasikan karyanya di hadapan seorang penasihat utama raja.
Ruangan itu dingin dan penuh simbol kekuasaan. Tapi Alerina melangkah mantap, membawa botol kecilnya di tangan mungil.
“Yang saya tunjukkan bukan sihir,” katanya, suara lembut tapi jernih. “Melainkan pemahaman. Jika sihir datang dari dalam tubuh, maka pengetahuan datang dari pengamatan dan keberanian untuk mencoba.”
Ruangan hening.
Lalu… tepuk tangan perlahan terdengar. Diikuti bisikan. Dan senyuman tipis dari seorang pria tua berjubah emas yang hanya mengangguk satu kali — cukup untuk membuat suasana berubah.
Malam itu, Alerina duduk di atap paviliunnya, memandangi langit.
“Istana ini seperti makmal raksasa,” gumamnya. “Penuh zat tak dikenal, reaksi tak terduga, dan… potensi ledakan.”
Cael muncul dari balik pintu. “Tapi kau menyukainya.”
Alerina menoleh, tersenyum. “Mungkin. Karena setiap laboratorium… selalu punya percobaan yang gagal sebelum berhasil.”
Ia menggenggam botol hangat di tangannya.
Dan di kejauhan, cahaya dari menara tertinggi menyala — pertanda bahwa sang Raja, untuk pertama kalinya, meminta laporan pribadi tentang gadis kecil bernama Alerina Elvanora Eldevira.
---