Bab 4: Denyut Emas di Balik Batu

603 Words
Hujan turun dengan lembut di Istana Musim Semi. Tidak deras, tidak pula malas. Seolah langit pun tahu kapan harus menyentuh bumi dengan sopan. Alerina duduk di balik jendela paviliun kecilnya, mengamati butiran air yang mengalir menuruni kaca, seraya memutar sebuah koin tua di antara jarinya. Koin itu bukan miliknya. Bukan pula milik Cael. Ia menemukannya di perpustakaan istana, terjepit di antara dua buku usang tentang jalur perdagangan kuno. Sebuah koin tembaga, berukir wajah raja pertama Evandria, tapi jauh lebih ringan dari koin yang beredar saat ini. “Bukan hanya sihir atau sains yang membuat dunia bergerak,” gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik hujan. “Tapi ini — logam kecil dengan kepercayaan besar.” Hari itu, undangan tiba dari Departemen Keuangan Istana. Penasihat ekonomi utama kerajaan, Lord Halvian Dorne, ingin bertemu dengannya. Bukan sekadar karena botol penghangat tangan yang viral, tapi karena laporan yang dibuat Cael — berisi ringkasan eksperimen Alerina dan potensinya sebagai alat perdagangan massal. Ruangan tempat pertemuan itu berlangsung seperti labirin keheningan. Dindingnya penuh rak buku yang menjulang, dan di tengahnya duduk Lord Dorne, pria tua dengan mata seperti mata elang yang mengamati setiap kedipanmu sebagai peluang atau ancaman. “Kau membuat benda hangat tanpa sihir,” katanya tanpa basa-basi. “Itu artinya dua hal: murah, dan bisa diproduksi siapa saja. Kau sadar implikasinya?” Alerina mengangguk. “Jika diperjualbelikan dengan benar, bisa mengurangi ketergantungan masyarakat pada sihir rumah tangga. Juga menciptakan lapangan kerja baru — pengrajin, pengemas, pengangkut.” Lord Dorne diam sejenak, lalu menepukkan jari ke meja. “Kau tidak bicara seperti anak lima tahun.” Alerina hanya tersenyum kecil. Ia sudah lelah menjelaskan bahwa pikirannya bukan milik tubuh yang ia miliki sekarang. Tak lama kemudian, ia dibawa ke ruang bawah tanah istana — tempat prototipe eksperimen ekonomi kerajaan disimpan. Di sana, ia melihat gambaran nyata tentang dunia yang ingin ia ubah: gudang berisi kain mahal yang membusuk karena gagal didistribusikan, rempah dari selatan yang ditimbun hingga rusak, dan peta-peta jalur dagang yang terlalu lama tidak diperbarui. “Negara ini kaya tapi malas bergerak,” bisik Cael di sampingnya. “Mereka menunggu mukjizat. Mungkin kau bisa jadi salah satunya.” Hari-hari berikutnya, Alerina mulai merancang ulang sistem distribusi barang sederhana. Ia membuat jalur sketsa pengiriman baru berdasarkan pola angin musiman dan ketersediaan hewan beban, menyarankan penggunaan ‘titik penampungan’ di antara kota utama — semacam pos perdagangan berukuran kecil namun strategis. Setiap malam, ia dan Leon menyalin peta, menghitung jarak, membuat simulasi dengan batu-batu kecil dan garis-garis benang. Mereka membicarakan biaya produksi, keuntungan pedagang, dan tak lupa — kesejahteraan para pekerja bawah. “Apa kita tidak terlalu cepat?” tanya Leon suatu malam, lelah. Alerina menatap lilin yang tinggal separuh. “Kalau aku menunggu waktu ‘tepat’, mungkin aku sudah mati untuk kedua kalinya sebelum semua ini dimulai.” Dan pada suatu sore yang temaram, saat langit berubah jingga keunguan, kereta kecil datang dari arah timur — membawa dua pengrajin muda dari Desa Hilven yang ingin mencoba memproduksi botol pemanas versi mereka sendiri. Itu bukan perintah kerajaan. Mereka datang karena mendengar cerita tentang “anak ilmuwan istana” yang ingin mengubah dunia. Itu hari pertama Alerina melihat ide kecilnya menyeberangi dinding istana. Dan dari balkon tertinggi, sang Raja sendiri — lelaki tua yang jarang muncul — memperhatikan. Tangannya menggenggam laporan harian dari Lord Dorne. Dalam diam, ia berkata kepada panglima perangnya, “Perhatikan anak itu. Jika dia benar, Evandria akan punya kekuatan baru — bukan di medan perang, tapi di pasar.” Di bawahnya, Alerina menatap langit, koin tua di genggamannya masih hangat. Ia tersenyum. Karena baginya, setiap logam bukan hanya alat tukar. Tapi denyut jantung peradaban. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD