Setelah berlalunya tingkah konyol antara Nada dan Gia tadi, kini berganti Nada yang sendiri di kamarnya, Gia sudah pulang lima belas menit yang lalu, berdalih tak ingin menganggu aktivitas pertama si pengantin baru.
Mengingat hari semakin sore dan Aira belum ia mandikan Nada lantas keluar dari kamar setelah merapikan kamarnya dan tentunya menyembunyikan baju haram yang di bawa Gia tadi di tempat paling aman, tempat dimana Galeo tak akan menyadari.
Ini semua karena ide licik dari Gia kala ituwaktu dimana Gia dan Nada menghabiskan waktu girls time mereka sebelum Nada menikah. Rahasia Gia ini membuat Nada enggan melakukan namun wajib bagi Gia untuk dilakukan oleh Nada. Dengan baju haram itu Gia ingin Galeo pelan tapi pasti terpesona dengan kemolekan tubuh Nada, tubuh Nada bukanlah tipe papan triplek berjalan malah tubuh Nada tumbuh dengan semestinya yang sangat amat di sukai para pria, seperti Galeo tentunya. Hal ini adalah upaya agar Galeo segera sadar bahwa di depannya ada wanita yang tak kalah cantik seperti mendiang istrinya, bukan, bukan Gia ingin menjual Cuma-Cuma tubuh molek Nada ia hanya ingin menyadarkan laki-laki yang katanya pintar dalam segala hal itu menjadi lebih membuka lebar perhatiannya.
Gia ingin membuat Galeo menatap Nada dengan tatapan menginginkan sebagai istri namun begitu di balik rencana ala curang Gia, Gia juga ingin Nada juga berlaku sebagai wanita jual mahal pada Galeo, agar nanti Galeo datang dengan sendirinya, menyerah dengan keinginannya untuk bersikap sok gengsi.
Sebelum Nada membuka pintu kamar, handel pintu itu sudah lebih dulu di buka oleh pihak dari luar, Nada yakin itu pasti Galeo suaminyadan memang benar, laki-laki tampan itu tersenyum kaku padanya.
AAbang mau mandi?
Galeo mengangguk canggung. Aira belum mandi jugatadi mau saya ambil masih bersama keluargamu, saya enggak enak. Ujar laki-laki tampan itu
Nggak apa-apa biar nanti Nada yang AmbilAh- Abang mau mandi? Galeo mengangguk lagi Sebentar Nada ambilkan handuknya.
Nada mengulurkan handuk bersih kepada Galeo sedangkan Galeo masih sibuk dengan kemejanya yang ia lepas, tapi naas kancing teratas enggan untuk ia lepas. Nada mengetahui kesusahan Galeo saat melepas kancing kemejanya.
Sini Nada bantu, Bang. Nada menawarkan bantuan dan Galeopun menurut
Benar, benang dalam kacing tersebut tersangkut membuat susah untuk di lepas, suasana canggung tiba-tiba menghiasai antara mereka, saat posisi mereka memang terbilang dekat bahkan hembusan nafas Galeo bisa terakam ditelinga Nada.
Nada?
Ya?
Jangan canggungkita lalui pernikahan ini dengan sikap normalhubungan dua manusia dalam membangun rumah tangga pada semestinya.
Hah? Kenapa?
Galeo menyentil kening mulus Nada, Galeo pasti menebak pikiran Nada bahwa istrinya itu pasti membayangkan pernikahan konyol seperti di cerita fiksi. Sayang sekali, ini pernikahan nyata yang akan juga Galeo bawa sebagai pernikahan serta kehidupan normal.
Jangan kebanyakan membaca novel fiksi, Nada. Ujar Galeo lagi yang mendapat anggukan setuju Nada
Pernikahan normal ya? bagaimana dengan perasaanmu denganku, Bang?” lirih Nada dalam hati
“heumm—sudah selesai, A—Abang udah bisa mandi, aku mau ambil Aira dulu.” Pamit Nada pada Galeo sedangkan Galeo hanya menanggapi dengan dehaman
ΩΩΩ
Nada turun ke lantai satu yang mendapati saudar-saudara dari sang ibu masih berkumpul di ruang keluarga dengan suara riuh, namun saat Nada membelokkan diri ke arah keruang keluarga di lorong dekat kamar orangtuanya Aira sedang menangis di tenangkan Mila dan Bachtiar dengan susah payah.
Akhirnya Nada menghampiri keduanya, mendengar tangisan Aira semakin kencang dan enggan berhenti. Hatinya sakit mendengar tangisan kencang Aira yang menggelegar seperti ia sedang menggadu bahwa ia merasakan sakit dan saat itu juga Nada merasakan ada yang tidak beres pada putrinya itu.
Ma, PaAira kenapa? tanya Nada setelah mendekat
Kayanya dia kecapekan deh Nad, kata Mila masih ikut menenangkan Aira pada gendongan Bachtiar
Ohcup cucu Akung yang cantikkenapa Nak?
Sini, Pa biar Nada yang gendongapa haus ya? Bachtiar memberikan Aira pada Nada
Sudah Mama kasih s**u nih masih utuh. Ujar Mila lagi
Apa capek yadari tadi oper-oper dia imbuh Bachtiar
Bisa jadi sih, PaMama bilang ke Mbok Sarinah dulu, dia dulu di kampung suka jadi dukun anak, mijit gitu.
“Boleh deh Ma, siapa tahu dia kecengklak nangisnya kenceng banget.”
Mila mengangguk paham. “Mama suruh dulu, kamu ajak ke kamar Nad.” Nada mengiyakan akhirnya membawa Aira
ΩΩΩ
Suara tangis semakin kencang saat Mbok Sarinah mulai memijat tubuh mungil Aira, sebenarnya Nada juga tak tega melihat tubuh mungil Aira dipijet begitu namun memang harus dipijat tubuhnya.
Iya ini Bu, Mbak Nada, badan Genduk ada yang keceklakdibagian ini, Mbok Sarinah menjelaskan kenapa Aira menangis kencang tiada henti itu
Kan, saya udah nebak Mbok. Apalagi Aira daritadi di pegang siapa-siapa ini, di gendong sana-sini.
Ini sudah sayang pijit kok Bu, nanti Genduk bisa tidur nyenyak. Ujar Mbok Sarinah lagi
Nada siapin air anget dulu buat basuh badan Aira kasihan itu badannya.
Iya, sekalian ASInya Nadsiapa tahu minum s**u ASInya mau.
Iya Ma.
Nada masuk ke dalam kamarnya untuk memanaskan s**u ASI yang beku , sembari ia menyiapkan s**u ASInya ia juga menyiapkan kembali baju yang akan digunakan Aira.
Galeo keluar dari kamar mandi tentunya dengan baju yang sudah melekat sempurna pada tubuh tingginya itu. Ada apa? Saya dengar Aira nangis.
Kecapekan dia, Bang. Dari tadi di oper-opereh udah diam dia, Abang minta tolong kasihin s**u ASInya dia dulu, aku mau nyiapin air anget buat basuh Aira.”
“Iya, Nad.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.” Balas Galeo dengan senyuman
ΩΩΩ
Malam pengantin Nada dan Galeo berbeda dengan yang lain, yang biasanya akan di isi dengan malam penuh gairah dan luapan cinta antara dua pasangan yang saling dimabuk asmara tapi tidak dengan pengantin baru ala Nada dan Galeo. Malam pertama mereka di isi dengan kebersamaan mereka bersama Aira.
Bayi mungil yang tadi menangis kencang sudah diam anteng, bukan waktu bagi Nada dan Galeo dengan sesi b******u malah di isi dengan suara ocehan Nada dan Galeo untuk menimang Aira.
Abang mau makan lagi? Biar Nada ambilin, tawar Nada
“Kamu sudah makan? tanya balik Galeo
Nada memutar bola matanya heran, ia yang tanya malah di beri pertanyaan balik. Aku lagi enggak enak makan, Bang. Makanya tadi nggak ikut makan.
kenapa?
Nggak enak perutnya. Adu Nada
Harus makan, ayo saya temani! ajak Galeo
Berdua ya makannya takut enggak habis. Galeo mengangguk lagi Disini aja, biar aku yang ambil.
Hemm.
Selesai makan malam sepering berdua dengan Galeo, kini saatnya Nada mulai menerapkan perintah Gia. Sebenarnya ia ingin tak melakukan memakai baju haram itu namun ia juga penasaran dengan ekspresi Galeo saat memakai baju tidur ala Gia.
Titip Nada dulu, Bang.
Iya, jawab Galeo yang fokus pada tayangan tv sedangkan tangannya mengelus punggung putrinya
ΩΩΩ
Galeo melongo ditempat tidur, tatapannya mengarah pada Nada yang sedang menyiapkan s**u untuk Aira, namun bukan itu dalam fokus Galeo dan membuat Galeo melongo yaitu tampilan baju tidur Nada yangbelakangnya terbuka hingga pinggang wanita itu.
Nada, kakamu nggak dingin pake baju belum jadi itu? celetuk Galeo akhirnya
Sial! Suaraku mendadak serak. Grutu Galeo
Enggak, aku biasa pake ini kok, Bang. Mantap Nada meski sebenarnya ia benar-benar malu
Ohbaiklah!
Nada kembali ke sisi ranjang sebagai tempat tidurnya, meletakan botol s**u Aira di meja nakas dekat dengan sisi ranjang yang Nada tempati, setelah Nada merebahkan badannya di samping Galeo, sebenarnya Nada sedikit merasa risi apalagi baru kali ini ia memakai baju haram di dekat laki-laki, namun ia tetap meyakinkan diri agar berhasil rencana Gia.
Akhirnya memilih asik dengan ponselnya, sedangkan Galeo masih tetap mefokuskan netranya pada tayangan film di depannya dengan Aira yang berbaring di badannya. Bayi kecil itu sebelumnya terlihat anteng dalam lelapnya namun suara ringikannya membuat fokus Bunda dan Papanya teralihkan, mungkin Aira merasa capek dengan posisi tidurnya yang tengkurap diatas badan sang Papa.
Seperti tahu anaknya tersiksa dengan posisi tidurnya, Nada segera bangkit dari posisi tidurannya untuk mengambil alih Aira yang merengik tadi. Mati-matian Galeo mefokuskan tatapannya pada Aira tapi sungguh tampilan Nada membuatnya gagal fokus.
Nada memang sengaja mengambil Aira dengan membawa tubuhnya sedikit membungkuk, tentunya belahan d**a Nada amat sangat terlihat dari lirikan Nada, Galeo menahan perlihatannya untuk tidak memandang ke arahnya. Ternyata membuat laki-laki lemah semudah ini.
Cuppcapek yang posisi boboknya nggak enak. Hibur Nada pada Aira yang masih menangis dengan begitu Nada segera membukakan botol s**u yang tadi sudah ia siapkan
Tumbenan dia ngeringik begitu, celetuk Galeo sembari mengelus kaki mungil Aira
Capek aja dai tidur posisi begitu, Bang jadi rasanya engap. Nada membalas ucapan Galeo
Dasar aja dia lagi manja, ledek Galeo Tuhkan dia tuh pasti cuman mau manja-manjaan aja soalnya udah ada Papa sama Bundanya barengan. Galeo masih menggoda Aira meski bayi kecil itu diem aja
Anaknya atau bapaknya yang seneng? tanya polos Nada
Anaknya. Cepat Galeo yang dibalas kekehan Nada
Kalo aku istirahat kamu sama Aira gimana? balik tanya Galeo
Aku dan Aira juga bakal tidur kok, Bang.
“Saya temenin deh, filmnya masih seru. Tolak Galeo karena film yang lihat masih menampilkan aksi memukau
ΩΩΩ
Nada menatap laki-laki di sampingnya itu, laki-laki tampan itu sudah terlelap terlebih dulu, Nada paham dan amat sangat tahu bahwa suaminya itu terlihat lelah namun memaksakan diri menemani menidurkan Aira padahal saja, bayi itu memang sedikit lama tertidurnya mengingat tadsi Aira sudah tertidur meski tak begitu lama.
Hingga pukul dua dini hari bayi mungil Nada itu sudah tertidur pulas seperti Ayahnya, Nada senang melihat keduanya yang akhirnya bisa istirahat.
Berbeda dengan Nada yang sampai sekarang belum bisa memejamkan mata, bagaimana bisa ia akan memejamkan mata sedangkan teman tidurnya ini sungguh menarik mata, apalagi Galeo yang—hanya memakai boxer ketat dibawah sana. Galeo bukanlah tipe laki-laki yang memiliki balok seksi di tubuhnya, hanya saja perutnya terlihat datar, meskipun tak ada balok seksi Galeo masih tetap seksi dengan apa adanya tubuh yang Galeo miliki.
Olahraga lari adalah favoritnya, begitupun dengan berenang—tampilan tubuh Galeo tak terlihat berlebihan dan sekarangpun terlihat sangat menakjubkan.
“Selamat tidur, Suami.” Bisik Nada tepat di depan wajah Galeo kemudian ia menutup matanya juga tanpa Nada tahu Galeo tersenyum dalam tidurnya
ΩΩΩ