“Saya terima nikahnya dan kawinnya Nada Kaleena Binti Bachtiar Farris dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai.” Suara lantang Galeo memenuhi ruangan tersebut
Nada meneteskan air matanya tepat seusai Galeo mengucap kalimat sakral, sah sudah Nada menjadi istri dari laki-laki dari masalalunya, cinta pertamanya. Hari ini seperti mimpi untuk Nada namun segera tersadarkan oleh permintaan penghulu untuk menandatangani beberapa berkas.
Telapak tangan besar itu terulur padanya, maksud Galeo adalah membantu Nada untuk berdiri guna memasang cincin pengantin. Nada mengulurkan tangannya, buliran air mata halus masih tersisa.
Selesai keduanya saling memasangkan cincin dijari mereka masing-masing, Nada membawa tangan besar Galeo untuk ia cium sebagai tanda baktinya pada suaminya, begitupun dengan Galeo ia juga mencium kening Nada kemudian dengan nada lirih Galeo membacakan doa pengantin, setelahnya ia kembali mencium kelopak mata Nada yang tadi menangis terharu, sebagai tanda tak akan Galeo beri kesedihan yang membuat air mat istrinya mengalir.
“Cihuyyyyy—“ sorak para tamu dan beberapa teman Galeo
“Nanti aja kalo lama-lamanya,” Celetuk Bachtiar “dasar anak muda—“
ΩΩΩ
Selesai acara ijab qobul dan beberapa foto singkat, Nada kembali ke kamar untuk kembali berhias, mengganti gaunnya, gaun pengantin yang ia desain sendiri khusus pernikahannya ini. Orang-orang makeup membantu Nada untuk membenahkan penampilannya.
Acara resepsi Nada dan Galeo di konsep sesederhana mungkin hanya untuk keluarga inti pun juga para kerabat serta sahabat kedua pemelai. Selesai berhias dan kembali menjadi bak ratu, Bachtiar menjemput sang putri untuk di ajaknya bertemu dengan sang suami yang sudah menunggu.
“Sudah siap?” tanya Bachtiar sembari memberikan buket bunga untuk Nada
“Sudah, Pa.” Mantap Nada dengan senyum bahagia menghiasi
Lagu pengiring terdengar indah menandakan menyambut pengantin wanita, di depan Nada dan Bachtiar Gia dan juga Javier mengiringi perjalanan mereka dengan menghujani bunga-bunga indah. Sahabat Nada itu juga tak ingin ketinggalan.
Di depan sana sudah ada Galeo dan juga Aira—putri Nada dan juga Galeo, gading kecil itu terlihat semakin imut menggunakan gaun mungil, terlihat anteng di gendongan sang Ayah.
Sungguh Galeo kembali di buat terpana dengan tampilan Nada, semenjak ia dan Nada mengurus pernikahan mereka, ia tak di perkenankan mengikut campuri urusan gaun pengantin mereka.
“Mingkem kenapa, Le!” celetuk Sean di sisi kiri Galeo melihat sahabatnya melongo bak manusia linglung
“Hah?”
“Jangan ngelamun.” desis Raja
Segera Galeo tersadarkan dengan keadan, ia tak boleh terlarut terpana dengan tampilan Nada yang sayangnya memang sudah sah untuk ia tatap. Galeo mengalihkan tatapnya pada gadis kecilnya itu yang nyaman nyenyak tidur pada gendongannya.
Nada dan Bachtiar sudah tiba tepat di depan Galeo, disinilah saatnya untuk kedua kalinya Bachtiar menyerahkan putrinya pada suaminya.
“Galeo, Papa berikan tanggung jawab untuk membahagiakan Nada, jaga Nada, Papa beri restu untuk kalian dan hiduplah dengan bahagia kalian. Papa serahkan Nada serta tanggung jawab Papa padamu.” Ujar Bachtiar dengan memberikan tangan sang putri pada Galeo
Galeo mengulurkan tangan bebasnya untuk meraih erat telapak tangan Nada, sekarang ia adalh suami Nada, orang yang mengambil tugas untuk membahagiakannya, bertanggung jawab apapun atasnya.
“Terima kasih Papa, sudah memberi kami atas ijin restu untuk kami,” balas Galeo
ΩΩΩ
Acara selanjutnya adalah hal dimana Galeo akan menyampaikan beberapa hal pesan singkatnya untuk istri keduanya itu begitupu juga Nada nanti ia juga akan memberikan beberapa kata untuk suaminya. Aira masih tetap berada di antar Nada dan juga Galeo yang masih tetap nyaman dalam gendongan satu tangan Galeo.
Galeo ingin Aira mendengar sebuah kata perkata untuk Bundanya ini, ibu yang akan merawat Aira, yang akan menyayangi anaknya, Galeo yakin itu bahwa Nada—istrinya akan sesayang itu pada Aira kelak meski akan ada anak di antara mereka nanti.
“Nada Kaleen Pradipa, sekarang kamu menyandang nama marga besarku, istriku—Nada terima kasih sudah hadir di dunia meski kita di pertemukan dengan keadaan mendadak setelah peristiwa paling menyakitkan yang pernah aku alami dan juga semua orang terdekat kita. Hari ini kamu resmi menjadi istri dan juga ibu untuk Aira—bayi mungil yang ada di dekapku ini. Nada...aku tak ingin hanya menjanjikan sebuah hal bahagia hidup denganku mungkin suatu saat nanti akan ada perilakuku yang tak aku sengaja membuatmu bersedih dan meneteskan air mata, namun aku ingin mengusahakan sebuah hal agar sebisa mungkin tak akan ada air mata yang mengalir di wajahmu dengan membuatmu selalu tersenyum bahagia menjalani hubungan pernikahan ini.” Pesan Galeo menatap penuh Nada
“...serta aku Galeo Pamungkas Pradipa, mengambil kamu dari tanggung jawab Ayahmu untukku ambil tanggung jawabnya dengan segala hal di hidupmu, Nada terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu, meski aku masih banyak kekurangan sebagai manusia—mari kita lewati bersama biduk bahagia rumah tangga kita..” akhir kata Galeo kemudian memajukan badannya untuk mengucup kening Nada meski ia harus jujur tak ada getaran dalam perasaannya—mungkin belum bukan tak bisa dan suara riuh tepuk tangan mengiringi tindakan romantis Galeo
ΩΩΩ
Kini giliran Nada yang menyampaikan kalimat ucapan seperti Galeo, meski segala tindakan Galeo hari ini membuat sadar Nada untuk tak banyak berharap dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Dari sorot matanya pun Nada tahu bahwa Galeo tak memiliki perasaan apapun padanya pernikahan ini murni karena timbal balik—Galeo menganggapnya timbal balik namun untuk Nada adalah pernikahan ini sebagai wasiat dari sang adik yang harus ia lakukan.
Untuk kali ini Nada memberanikan diri untuk membuka aibnya—membuka rahasia terpendamnya selama ini, meski tak akan ada respon membara dari laki-laki di depannya itu, bagian ini akan menjadi hal dimana Nada mengakui segalanya.
“untuk suamiku Galeo Pamungkas Pradipa, aku ingin menyampaikan beberapa hal yang tak semua orang tahu rahasia ku ini. Di kesempatan ini aku ingin mengatakan yang sebenarnya...” Nada menatap tepat di mata Galeo
“Sebelum aku mengatakan rahasia terbesarku, aku ingin berterima kasih pada kedua orangtuaku dan juga kedua mertuaku—terima kasih sudah memberi kami sebuah restu yang mungkin awalnya terlalu berat namun akhirnya kami mengantongi restu kalian. Untuk orangtuaku—Mama dan Papa Nada berterima sudah mau merawat Nada hingga sekarang, kasih sayang kalian yang terbagi rata untuk kami bertiga...” kata Nada penuh dengan mimik terharu
“Dan untuk suamiku, di kesempatan ini aku ingin memberitahumu sesuatu hal yang tak pernah aku bagi siapapun kecuali Tuhan yang tahu rahasiaku ini—kamu adalah cinta pertamaku semenjak aku menginjakkan kaki di sekolah menengah kala itu, aku jatuh cinta untuk pertama kali pada laki-laki yang tertarik dengan adikku dan bodohnya lagi aku begitu mencintaimu hingga sesak pelan-pelan membunuhku namun sesak itu yang mampu membuatku tetap berdiri dan kuat..” Nada terisak pelan dengan masih menatap Galeo yang mimik mukanya sudah berganti terkejut
“...singkat cerita, aku memberanikan diri untuk pulang ke Indonesia berharap segala hal yang ku bawa pergi sudah pergi namun nyatanya Tuhan masih ingin menguji—perasaanku masih tetap sama, cinta ini masih atas nama Galeo, debar ini masih atas Galeo hingga aku duduk di sebalahmu tadi saat kamu mengucapkan kalimat sakral dengan suara lantang aku masih tetap tak percaya bahwa takdir Tuhan sungguh luar biasa nikmat tiada ku sangka..”
“..untuk setelah mengakuanku ini—yang melesat dari yang aku tulis di kertas pesan kesan ini, tolong tetap menjadi Galeo biasanya, Galeo yang aku kenal, Galeo suamiku....terima kasih, Galeo pamungkas Pradipa...” tangis luruh Nada setelah mengucapkan apa yang manjadi rahasianya
Dan suara riuh tepuk tangan dan juga tatapan haru pada para tamu setelah mendengar apa yang disampaikan Nada dengan perasaan dalam, Mila pun sebagai ibunya tak tahu betapa putrinya menyimpan lara sendiri, ingatkan dia untuk memeluk putrinya sembari mengucapkan kata maaf.
“Maaf, aku selama ini buta, Nada—“ Lirih Galeo saat memeluk Nada
ΩΩΩ
Acara resepsi Nada dan Galeo berjalan dengan lancar dan diiringi dengan sorak-sorai mengelagar oleh para tamu, apalagi saat Galeo mencium kening Nada dengan mesra dan pelukan hangat dari Galeo.
setelahnya acara berbalas pesan satu sama lain, pengantin istimewa itu kembali berbaur dengan para tamu-tamu mereka, hari itu semua terlihat bahagia begitupun dari kedua orangtua Nada dan Galeo. Rencana pernikahan yang awalnya salin menolak karena gengsi mereka, akhirnya mereka bisa saling mengikat janji suci di hadapan Tuhan.
“Cieee—yang udah jadi suami-istri..” sorak sorai para teman Nada dan Galeo
“Apaan sih, norak!” malu Galeo yang mendapat sorak oleh teman-temannya
“Nanti malam lo tidur udah bukan meluk guling lagi, Le—ada guling hidup bahkan di apa-apain juga respon.” celetuk Raja meledek jahil
“Nah iya—beda sama kita-kita yang masih bobok sendiri,” Jeremie
“Lo aja kali gue kagak!” sergah Sean cepat yang melirih cuek Jeremie
“Ailahh—dia udah nikah bro—“
“Oh sorry bentar lagi gue bakal nyusul Galeo kok, gays,” ujar Javier dengan mimik wajah tengil
“Kaya Gia mau aja—Gia lo mau sama dokter gila?”
“Kayaknya aku mau mikir-mikir dulu deh, kak.” Balas Gia dengan pura-pura tak mau
“Hahahahahahahaha—rasain makanya jangan tengil!” Jeremie menertawakan Javier
“Gue tinggal dulu sama Nada mau nyapa tamu yang lain, enjoy guys.” pamit Galeo dengan mengiring Nada
“Lo bawa kekamar juga gue ikhlas kok, Le.” celetuk Javier yang mendapat jitakan maut Galeo
ΩΩΩ
Selesai acara pernikahan Nada dan Galeo sudah kembali ke rumah orangtua Nada. Nada sengaja tak menyewa kamar hotel yang dimana tamannya tadi ia jadikan tempat pesta resepsi pernikahan mereka, mengingat mereka sudah ada Aira di antara mereka, ia tak bisa meninggalkan Aira begitu saja. Biarkan saudara Galeo yang menyewa kamar hotelnya, sedangkan kerabat serta keluarga Nada ada yang pulang ke rumah masing-masing, dan untuk keluarga jauh Nada masih ada beberapa kamar yang kosong untuk di isi dengan keluarga jauh Nada.
Sekembalinya dari acara resepsi, Nada dengan di bantu Gia untuk melepaskan beberapa aksesoris di rambutnya serta gaun panjang nan beratnya. Meminta bantuan Galeo bukanlah hal yang cukup baik untuk Nada lakukan, bahkan membayangkan malam ini akan mereka habiskan dengan malam panjang rasanya tak akan mungkin menyadari hubungan Nada dan Galeo hanya untuk menjadi orangtua untuk Aira.
“Bengong mulu lo, awas nanti kesambet sama sapi ompong!” Gia mengejutkan Nada
“Apaan sih, ngaco!”
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa,” balas Nada dengan wajah polos
“Cerita—eh btw gimana udah ngaku sama love at first sight lo—lega kan ya pasti.”
“Mau pingsan lo tahu! Gue malah mau ngaku—tapi ya udah sih udah nyemplung sekalian basah aja.”
“Yang lo lakuin udah bener kok, ngaku jangan di pendem makin lo pendem makin jadi penyakit, mau dia bales pengakuan lo apa kagak itu sudah jadi hak dia, Nad.” Terang Gia meyakinkan Nada
“Ya gue emang mikir gitu, cuman gue takut abis ini Galeo makin aneh aja liat gue—emang gue SMA aneh ya?” tanya Nada
“Enggak sih—cuman lebih ke diam dan mau aja lo di bully Marsha and the bear itu—ih gue kesel sama dia tahu, syukurin sekarang dia udah jadi janda, kelakuan kaya anak dakjal!” kesal Gia melampiaskan cerita ketika mereka saat SMA
“Husshh! Lo mah kalo ngomong suka asal japlak aja,”
“Ya abis itu rubah atu tinggal idup aja, bikin ribet.” Omel Gia yang masih berlanjut
“Ya udah sih, Gi—“
“Lo udah beli yang gue suruh kan Nad?” potong Gia saat Nada masih ingin bicara
“Hah! Eh anu—mmm”
“Nadaa!”
ΩΩΩ
Hari pertama menjadi seorang istri, sekarang lebel Nada adalah Nada istri kedua Galeo Kaleena, dan juga jangan lupakan ia berstatus ibu dari bayi mungil Aira Zahra Pradipa. Ah—mengingat Aira sedari tadi ia belum menggendong putri kecilnya itu, yang mendadak menjadi seleb yang di perebutkan banyak orang sangking menggemaskan bayi munggil yang berusia tiga bulan itu.
Nada mengalihkan netranya dan tanganya saat ia menyiapkan pakaian untuk Aira, ia melihat sahabatnya—Gia masuk kedalam kamarnya dengan tergesa sembari menenteng dua tas di tangannya, kerutan heran Nada tampilakan untuk sahabatnya.
“Ada apaan? Kaya di kejar setan aja lo?” tanya Nada yang kembali fokus pada baju-baju Aira
“Gue abis ambil ini—gue lupa nggak ganti tasnya dengan tas lain.” Gia menunjukkan nama brand yang terteras pada tas jinjing itu
Nada melongo melihatnya—melihat apa yang ada pada tangan kanan-kiri Gia. “Lo gila!”
“Sumpah—gue buru-buru tadi, gue nyiapin ini buat lo karena gue tahu lo nggak akan mau beli ini barang, makanya gue berbaik hati membelikan lo baju ini.” Kata Gia dengan wajah tanpa dosa
“Sumpah! Sumpah Gia lo berdosa sekali,” ujar Nada lantang
“Sekarang lo coba dulu, biar lo tahu nanti gimana cara pakenya,”
“Nggak mau!”
“Harus mau!” paksa Gia
“Gia—gue malu.”
“Kan ada gue, buruan.”
Gia adalah pemaksa yang tak bisa Nada tolak, akhirnya Nada menuruti kemauan Gia yang memintanya untuk menyoba beberapa baju haram versi Nada itu.
Namun saat keduany asik menyoba baju haram itu, sebuah ketukan pintu membuat fokus mereka teralihkan, Nada dan Gia sama-sama menatap satu sama lain, menyadari bahwa yang mengetuk adalah Galeo—suami Nada.
“Mampus Giaa!!” erang kesal Nada
“Nada—kamu masih didalam?” tanya Galeo dari luar kamar
“Ma—masih Bang—lagi ganti baju sebentar.” Teriak Nada
“Dari tadi ngapain?”
“Gosip, Kak Galeo—“ Gia memawakili menjawab Galeo
“Oh—ya sudah.”
Mendengar suara balasan Galeo percaya apa yang mereka lakukan, lantas Nada dan Galeo tertawa membahana, terlihat puas dengan jawaban mereka dan terlihat konyol, memang.
ΩΩΩ