BAB 4 : KEPUTUSAN NADA

938 Words
“Mas Mahendra...” panggil Nada Mahendra tersenyum ke arah Nada dengan wajah sumringah, bertemu kekasih siapa yang tidak bahagia dan senang, apalagi Mahendra bukannya orang yang bisa kapan saja punya waktu lenggang pekerjaannya sebagai kontraktor proyek membuatnya jarang bertemu dengan Nada. Dan sekarang hatinya begitu bungah bertemu dengan sang kekasih hati, seminggu ini mereka tak bertemu hanya bertukar via chitchat. Nadapun mengerti keadaan Mahendra yang tak bisa setiap hari bisa bertemu namun demikian perhatian laki-laki itu tak pernah absen barang sekalipun. “Sudah lama, Nad?” “Baru sepuluh menit sih, Mas.” Jawab Nada dengan suara santai “Katamu kamu mau ngomong sesuatu? Mau ngomongin apa sayang?” tanya Mahendra dengan perhatian penuh “Iya Aku mau ngomong serius dan penting, Mas.” Balas Nada yang menatap Mahendra “Ya sudah ayo ngomong, mau nunggu apa, Nad.” “Apa engga lebih baik Mas pesen minum dulu? Mas belum makan kan pasti?” Nada mengulur waktu “Mas sudah makan tadi Nad sama temen-temen, maaf enggak makan siang bareng kamu.” “Enggak masalah kok, Mas.” “Jadi mau ngmongin apa, sayang?” Mahendra tak sabar dengan yang akan dibicarakan Nada padanya “A—aku mau mengakhiri hubungan ini, Mas—maaf.” Ucap Nada dengan suara lirih “Kamu jangan becanda ah Nad, April mob kan udah selesai bercanda mulu kamu ini.” Kikik Mahendra menanggapi Nada “Aku serius, Mas!” tegas Nada lagi “Ada apa sebenarnya? Aku ada lakuin kesalahan? Atau apa Nada.” Mahendra mulai menanggapi serius. “Kamu tahu kan, kita juga sepakat mau memperjelas hubungan kita ke jenjang yang lebih serius.” “Aku tahu, tapi aku sudah enggak bisa melanjutkan ini Mas—maaf aku mengecewakanmu.” “Karena apa Nada?!” “Aku akan menikah dengan Bang Galeo.” jujur Nada “Bahh!! Lelucon apalagi ini, Nada!” marah Mahendra “Kamu lebih milih nikah sama suami adikmu daripada melanjutkan hubungan kita—aku enggak habis pikir Nada. Pikiran kamu dimana, hah!” kalut Mahendra “Tolong ngertiin aku, Mas. Aku ingin mengabul keinginan orangtuaku.” “Enggak masuk akal—bangun, dan ikut aku.” “Kemana?” “Berdiri Nada.” teriak Mahendra tanpa memperdulikan sekitar kemudian menarik tangan Nada dengan kasar “Masss—lepass!!” “Bisa lepasin tangan dia, bro?” ΩΩΩ Galeo niatnya ingin makan siang sebelum ia kembali ke rumah mertuanya untuk melihat putri kecilnya, wajah cantiknya membuatnya tak bisa lama-lama meninggalkannya. Kali ini ia memilih caffe terdekat di area rumah mertuanya agar setelah ia selesai makan siang ia segera bisa pulang dan bertemu dengan sang buah hati. Namun sesaat ia baru saja turun dari mobil, ia mendengar seseorang berteriak meminta untuk di lepaskan dan—Galeo mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia melangkah lebih maju dan benar saja ia melihat Nada yang ditarik paksa oleh seorang laki-laki yang Galeo tahu dia adalah Mahendra kekasih Nada. Segera Galeo mendekat dan segera menolong Nada. “Bisa lepasin tangan dia, Bro?” pinta Galeo “kenapa? Nada pacar saya—saya bebas membawa dia kemanapun, apa urusanmu?” tantang Mahendra Nada sudah terisak diantar dua laki-laki yang ia tahu sama-sama kuatnya itu, ingin sekali Nada segera menyuruh Mahendra pergi tapi tak mungkin karena Mahendra tak begitu saja akan melepasnya. “Nada calon istri saya—apapun yang menyangkut dia juga menjadi urusan saya, bukan urusan anda!” “Sekarang gadis ini, bisa anda ambil sekarang tapi saya tidak akan diam saja untuk enggak kembali nanti.” Mahendra mendorong Nada kasar ke arah Galeo “Sialaan!” geram Galeo “Udah Bang—pergilah Mas Mahendra—ak-aku melepasmu.” Lirih Nada dengan menatap Mahendra dengan tatapan terluka “Dasar munafik, cih!’ ΩΩΩ Nada dan Galeo saling sama-sama mengunci bibir setelah kejadian memalukan tadi Nada masih larut dalam kepedihan, ia kira—ia bisa mengakhiri hubungannya dengan Mahendra secara baik-baik namun ia salah—di balik sikap halusnya Mahendra padanya ia menyimpan sikap kasar. “Sudah, hapus air matamu—Abang antar pulang.” “Sebelum Abang antar Nada pulang, bisa kita bicara berdua dulu?” pinta Nada dengan masih terisak “Disini?” Nada menggeleng.”Di lain tempat—“ yang kemudian di angguki oleh Galeo Keputusannya yang sudah matang-matang Nada pikirkan harus segera ia utarakan, ia takut bila ia masih menyimpan hal ini hatinya kembali ragu. Bila bisa lebih cepat lebih baik, sungguh terasa sesak Nada merasakan ini semua. Galeo menghentikan mobilnya, Galeo menghentikan mobilnya itu di sebuah taman kompleks yang terlihat senggang itu. Galeo melepaskan seltbeltnya agar bisa bebas mendengarkan Nada yang ingin berbicara dengannya tak lupa Galeo membuka kaca mobilnya. “Jadi mau ngomongin apa?” to the point Galeo “Aku menyetujui rencana pernikahan antara Abang dan Aku.” Ujar Nada cepat tak ingin lama-lama “Ap—apa?!” kaget Galeo yang langsung menatap Nada “Bukannya kamu sudah menolak waktu itu? Ada apa Nada, kenapa?” “Aku terlalu egois bila tak memikirkan orangtuaku—apa salah kalo aku ingin membuat orangtua bahagia dengan cara menyetujui ulang rencana pernikahan ini.” “Ini pasti ada sesuatu kan? Katakan.” Tegas Galeo “Aku ingin mempertahankan Aira agar bisa disisi mereka—aku enggak bisa egois Abang, tolong.” “Aku nggak bisa, Nada.” Tolak Galeo cepat “Bang, tolong. Aku mengambil keputusan ini juga nggak main-main, aku bertekad kalo ini bisa membuat Mama berhenti menangis tiap malam akan aku lakukan apapun itu resikonya.” “Ini konyol Nada, kamu tahukan resikonya apa kalo kamu tetap kekeuh dengan pernikahan ini.” Galeo menatap tajam pada Nada Nada mengangguk. “Aku tahu—resiko Abang yang tak bisa sepenuhnya menerimaku sebagai istri abang—dan mencintaiku sebagai istrimu.” Jelas Nada “Namun yang aku pentingkan disini adalah Aira—dia cucu pertama Mama dan Papa, Abang.” “Sudah diam—aku antar pulang.” “Nggak! Ini harus segera selesai—disini sesak Abang—tolong menegerti.” Isak Nada menghiasi mobil Galeo “Nada!” “Ayo kita ngomong sama Mama dan Papa—“ Mohon Nada dengan harga diri yang sudah anjlok Dengan perasaan campur aduk Galeo segera menginjak pedal mobilnya, pembicaraan ini sungguh konyol untuknya,  tapi sangat berharga untuk Nada. Keputusannya sudah tekad tinggal keputusan laki-laki disampingnya ini yang masih menampilkan mimik kesal. ΩΩΩ “Kalo Abang masih memiliki hati nurani terhadap Mama dan Papa, aku mohon untuk ikut turun dari mobil ini dan kita bicara dengan cara dewasa.” ujar Nada dengan suara tegas “Nada—ini aneh, tolong.” “Dan aku juga minta tolong sekali ini,” pinta Nada lagi “Lohh—kok nggak masuk? Kenapa masih di mobil?” sapa Mila pada Nada dan Galeo “Ma, Papa ada?” “Ada, ada apa sih?” tanya Mila ingin tahu “Aku ada urusan dengan kalian berdua—Mama, Nada minta tolong buat panggilin Papa biar Nada yang narik Abang Galeo masuk.” “Eh—iya iya sebentar!” ΩΩΩ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD