BAB 3 : BICARA

949 Words
diam setelah mendapat Nada menolak rencana mereka untuk menyatukan Nada dan juga Galeo. Bahkan ia juga memikirkan soal hubungannya dengan Mahendra, tak mungkin ia akhiri begitu saja bahkan laki-laki itu yang mampu membuat Nada sembuh oleh luka lara dan kecewanya. Sudah tiga hari ini Nada mulai terlihat kasihan dengan yang dikatakan orangtuanya bahwa Aira—putri kecil Nadi dan Galeo—akan di bawa pergi oleh Galeo, mengingat bila Galeo tetap bertahan disini ia semakin teringat dengan mendiang sang istri namun Mila dengan segala kemampuan membujuk Galeo untuk bertahan sementara disini hingga Aira benar-benar sudah siap dibawa pergi. Hati Nada semakin teriris sedih melihat sang Mama menangis tergugu sembari menimang Aira dalam gendongannya selagi ia menyenandungkan nyanyian penghantar tidur favoritnya ia dan Nadi saat tak bisa tidur, rasanya saat itu Nadi ingin merengkuh tubuh Mamanya dan mengatakan bahwa keadaan akan baik-baik saja san Aira akan tetap berada bersamanya. Beban ini terlalu berat untuk Nada, ini juga menyangkut kebahagiaan kedua orangtuanya yang sudah dengan suka rela mengasuhnya dengan penuh kasih sayang, apa ia akan tega menjadi manusia paling egois? Menatap sang Mama selalu meneteskan air mata. Hal apa yang harus ia lakukan untuk membuat keadaan kembali membaik? Apa ia harus menarik kata-kata penolakaannya kala itu? Mengikhlaskan kegagalan pernikahannya dengan Mahendra dan memilih menikah dengan Galeo? Nada merenung, menangis kenapa keadaan seakan runyam. Hingga akhirnya Nada memilih sebuah keputusan, bahkan ia tahu keputusan ini akan membuat kedua belah pihak tersakiti. Nada sudah tekad dengan keputusannya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan beranjak ke arah ruang kerja sang Papa, berbicara sedikit tentang rencananya pada sang Ayah mungkin mampu membuatnya sedikit—lega. ΩΩΩ Sebelum Nada mengetuk pintu kerja sang Ayah dalam rungunya Nada mendengar sang Ayah tak hanya sendiri di ruang kerjanya. Ia mampu mendengar suara berat Galeo meski samar ia dengar tapi ia yakin bahwa di dalam sana keduanya sedang terlibat pembicaraan serius. Galeo adalah tipe manusia yang tak bisa menolak keinginan Bachtiar, maka apapun permintaan Bachtiar akan Galeo lakukan, lantas kenapa Aira akan ia bawa pergi bila ia terlalu menghormati Bactiar? Nada kesal dengan kenyataan itu. Nada memutuskan untuk menunggu sang Papa dan juga seseorang yang berada di ruang kerja sang Ayah. Ini keputusan yang besar bagi Nada maka ia uga butuh saran dari sang Papa yang menurut Nada—Bachtiar yang selalu bisa mengerti maksud dan keinginan Nada dibanding dengan sang Mama. Lima belas berlalu, Nada akhirnya yang di tunggu selesai juga dan benar saja yang keluar dari ruang kerja Bachtiar adalah Galeo. Galeo tanpa sadar keberadaan Nada di sekitarnya segera berlalu entah kemana. Nada mengetuk ruang kerja Bachtiar dan tak lama permintaan masuk terdengar dan tanpa menunggu lama Nada segera masuk, Bachtiar menyambut denngan senyum anak perempuan kesayangannya itu. “Ada apa, Nad?” tanya Bachtiar “Nada mau ngomong sama Papa, Nada harap Papa mengerti dan memberi saran apa yang akan Nada sampaikan. Karena Nada tahu Papa adalah ayah paling mengerti keinginan Nada meskipun Mama tak pernah mengerti tentang keinginan dan maksud Nada.” “Bicaralah, Nak. Papa dengarkan.” bijak Bachtiar Inilah kenapa Nada terlalu mengistimewakan sang Papa, Bachtiar selalu memberikan kesempatan berbicara dan menanggapi dengan bijak, berbeda dengan Mila yang selalu meledak-ledak kala menyampaikan sesuatu seperti hal kala waktu itu saat dimana Nada mengatakan tentang ia menolak pernikahannya dengan Galeo. ΩΩΩ “Pa, Nada menerima pernikahan itu—“ ujar Nada dengan jawaban ragu “Yang jelas Nada!” tegas Bachtiar “Setuju atau menolak?” “Nada setuju, Pa.” “Kenapa?  Bukannya waktu itu kamu menolak?” tanya Bachtiar meminta penjelasan “Pa, Nada enggak tega sama Mama—Mama benar Aira adalah cucu pertama kalian, pada kenyataannya kalian ingin dekat dengan cucu kalian apalagi Aira yang—baru saja kehilangan Mamanya sedangkan disini masih ada aku—tantenya yang bisa merawatnya kenapa tidak aku menahannya, Nada dengar Bang Galeo mau bawa Aira pergi.” Jelas Nada “Apalagi Nada menyadari kalian tak begitu menuntut Nada harus ini dan itu, bukankah ini bakti seorang anak pada orangtuanya, Pa?” “Begini Nada, yang kamu katakan memang benar adanya—Papa dan Mama sebagai orangtua kamu membebaskanmu memilih apa yang kamu mau tapi kalo pilihanmu kali ini membuat hatimu ragu tolong jangan di teruskan sayang, yang sakit bukan hanya kamu orangtua mu ini juga akan sedih melihat putri kesayangannya tersiksa—bukannya bahagia tapi malah tersiksa.” Bachtiar menjawab “Pa, insyAllah Nada ikhlas lahir dan batin.” Nada menatap mata Bachtiar memancar kesungguhannya “A—aku ingin membuat Papa dan Mama bahagia ini yang mau Nada lakukan untuk kalian.” Bachtiar tersenyum dengan jawaban sang putri. “Nad, menikah itu bukan untuk main-main , menikah itu bukan seperti pacaran yang kalo sudah bosan terus putus, bukan Nada. Menikah itu harus dari sini—hatimu, sudahkah ikhlas menjalin kehidupan baru yang akan dua puluh empat jam kalian jalin—sampai nanti umur kalian usai, Karena Papa masih menangkap nada ragu dalam ucapanmu.” Petuah Bachtiar “Lalu Nada harus bagaimana, Pa?” “Tanyakan pada hati kecilmu, pergi sholat minta petunjuk pada yang kuasa, Nak.” Nada mengangguk, mungkin ada benarnya juga apa yang Bachtiar ungkapkan tadi, dalam hatinya ia memang masih terasa ragu maka dari itu ia membutuhkan lawan bicara seperti Bachtiar. ΩΩΩ Sudah sepekan semenjak pembicaraannya dengan Bactiar berlalu, Nada sepertinya menemukan titik terang yang mungkin ini dimaksudkan oleh sang Papa kala itu. Sudah beberapa hari ini ia mendapati sebuah mimpi—berbentuk sebuah cahaya yang begitu menyilaukan namun ia bisa mendengar suara adiknya disana Nada hanya bisa menangkap suara tak begitu jelas yang kemudian ia kembali mendapat mimpi yang berulang kali menampilkan wajah Galeo sedang tersenyum dengannya. Tak ingin gegabah mengambil kesimpulan berikut, ia harus memastikan kembali. Ini adalah pilihan sulit dalam hidupnya memilih dua hal menyakiti dan membuat kedua orangtuanya bahagia. Lantas hal apa yang akan Nada ambil, jawabannya ada dalam hati kecil Nada. Sebuah keputusan besar yang penuh dengan resiko. Akhirnya sebuah tekad dan ia menuruti hati kecilnya, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya—meskipun hubungannya dengan Mahendra terlihat baik-baik saja dan semakin mesra dalam ikatan pacarannya. Nada duduk diam dalam sisi kafe yang menjadi pilihannya bertemu dengan Mahendra, ia akan menyampaikan keputusan besar. Pilihan mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalin selama dua tahun itu. “Mas Mahendra...” ΩΩΩ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD