BAB 2 : PENOLAKAN

1471 Words
Galeo menatap orang-orang yang berada di ruang tamu luas itu, orangtuanya ikut ada. Galeo merasa kecewa, baru saja ia kehilangan sang istri yang ia cintai keluarga istrinya dan orangtuanya sudah bingung membicarakan tentang masa depan Aira bahkan mereka tak memikirkan perasaannya sedikitpun. Bahkan yang membuat ia melotot adalah nama Nada yang disebut dalam pembicaraan mereka saat ini, sebenarnya rencana apa yang mereka bicarakan. Nada adalah saudara kembar Nadi—istri Galeo yang memilih mengakhiri perjuangannya setelah melahirkan putri kecil mereka. Sedangkan Nada juga menatap nanar ide dari orangtuanya. Ini rencana gila yang pernah Nada dengar. Nada tahu keluarganya baru saja kehilangan Nadi tapi tidak harus dirinya yang menjadi pengganti Nadi untuk ibu bagi Aira. Ia bisa tetap mengasuh Aira tanpa menjadi istri dari Galeo. Pandangan Nada menuju Galeo yang mimik wajahnya sudah menunjukkan kebosanan dan keengganan mendengar kata perkata yang diluncurkan dari mulut para orangtua mereka. Nada meremas erat tangannya, ia bahkan tak ikhlas dengan rencana konyol mereka, Nada memiliki kekasih bahkan dipenghujung tahun ini ia dan Mahendra—Kekasih Nada akan meresmikan hubungan mereka secara sah namun kenyataan menghatam cita-cita Nada yang ingin segera menikah dengan Mahendra. “Gimana Nada, kamu setuju dengan rencana kami?” Nada menatap kedua orangtuanya penuh dengan tatapan belum bisa menentukan pilihan. “Nada, apa keputusanmu, Nak?” Tanya Bilqis—ibu Galeo “Tante, maaf sepertinya Nada belum bisa memberikan jawaban sekarang.” Terang Nada serat penolakan “Ya sudah tidak apa-apa, kami bisa menunggu jawaban setujumu—tolong Nada pertimbangkan keinginan kami.” Bilqis menerima keputusan Nada Diskusi itu belum sepenuhnya selesai namun Galeo memilih untuk pergi dari ruang keluarga itu, ruangannya itu hanya menambah sesak didadanya. Demi Tuhan Galeo masih berduka atas meninggalnya Nadi secepat itu bahkan tanah pemakaman Nadi belum kering namun keluarganya dengan jahat membicarakan kesediaan Nada untuk menjadi ibu dan istri pengganti Nadi untuk Galeo. Ini berat untuknya, seakan semua orang tak mengerti tentang kesedihan hatinya, bagaimana setelah ini, kehidupan Galeo akan terasa berantakkan. Keinginan menggebu-gebu orangtuanya dan menikahi Nada—sama saja ia mengkhianati mendiang istrinya, ia belum sanggup. ΩΩΩ Nada menatap bayi cantik yang berada di gendongannya itu, mencium keningnya dengan lembut, mengelus kepala kecil itu penuh dengan kasih sayang, berharap elusan tangannya mampu membuat hangat bayi munggil itu meski ia bukan ibu kandungnya namun ia dan ibu kandung si bayi munggil itu memiliki keterikatan perasaan yang mendalam. Tangisan Nada luruh, mengingat kebersamaannya dengan adik kembarnya—Nadi saat berusaha dan berjuang melahirkan si kecil cantik ini penuh dengan nafas yang tersenggal dan mengusahakan untuk tetap kuat, namun takdir Tuhan memisahkannya begitu cepat sesaat setelah Nadi mencium kening bayinya yang baru saja ia lahirkan. “Tumbuh jadi anak yang sholehah ya Nak, meski Mamamu sudah berada jauh disana ia masih bisa melihatmu, tumbuh sehat dan jadi anak yang bahagia ya kelak.” Ujar lirih Nada masih dengan air mata yang meluruh Sekarang bayi kecil yang belum memiliki nama ini menjadi pengobat lara Nada dan juga keluarganya, menjadi cahaya bagi Ayahnya dan semua keluarganya. Meski sebuah kenyataan baru saja menghatam dengan kejam ia masih memiliki satu cahaya hidup peninggalan Nadi. ΩΩΩ Nada baru saja selesai membersihkan diri setelah aktivitas bekerjanya membuatnya lelah, menjadi seorang guru Taman Kanak-Kanak juga bukan hal yang mudah, bahkan semenjak bayi mungil itu resmi dibawa pulang setiap malam ketika si kecil bangun ia yang selalu terjaga dari tidurnya, memaksa tubuhnya untuk bangun dan segera menggendong si kecil bahkan ia sukses memiliki mata panda dan lingkaran mata yang menghitam namun ia tak mempermasalahkan semuanya, yang terpenting ia melakukan untuk si kecil cantik itu. Nada memandang kagum dengan kecantikan si kecil, belum sempat ia menggenakan baju gantinya karena memandangi si kecil tidur adalah kegiatan menyenangkan untuk Nada. Hingga suara ketukan pintu membuat Nada mengalihkan pandangannya pada si makhluk kecil itu. Dan membuat gerakkan melangkah ke almari untuk mengambil baju namun si pengetuk pintu sepertinya tak sabaran dan sudah masuk kedalam kamar Nada. “Nada.” “Mama? Kenapa?” “Baru selesai mandi?” “Iya Ma, ada apa?” jawab Nada “Mama mau ngomong, bisa?” “Masalah yang kemarin ya,Ma.” “Kamu udah mikirin keputusanmu,” Tanya sang Mama lagi “Ma, Bukan Nada mau egois hanya saja Mama tahukan Nada sama Mahendra juga lagi mau ngerencanain pernikahan aku sama dia.” Jelas Nada dengan kehati-hatian “Mama tahu, kamu dan Mahendra menginginkan pernikahan tapi apa kamu tak ingin menolong Mama dan Papa?” Mila masih tetap kekeuh “Bayi Nadi adalah cucu Mama dan Papa satu-satunya yang pertama Nada, tolong Mama dan Papa—“ “Kenapa harus Nada? Bahkan Bang Galeo enggan untuk melakukan rencana gila ini Mama!” Kesal Nada “Karena Galeo akan bawa bayinya jauh dari kita Nada!” Bentak Mila dengan rasa putus asa “Ap—Apa?!” “Tolong  Mama dan Papa, Nada kamu satu-satunya yang bisa bantu kami.” Mila dengan suara memohon Dari sekian Nada menjadi anak Mila dan Bachtiar tak pernah sekalipun keduanya memohon meminta sesuatu pada Nada, ini menjadi gejolak pikiran Nada. Tetap membantu kedua orangtuanya atau tetap egois menikah dengan Mahendra. “Pikirkan lagi Nada, Mama harap kamu segera memberikan keputusan.” “Kasih Nada waktu lagi Ma, hal ini bukan hal yang mudah untuk Nada.” Ujar Nada dengan menatap sendu sang Ibu “Iya, Mama kasih waktu—setelah ini tolong bawa si kecil kebawah Papanya mencari.” Pinta Mila “Iya, Ma.” ΩΩΩ Sudah seminggu lebih Galeo menarik diri dari segala hal apapun, meskipun ia tetap berkerja ia tampak seperti robot hidup, mengambil lembur tiada waktu istirahat untuk badannya, ia seperti menyiksa batin dan jiwanya. Ia terlarut dalam buaian kesedihan yang membuatnya tak akan usai. Ia menjadi sesosok manusia dingin dan tak ingin peduli dengan orang sekitarnya. Bahkan keinginan orangtuanya beberapa lalu tak begitu ia indahkan, ia melakukan hal yang pantas ia lakukan. Dalam kamusnya ia tak akan sudi menggantikan posisi Nadi dihatinya dan Nadi tetap hidup. Namun sebuah hantaman keras mengenai seluruh tubuhnya dan perkataan yang menonjok keras sisi hatinya. Jarvis—Kakak tertua Nada dan Nadi gemas melihat tingkah laku adik iparnya serta sohibnya itu. “SAMPAI KAPAN LO HIDUP BAGAI MATI, GALEO!” Marah Jarvis “GUE MASIH SABAR DENGAN KELAKUAN LO KEMARIN-KEMARIN, UNTUK SEKARANG GUE NGGAK BISA, LO EMANG HARUS DI BIKIN SADAR.” Geram Jarvis dengan menarik kerah baju Galeo ke pinggir pakiran “Jar, lepas!” Galeo berontak “GAK! LO HARUS GUE BUAT SADAR DAN KASIH LO KULTUM.” Jarvis menarik Galeo kearah belakang rumah sakit yang ia tahu disana ada Toilet umum. Jarvis sudah semakin geram dengan kelakuan Galeo yang semakin hari semakin seperti orang gila. Hidup bagi mati itulah yang diteriakkan oleh Jarvis saat ia memukul wajah Galeo dengan hantaman keras berharap otak sahabatnya itu kembali berfungsi Apa yang dilakukan Jarvis memang kejam namun ini yang bisa ia lakukan, disana Sean—rekan Jarvis sesama dokter sudah menunggu disana. Mereka berdua memang sudah merencanakan ini tak tega melihat sahabatnya seperti ini terus-menerus. “Bangun lo, b******k!” Bentak Jarvis dengan menarik lengan kokoh Galeo Jarvis dan Sean mencelupkan kepala Galeo ke dalam bak air, upaya ini mereka lakukan agar Galeo sadar, apa yang ia lakukan saat ini adalah hal yang sia-sia. Merasa sedih terus-terusan karena orang yang sudah mati bukanlah hal yang baik untuk terus-menerus ia ratapi. “Udah, Jar. Bisa mati dia nanti.” Sean menghentikan apa yang Jarvis lakukan “Orang kaya gini emang perlu dibikin sadar, Sean. Bisa tambah gila nanti.” Kesal Jarvis “Kalo sedih semua orang bakal sedih kehilangan orang yang dikasihi—tapi kelakuan dia udah kelewat batas! Dia masih ada bayinya yang mesti dia urus enggak egois kaya b******n satu ini.” “Udahlah bawa dia dulu balik ke Apartement gue, kita sadarin dia.” Jarvis mengangguk setuju dan kembali menarik tubuh Galeo ada namun terasa hampa itu. ΩΩΩ Kultum yang diberikan Jarvis dan Sean Galeo merasa apa yang ia lakukan adalah kesalahan besarnya. Ia mengacuhkan keberadaan putri kecilnya yang belum ia beri nama. Dan saat ini ia sedang menunggu putri kecilnya dibawa untuk ia peluk kembali. Galeo manatap bayi munggil yang sedang digendong oleh Nada—kakak dari mendiang istrinya. Ia merasa bersalah sudah tak memperdulikan putrinya karena ia terlalu larut dalam kesedihan, bukannya itu pantas ia merasa kehilangan sang istrinya perempuan yang ia cintai begitu dalam dan akhirnya di pisahkan secara tiba-tiba. “Abang ini susunya kalo si mungil nangis—Nada tinggal dulu.” “Hmm—“ Balas Galeo tanpa menatap Nada Pada akhirnya Nada sudah mampu memberikan jawaban ketika melihat ekspresi Galeo padanya, semenjak rencana konyol orangtuanya Galeo tersa dingin padanya dan seakrab dulu saat diaman Nadi masih bernafas sekarang jarak terbetang terasa diantara mereka. “Ma, sepertinya Nada dan Bang Galeo tak akan bisa bersatu hanya alasan aku harus menjadi pengganti istri dan Ibu.” Ujar Nada saat itu “Nada, tolong.” Nada menggeleng kemudian meninggalkan sang Mama ΩΩΩ Nada menatap orang yang sama-sama saling diam, Nada masih tetap sabar menunggu laki-laki di depannya ini membuka percakapan di antara mereka. Nada sudah menebak hal apa yang akan di sampaikan oleh laki-laki didepannya itu, Galeo menarik nafas beratnya dengan mefokuskan pandangannya pada Nada. Galeo memutuskan untuk bertemu secara pribadi dengan Nada di luar keberadaan orangtua masing-masing. Ia sudah tidak bisa menerima rencana konyol orangtuanya apalagi menikah dengan kakak kandung mendiang istrinya, meskipun Galeo dan Nada lebih tua Galeo namun ia tetap menghormati Nada sebagai kakak iparnya. Menikah kembali bukanlah hal yang Galeo pikirkan lagi, ia sudah merasa cukup memiliki bayi mungilnya bersama Nadi, ia tak butuh orang yang lain lagi terlebih keberadaan orang baru yang masuk dalam hidupnya, kali ini Galeo ingin egois. “Aku menolak rencana pernikahan kita.” Ujar Galeo tanpa basa-basi “Baik, aku sudah tahu Abang pasti akan membicarakan prihal ini.” “Jangan berharap lebih karena saya tidak akan merubah apa yang sudah jadi keputusan saya.” “Fine!”   ΩΩΩ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD