03. "DIA" YANG SELALU DATANG

1053 Words
"Walaupun nantinya aku bakal pergi dari kehidupanmu. Tetapi, kau harus percaya pada satu hal ini. Yaitu, bahwa sepenuhnya raga yang aku miliki sudah melekat disini. Hati dan akal sehatmu." ~ Elgi Bhumi Firasa *** Hosh! Hosh! Hosh! Sia terbangun dari tidurnya, napasnya kian memburu dan jantungnya bergoyang dengan lincah bak sedang berada didiskotik. Sia memegangi dadanya yang terasa sesak. Keringat dingin mulai bercururan keluar dari leher dan pelipisnya. Sia memeluk lututnya, menangisi diri sendiri yang hidupnya penuh drama ini. Mimpi itu datang lagi dan akan tetap seperti itu selamanya. Setiap malam Sia selalu mendapat mimpi yang paling ia benci. Kenapa harus mimpi itu jika ada banyak mimpi lain yang lebih baik? Kenapa perpisahan dengan Elgi sampai terbayang dan masuk ke bawah alam sadarnya? Kadang Sia merasa takut untuk tidur, takut akan mimpi yang satu tahun terakhir ini sering sekali menghantui pikirannya. Tangisan Sia pecah, bulir cairan bening meluncur dengan mudah dari pelupuk matanya. Satu hari tanpa ada tangisan menurutnya sangat mustahil, bahkan menangis adalah teman bagi Sia. Sia selalu menunggu Elgi sampai saat ini. Kadang ia pergi ke padang rumput dimana tempat itu menjadi saksi perpisahan dirinya dengan Elgi. Sia berharap Elgi akan kembali dan tiba-tiba memberi kejutan mewah. Namun, nyatanya itu hanyalah delusi semata. Elgi memang benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali. Sia selalu menunggu Elgi dan berharap suatu saat ia akan bertemu dengannya lagi. Entah itu kapan. Terkadang Sia juga merasa bosan, menunggu sesuatu yang tidak pasti memang sangat menyedihkan. Tetapi Ia masih setia melakukan hal itu. Sia percaya, sebuah perpisahan pasti menyimpan setitik kebahagiaan dibelakangnya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah mengkehendaki sesuatu. Tangan Sia bergerak, mengusap air mata yang sedari tadi membentuk aliran sungai kecil dikedua pipinya. Sedetik setelah itu, wajahnya menoleh dan menatap dinding kamarnya dimana jam dinding tertempel disana. Pukul dua dini hari, itulah jarum yang menunjukkan Angka tersebut. Sia menghela napas gusar, lantas ia menaikkan kembali selimut tipisnya sampai menutupi batas dadanya. Sia ingin melanjutkan tidur, mengingat hari ini ia akan sekolah setelah akhir pekan kemarin. Tetapi, Sia terlalu takut untuk memejamkan matanya kembali, takut akan sebuah mimpi buruk tentang Elgi menyerangnya lagi. Sia pasti akan merasa sesak yang menjalar didadanya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Sampai adzan subuh berkumandang pun, Sia belum juga memejamkan matanya, hampir tiga jam lamanya ia terjaga sepanjang malam, bukannya Sia tidak mengantuk. Melainkan, ia hanya merasa takut saja. Justru Sia merasakan kantuk yang hebat, mungkin sudah puluhan kali Sia membuka mulutnya, menguap. Selimut tipis bergambar bunga mawar yang sudah lusuh itu Sia buka yang sedari tadi membungkus badannya. Ia melipat kembali kain itu lantas ia meletakkannya di atas bantal tidurnya. Sia duduk ditepi kasur reotnya, kakinya menjelajah mencari sandal. Setelah kakinya menemukan temannya--sandal. Sia segera bangkit, membuka pintu kamar dan mulai berjalan menuju kamar mandi yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Sia mengambil air wudhu dan segera melaksanakan salat subuh. *** Ketika dirasa dirinya sudah siap untuk bersekolah seperti hari-hari biasanya, Sia segera keluar dari dalam rumahnya. Deritan kaki pintu terdengat hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Itu tandanya pintu tersebut ingin diganti dengan yang baru. Rumah ini merupakan satu-satunya peninggalan orang tua Sia. Ibunya pergi merantau sudah sangat lama. Tetapi, setiap bulan Sia pasti dikirimi uang untuk makan dan membayar sekolah. Sementara Ayah Sia sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu ketika Sia masih menduduki bangku SMP. Sia mulai terbiasa hidup mandiri. Memang susah dilakukan. Namun, ia jalani dengan sepenuh hati. Sia menghela napas pelan, kemudian mulai berjalan menuju tempat pangkalan angkot berada. Sia membiarkan rambutnya tergerai begitu saja, dia merasa nyaman. Sesekali rambutunya yang bergelombang itu menari-menari karena Sia mengambil langkah kaki lebar-lebar. Hanya memakan waktu lima belas menit untuk sampai di sekolah. Memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Resleting tas dibuka, lalu sia mengambil uang dan memberinya kepada sopir angkot itu saat kendaraan beroda empat itu berhenti tepat di depan gerbang SMA Gemilang. "Terima kasih neng," ujarnya. Sia hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Sedetik kemudian, dia mengambil sedikit anak rambut yang menutupi wajahnya lalu menyilahkannya ke balik telinga. "SIA!" Sia segera menghentikan langkah kakinya, merasa namanya telah disebut, Sia lantas membalikkan badannya ke belakang. Sedetik kemudian, dia tersenyum semringah, rupanya orang yang memanggilnya tadi adalah Elin, teman sebangkunya. Begitu Elin sudah sampai disampingnya dengan napas yang memburu, Sia hanya tersenyum kecil ketika Elin juga memaparkan seulas senyum lebarnya. "Lo cantik banget hari ini, sumpah!" puji Elin ketika menatap binar penampilan Sia dari puncak kepala sampai ujung kakinya. "Lo juga cantik kok Lin, nyatanya lo udah punya pacar tuh," balas Sia memuji Elin. Mendengar hal itu, Elin menyonggol bahu Sia, mengisyaratkan agar sahabatnya itu tidak membahas yang namanya "pacar" saat sedang seperti ini. "Btw, lo beda banget hari ini, gue jamin pasti banyak yang kecantol sama penampilan baru lo!" ucap Elin meneliti penampilannya lagi, seringkali ia berdecak kagum dan menggelengkan kepala terus menerus. Hal itu pula membuat tingkat ke risi-an Sia semakin mencuat. Dipuji seperti ini, bukannya senang sekigus sombong, Sia malah menahan malu mati-matian. Padahal, ia hanya sedikit merubah penampilannya saja. "Jangan kayak gitu Lin, gue malu ih." Sia menampol pipi Elin sembari menyembunyikan pipinya yang sedari tadi merona akibat ulah jail Elin--memuji penampilannya. "Gila, gila, gue yakin seratus persen. Saat nanti lo masuk ke kelas, cowok-cowok bakal melongo lihat penampilan baru lo," goda Elin lagi, jarinya menjawil dagu Sia. Seperkian detik setelahnya, Elin semakin cepat mengambil langkah sembari menyeret Sia. Hal itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Melainkan, Elin sudah tidak sabar betapa terkejutnya teman-teman sekelasnya saat melihat sosok Sia yang baru. "Jalannya jangan cepet-cepet gitu Lin,bel masuk masih lama kok." Sia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Elin yang membaluti lengan tangannya. Namun, bukan Elin namanya kalau kemauannya belum kunjung tuntas. Tak menghiraukan ucapan Sia barusan, justru Elin semakin menambah derap langkah kakinya. Sampai-sampai Sia sendiri kewalahan menyeimbangi langkah kaki Elin yang begitu lebar. Mau tidak mau karena terus keseret ke depan, Sia sedikit berusaha berlari. Elin sungguh membuat Sia dalam mode keadaan was-was. Apa yang beda dari penampilannya, dia hanya merasa mengubah sedikit penampilannya saja. Garis bawahi kalau perlu. Jika Sia menjalami operasi plastik, barulah Elin boleh menggebu dan memuji penampilannya sepuas mungkin. Namun, hal sekecil ini cewek itu seolah melihat Sia yang seperti lama tidak bertemu. Sungguh, Sia sama sekali tidak tahu jalan pikiran sahabatnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD