Lagi-lagi, Khafi melirik Arisha dari sudut matanya. Kali ini, Arisha tengah memandangi jalanan sambil menempelkan pipi di kaca jendela mobil. Gadis itu lantas menggerak-gerakkan telunjuk di kaca seakan menuliskan sesuatu. Setelahnya, dia kembali menatap keluar seraya tersenyum lebar. Tanpa sadar, Khafi juga menarik kedua ujung bibir ke atas. Meski senyumannya tidak selebar Arisha, dia merasa tenang melihat gadis itu bisa tersenyum. Setelah kembali dari toilet di rumah makan, tidak ada pembicaraan apa pun. Arisha hanya diam sambil berkonsentrasi pada makanan yang dipesan. Bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Apa Arisha benar-benar marah? Untung saja, Barra dan Zaina bisa membuat suasana sedikit mencair dengan memulai obrolan. Meski begitu, Arisha terlihat tidak antusias. Khafi jug

