Bab 2: Terjebak

1768 Words
Langkah Khafi berhenti setelah berjalan beberapa saat. Dia menarik napas, lalu menoleh untuk memastikan sesuatu. Sayang, seseorang yang ingin dia lihat lagi sudah lenyap. Matanya menyapu sekitar bangku tempat gadis tadi duduk. Tidak ada. Ke mana dia pergi secepat ini? Jujur, Khafi tidak mengerti bagaimana gadis keripik itu bisa menahan dirinya seperti ini. Dia bukan orang yang bisa dipengaruhi oleh orang lain dengan begitu mudah. Tidak peduli berasal dari golongan pria atau wanita. Dia hanya berkomunikasi seadanya. Bagi pria itu, terlalu dekat dengan orang baru bisa menimbulkan masalah baru pula. Jadi, lebih baik dihindari. Terlambat menyadari hal itu sekarang. Khafi bahkan sudah memberi tahu namanya dengan sangat mudah. Ini sama sekali bukan sesuatu yang pernah dia lakukan pada siapa pun. Bukankah sudah dikatakan bahwa Khafi tidak suka berhubungan terlalu dalam dengan orang lain. Dia hanya berbicara saat memiliki kepentingan. Basa-basi bukan gayanya. Jika begitu, kenapa tadi Khafi malah menyerahkan nomor telepon selulernya. Banyak orang, terutama wanita, yang menginginkan kontaknya, tetapi dia selalu menghindar dengan berbagai alasan. Mengapa gadis keripik itu harus berbeda? Mereka bahkan baru bertemu hari ini. Mengapa Khafi merasa seolah mengenalnya dan dia ingin mendekat. Perasaan macam apa ini. Usia Khafi sudah tiga puluh tahun lebih. Dia bukan remaja kemarin sore yang hanya menuruti keinginan. Siapa pun tahu kalau dia pria dewasa yang nyaris sempurna. Kenapa nyaris? Karena dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Dia pemimpin yang baik dalam sebuah perusahaan. Anak buahnya banyak. Namun, dia tidak suka menemui orang yang hanya membicarakan masalah kehidupan. Hidup seorang Khafi Alfarezi adalah sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun. Dia pandai mengatur anak buah yang jumlahnya ratusan. Akan tetapi, jika ada sebuah pertemuan untuk sekadar berkumpul dan menjadi lebih akrab, dia memilih untuk menghindar. Yang disukainya adalah kesunyian sehingga dia bisa berkonsentrasi dengan baik. “Lagi cari siapa, Kak?” Tubuh Khafi memutar tubuh dengan cepat dan melihat adik perempuannya sedang celingukan entah mencari apa. Di belakangnya, ada sang nenek yang tersenyum lebar. Khafi melirik tajam sang adik yang kini meringis sambil menunduk. Gadis belia itu merapat pada neneknya dan membuat Khafi menghela napas. Harusnya dia tahu kalau hal ini akan terjadi. Kedua perempuan di depannya selalu punya cara untuk membuat jebakan. “Kamu tahu apa yang kamu lakukan?” tanya Khafi pada Zaina, adiknya. Yang ditanya hanya mengangguk pelan tanpa mengangkat kepala. “Nenek yang menyuruh kamu datang ke sini. Kalau mau marah, marah saja pada Nenek.” Khafi kembali menghela napas. “Nenek bisa memanggilku ke rumah. Kenapa harus pergi ke taman begini?” “Apa kamu akan datang?” Mendengar pertanyaan yang menjebak itu, Khafi memejamkan mata. Sudah beberapa tahun terakhir, dia memang tinggal sendiri di sebuah apartemen. Tidak jauh dari rumah sang nenek. Dia juga sering berkunjung jika ada waktu. Akan tetapi, begitulah. Banyaknya pekerjaan membuat dia sibuk dan menghabiskan seluruh waktu di apartemen. Bukan bermaksud meninggalkan nenek dan menelantarkannya. Rumah mengingatkan banyak hal menyedihkan untuk Khafi. Dia nyaris tidak bisa bernapas dengan bebas jika mengingat semua yang dialami di bangunan megah itu. Kehidupan harus terus berlanjut dan Khafi berusaha bertahan di antara puing runtuh yang memenuhi hati. Beruntungnya, Khafi memiliki nenek yang sangat pengertian, Hilya. Wanita sepuh itu tidak pernah memaksa Khafi kembali ke rumah. Dia mungkin sesekali mengomel karena lama tidak dikunjungi, tetapi tidak mau menekan Khafi. Dia adalah saksi penderitaan yang dirasakan oleh sang cucu. Jadi, dia tidak mau memenjarakan Khafi di tempat yang ingin dihindari. “Tentu saja. Kapan aku tidak datang saat Nenek memanggil?” ucap Khafi. Wajahnya masih sedatar tembok. “Apa Nenek harus memohon begini supaya bisa bertemu sama kamu?” “Nenek.” Khafi melirik Zaina yang masih bersembunyi di belakang Hilya. “Aku akan datang kalau Nenek tidak melakukan hal aneh.” “Hal aneh apa? Nenek hanya ingin kamu memiliki seseorang yang selalu berada di sampingmu. Apa kamu sadar berapa umurmu sekarang?” “Nenek, ini tidak ada hubungannya dengan umur. Aku hanya belum bertemu dengan orang yang cocok. Jangan terlalu memikirkanku. Nenek tidak boleh banyak berpikir.” “Kamu pikir kenapa Nenek seperti ini?” “Nenek tenang saja. Kalau aku sudah ketemu dengan wanita yang baik, aku akan mengenalkan pada nenek.” “Kapan? Sudah tiga puluh tahun lebih, Khafi. Jangan hanya memikirkan orang lain.” “Apa maksud Nenek? Aku melakukan apa yang aku sukai.” “Sudahlah. Tidak ada gunanya bicara padamu. Kalau begitu, Nenek kasih waktu seminggu. Bawa gadis yang kamu sukai pada Nenek.” “Jangan bercanda, Nek. Mana bisa menemukan gadis baik secepat itu?” “Nenek sudah memberimu banyak kesempatan. Kamu harus mulai membuka diri. Kalau kamu terus seperti ini, nenek mungkin tidak akan pernah menimang cucu.” Senjata rahasia Hilya sudah dikeluarkan. Ini adalah tanggung jawab yang harus Khafi pikul. Dia merupakan jalan tercepat bagi Hilya untuk mendapatkan cucu. Khafi sebenarnya punya dua orang adik. Zaina yang berusia dua puluh tahun dan Dzaky dua puluh dua tahun. Jarak usianya dengan mereka memang cukup jauh. Itu sebabnya dia harus menanggung omelan Hilya. Meski begitu, apa yang dikatakan oleh Khafi tidak salah. Jodoh itu rahasia Tuhan. Siapa pun tidak akan mengetahui kapan dia datang. Setidaknya, alasan itulah yang selalu Khafi gunakan untuk menjawab pertanyaan Hilya mengenai wanita. Lagi pula, Khafi merasa kalau dia memiliki kekurangan yang mungkin sulit diterima oleh wanita mana pun. Tidak peduli bagaimana orang memuji semua prestasi dan kelebihannya, Khafi tetap memiliki sisi lain yang sulit dijelaskan. Dia terlalu takut berhubungan dekat dengan siapa saja, terutama kaum hawa. Namun, dia tidak mungkin mengatakan semua pada Hilya. Wanita itu sudah cukup tua untuk menanggung sebuah penderitaan lagi. Khafi masih bisa mengatasi hal ini sendiri. “Nenek mau mengenalku dengan wanita lagi?” “Apa kali ini kamu akan datang?” Khafi memejamkan mata sejenak. Kalau bisa memberikan sedikit ketenangan pada Hilya, dia akan melakukannya. “Bukankah kami hanya perlu bertemu dan saling mengenal? Nenek tidak akan memaksaku menikah, bukan?” “Itu ... Nenek hanya berharap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan. Nenek merindukan senyum yang menghiasi wajah tampan cucu Nenek ini.” Tangan Hilya yang sudah keriput membelai pipi Khafi. Memiliki wajah tampan merupakan anugerah bagi keluarganya. Kedua adiknya juga tidak kalah rupawan. Meski begitu, hanya Khafi yang dianugerahi kecerdasan. Tentu saja, Zaina dan Dzaky bukannya bodoh. Mereka hanya belum cukup dewasa untuk mengerti bagaimana kerasnya kehidupan ini. Setelah orang tua Khafi meninggal, dia mengemban tanggung jawab untuk menjaga kedua adiknya. Sayang, Dzaky belakangan sering memberontak dan menganggap Khafi terlalu membatasi kebebasan. Sementara Zaina yang sudah kuliah semester empat masih sangat kekanakan. Padahal ketika seumuran mereka, Khafi sudah bisa mandiri. Khafi tidak bisa menyalahkan kedua adiknya. Toh, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada memperhatikan mereka. Mau bagaimana lagi, sejak kepergian orang tua mereka, Khafi mengambil alir perusahaan dan sibuk mempelajari semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Beruntung, dia memiliki teman yang bisa diandalkan untuk membantu. Jika tidak, Khafi mungkin tidak akan berada di titik ini. Dia harus berterima kasih pada Barra atas semua jasanya itu. Barra yang hidup sebatang kara juga bersyukur karena Khafi mau memberi kesempatan padanya untuk membantu. Jika bukan karena Khafi, dia tidak akan memiliki apa pun sekarang. *** “Sudah bertemu Nenek?” tanya Barra begitu Khafi muncul di kantor. “Kenapa? Kamu juga tahu mengenai rencana Nenek, kan?” “Tidak sepenuhnya. Aku hanya tahu kalau Nenek berencana mengenalkan seseorang. Nenek sudah melakukan itu?” Kepala Khafi menggeleng. Orang tua Barra dan Khafi sudah bersahabat sejak lama. Jadi, mereka berdua sudah sangat dekat. Karena itulah, Barra juga memanggil Hilya dengan sebutan nenek. Berbeda dengan Khafi, Barra malah sering berkunjung ke rumah Hilya. Dia juga menginap beberapa kali. Hubungan Barra dan keluarga Khafi sangat dekat. Barra menjadi teman untuk kedua adik Barra. Sikap Barra yang lebih bersahabat dan humoris, membuat semua orang nyaman berada di dekatnya. Dia lebih mudah bergaul dengan siapa pun. Sudah tidak terhitung entah berapa kali dia mengingatkan Khafi agar mengubah kebiasaan buruknya yang terkesan kaku itu. Banyak wanita yang ingin mendekati Khafi. Barra yang menjadi saksinya. Namun, Khafi tetap sedatar itu. Tidak pernah berubah sedikit pun. Jangankan berbicara, membalas sapaan mereka dengan anggukan atau senyuman juga tidak. Bukan sekali dua kali Barra menjadi sasaran pertanyaan bagi gadis-gadis yang mengejar Khafi dan itu sangat menjengkelkan. Apa lagi dengan keadaan Khafi sekarang. Tampan dan mapan. Usia yang bertambah tidak mengurangi pesona seorang Khafi Alfarezi. Ada saja yang ingin mendekat, tetapi semua mundur teratur saat mengetahui tanggapan Khafi yang dingin. Tidak ada yang mau membuang-buang waktu jika hasilnya sudah jelas, ditolak. Kecuali kalau mereka yang sangat gigih atau punya banyak waktu untuk bermain-main. “Nenek semakin mendesak, padahal masih banyak teman seumuran kita yang belum menikah. Aku heran, kenapa Nenek harus berusaha sampai sejauh ini?” “Soalnya kamu itu memprihatinkan.” “Bicara sekali lagi, aku bakal potong gaji kamu.” “Aku cuma menanggapi perkataanmu. Kenapa marah begitu,? Kalau memang tidak ingin Nenek mendesak terus, harusnya kamu ubah sikapmu itu. Apa kamu pernah suka sama seseorang?” “Apa ini waktu yang tepat buat bahas itu?” “Tentu saja. Kalau kamu menyukai seseorang, Nenek tidak mungkin repot begini. Iya, kan? Coba, deh, kamu pikirkan.” “Menyukai seseorang?” Bayangan gadis keripik di taman melintas begitu saja. Sangat aneh. Khafi bukan orang yang bisa mengingat seorang gadis secepat ini. Biasanya, dia melupakan mereka hanya dalam hitungan detik. Apa lagi jika dia tidak sengaja bertemu seperti tadi. Ada beberapa wanita yang terkadang sengaja menabrak atau menjatuhkan sesuatu di depannya demi untuk mendapatkan perhatian. Gadis keripik itu tidak menunjukkan kesengajaan. Khafi cukup pintar menilai seseorang. Dia bisa melihat jika ada niat tersembunyi dari perilaku orang yang berinteraksi dengannya dan gadis keripik tidak begitu. Si gadis bahkan tidak menanyakan siapa namanya atau menarik bagian tubuhnya seperti kebanyakan wanita. Malah dia yang ingin mendekat. Ini pertama kalinya Khafi memikirkan gadis asing sambil tersenyum. Tentu saja dia tidak menyadarinya. Namun, Barra menyaksikan hal itu. Membuat Barra bertanya-tanya apa yang tengah dipikirkan sang sahabat. Khafi bukannya tidak pernah tersenyum atau tertawa. Memang sangat jarang, nyaris tidak pernah. Ekspresi itu adalah kejadian langka dalam kehidupan Khafi. Jika Khafi sampai menarik kedua ujung bibir begitu, artinya ada sesuatu yang tidak biasa. Barra menyilangkan tangan di d**a sambil menyipitkan mata. Ada yang disembunyikan oleh Khafi dan kemungkinan besar baru saja terjadi. Mereka sedang membicarakan poin apakah Khafi pernah menyukai seseorang. Apa mungkin dia baru bertemu dengan orang itu? Berita besar. Khafi akhirnya menyukai seseorang. Ini benar-benar berita yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebelum itu, Barra harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, dia tidak yakin kalau Khafi akan memberi tahunya dengan mudah. Baiklah, Barra akan mencoba keberuntungan sebagai seorang sahabat. “Ada gadis yang kamu sukai? Kamu sudah bertemu dengannya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD