Chapter 11

1111 Words
Al masuk dengan perlahan ke ruang makan setelah melihat adiknya tengah berlutut di kursi makan seraya membuka toples kue. "HAYOLOH!" "Aaaaaaa!" Agatha berteriak kaget ketika mendengar suara keras Al secara tiba-tiba dan juga tangan Al yang mengguncang tubuh mungilnya dengan kedua tangan. Al tertawa keras melihat reaksi Agatha. "Iiiiiih!" "Adooh!" Al meringis kesakitan karena perutnya dicubit dengan kuat. Agatha menatap penuh kekesalan pada abangnya. "Ya ampun cabe kecil, sampe merah." Al menatap perut yang merah karena cubitan maut sang adik. "Bialin!" Al tersenyum menggoda," ciieee yang ulang tahun cieee." Agatha membuang muka seraya menopang pipinya karena anak itu sedang menahan senyum. "Ciieee!" Al mendorong tubuh mungil Agatha dengan tangan besarnya membuat anak itu hampir terjatuh. Karena rasa kesalnya sudah hilang akibat ucapan Al tadi Agatha diam saja. "Kapan ulang tahunnya di rayain?" "Nanti malem dong, kata Papi Mami mau makan di lual." "Sekarang rayain dulu sama Abang," Al menunjuk dirinya. Agatha mengikuti Al yang tengah berjalan menuju dapur. "Abang mau bikin kue untuk Atha ya?" Agatha terlihat malu-malu melihat Al mengeluarkan satu bungkus tepung dan dua butir telur. "Enggak. Abang mau ngerayain ulang tahun Atha pake ini," Al menepuk-nepuk tepung dan telur. Agatha diam karena belum mengerti. "Jadi gini," Al mendudukkan Agatha di mini bar agar mudah dalam menatap wajah adiknya. "Nanti tepung sama telor nya mau Abang taruh di atas kepala Atha," "Jolok dong kepala Atha," Al menaruh telunjuknya di bibir mungil Agatha. "Biar jorok tapi seru. Jaman sekarang setiap ada yang ulang tahun harus di kasih tepung sama telor biar ulang tahunnya afdol," Agatha memperhatikan tepung dan telur yang ada di sebelahnya. "Masih bocah gak perlu banyak mikir," Al menggendong asal adiknya menuju taman belakang dan tidak lupa membawa tepung juga telur. Sesampainya di taman belakang Agatha memperhatikan abangnya yang sedang membuka bungkus tepung. "Abang, kepala Atha gak jadi kue nanti kan?" "Ya enggak lah," "Atha takut, Mami kan kalo bikin kue pake tepung cama telul." "Kalo Atha mau kepalanya di kasih ini Abang beliin boneka LOL surprise yang banyak, mau gak?" "MAAUUU DWOONG!" Al terkekeh melihat keantusiasan adiknya. "Bagus, sekarang berdiri yang bener." Agatha langsung berdiri tegak dengan kedua tangan yang terkepal. "Papi masih di kantor kan?" Agatha mengangguk. "Kalo Mami?" "Bobok," Al mengangguk. "Siap ya," Agatha mengacungkan jempol. "Satu, dua, ti..." "Abang!!" Al menoleh, Agatha yang sedang memejamkan mata membuka kedua matanya. "Atha mau diapain hah?" Rafa datang sambil memegang sapu dengan masih memakai pakaian kerjanya. "Mau dibikin kue, eh, mau itu..." "Gak usah ngomong!" Al mengunci rapat mulutnya. "Atha dibodoh-bodohi jangan mau," Rafa meletakkan sapu yang ia bawa di gazebo kemudian menggendong Agatha. "Gak dibodoh-bodohi, Atha mau cama Abang!" Seru Agatha ketika ia dibawa pergi. "Bonekanya gak jadi Abang beliin!" Al ikut berseru membuat Agatha yang sudah dibawa sampai pintu menangis kencang. (()) "Sudah berapa kali saya peringatkan jangan cabut waktu jam belajar saya, jam belajar guru-guru yang lain juga begitu jangan cabut. Saya gak tau kelakuan kalian ini terbuat dari apa, gak ada rasa ampun dan sopan sedikitpun sama guru." "Permisi, Bu." Mereka semua menoleh ke arah pintu. "Masuk," Melihat siapa yang datang mata mereka seolah tidak pernah lepas sedikitpun dari gadis yang tengah digosipkan dekat dengan idola sekolah. "Kemaren kamu beneran sakit makanya gak masuk?" Oliv mengangguk. "Ambil bangku kamu bawa ke sini," "Terus nanti saya duduk dimana, buk?" Tanya Chiko. "Bangku saya buk," Al pergi mengambil kursinya. Tindakan Al membuat murid perempuan saling tatap bahkan mulai berbisik. "Saya ulangan nya di sini Bu?" "Iya jadi mau dimana lagi? Minggu depan saya gak bisa masuk ke kelas kalian. Duduk," ujar guru tersebut saat Al meletakkan bangku nya di dekat Oliv. Oliv duduk dengan membelakangi orang-orang yang sedang memperhatikannya. "Ini soal nya, saya mau keluar sebentar." "Kalian tetap berdiri di sini," Al dan teman-temannya tidak menjawab melainkan memperhatikan guru tersebut yang tengah berjalan keluar dari kelas. Sejujurnya, Oliv tidak kuat dengan posisinya saat ini. Oliv merasa benar-benar asing walaupun ia mengenal beberapa murid yang ada di kelas tersebut, Al berserta teman-temannya. "Sssttt, Liv." Panggil Dewa. Oliv berhenti menulis dan menoleh. Dewa menunjuk Al sembari tersenyum menggoda. Oliv membuang muka kembali melanjutkan kegiatannya. "Ciiiee Oliv ciiiee," Yoyo ikut menggoda Oliv disambut tawa geli oleh Dewa. "Susah gak soal nya? Kalo susah babang Al siap bantu nich," Al memukul mulut Dewa. "Liv, boleh nanya gak?" "Boleh-boleh," Dewa yang menjawab pertanyaan Yoyo sedangkan Oliv lebih memilih mengabaikan mereka walaupun kupingnya sudah terasa panas. "Kapan sih taken nya masa PDKT terus," Oliv menatap tajam Yoyo yang sedang tertawa bersama Dewa. Oliv beralih menatap Al yang juga sedang menatapnya. Al dapat melihat raut wajah kesal, marah dan tidak suka namun bagi Al ekspresi tersebut cukup terlihat lucu. Oliv kembali membuang muka, dengan wajah yang cemberut ia mulai menjawab soal-soal ulangannya. Al menunduk kemudian tersenyum tipis tidak ingin siapapun tahu jika ia sedang tersenyum. Berniat ingin menoleh ke arah pintu Al terkejut karena ternyata Dewa sedang memperhatikannya. Raut wajah Al berganti dengan eskpresi datar sementara Dewa mulai senyum-senyum karena mata nya sempat menangkap Al yang tengah tersenyum ketika menunduk tadi. (()) Sambil berjalan melewati Oliv Al menatap gadis itu dan berhenti secara mendadak, kedua kaki Al membawanya menghampiri Oliv yang sedang bersiap-siap untuk pulang dengan sepeda nya. "Kenapa lo?" Oliv yang sudah duduk di atas sepeda menatap sebentar Al. "Minggir," "Di tanya kenapa malah jawab minggir," "Awas!" Al memegang stang sepeda Oliv dengan kedua tangan. "Oh, lagi dapet?" Oliv tidak menjawab dengan wajah yang berpaling ke kanan. "Kenapa sih? Tumben diem biasanya ngomel-ngomel," "Awas lah gue mau pulang," Oliv menarik sekuat tenaga tangan Al yang sedang memegang stang sepeda nya namun tidak langsung dilepaskan begitu saja oleh Al. Al dan Oliv sudah terlihat seperti sepasang kekasih dimana sang perempuan sedang marah dan tidak mau berbicara dengan pasangannya. "Adek gue ulang tahun," Oliv hanya diam sambil menatap Al. "Ntar malem dinner, gue ngajak lo join." Oliv kembali menyingkirkan tangan Al dan untung saja ia berhasil melakukannya, setelah tangan Al tersingkir dari stang sepeda nya Oliv langsung pergi tanpa mengucapkan apapun. "Hati masih baek-baek aja gak nih?" Al menoleh mendapati Dewa dan Yoyo yang sedang tertawa. Dewa menepuk-nepuk bahu Al. "Kayaknya dia emang lagi marah sama lu," Yoyo mengangguk, "gue yakin lagi marah." "Sok tau najis," "Lah, gak percaya dia." Yoyo menunjuk Al sambil menatap Dewa. "Nih, kita berdua kasih tau ke lu. Waktu istirahat kedua tadi pas lu gangguin anak kelas sepuluh blasteran bule di kantin si Oliv ngeliat, gue sama Yoyo merhatiin Oliv. Lo mau tau gimana reaksi si Oliv?" Awalnya Al terlihat cuek dengan ucapan dua temannya namun kini Al mulai penasaran setengah mati. Alis Al terangkat, "gimana?" "Kasih tau Yo!" Dewa menepuk bahu Yoyo. "Doi langsung cabut dong dari kantin." Kata Yoyo dengan suara yang sengaja ia pelan kan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD