"Dion udah pulang, Mi?"
"Udah tadi tante Memei sama om Sean mampir ke sini sekalian jemput Dion, Abang ganti baju terus makan sana." Aya mengusap bahu Al sebelum pergi ke lantai atas.
Al meletakkan tas sekolahnya di sofa kemudian berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur Al mendapati Agatha sedang bersembunyi di balik ujung mini bar, anak itu duduk bersandar seraya memakan es krim.
Al menopang dagu dengan siku yang bertumpu pada meja mini bar tersenyum geli melihat sang adik.
"Es teros,"
Agatha terkejut padahal suara Al terdengar biasa saja. Agatha terkejut karena ia ketahuan.
Al menganggukkan kepala, "bilang Papi ah Atha minum es."
Agatha menggeleng dan langsung berdiri.
"Jangan," mata Agatha berkaca-kaca.
Al menegakkan tubuhnya yang sedikit berbungkuk sambil menatap Agatha.
"Padahal udah dibilang sama Papi Atha gak boleh minum es tapi bandel tetep di minum juga, bilang Papi gak ya." Al menepuk-nepuk dagu nya dengan telunjuk.
Agatha menaruh wadah es krimnya di lantai lalu menarik-narik tangan Al.
"Jangan bilang Papi," kata Agatha sembari menangis pelan.
"Kenapa minum es? Kan udah dibilang gak boleh ntar ingusan, demam, kepalanya pusing, batuk-batuk."
"Enggak minum es klim lagi janji," Agatha menautkan kelingking mungilnya dengan kelingking besar Al.
Rafa masuk ke dapur dengan memakai kemeja berwarna navy serta celana bahan bewarna abu-abu. Pandangan Rafa tertuju pada Agatha yang sedang menangis.
"Kebiasaan emang suka banget bikin adek nya nangis,"
Melihat Rafa datang Agatha langsung bersembunyi di balik kaki Al memeluk satu kaki abangnya.
"Itu tolong bapak liat," Al menarik Rafa sambil menunjuk ke arah wadah es krim yang ada di lantai.
Setelah melihat itu Rafa beralih menatap Agatha.
"Atha minum es krim ya?"
Agatha diam memeluk erat kaki Al.
"Heh, orang tua nanya dijawab malah diem." Tegur Al.
"Atha minum es?" Tanya Rafa lagi.
"Sedikit," jawab Agatha dengan nada lirih tanpa berani menatap Rafa.
"Tadi malem Papi bilang apa? Jangan minum es tapi kenapa sekarang malah minum?"
Agatha sedikit memperlihatkan wajahnya menatap Rafa dengan sebelah matanya.
"Jangan minum es lagi ya," Rafa mengulurkan kedua tangan.
Agatha menjauh dari kaki Al menghampiri ayahnya.
"Janji jangan minum es lagi?"
Agatha mengangguk menyembunyikan wajahnya di leher Rafa, "janji."
(())
Tak lama bel pulang berbunyi pintu keluar gedung sekolah dipenuhi oleh anak kelas sebelas dan dua belas berdesak-desakan ingin cepat keluar.
Dan disitulah Al mencari kesempatan.
Di depannya selang dua orang ada Oliv, Al menyingkirkan dua orang yang ada di depannya untuk menarik rambut Oliv dan setelah itu Al bersembunyi.
Oliv menoleh ke belakang menatap laki-laki yang berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan tajam.
Laki-laki tersebut diam membuat Oliv kembali menoleh ke depan.
Lagi, Al kembali menarik rambut Oliv namun Oliv tidak menoleh. Untuk yang ketiga kalinya Al menarik rambut Oliv dan yang ini cukup kuat.
"Mau lo apa sih?!" Bentak Oliv pada laki-laki yang ada di belakangnya sambil memukul d**a laki-laki tersebut.
Al yang sedang bersembunyi menahan tawa karena Oliv sudah menuduh orang lain.
"Bukan gue," katanya tanpa menyebut ataupun menunjuk Al.
Oliv menerobos keluar tanpa lagi mengantri karena ia sudah terlanjur kesal.
Al juga ikut menerobos keluar dan langsung merangkul Oliv saat keduanya baru saja keluar dari gedung sekolah.
"Kenapa kok kesel terus sih bawaannya?" Tanya Al dengan lembut.
Oliv menjauhkan tangan Al dari bahunya lalu berjalan cepat menuju parkiran. Belum sempat Oliv menyentuh sepeda nya tangannya sudah ditarik.
"Lepas!" Seru Oliv sambil menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Al.
"Eh-eh kok gue ikutan di tarik?" Laki-laki yang tidak dikenali ikut Al tarik menuju mobilnya.
Al memasukkan Oliv ke dalam mobil menahan pintu mobilnya agar Oliv tidak bisa keluar.
"Lu tahan pintunya gue mau masuk," kata Al pada laki-laki yang ia tarik dengan maksud menjaga pintu mobil agar Oliv tidak bisa keluar.
Ketika Al sudah masuk ke dalam mobil Al langsung mengunci seluruh pintu mobil membiarkan Oliv yang sedang berusaha membukanya.
"Gue mau keluar!"
"Jangan,"
Oliv masih berusaha untuk membuka pintu bahkan menendang pintu mobil Al.
"Eh mobil orang kayak jangan asal maen tendang,"
"Turunin sekarang!"
Al menoleh, "apanya yang mau diturunin?"
Plak!
Al meringis sambil mengelus lengannya.
"Turunin gue!"
"Mobilnya udah jalan, nona."
Tidak peduli dengan Al yang sedang menyetir tangan Oliv terulur ke bagian pintu mobil Al untuk membuka sendiri pintu yang dikunci.
"Eh lo apaan sih gue lagi nyetir g****k," Al menjauhkan tangan Oliv yang sedang menggapai pintu mobilnya.
"Makanya turunin gue!"
"Gak!"
Pandangan Al terbagi antara Oliv dengan jalanan memastikan bahwa posisi mobilnya tidak lari dari jalur.
Al menatap Oliv seraya menjauhkan tangan gadis itu dari pintu mobil kemudian menatap ke arah depan dan terkejut saat mobil di depannya berhenti secara mendadak membuat Al ikut menghentikan mobilnya dengan satu tangan menahan tubuh Oliv agar tidak terjatuh kala Al menginjak habis rem mobilnya.
Dengan posisi tubuh sedikit membungkuk Oliv menatap Al dengan wajah syok karena jika tidak dipegang mungkin dirinya sudah terpental ke depan.
"Udah gue bilang gue lagi nyetir!!!" Bentak Al seraya menarik Oliv agar menjauh darinya.
Kini Oliv sudah duduk dengan benar di kursinya dengan mulut yang terkunci rapat.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang karena Al tidak kunjung menjalankan mobilnya.
"Anjing sabar!"
Oliv membuang muka ke arah jendela saat mendengar makian Al, mungkin sekarang ia tahu alasan mengapa tidak ada yang berani menyenggol Al di sekolah.
Menyeramkan ketika sudah marah.