Sembari menunggu lampu hijau menyala Al membuka kaca helm nya dan menoleh ke samping.
Al tersenyum sambil memperhatikan gadis yang baru saja berhenti di sampingnya dengan headset yang tersumpal di kuping.
"Hai," sapa Al membuat Oliv menoleh.
Oliv langsung membuang muka ketika menyadari orang yang menyapanya adalah Al.
"Gimana kalo kita balapan mumpung tujuh menit lagi gerbang sekolah di tutup,"
Oliv diam bukan karena tidak dengar melainkan malas menanggapi orang yang ada di sebelahnya.
"Kita balapan gue gak bakal ganggu lo, gak bakal borgol sepeda lo lagi."
"Mikir dong lo pake motor gue sepeda,"
Al kian semangat karena Oliv menanggapi tantangan yang ia ajukan.
"Kue kasih lo point. Lampu ijo nyala lo boleh jalan duluan, gimana?"
"Kalo gak mau juga gak papa tapi gak usah ngamuk pulang sekolah nanti sepeda lo ilang, bukan gue borgol lagi. Tapi kalo lo mau aman ya terima tantangan gue," lanjut Al karena Oliv hanya diam.
"Gue pegang bacotan lo,"
Al tersenyum lebar dibalik helm nya lalu mengalihkan mata ke arah hitungan detik menuju lampu hijau dimana waktu yang tersisa 5 detik lagi.
Saat lampu hijau sudah menyala Oliv langsung pergi mengayuh kencang sepedanya sementara Al menyingkir ke pinggir jalan sambil memperhatikan Oliv yang kian menjauh darinya.
Kira-kira sudah merasa cukup Al menurunkan kaca helm nya kemudian menghidupkan motornya untuk mengejar Oliv. Ketika melihat Oliv Al malah menurunkan laju motornya membiarkan Oliv berada di depannya dimana sekitar 20 meter di depan mereka gerbang sekolah sudah tertutup setengahnya.
Saat jarak mereka tinggal 10 meter lagi Al langsung tancap gas menyalip Oliv yang tengah berusaha keras mencapai gerbang sekolah.
"Eh, eh, eh." Oliv berserta sepedanya oleng ke samping karena ia terkejut saat ada yang menyalipnya secara tiba-tiba sekaligus terkejut mendengar suara geberan motor yang diberikan kepadanya.
Oliv sudah tidak duduk di atas sepeda melainkan berdiri sembari memegang sepeda nya karena ia sempat melompat turun sebelum ia benar-benar jatuh akibat orang yang menyalipnya secara tiba-tiba.
Bukannya langsung mengejar Al Oliv malah terdiam menatap Al yang sedang melaju kencang menuju gerbang sekolah, terlihat satpam yang bertugas untuk menutup pintu gerbang terkejut ketika Al masuk dengan motornya.
"PAK TUNGGU JANGAN DI TUTUP!" Teriak Oliv sambil menaikki sepedanya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengayuh kencang sepedanya.
"Tutup pak tutup udah bel!" Seru Al saat sedikit lagi Oliv hampir memasuki gerbang sekolah.
Dan akhirnya gerbang sekolah di tutup dengan Oliv masih berada di luar.
Al tertawa memperhatikan Oliv yang sedang ngos-ngosan seraya duduk di atas sepeda.
Motor Al belum masuk ke parkirkan karena saat Al melewati gerbang ia memberhentikan motor nya di dekat pos satpam untuk melihat apakah Oliv berhasil masuk atau tidak.
Al berjalan mendekati gerbang dimana Oliv sedang memohon untuk diperbolehkan masuk.
"Pak saya telat semenit doang!"
"Saya liat tadi kamu malah berdiri di sana bukannya langsung masuk,"
"Itu tadi saya..."
"Yang namanya telat ya tetep telat, mau semenit apa sedetik ya tetep telat lah." Sahut Al sambil tertawa.
"Tai lo!"
"Gue manusia," balas Al dengan satu tangannya memegang pintu gerbang sedangkan tangan yang lain berada di kantong jaketnya.
"Wujud manusia kelakuan tai!"
"Heh mulutnya! Anak gadis kok ngomong kotor," tegur satpam.
Al terkekeh geli seraya memandangi wajah dan sisi rambut Oliv yang berkeringat.
"Udah kamu berdiri aja di situ tunggu sampe guru piket dateng, bersyukur bukan cuma kamu yang telat ada lagi tuh di belakang kamu." Ucap satpam seraya menunjuk murid lain yang juga terlambat.
"Kamu Alvaro masuk,"
"Siap bapak! Senangnya bisa masuk tepat waktu," Al berbalik menghampiri motornya dan membawanya ke tempat parkiran.
(())
"HOT NEWS GUYS!!!!"
Mendengar teriakan itu mereka khususnya murid perempuan langsung berkumpul menjadi satu di meja paling belakang. Si pemilik meja terpaksa mengungsi sebelum dirinya habis diamuk massa, ngomong-ngomong si pemilik meja adalah laki-laki.
"Lah lip, kaga ikutan?"
Oliv menggeleng asyik dengan cemilannya seraya memperhatikan teman-temannya yang sedang berkumpul di sudut.
"Ntar ke kantin bareng mau gak?"
Oliv menoleh seraya memperhatikan Richo---- laki-laki yang hampir setiap hari selalu mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama.
"Gue gak ke kantin,"
"Oh oke," laki-laki itu hanya mengangguk dan pergi karena sudah biasa mendengar jawaban Oliv.
"Kenapa?" Oliv bertanya pada teman sebangkunya yang juga ikut berkumpul tadi.
"Lo tau kak Al, kan?"
Oliv menggeleng.
"Oh iya lo kan anak baru ya," katanya seraya mencatat tulisan yang ada di papan tulis.
"Kak Al itu anak kelas dua belas, sering kok dia keluyuran kalo gue tunjukkin orangnya lo pasti tau karena gue yakin lo pernah liat dia."
"Terus?" Tanya Oliv masih asyik dengan cemilannya, makan di saat jam belajar sedang berlangsung dan untungnya guru yang mengajar tidak ada di kelas.
"Katanya sih pacaran sama kakak kelas juga,"
"Emang kenapa kalo pacaran?"
"Sakit lah hati kita sebagai penggemar dia,"
"Dih lebay,"
"Bukan lebay Liv, rasanya emang sakit gitu. Ah kenapa juga harus ada berita dia dating,"
"Orangnya gimana sih sampe lo semua ngumpul jadi satu di sana,"
Teman sebangku Oliv mengeluarkan ponselnya mengotak-atik sebentar lalu memberikannya kepada Oliv.
"Nih, ini orangnya."
Baru sedetik Oliv melihat foto Al yang ada di ponsel temannya langsung ia kembalikan dengan raut wajah kesal.
"Biasa aja tuh orangnya gak ada yang wah dari dia, gantengan juga monyet."
Mulut teman Oliv terbuka lebar seraya menatap Oliv yang sedang berjalan keluar dari kelas.
(())
Agatha masuk ke dalam kamar Al mendekati abangnya yang sedang bermain game melalui komputer.
Al melirik sejenak adiknya yang sedang memegang-megang keyboard komputer nya.
"Tha, jangan Tha." Al tidak mengalihkan sedikitpun mata nya dari komputer.
Mata Al menyipit dengan mulut yang menggumam karena ia akan menembak musuh yang hanya tersisa satu lagi dan setelah itu ia akan menang jika berhasil menembak musuh terakhir.
Namun kesialan menimpa Al, komputer nya mati secara tiba-tiba.
"AGATHA RASYANA MATTHEW!!!"
Agatha tertawa geli mendengar teriakan abangnya.
"Mami Atha Mi ganggu Abang maen game!" Seru Al memanggil ibunya.
"Ya ampun Abang kenapa teriak-teriak?" Aya datang ke kamar Al setelah mendengar teriakan anak sulungnya.
"Atha ganggu Abang maen game,"
"Enggak kok," Agatha menggeleng.
"Atha cuma matiin komputel Abang," Agatha berlari menghampiri Aya.
"Itu sama aja Atha ganggu Abang main game, gak boleh. Liat Abang jadi marah," Aya menunjuk Al dimana wajah Al berubah masam dengan bibir sedikit mengerucut.
"Minta maaf sama Abang," ujar Aya.
Agatha kembali mendekati Al lalu menyentuh dengkul abangnya.
"Abang, Atha minta maaf ya." Agatha menganggukkan sekali kepalanya.
"Iya," balas Al dengan wajah masih kesal.
"Abang macih malah?"
"Enggak-enggak, jangan ganggu Abang maen game kan Abang jadi kesel."
"Enggak lagi,"
Al merendahkan tubuhnya seraya mengerucutkan bibir dan langsung dicium oleh Agatha.
Selesai meminta maaf Agatha menghampiri Aya dengan kedua tangan terentang lebar.
"Yuk kita keluar kita tungguin Papi pulang kerja," Aya membawa Agatha keluar dari kamar Al.
(())
"Gue pulang ya,"
"Hati-hati,"
Al mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan ngebut,"
"Gak ada salam tempel gitu?"
"Salam tempel, maksudnya?"
Al menepuk-nepuk pipi nya membuat gadis yang sedang berdiri di teras rumahnya tertawa.
"Mau banget?"
"Siapa yang gak mau dicium sama pacarnya,"
Nichole, gadis yang pernah Al ceritakan pada teman-temannya tersenyum malu seraya mendekati Al.
Al tersenyum lebar karena apa yang ia inginkan dapat terkabul dengan segera.
"Udah, pulang ntar kemaleman." Katanya seraya berjalan menjauh kembali berdiri di teras rumah.
Al memakai helm nya kemudian melambaikan tangan dan pergi setelah berkencan dengan Nichole.
Di tengah perjalanan entah berapa kali Al membuka tutup mata nya ataupun sekedar menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kantuk yang menyerangnya. Al memang kurang tidur setelah kemarin bergadang hanya untuk bermain game.
"Heh, pinggirin motor lu!"
Al menoleh pada dua orang pria yang sedang berboncengan dengan satu orang menunjuk-nunjuk ke arah tepi jalanan menyuruh Al untuk segera berhenti dan menepikan motornya.
Bukannya kabur Al malah benar-benar berhenti membuat orang yang berada di boncengan langsung turun sedangkan Al masih berada di atas motornya.
"Turun,"
Al diam memandangi pisau yang berada tepat di pinggangnya lalu menatap orang yang sedang menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang melihat walaupun saat ini mereka berada di jalanan yang sepi.
"Turun gue bilang,"
Geram, Al langsung menendang orang yang menodongkan pisau hingga tersungkur ke aspal. Melihat pria yang sedari tadi duduk di motor menghampirinya Al langsung memberikan pukulan pada wajah dan juga tendangan pada perutnya.
Saat Al ingin menaiki motornya datang tiga motor yang lain dengan masing-masing motor terdiri dari dua orang dan berhenti di dekatnya.
Bugh.
Satu pukulan mendarat di wajah Al karena gerakan yang begitu cepat dan juga Al yang tidak sempat mengelak.
Al jatuh terduduk dan dirinya langsung diserang oleh enam orang sekaligus. Kondisi tubuh Al yang memang lelah ditambah dengan dirinya dipukuli oleh enak orang sekaligus membuat Al tergeletak tidak berdaya namun Al masih berusaha untuk melawan dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki sementara motor nya sudah dibawa lari.
"WOI!"
Enam orang yang yang sedang memukuli Al langsung menoleh, melihat siapa yang datang mereka terkejut lalu mundur menjauh dari Al.
"Gila lo pada, udah berapa kali gue bilang stop ngerampok stop mukulin orang!"
"Tapi Liv..."
"Balik lo semua!"
Orang-orang itu pun langsung pergi.
Oliv berlutut di dekat Al memperhatikan Al yang sudah babak belur namun kedua matanya masih terbuka walaupun tidak lebar.
"Di sekolah gaya lu sok iya, tai." Oliv mengangkat kepala Al dan menjadikan paha nya sebagai bantalan untuk kepala Al.
"Lo ke sini naik apa?"
"Udah gak usah ngomong," lanjut Oliv ketika Al hendak membuka mulut lalu terdengar suara batuk dari Al.
"Taksi, taksi!" Oliv melambaikan tangan pada taksi yang untung saja lewat di depan mereka.
"Lho dek temen nya kenapa?" Tanya supir taksi seraya menghampiri Al dan Oliv.
"Abis di rampok pak. Tolong saya bawain ke rumah sakit ya pak,"
Supir taksi tersebut langsung mengangguk membantu Oliv untuk memapah Al masuk ke dalam taksi.
Ketika sudah berada di dalam taksi Oliv menjatuhkan sendiri kepala Al untuk bersandar di bahunya membuat baju bagian dalamnya yang berwarna putih terkena bercak darah dari sudut bibir Al.
"Rumah sakit yang ada di simpang itu aja ya deket soalnya,"
"Iya pak iya,"
Oliv menarik kerah kemejanya yang menutupi mata Al mendapati kedua mata Al terpejam. Tangan Oliv bergerak mendekati hidung Al, saat ia dapat merasakan hembusan napas Al barulah ia menjauhkan tangannya.
Mata Oliv tertuju ke arah saku celana Al dimana ia mendengar suara ponsel berdering. Tanpa berlama-lama Oliv langsung mengeluarkan ponsel Al dari saku celana untuk melihat siapa yang menelepon laki-laki itu.
"Eh, bokap lo nih nelfon."
Oliv berdecak pelan karena Al tidak merespon ucapannya sementara ponsel Al terus berdering.
"Angkat aja dek kasih tau sama orang tuanya,"
"Iya pak ini mau diangkat,"
Akhirnya Oliv lah yang mengangkat telepon dari Rafa.