"Tha, udah dong Abang mau keluar maen."
"Kan cekalang lagi main,"
"Ya masa maenan cewek kan Abang cowok,"
"Cama Atha aja lho di lumah kita main baleng,"
Al diam sambil memperhatikan tangan Agatha yang sedang mengaduk-aduk cangkir mainan yang tidak ada isinya dengan sendok.
"Abang minum," Agatha memberikan cangkir kosong pada Al. Dengan patuh Al mendekatkan cangkir tersebut ke mulutnya.
"Slurrrp! Enak-enak," Al mengangguk membuat Agatha tersenyum senang.
"Atha buat lagi ya minum nya, untuk Bubu juga Atha bikin kok."
"Aduh-aduh,"
Agatha langsung menoleh mendapati Al sedang berlutut di karpet sambil memegangi perutnya.
"Perut Abang sakit Abang harus ke kamar mandi!"
Agatha memperhatikan abangnya yang sedang berlari dari tempat mainnya, tak lama Al berlari Agatha juga ikut lari.
"ABANG BOHONG MAU KELUAL MAIN KAN?!" Teriak Agatha sambil mengejar abangnya yang sudah mencapai ambang pintu utama rumah.
Brak!
Pintu sudah tertutup dengan sempurna, Al berada di luar rumah sedangkan Agatha berada di dalam.
"Benci Abang!"
Di luar Al tertawa geli setelah mendengar seruan adiknya dari dalam rumah. Al langsung berjalan keluar dari teras ketika melihat motornya kembali ke rumah dengan diantar oleh seseorang.
"Wuaaah," Al tersenyum lebar seraya mengelus tempat duduk motornya.
"Awas ya di pake untuk balapan lagi,"
Al menatap ayahnya kemudian menyeringai.
"Iya-iya tenang ae,"
"Jadi ini mau kemana?"
"Cabut lah," Al naik ke atas motor sambil memakai helm nya lalu menoleh pada Rafa. "Orang tua gak perlu tau,"
Kedua mata Rafa langsung sinis seketika.
"Abang!"
Al langsung menghidupkan motornya ketika melihat Agatha sudah berdiri di teras bersama Aya.
"Main cama Atha ayok!"
Al menggeber motornya sebagai balasan dari ucapan Agatha sebelum ia pergi menghilang dari gerbang rumah.
Rafa mendekati anak perempuannya yang sedang kesal.
"Kenapa sih muka nya gitu banget," kata Rafa sambil mengelus pipi chubby Agatha.
"Abang gak mau main cama Atha,"
"Kan Abang mau pergi main sama temennya,"
"Atha gak ada temen main,"
"Ya udah sama Papi,"
Mata Agatha langsung berbinar.
"Papi mau?"
"Mau dong, ayo kita main."
Rafa mengerenyit melihat Agatha mengacungkan telunjuk dan jempolnya yang saling berdempetan.
"Fingel healt fol Papi,"
Rafa tertawa lalu ikut melakukan finger heart untuk anak perempuannya.
"Ayo kita masuk," Rafa menggendong Agatha dengan tangan kiri sementara tangan kanannya merangkul Aya.
(())
Al beserta teman-temannya keluar dari kelas, bukan sengaja keluar melainkan dikeluarkan oleh guru yang sedang mengajar di kelas mereka.
"Beliin gue es," Al menyodorkan uang 20.000 pada Dewa.
"Kenapa gue muluk sih? Kenapa gak si Rian, Yoyo, Chiko."
"Jangan sampe kejadian waktu TK ke ulang ya, Wa." Ucap Al dengan tangan yang sedang memegang bola basket.
Yoyo langsung mengambil uang yang Al sodorkan dan memberikannya pada Dewa.
"Beli Wa, cepetan." Chiko mendorong-dorong tubuh Dewa untuk segera pergi ke kantin membeli minuman untuk Al.
Dewa menghentakkan kakinya lalu pergi ke kantin.
Sembari menunggu Dewa kembali Al beserta tiga temannya duduk di kursi penonton dengan mata mereka sama-sama tertuju ke arah murid perempuan yang baru saja berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan memegang kuping serta sagu kaki yang diangkat sebatas lutut.
"Kerad juga tuh cewek bisa sampe dihukum,"
"Baru kali ini gue ngeliat murid cewek kena hukum,"
"Kuy gangguin," Al melompat turun dari kursi yang ia duduki dan langsung diikuti oleh tiga temannya.
"Ya ampun si cantik si imut kenapa bisa kena hukum?" Tanya Yoyo dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari gadis yang ada di depan mereka.
"Widih," mereka berempat kompak bersuara ketika gadis itu membuang muka tanpa mengucapkan apa-apa.
"Cantik ditambah sombong sama dengan wajar," kata Rian.
"Wajar,"
"Iya wajar,"
Al mengangguk setuju dengan ucapan teman-temannya.
"Btw, kamu kok bisa kena hukum sih?"
"Hebat lho bisa kena hukum, masuk geng kita aja yuk biar kita bisa di hukum bareng-bareng."
"Sekarang kita juga lagi di hukum lho,"
"Gak nanya!"
Mulut Al dan teman-temannya terbuka mendengar ucapan gadis itu barusan.
"Jangan galak-galak seharusnya seneng karena bisa diajak ngomong sama kita-kita,"
"Apalagi sama gue," Al menunjuk dirinya dengan telunjuk.
"Emang lo siapa?"
"Waah,"
"Waah,"
"Waah,"
"WAAAH!"
Mendengar kata waaah yang terakhir mereka terkejut karena itu berasal dari Dewa yang tiba-tiba saja datang dan ikut-ikutan dengan suara yang keras.
"Nih es lu," Dewa memberikan es yang ada di dalam plastik pada Al.
"Kembaliannya mana?"
"Yaelah katanya orang kaya kembalian pun diminta,"
"Ya udah ya udah buat lu," Al mengibaskan tangannya lalu mulai meminum es nya.
"Emang harus buat gue," Dewa memasukkan kembalian yang seharusnya untuk Al ke saku seragamnya.
"Lo gak tau siapa dia?" Tanya Rian sambil menunjuk Al.
Gadis tersebut diam.
"Kasih tau, Yo!" Al menepuk pundak Yoyo.
"Dia nih most wanted, prince charming, the most handsome face."
"Tai kuda,"
Mata Al membulat sempurna, sedotan yang ada di dalam mulutnya langsung ia keluarkan.
"Waah,"
"Waah,"
"Waah,"
"Sabar bos sabar," Yoyo menepuk-nepuk punggung Al ketika melihat mata Al mendelik.
"Cewek, tahan emosi." Dewa ikut menenangkan Al.
"Emang kenapa kalo gue cewek?"
"Lo pikir gue gak bisa berantem?"
"Ayo sini kalo mau berantem sama gue,"
Al beserta empat temannya terdiam, mulut Dewa dan Yoyo sudah menganga dengan tangan mereka masih berada di punggung dan bahu Al.
Al menyeringai, "berantem di kamar aja gimana?"
Bugh!
"Aaakhhhh!!"
(())
Al memperhatikan sudut bibirnya melalui spion motornya, memperhatikan luka kecil yang disebabkan oleh gadis yang tadi pagi mereka ganggu.
"Gila kasar banget tuh cewek," kata Al sambil menyentuh sudut bibirnya dan sedikit meringis.
"Kurang dah ini kadar kegantengan gue,"
"Daripada kadar kegantengan lo makin kurang udeh jangan kita ganggu lagi die," kata Dewa seraya menepuk-nepuk bahu Al.
"Bodo amat!" Seru Al sambil membuang tisu membuat beberapa pasang menatap ke arahnya.
"Kita tunggu cewek itu keluar, lo berempat liatin dia."
"Terus lo?"
"Mau ngurus muka gue udah jangan banyak tanya liatin dia kalo udah keluar bilang gue," Al kembali sibuk dengan luka di sudut bibirnya.
"Al, Al! Itu dia tuh," Chiko menarik-narik tangan Al membuat Al langsung menoleh.
Gadis yang sudah memukul nya tadi pagi terlihat berjalan ke arah sepeda yang terparkir di perkiraan motor, letak sepeda gadis itu berada di paling ujung.
Al kembali membuang asal tisu nya dan beranjak dari atas motor melangkahkan kakinya ke arah ujung parkiran.
Langit terlihat mendung didukung oleh angin yang berhembus cukup kencang.
Al terus berjalan melawan hembusan angin membuat jaket serta rambutnya yang menutupi kening tertiup angin diikuti oleh empat temannya yang berjalan di belakangnya.
Sekolah belum sepenuhnya sepi, beberapa murid perempuan yang sempat melihat Al tidak kuasa untuk tidak memperhatikan laki-laki itu, wajahnya terlihat datar dan itu semakin menambah ketampanan Al menurut mereka.
Al memegang stang sepeda berwarna hitam itu dan langsung membuat si pemilik sepeda menoleh.
Al menyunggingkan senyum di sudut bibir dengan rambut bagian depan masih tertiup angin. Tangan kiri Al memegang stang sepeda sementara tangan kanannya melepaskan headset dari di kuping gadis yang memiliki wajah cantik dan terlihat cukup imut, siapapun akan tidak menyangka jika gadis itu memiliki gaya bahasa dan kelakuan yang tergolong kasar.
"Gue gak terima," Al menunjuk sudut bibirnya.
Gadis itu diam menatap tidak suka Al membuatnya berbeda dari perempuan lainnya yang selalu menatap Al dengan penuh memuja.
"Baru lo yang berani mukul gue, cewek."
"Justru gue bangga,"
Al langsung merasa tertantang mendengarnya.
"Gue keterlaluan orangnya kalo udah gak suka sama satu orang,"
Gadis itu terlihat mengabaikan ucapan Al seraya menarik sepedanya namun gagal karena stang sepeda nya masih dipegang oleh Al.
"Tinggal bilang maaf aja sih gampang,"
"Gak sudi,"
Al mengangguk kecil.
"Sekali lagi, gue suka keterlaluan sama orang yang gak gue suka. Jangan sampe lo salah satu dari bagian orang itu, so you've to say sorry to me now."
Gadis itu tersenyum seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Al.
"Sekali lagi, gak sudi."
Empat orang teman Al diam dengan wajah yang cukup tegang menonton dua orang yang ada di depan mereka, bukan hanya teman-teman Al beberapa murid yang belum pulang dan masih berada di lingkungan sekolah ikut menonton mereka berdua.
Dengan mengumpulkan semua kekuatannya gadis itu menjauhkan tangan Al dari stang sepeda nya dan berhasil.
"Minggir lo!"
Al tidak menyingkirkan tubuhnya dari depan gadis yang sudah naik ke atas sepeda nya.
"Udah bos minggir ntar lu ditabrak makin kurang kadar kegantengan lo," Dewa menarik Al untuk segera menyingkir membuat gadis bersepeda itu langsung pergi.
"Cari tau dia kelas berapa, siapa namanya, besok lo berempat harus tau pas gue tanya." Kata Al seraya melangkah pergi ke arah motornya.