"Gu-gue..."
"Gue, gue suka sama... Lo."
"Gue tau gue pengecut gak berani bilang soal itu ke lo. Gue care sama lo, gue mau lo percaya sama gue karena... Gue suka sama lo, Liv."
"Wuahahaha!!!"
Al langsung menoleh dan terbelalak melihat Rafa masuk ke kamar sambil tertawa keras.
"Papi! Arrrgg!" Al mengacak-acak rambutnya lalu menyembunyikan wajahnya di balik lipatan selimut.
"Udah besar udah tau suka-sukaan," Rafa menepuk-nepuk punggung Al sambil tertawa.
Al berdecak menjauhkan wajahnya dari lipatan selimut dengan wajah cemberut serta rambut yang acak-acakan.
"Jadi ceritanya mau di resmiin nih sama si Oliv? Kapan? Dimana? Jam berapa? Cara nembak nya kayak tadi? Haduh norak!" Rafa mengibaskan tangan di depan wajahnya.
"Keluar sana,"
"Nyuruh Papi keluar? Abang yang seharusnya keluar karena rumah sekaligus kamar ini masih punya Papi, Abang cuma numpang di sini selagi belom punya rumah sendiri. Jangan sok,"
Al membuang muka seraya menopang pipinya dengan tangan yang bertumpu pada tempat tidur.
"Abang main belbi yuk!"
"Gamo!"
"Main masak-masakan?"
"Main doktel-doktelan?"
"Main salon-salonan?"
Al menghela napas seraya bangkit sementara Rafa keluar sambil meledeknya anaknya laki-lakinya.
"Atha keluar sana Abang mau belajar,"
"Hahahaha gak mungkin!" Agatha tertawa terpingkal-pingkal.
Al menatap tanpa ekspresi pada adiknya yang sedang menertawakan nya.
Al duduk di tepi tempat tidur dengan pipi yang kembali ditopang. Agatha naik ke atas tempat tidur kemudian duduk di sebelah Al.
"What happened? Celita sama Atha," Agatha memeluk lengan Al.
"Jangan diliatin banget anak Jaksel nya," Al menoyor kepala Agatha.
"Anak Jaksel what?"
Al tertawa geli.
"Tadi Atha nanya what?"
"What happened,"
"Abang gak papa, I'm feeling just fine."
"Leally?"
Al melepaskan pelukan tangan Agatha pada lengannya kemudian bangkit berdiri.
"Lily was a little girl,"
"Aflaid of the big wide wold,"
Al kembali tertawa membuat Agatha ikut tertawa hingga mata nya menyipit.
"Aaaaaa!" Jerit Agatha karena wajahnya diciumi tanpa henti oleh Al.
(())
Saat jam belajar sedang berlangsung Al keluar dari kelas ditemani oleh Dewa dan Yoyo. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada dua orang yang sedang mengobrol di meja piket.
"Itu si Oliv sama siapa?" Tanya Yoyo.
"Cow..." Ucapan Dewa terhenti saat Al langsung menoleh menatapnya dengan tajam.
Dewa meluruskan pandangan ke depan sambil memakan stik cokelat nya.
"Lu berdua cari tau orang yang lagi sama Oliv itu, istirahat kedua lo berdua udah dapet informasinya."
"Gi..." Lagi Dewa kembali terdiam mengunci rapat mulutnya saat ditatap oleh Al.
"Oke," Dewa mengangguk.
Dari kejauhan Oliv sadar jika dirinya sedang diperhatikan, Oliv pun menoleh sedikit mendongakkan kepala untuk menatap orang yang tengah berdiri di lantai tiga gedung sekolah.
Al dan Oliv saling tatap walaupun dari kejauhan, tidak sampai lima belas detik Al pergi menyudahi kontak mata mereka.
(())
"
Lo berdua mau mutilasi gue?"
"Sebelum mutilasi lo kita duluan yang di mutilasi sama Al,"
"Jangan dorong-dorong!"
Brak!
"WOI BUKA!!!" Teriak Oliv sambil menggedor-gedor pintu gudang sekolah.
"Di sini aja,"
Oliv langsung menoleh dengan kedua tangan berada di pintu.
Terlihat Al sedang duduk di atas meja sambil memperhatikannya, cahaya yang menembus dari jendela menerangi wajah Al diantara kegelapan yang ada di sekitar mereka.
"Gue mau keluar!"
"Buka aja coba pintunya,"
Oliv pun membuka pintu namun gagal karena dikunci dari luar. Di dalam hati Oliv memaki Dewa dan Yoyo yang sudah membawanya sampai ke tempat itu.
Oliv berdiri membelakangi Al seraya berpikir bagaimana caranya ia dapat keluar sekarang juga.
"Eh-eh, turunin gue!" Seru Oliv seraya memukul punggung Al saat tubuhnya diangkat.
Al mendudukkan Oliv di meja yang ia duduki tadi menatap wajah Oliv yang terlihat semakin terang karena terpaan sinar matahari.
Al menyingkirkan buku tebal yang Oliv pegang menaruh buku tersebut di sebelah Oliv.
"Lagi deket sama cowok lain?"
"Cowok lain apa maksudnya? Emang gue pernah deket sama cowok yang mana sebelumnya sampe lo ngomong cowok yang lain, hah?"
Al terkekeh mendengar ucapan ketus Oliv dan juga ekspresi garang gadis itu.
"Kan lo lagi deket sama gue,"
"Cih," Oliv membuang muka ke arah jendela.
Oliv melirik Al yang hanya diam, dari hasil lirikan mata nya terlihat Al tengah memperhatikannya.
"Jangan liatin gue!" Oliv menatap sejenak Al lalu kembali membuang muka.
"Mau di sebut play girl gak?"
Oliv menatap Al, "play girl apalagi sih?"
"Kalo lo lagi deket sama satu cowok ya udah cowok itu aja gak usah pake deket sama yang lain, kan awalnya lo lagi deket sama gue. Ngerti apa yang gue maksud?"
"Gue males ngomong cowok yang gak jelas model kayak lo gini,"
Al tersenyum, "mau gue perjelas sekarang?"
Kedua tangan Oliv yang terlipat di depan d**a mulai terlepas secara perlahan.
"Gue perjelas sekarang. Tapi gue mau mastiin dulu kalo lo lagi gak deket sama siapapun,"
Oliv memalingkan wajah ke arah jendela tanpa mengucapkan apapun dimana bungkamnya Oliv mengartikan bahwa gadis itu memang tidak lagi dekat dengan siapapun.
Al sedikit memiringkan wajah untuk mempermudah mata nya dalam menatap wajah Oliv.
"Gue minta maaf. Sekali lagi, gue gak tau apa-apa soal kelakuan dua temen gue. Gue bener-bener gak tau," ucap Al dengan nada meyakinkan berharap kali ini Oliv mau percaya dengannya.
"Sebenernya gak perlu juga gue sampe mohon-mohon ke lo capek-capek jelasin biar lo percaya sama gue tanpa ada alasan. Kenapa gue pengen banget lo percaya, kenapa gue bisa care sama lo. Itu kan yang lo tanya?"
Tanpa Al ketahui tangan Oliv tidak bisa diam terus bergerak dan sesekali meremas rok sekolah nya.
"Gue punya alasan. Gue nanya soal lo lagi deket sama siapa juga punya alasan."
Al mulai diam berharap Oliv mau membuka suara ataupun mau menatapnya.
"Gue gak bakal ngasih tau alasannya kalo lo diem gak mau liat gue,"
Tanpa ragu Oliv menatap Al namun mulutnya masih terkunci rapat.
"Gue tertarik sama lo, Liv."
Remasan tangan Oliv pada rok nya kian kuat dengan d**a yang terasa sesak, belum pernah Oliv merasa selemah itu hanya karena seorang laki-laki.
Setelah Al mengungkapkan perasaannya keduanya sama-sama diam, mulut mereka memang diam namun mata mereka terlihat sibuk untuk bertahan dalam tatapan.
Tangan kanan Al bergerak ke belakang tubuh Oliv dan berhenti di dekat leher gadis itu, dengan sekali tarikan Al mampu melepaskan ikat rambut Oliv dan untuk yang pertama kalinya Al dapat melihat rambut Oliv tergerai indah.
Rambut yang selalu terlihat acak-acakan dan tidak beraturan itu ternyata memiliki sisi keindahan saat tergerai dengan bebas.
Al mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
Mata Oliv bergerak ke samping memperhatikan tangan Al yang sedang berada di kepalanya kemudian kembali menatap wajah Al.
Al menjauhkan tangannya dari kepala Oliv lalu tersenyum melihat jepitan rambut berwarna pink bertengger di rambut Oliv.
"Punya adek gue, jangan ilang ya." Al mundur beberapa langkah.
Al tersenyum tulus pada Oliv yang sedari tadi hanya terdiam kemudian berbalik untuk membuka pintu gudang dimana Al sudah menyimpan kunci cadangan.
Al membuka lebar pintu gudang lalu menoleh pada Oliv dan pergi.
Setelah agak jauh dari gudang Al berlari kencang bahkan kedua temannya yang sedang duduk-duduk di tangga ia lewati saking kencangnya Al berlari.
"Woi, woi, woi!" Panggil Dewa.
Al menoleh kemudian memutar arah berlari menghampiri Dewa dan Yoyo dan langsung duduk menyamping di depan teman-temannya.
"Gilak!" Al menggeleng sambil memegangi dadanya.
"Kenapa-kenapa?" Dewa mencondongkan tubuh karena penasaran.
"Apa sih apa kepo," Yoyo duduk di depan Al.
"Gilak kenapa bisa seberani itu gue anjing sialan g****k!" Al kembali menggeleng dengan mata yang tertuju pada sepatunya.
"Permisi,"
Tanpa melihat siapa orang itu Al langsung merubah posisi duduknya menghadap depan dengan satu tangan pura-pura memegangi ujung rambutnya.
Dewa dan Yoyo langsung berdiri memberi jalan untuk Oliv yang hendak turun dari tangga.
Saat Oliv melewatinya Al menatap gadis itu secara diam-diam lalu bangkit berdiri untuk memperhatikan Oliv yang sudah menjauh darinya.
Dewa dan Yoyo berdiri di sebelah Al sambil memperhatikan wajah Al. Melihat Al tersenyum seraya menatap punggung Oliv Dewa dan Yoyo saling tatap seolah sama-sama bertanya apa yang sudah terjadi pada Al.