07

1031 Words
Kabar kedekatan Ray dan Azka mulai tersebar di sekolah. Para siswi mulai membicarakan mereka saat keduanya melangkah bersama memasuki kelas disusul Kay dan May yang tengah asik mengobrol. Azka menghentikan langkahnya saat Ray tiba-tiba duduk dikursinya. "Minggir," ucap Azka dingin. "Gue mau tau sensasi duduk didekat jendela, siapa tau gue bisa jadi jenius kayak elo," jelas Ray membuat Azka berdecak lalu duduk dikursi Ray. "Gue dengar, kayaknya jam pertama guru nggak masuk," ucap beberapa pemuda membuat Ray tersenyum lalu merebahkan kepalanya. "Ray! Kita mau kekantin nih, ikut nggak?" tanya May pada Ray. "Kalian aja, gue masih ngantuk." Ray berucap tanpa membuka mata. May pun pergi bersama Kay. "Dasar puteri tidur," pelan Azka memilih membuka buku pelajaran. "Gue dengar, ya!" ucap Ray membuka mata menatap Azka yang juga tengah menatapnya. "Akmal, Kevin! Hai!!!" sapa Ray melambaikan tangan pada Akmal dan Kevin yang melangkah menghampiri mereka. "Kay mana?" tanya Akmal bingung. "Kekantin sama May," jawab Ray seadanya. "Eh, Ka. Tadi malam lo mau ngomong apa sampai nelepon berkali-kali?" tanya Kevin menarik kursi agar bisa duduk didekat Azka. "Enggak," ucap Azka singkat tanpa menatap dua temannya. "Elo juga nelepon gue, kenapa?" tanya Akmal bingung. "Nggak ada," ucap Azka diakhiri decakan kecil. Ia menoleh pada Ray, ekspresi gadis itu berubah seolah ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan. "Kenapa?" tanya Ray lugu. Azka menendang pelan kaki Akmal sempat membuat Akmal meringis. Sebenarnya tadi malam ia ingin menceritakan tentang Ray pada mereka namun Azka selalu membatalkan panggilan sebab, untuk apa ia menceritakan Ray pada dua temannya. "Gue ngantin ah," ucap Kevin kemudian pergi disusul Akmal. "Kenapa?" ulang Ray melipat tangannya pada meja dengan tatapan polos tertuju pada Azka. "Bukan urusan lo," jawab Azka malas. "Huhhh..." Ray berdiri menatap jendela, angin menerpa rambutnya hingga membuat Azka terdiam, apakah ia terpesona dengan gadis itu. "Azka," panggil Ray berbalik dengan tiba-tiba hingga membuat pulpen yang berada ditangan Azka jatuh ke lantai. Azka menyerngit, posisi Ray berdiri sekarang menghalangi sinar mentari pada dirinya. "Hm?" tanya Azka setelah mengambil pulpennya yang terjatuh. "Gue kangen sekolah lama," ucap Ray sendu. "Terus kenapa lo pindah, kalau lebih suka di sekolah lama?" tanya Azka mengubah posisi duduknya menghadap gadis itu. "Menurut lo?" tanya Ray bersedekap tangan. "Tuntutan orang tua lo?" tanya Azka menyerngit. Ray tertawa pelan kemudian menggeleng. Ia tak menjawab dan kembali membelakangi Azka hingga saat Azka menarik tangannya, Ray terkejut sontak membalikkan tubuhnya menatap Azka. "Jawab," ucap Azka dingin. "Gue nggak tau mulai dari mana," ucap Ray menundukkan wajah menatap tangan Azka yang terkepal. "Kemana?" tanya Azka saat Ray bersiap pergi. Ray melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Azka, tentu saja Azka langsung mengikuti langkah gadis itu hingga mereka sempat kejar-kejaran kecil di koridor. Ray membuka pintu rooftop dengan napas ngos-ngosan dan saat ia menoleh kebelakang. Azka berjalan mendekatinya. "Siapa Alif?" tanya Azka. Ray tersenyum dengan gelengan kecil. "Pacar lo? Mantan? Atau orang yang udah nyakitin lo sampai- sampai elo mau pindah ke sini?" tanya Azka bertubi-tubi. "Bukan urusan lo," ucap Ray meniru nada bicara Azka. Bruk! Azka mencengkram satu tangan gadis itu kemudian menyenderkan punggungnya pada tembok pembatas rooftop. "Bukan jawaban itu yang gue mau," ucap Azka dingin. "Lo kasar banget sih," ucap Ray mengalihkan pandangannya. "Gue nggak tau cara yang benar buat ngehadapin cewek!" ucap Azka jujur. "Lo nggak pernah punya pacar ya?" tanya Ray membulatkan matanya. "Buang- buang waktu," ucap Azka tersenyum sinis. "Bilang aja kalau elo nggak laku," ucap Ray meremehkan Azka, padahal ia tahu kalau hampir semua siswi SMA 45 Samudera mengidolakan Azka. "Gue tanya, siapa Alif?" ulang Azka semakin menipiskan jarak dengan gadis dihadapannya. "Pacar gue, lah!" girang Ray membuat genggaman tangan Azka melonggar. "Dia baik, lembut, nggak pernah kasar kayak elo!" gerutu Ray saat Azka mundur selangkah darinya. Ray mengalihkan pandangannya agar Azka tak mengetahui kalau ia tengah menahan tangis. "Dia tulus banget! Terus, agak lucu juga sih. Kadang dia plin-plan! Hahaha!" tawa Ray berdiri membelakangi Azka menatap langit biru. "Namanya Alif Sanjaya," ucap Ray tanpa tahu kalau tangan Azka terkepal kuat. "Kita sering makan berdua di kantin, bolos di taman belakang, minum es jeruk bareng, ke perpustakaan. Terus, dia punya adik cewek namanya Airi, nyokap sama bokapnya juga baik banget sama gue." "Kita nonton film, beli ice cream. Dia beliin gue jepit rambut, cantik banget! Besok deh gue pakai!" ucap Ray dengan bibir bergetar menahan isakannya. "Terus?" tanya Azka mendekati gadis itu. "Dia lucu!" tawa Ray pelan. "Terakhir, kita ciuman---" Kalimat Ray terhenti saat Azka membalikkan tubuhnya kemudian menciumnya dengan tanpa aba-aba. Azka membuka mata mengetahui gadis dihadapannya tengah menangis tanpa suara. "Sebelum mobilnya kecelakaan, dan dia pergi..." sambung Ray jatuh kelantai memeluk lututnya sendiri. "Hiks!" Azka berlutut menatap Ray. Ia hendak menenangkan gadis itu namun tangannya terasa kaku untuk digerakkan. "Dia pergi... ninggalin gue..." "Hiks!" "Gue juga nggak mau ini terjadi..." "Dia fake nerd, dan gue pernah ketemu dia di Mall. Waktu dia nggak pakai kacamata dan dia bilang, namanya Azka." Azka terduduk lesu, dua tangannya bertumpu pada lantai. Pantas saja, saat pertama kali ia menatap Ray, pandangan gadis itu benar-benar terngiang dikepalanya sampai saat ini. "Gue sayang sama dia tapi, Tuhan lebih sayang..." Azka menarik gadis itu kedalam dekapannya, membiarkannya menangis sesegukan pada lekukan lehernya. "Jangan... kasarin gue..." ucap Ray membuat Azka merutuki dirinya sendiri. "Gue nggak pernah dapat bentakan apapun dari ayah, dari abang, dari Alif..." lirih Ray. "Gue, minta maaf." Azka berucap parau, mengusap punggung gadis itu. "Raysa, gue minta maaf!" Azka melepas pelukannya menatap wajah Ray yang masih dibasahi air mata. Ray mengangguk mengusap pipinya. "Lo cemburu ya?" Ekspresi Azka berubah menjadi konyol saat telunjuk gadis itu tertuju padanya. Azka bangkit dengan segera lalu mengalihkan pandangannya. "Lo cemburu kan?! Hahaha!" tawa Ray meski dengan hidung memerah dan mata yang terlihat sembab. "Huh!!! Gue jadi yakin kalau lo mulai naksir sama gue!" ucap Ray mengibaskan rambutnya seperti yang sering May lakukan. "Enggak!" elak Azka dengan decakannya. "Terus, kenapa tiba-tiba nyium gue?!" tanya Ray dengan senyum jahil. "Spontan," jawab Azka singkat. Ray kembali tertawa kemudian menatap Azka dengan senyum kecil. Ia mendekatkan wajahnya dan saat sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Azka. Ray malah menjauhkan wajahnya padahal Azka sudah memejamkan mata. Tawa Ray terdengar jelas ditelinga Azka. "Hahaha! Bleee!" Ray berlari meninggalkan Azka yang hanya bisa mengepalkan tangan setelah gadis itu kembali menjahilinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD