06

1223 Words
Ray melangkah menuju lapangan, rupa-rupanya hari ini kelasnya melaksanakan pelajaran olahraga. Kay dan May tengah melakukan pemanasan bersama murid lainnya. "Kenapa telat?" tanya Pak Erik selaku guru olahraga. "Kesiangan, bangun..." ucap Ray menatap Kay dan May seolah meminta bantuan. "Kamu kelas berapa?" tanya Pak Erik menatap penampilan Ray yang terlihat berantakan. "Dua belas, tuh teman-teman saya," tunjuk Ray pada Kay dan May yang mengalihkan pandangannya. "Wah, kamu nggak bawa seragam olahraga?" tanya Pak Erik berkacak pinggang. "Lupa..." kekeh Ray menggaruk kepalanya. "Cepat! Hormat ke bendera!" perintah Pak Erik kemudian pergi menghampiri May dan kawanannya. Ray menghela napas lalu menaruh tasnya di tepi lapangan tanpa menghiraukan tatapan beberapa siswa. Ia mengangkat tangan hormat pada bendera sebagai hukuman. "Gue lapar..." keluh Ray yang memang tak sempat sarapan. Teman-temannya terlihat berlari mengitari lapangan, Azka melewatinya dan tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik. Ray berdecak, mengusap keringatnya. Kepalanya mulai terasa pusing, ditambah perutnya yang belum terisi makanan. Bruk! "Raysa!" teriak Pak Harun yang tadinya berniat menghampiri Ray menanyakan alasan puteri Samudera itu mendapat hukuman. "Ray pingsan!" ucap beberapa siswi. May dan Kay langsung menghampiri temannya itu. "Ray! Ray!" panggil May menepuk pelan pipi gadis itu. "Tandu! Cepat cari tandu!" ucap Pak Harun panik. Azka mendekat, mengambil alih Ray dari teman-temannya kemudian menggendongnya bridal style meninggalkan lapangan. Pemuda itu membawa Ray memasuki UKS kemudian merebahkannya dengan hati-hati. Kay dan May menyusul, menatap panik pada Ray yang masih memejamkan mata. "Pasti Ray belum sarapan! Gue beli makanan dulu, sekalian buat gue juga!" May beranjak pergi sedangkan Kay mengambil minyak kayu putih dan mendekatkannya pada hidung Ray. "Pergi lo," usir Kay namun Azka tak beranjak dari tempatnya. "Ray, bangun dong. Lo bikin gue panik aja," ucap Kay melepaskan satu kancing seragam Ray yang paling atas saat mengetahui keringat membasahi wajah gadis itu. "Gimana? Ray udah sadar?" tanya Pak Harun memasuki UKS. "Saya mau telepon Bapak Jonathan!" ucap Pak Harun kemudian pergi mengetahui Ray belum sadarkan diri. "Pak! Jangan!" cegah Kay. Gadis itu melangkah meninggalkan UKS menyusul kepergian Pak Harun. Jika kabar ini sampai ke telinga Jonathan, sudah pasti mereka akan di jemput dan kembali ke Jakarta. Menyisakan Ray yang masih memejamkan mata dan Azka yang masih berdiri ditempatnya. Pemuda itu mendekat mengambil tissue lalu mengusap keringat pada wajah Ray. "Ini makanannya----" May menghentikan ucapannya menatap Azka yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Ray. Gadis itu menaruh sepiring nasi goreng dan juga teh hangat dimeja kemudian pergi. Ray mengerjapkan matanya, tangannya langsung terangkat memijat pelan pelipisnya. "Pergi," usir Ray pada Azka. "Gue nggak butuh bantuan lo," ucap Ray memalingkah wajahnya sembari bangkit dari kasur mengubah posisinya menjadi duduk. Azka mengambil gelas teh lalu menyerahkannya pada Ray. Gadis itu enggan menerima uluran tangannya. "Minum," titah Azka. "Pergi," usir Ray tetap tak menerima gelas tersebut. Azka mengangkat tangan menarik dagu gadis itu kemudian memaksanya untuk minum hingga membuat Ray hampir tersedak. "Makan," titah Azka lagi setelah menaruh piring nasi goreng di pangkuan Ray. "Lo bisa nggak sih? Sedikit aja lembut sama cewek?!" tanya Ray kesal mulai menyantap nasi goreng tersebut dengan ekspresi kesal. "Emang lo cewek?" tanya Azka menarik kursi lalu duduk didekat gadis itu. "Nyebelin banget?! Enggak ngeliat body gue yang kayak gitar Spanyol?!" tanya Ray bersedekap sambil mengunyah makanan membuat senyum Azka hadir. "Triplek." Wajah Ray memerah mendengar kata singkat yang lolos dari bibir Azka. Gadis itu menaruh piring dimeja kemudian meminum teh dengan tak sabaran lalu mencepol asal rambutnya dihadapan Azka sembari melepas jas sekolahnya. "Triplek, lo bilang?! Hah?!" tanya Ray dengan nada kesal. Azka meneguk ludahnya lalu mengalihkan pandangannya namun gadis itu malah berdiri sesuai pandangan matanya. "Lo ngapain sih?!" tanya Azka membuat pergerakan Ray terhenti. Gadis itu terdiam lalu menggeraikan kembali rambutnya dengan ekspresi datar. Ray memasang kembali jasnya dengan wajah menunduk. Sial, ia telah melakukan hal yang bodoh dihadapan seorang lelaki yang mungkin hanya berniat menjahilinya. Azka mengusap tenggorokannya menatap Ray yang berdiri tepat dihadapannya. Sial, apa yang ia pikirkan. "Habisin makanan lo," dingin Azka dengan suara parau diakhiri deheman kecil. Ray mengangguk pelan kemudian duduk di brankar kembali menyantap makanannya. "Kepala lo masih pusing?" tanya Azka kembali mendapat anggukan dari gadis itu. "Gue antar lo pulang," ucap Azka membuat Ray menatapnya. "Enggak perlu!" cegah Ray. "Gue udah sehat!" ucap gadis itu meraih gelas teh dengan tergesa-gesa hingga gelas tersebut terjatuh dan menimbulkan suara yang berisik. "Ups..." Ray mengangkat kakinya menatap Azka yang sudah berdecak kesal atas tingkahnya. "Ray!" Kay memasuki UKS bersama Pak Harun. "Raysa, sebaiknya kamu pulang saja untuk beristirahat," ucap Pak Harun menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai. "Tapi, Pak. Saya----" "Pulang, gue antar." Azka berucap membuat tatapan Kay dan Pak Harun tertuju padanya. Ray menghela napas lalu mengangguk sembari menaruh piring di meja. Gadis itu menatap Azka dengan polosnya sembari menyerahkan kunci mobilnya. "Hati-hati!" ucap Kay menatap kepergian Ray dan Azka. Keduanya sudah berada di mobil, Azka menatap sejenak pada gadis disampingnya yang tengah memasang sabuk pengaman. "Lo bisa nyetir kan?" tanya Ray menatap Azka. Azka tak menjawab dan langsung tancap gas meninggalkan sekolah menuju kediaman gadis itu. Ray memejamkan matanya, menatap jalanan kota. Mobil tiba didepan rumah, Azka menoleh mendapati gadis itu mungkin tengah terlelap. Ia berniat membangunkan gadis itu namun sangat enggan menyebut namanya. "Heh," tegur Azka tanpa menoleh. Tak ada jawaban apapun, Azka memutuskan untuk turun dari mobil lalu menggendong gadis itu memasuki rumah. Ia menatap sekitar seisi rumah yang nampak sepi. Apakah tak ada pembantu di rumah sebesar ini. "Alif..." Ray mengalungkan tangannya pada leher Azka masih dengan mata tertutup. Azka memilih melanjutkan langkahnya menaiki tangga hingga tiba di depan sebuah pintu kamar. Ia membawa Ray masuk dan mungkin ruangan ini adalah kamar Ray. Azka merebahkannya dengan hati-hati lalu melepaskan sepatu dan kaus kaki Ray. Pemuda itu menarik napas panjang lalu duduk di sofa menatap lurus pada Ray yang nampak sangat lelap dalam tidurnya. "Gila..." keluh Azka mengusap wajahnya. "Emang nih cewek nggak takut di apa-apain sama gue?!" ucapnya dengan kesal. "Kenapa dia seolah selalu ngasih gue kesempatan buat mikir yang enggak- enggak?" kesal Azka memukul pelan wajahnya. "Gue kenapa sih!" Azka bangkit dari duduknya bersiap pergi namun pemuda itu seolah enggan meninggalkan Ray sendiri. Azka melangkah menuruni tangga, menyusuri setiap sudut ruangan hingga tiba di dapur. Pemuda itu membuka kulkas lalu mengambil minuman kaleng. Ia kembali berjalan menuju kamar Ray dan gadis itu masih lelap dalam tidurnya. Drt... drt... "Lo dimana? Kay bilang kalau lo nganterin Ray?" "Hm..." jawab Azka sembari membuka kaleng soda lalu duduk di sofa menatap Ray. "Ham.. hem.. ham.. hem..." "Lo dimana? Mau gue jemput? Atau gimana? Jawab Azka Erza Rafael!" Azka sedikit tersenyum mendengar kalimat Akmal. "Enggak." Azka mematikan panggilannya yang tentu saja membuat Akmal kesal. Ray nampak terusik dalam tidurnya, gadis itu bangun sembari menggaruk kepalanya menatap lugu pada Azka yang juga tengah menatapnya. "Gue minta minum," ucap Azka mengangkat kaleng sodanya. "Bayar," balas Ray mendekat pada Azka kemudian duduk disamping pemuda itu sambil menyalakan video gamenya. "Kalian cuma tinggal bertiga?" tanya Azka. "Iya, mau numpang?" tanya Ray balik. Azka berdecak menaruh kaleng sodanya. "Bahaya, kalau ada orang jahat yang ngincar kalian gimana? Sewa satpam kek," ucap Azka membuat Ray terdiam membenarkan ucapan pemuda itu. "Tiba-tiba peduli," ucap Ray malas. "Ge er." Singkat Azka meraih stick game. "Lo bisa main?" tanya Ray menatap Azka seolah menantang pemuda itu. "Lo mau gue mainin?" tanya Azka balik membuat Ray menganga atas kalimat pemuda itu, ditambah senyum sinisnya terlihat jelas semakin membuat Ray kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD