"Itu Ray!" tunjuk Kevin saat ia tengah makan bersama Kay, May dan juga Akmal.
"Itu Azka," tunjuk Kay dengan dagunya.
"Buset, kayak anak SD main kejar-kejaran," ucap May membuat teman-temannya tertawa.
Ray masuk ke toilet kemudian membasuh wajahnya. Matanya terlihat memerah menahan tangis, jantungnya berdegup kencang. Bahkan Faris sekali pun, tak pernah membentaknya.
Ray menghela napas, kembali membasuh wajahnya. Wajahnya mulai terlihat pucat hingga setetes air bening kembali jatuh membasahi pipinya. Dua tangannya memegang wastafel, wajahnya menunduk menatap sepatu hitam yang ia kenakan.
"Alif... aku kangen..." lirih Ray tak dapat menahan bibirnya untuk tidak mengucapkan kalimat itu.
Ray tersadar, seseorang berdiri di ambang pintu toilet menatap pantulan wajahnya di cermin. Ray segera pergi melewati Azka yang baru saja hendak mengucapkan sesuatu.
Ray kembali kekelas mengambil tasnya. Azka hanya bisa terdiam saat Ray kembali melewatinya.
"Ray, mau kemana lo?" tanya Kay saat ia tengah berjalan bersama May, Akmal dan Kevin.
"Pulang," singkat Ray melanjutkan langkahnya hingga membuat teman-temannya kebingungan.
"Kenapa?" tanya Akmal pada Azka yang menghampiri mereka.
Azka menatap Kay dan May, sangat jelas terlihat kalau dua gadis itu seolah tak menyukainya.
"Teman lo, bentak-bentak calon ibu dari anak-anak gue," celoteh Fahri yang kebetulan mendengar obrolan mereka.
"Dih!" cibir May membuat Fahri cengengesan.
"Maksud lo?" tanya Kay menarik kerah baju Azka sempat membuat Akmal dan Kevin terkejut.
"Teman lo yang terus-terusan ganggu gue!" bela Azka menepis tangan Kay.
"Kepedean," cibir May mengibaskan rambutnya.
"Tapi itu nggak bisa lo jadiin alasan buat bentak-bentak Ray!" ucap Kay mengepalkan tangannya.
"Oke gue minta maaf!" singkat Azka berniat pergi namun Akmal dan Kevin menahannya.
"Kenapa bro?" tanya Akmal menepuk bahu Azka.
"Heh Azka es batu!" tegur May mengangkat telunjuknya. Akmal dan Kevin tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu. Sebab mereka juga tahu kalau Azka memang memiliki sikap yang dingin.
"Lo tau kenapa kita mutusin buat pindah kesini?" tanya May berkacak pinggang.
Azka tersenyum sinis. "Setau gue, karena tuntutan orang tua kalian, kan? Orang kaya kan, bebas." Balas Azka dengan senyum sinis membuat Kay naik pitam.
"Jaga mulut lo!" marah Kay hendak mengangkat tangan namun dicegah oleh Akmal.
"Salah!" tegas May dengan ekspresi serius. "Elo nggak tau kejadian apa aja yang udah kita lewatin!" ucap May membuat Kay menatap temannya itu.
"Di sekolah lama---"
"Tutup mulut lo, ini bukan sekolah lo yang lama." Potong Azka dengan ekspresi datar.
"Ck! Udah, May! Jangan ngeladenin cowok kayak dia!" Kay menarik May meninggalkan Azka dan dua temannya.
Kini Akmal dan Kevin yang menatap Azka dengan tatapan sulit diartikan.
"Seenggaknya, sedikit aja lo buang sikap dingin lo buat orang baru," ucap Kevin menepuk bahu Azka kemudian pergi disusul Akmal.
Hari cepat berlalu, Kay dan May memasuki rumah dan mendapati Ray tengah mengepel lantai sambil mendengarkan musik.
"Wih! Keren!" puji May bertepuk tangan.
"Keren mata lo! Capek nih gue!" keluh Ray kemudian duduk di sofa. "Gue belajar jadi orang yang produktif!" ucap Ray percaya diri.
"Huh.. serah lo deh!" kekeh Kay meraih cemilan diatas meja.
"Ray!" ucap May.
"Gue nggak suka liat lo dekat sama Azka!" tegas May melipat tangan. "Tuh cowok, rese!" tegas May diangguki Kay.
"Gue nggak mau bahas itu! Mending malam ini kita jalan-jalan, gimana?" tanya Ray dengan senyum kecil.
"Asik!!!" girang May langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar.
"Gue setuju sama yang May bilang," ucap Kay mengusap kepala Ray. "Kita disini, buat sembuh. Bukan buat luka baru," ucap Kay membuat Ray mengangguk paham.
Malamnya, tiga gadis itu tengah makan bersama di pinggir jalan. May terlihat lahap menyantap sate, sedangkan Kay makan sambil bermain game.
Seorang pria membawa gitar menghampiri mereka sambil bernyanyi, Ray tersenyum memberikan uang kepada pengamen itu. Tatapannya beralih pada jalanan malam yang terasa sangat ramai sebab banyak remaja seumuran mereka bermain skateboard.
"Gue mau kesana ya!" ucap Ray melangkah meninggalkan Kay dan May yang asik dengan aktivitas masing-masing.
Ray duduk di kursi panjang, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
"Gue boleh duduk?"
Ray menoleh pada seorang pemuda yang menenteng skateboard. Pemuda itu tersenyum padanya.
"Silahkan, kak." Ray menggeser duduknya.
"Panggil gue Gilang," ucap pemuda itu memperkenalkan diri.
"Gue Raysa, panggil aja Ray." Balas Ray diangguki Gilang.
"Lo kesini sendiri?" tanya Gilang memperhatikan sekitar.
"Enggak, ada teman dua didepan. Makan sate," jawab Ray kembali membuat Gilang mengangguk.
"Sekolah dimana?" tanya Gilang membuat Ray menoleh padanya.
"SMA 45 Samudera," jawab Ray lagi.
Gilang mengangguk dengan ekspresi sulit diartikan saat menatap manik mata gadis itu.
"Itu teman-teman gue," tunjuk Gilang pada beberapa pemuda yang bermain skateboard.
"Keren!" puji Ray bertepuk tangan.
"Lo bisa main skate?" tanya Gilang bangkit dari duduknya.
Ray ikut berdiri, sembari mencepol asal rambutnya. "Ngeremehin gue?!" tanya Ray mengambil skateboard ditangan Gilang lalu meluncur dan beberapa kali memperlihatkan trik yang dikuasainya hingga membuat perhatian teman-teman Gilang tertuju padanya.
"Keren!" puji Gilang menyusul Ray.
Ray menghentikan aksinya setelah mendapat banyak tepuk tangan dari teman-teman Gilang.
"Bentar," ucap seorang pemuda mendekati Ray. "Gue familiar sama muka lo," ucapnya meraih ponsel.
"Tuh kan! Elo Raysa Samudera!" ucap pemuda itu.
Ray tersenyum kembali menyerahkan skateboard pada Gilang.
"Eh? Serius?" tanya Gilang tak percaya.
"Iya benar!" ucap temannya Gilang membenarkan.
May dan Kay terlihat menghampiri mereka dengan ekspresi bingung.
"Hai..." sapa teman-teman Gilang pada Kay dan May. Mereka berkenalan dengan sesekali bercanda. Sedangkan Ray dan Gilang nampak asik bermain skateboard bersama.
Tak berselang lama, tiga gadis itu memutuskan untuk pulang. Gilang melambaikan tangan pada kepergian mobil Ray yang dikemudikan oleh Kay.
Hari berganti pagi, Kay dan May bangun lebih awal sudah siap dengan seragam sekolahnya. Sedangkan Ray masih tidur dengan lelapnya setelah semalaman bermain game bersama teman onlinenya.
"Ray! Kita duluan ya!" ucap Kay menggoyangkan pelan bahu Ray.
Beberapa saat setelah kepergian Kay dan May. Ray terbangun menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan.
"Gue telat!!!" teriak gadis itu berlari menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Ray masuk kemobil menyetir dengan satu datang dan satu tangan lagi memakai dasi.
Gadis itu tiba di sekolah dengan gerbang yang masih terbuka. Ia memarkirkan mobilnya kemudian turun dengan langkah cepat menghindari para guru yang tengah bicara didekat parkiran mobil.
"Kamu!" teriak seorang pria yang Ray yakini berasal dari seorang guru.
Ray menoleh dengan cengengesan.